Book 2. Ada System Di Smartphone: Life In Another World.
Sinopsis:
Aku Rendy Purnomo seorang pelajar, Agen Oracle dan Ilmuan muda yang mampu menciptakan sebuah benda yang bisa berkomunikasi antar kesadaran seseorang dengan dunia nyata. Namun, pertemuanku itu malah mendatangkan sebuah gerbang misterius yang berada di Indonesia.
Aku, Ryutaro dan Alice pergi ke lokasi gerbang itu untuk melakukan penelitian. Beberapa hari kemudian, tubuh Adine yang sedang melakukan perawatan disalah satu laboratorium Ocean Turtle di culik oleh sosok makhluk yang tidak kenal dan memasuki gerbang tersebut.
Aku yang saat itu menyaksikan penculikan itu tepat di depan mataku. Aku pun berusaha untuk menyelamatkannya namun, kesadaranku pudar dan bertemu dengan sosok pria paruh baya yang menyebutkan dirinya sebagai Dewa.
Dewa itu pun menjelaskan bahwa Aku sudah meninggal dunia. Saat itu juga Dewa menawarkan kehidupan baru di dunia lain tapi tidak mengunakan tubuhku melainkan sosok pria muda yang lemah. Aku pun tidak mempermasalahkannya. Karena kesediaanku itu, Dewa memberikanku beberapa keinginan untuk membantu di dunia yang baru.
Aku pun meminta untuk membawa smartphone dan ingin hidup abadi dengan maksud untuk terus mencari keberadaan Adine. Dewa itu pun menyetujuinya dan aku pun ber reinkarnasi.
Saat hidup di dunia baru, aku bertemu kembali dengan Ryutaro, Alice, Erika, Kenzo, Iori, Dominic dan Ilmuan jenius bernama Misa. Kami pun menjalani petualangan bersama sampai suatu saat aku bertemu kembali dengan sosok Adine yang selama ini aku cari.
Inilah petualanganku di Dunia Lain. Semoga semua baik adanya …
πππ
Jangan lupa like, komen dan fav. Karena itu bensin untuk up. hihihi
# Pemburu Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Project Alice dan Penjual budak Norden
Chapter 07. Project Alice dan Penjual budak Norden.
Pada malam itu, Ryutaro bercerita tentang kejadian tiga tahun yang lalu dimana dirinya bersama Alice yang ingin menyusulku saat pengejaranku terhadap penculik dan tubuh Adine yang dibawanya. Dalam penjelasan Ryutaro, saat aku masuk kedalam gerbang. Tidak lama, tubuhku dari dalam terpental dan sudah tidak bernafas lagi serta gerbang itu pun runtuh.
Hal ini membuat perasaan lega untuk pemerintah dan para peneliti lainnya namun, kesedihan menimpanya beserta Paman Andika dan Tante Kouri. Keesokan harinya, jasad ku dimakamkan di Indonesia dekat dengan makam ayah dan ibuku. Sejak saat itu, Rendy dikenal sebagai pahlawan di dunia penelitian.
Pihak Argus dan Agen Oracle tidak tinggal diam, mereka membuat dan menciptakan sesuatu demi untuk menyelamatkan Adine. Namun semua berakhir dengan sia-sia hingga dua tahun lamanya sampai disuatu ketika Alice menemukan sebuah kasus yang dimana seseorang pergi ke dunia lain. Maka dari itu, Alice pun pergi kesana dan membeli sebuah lemari ajaib dengan harga yang spektakuler.
Lemari itu pun diteliti dan diperiksa oleh Alice. Didapatilah sinyal keberadaan dari Adine. Hal itu membuat keberhasilan dari Alice. Sebulan kemudian, Alice, Ryutaro dan kelima orang lainnya yang terbentuk dalam tim masuk kedalam lemari itu. Awalnya kami merasa percaya diri namun, setibanya di dunia lain lemari itu tidak bisa mengembalikan kami ke Bumi. Jadi, mau tidak mau mereka memulai hidupnya di dunia ini selama setahun lamanya secara terpisah-pisah.
“… Begitulah, kami.” Ryutaro melihat langit malam, “Aku sangat yakin ayah dan ibuku pasti khawatir serta menangis. Aku pun juga sangat merindukannya!”
“Jadi, begitu. Aku mengerti.”
Sesaat kemudian, Ryutaro merubah ekpresinya dengan cepat dan melihatku dengan semangat, “Ren, sekarang giliranmu!”
“Iya. Ya. Aku akan ceritakan!”
Aku pun bercerita dari bertemu sosok Dewa, memasuki tubuh seseorang dan mendapatkan karunia dari Dewa. Mendengar ceritaku itu, Ryutaro berdiri dan memegang kedua bahuku.
“Wow … Luar biasa! Kamu mendapatkan Over Power, Ren! Keren!” Ryutaro berlutut satu kaki dihadapanku. “Ren, mulai saat ini aku akan menjadi pelayanmu.”
“Eh?”
Ryutaro melihatku dengan tatapan harap, “Berikan sedikit kekuatanmu kepada pelayanmu ini agar menjadi kuat untuk melindungi mu seperti anime-anime dan novel. Hehehe!”
Aku tersenyum senang melihat sikap Ryutaro yang seperti itu. Begitulah, Ryutaro. Aku pun berdiri dan membangunkannya.
“Tidak perlu begitu. Seorang MC di anime juga kan ada teman. Aku ingin kamu tetap menjadi saudara dan sahabatku.”
Ryutaro tersenyum senang dan mengulurkan tangannya, “Sahabat sampai mati!”
“Iya, Sahabat sampai mati!” ucapku yang menerima tangan Ryutaro. “Terima kasih, Ryu. Aku masih bisa bertemu denganmu!”
“Sebenarnya sih, aku kesini untuk menyelamatkan Adine lho. Bukan bertemu dengamu!” ucap Ryutaro.
Aku melepaskan tangan dan memukul pelan Ryutaro, “Dasar kamu ini!”
“Hihihi!”
Beberapa saat kemudian, kami mendengar suara Norden.
“Tuan Aru, izinkan kami juga untuk berteman dengan anda!” ucap Norden.
Aku dan Ryutaro melihat kearahnya dan memberikan senyuman.
“Tentu saja. Terima kasih.”
Norden menghampiriku dan memberikan tangannya. Aku pun menerima tangannya dan kami menjadi teman.
Malam yang panjang berlalu dengan cepat tanpa ada satu masalah pun. Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan kami. Sekitar tiga jam kemudian, kami pun sampai di ibukota kerajaan Antares, Meera. Jika diingat-ingat aku masuk ke kota ini mengunakan tubuh kesadaran namun saat ini aku berada di kota ini dengan tubuh yang berbeda. Aku ragu, apakah Ratu dan penasehatnya masih mengingatku?
Setibanya di gerbang, prajurit penjaga memberikan hormat dan obrolan kecil pun dilontarkan. Tidak lama kemudian, penjaga gerbang itu mengizinkan kami masuk. Kereta kuda terus bergoncang saat kami memasuki kota mungkin ini disebabkan jalan berbatuan yang ada di ibukota selain itu, aku melihat banyak toko tua yang berbaris di sepanjang jalan. Tidak lama kemudian, kereta pun terhenti dan seorang pria membuka kan pintu kereta.
“Selamat datang kembali, Tuan Norden dan Tuan-tuan semua!” ucap pria yang membuka kan pintu.
Aku menduga, pria itu juga merupakan salah satu budak Norden yang bertugas untuk mengawasi toko. Norden yang ada disampingku, dia turun dari kereta dan menoleh kearahku, “Tuan Aru. Silahkan turun! Izinkan saya untuk menjamu anda.”
Aku pun turun dan dibelakang Ryutaro juga menyusulku turun. Sesudah itu, kami pun masuk kedalam toko milik Norden. Nama toko itu Toko Budak Norden, ini terlihat dari papan yang terpasang didepan pintu. Setibanya didalam toko, ada beberapa pelayan yang menyambut kami.
“Selamat datang, pemilik dan Tuan-tuan!” sapa dari pelayan.
“Ini adalah tokoku. Mari kita minum dan makan dahulu sejenak!” Norden melihat kearah para pelayannya, “Hei, kalian siapkan teh dan makanan ringan.”
“Hai.”
Para pelayan itu tanpa basa-basi langsung pergi ke dapur dan kami pergi ke ruangan khusus. Jujur saja, Norden orang yang sangat baik. Meski, dia menjual budak tapi dia tidak memperlakukan budaknya seperti hewan atau benda seperti yang aku ketahui dari beberapa anime dan novel ringan.
Namun, saat aku berpikir seperti itu. Ryutaro menjawabnya seakan-akan dia bisa membaca pikiranku. “Ren, kamu tahu? Penjual budak yang paling baik hati dan bermoral hanyalah Norden. Yang lainnya …” ucapan Ryutaro diakhiri dengan gelengan kepala. Aku pun mengerti maksud dari perkataan Ryutaro tersebut.
Lalu, kami pun diajak oleh Norden ke ruang santai yang dimana terdapat meja bulat dan kursi dengan desain klasik serta tiga cangkir dan makanan kecil sudah disajikan di atas meja.
Kami duduk dan berbincang dengan bermacam topic hingga Aku pun diberikan sebuah hadiah oleh Norden.
“Tuan Aru, terima lah ini sebagai hadiah telah menyelamatkan kami,” ucap Norden sambil memberikan kantong kulit yang mungkin berisikan beberapa koin disana.
“Eh? apa ini? aku membantu anda tulus. Tidak mengharapkan imbalan, sungguh!” ucap penolakanku.
“Tuan Aru, anda memang orang yang rendah hati. Tapi, bukan kah kamu seorang petapa dan pengelana. Aku rasa uang ini bisa untuk simpanan perjalananmu,” ucap Norden yang memaksa ku untuk menerimanya.
Lalu, Norden juga memberikan sekantong koin juga untuk Ryutaro. Dia tidak basa-basi lagi dan langsung menerimanya. Sesudah itu, Norden mengatakan memberikan sesuatu yang membuatku terkejut.
“Tuan, Aru. Satu lagi, para budak ini merasa berterima kasih kepadamu maka dari itu, pilih satu untuk menemani dan pelayani selama perjalanan anda.”
“Eh? Tapi …”
Melihat sikap bingungku, Ryutaro malah meledek ku. “Sudahlah, terima saja Ren. Lihat mereka!” Arah pandang Ryutaro ke pintu masuk dan aku pun mengikuti arah pandangannya yang dimana aku melihat kedua belas budak yang telah aku selamatkan dia membungkukan badannya seakan-akan ingin melayaniku. Hal itu membuatku menghela nafas panjang. Maka dari itu, aku meminta pendapat dari Ryutaro.
“Ryu, bagaimana menurutmu? Siapa yang harus kamu pilih?”
“Ren, apa kamu ingin membantu dari sebuah rasisme?” tanya Ryutaro.
“Apa maksudmu?”
Norden yang mendengar pertanyaan Ryutaro, dia pun menyambungnya. “Sepertinya yang kamu ketahui bahwa wanita yang berambut biru itu ialah ras ajin.” Norden melipatkan tangannya, “Apalagi dia ras demon dan manusia, sulit untuk ada yang mau melayaninya.”
“Kenapa?”
“Karena Ajin demon dipercaya bisa mendatangkan kutukan kepada siapapun yang dilayaninya,” jawab Norden.
“Aku mengerti. Baiklah, jika tidak keberatan aku akan mengambil wanita berambut biru itu.”
Saat aku mengatakan itu, wanita berambut biru itu maju selangkah dan membungkukan badannya, “Terima kasih banyak. Tuan muda.”
Ryutaro dan Norden yang melihat itu, dia pun tersenyum lebar kepadaku.
Saat itu, aku tidak menyangka bahwa di dunia lain ini mendapatkan seorang budak wanita dengan ras demon.
ΩΩΩ
teringat dengan perkataan Morisaka tentang pencatatan buku harian. Maka dari itu, aku memutuskan untuk memulai menulis.
12 Juni 2026, hari pertama.
Hari pertama itu merupakan hari yang panjang. Dimana aku memulai hari di kehidupan baru. Pada hari itu, aku bertemu dengan Dewa, ber reinkarnasi dan belajar sihir. Sesudah itu, aku menemukan kawanan goblin dan berhasil membasminya.
Setelah itu, aku bertemu dengan Ryutaro dan Norden. Kami pun melakukan perjalanan bersama.
Semoga besok lebih baik …
-Rendy Purnomo