Alisya Silvia, anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia baru lulus dari universitas swasta di Jakarta dan ia berencana akan bekerja di luar kota. Tapi entah ayahnya akan menyetujuinya atau tidak.
Semua di luar dugaannya, ketika Alisya memberitahukan keinginan ini pada ayahnya, beliau tidak meresponnya sama sekali. Beliau malah ingin menjodohkannya dengan laki-laki yang tak pernah ia maupun keluarganya kenal sebelumnya. Dan itu hanya karena perjanjian di masa lalu, perjanjian masa lalu mendiang Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan
Alisya melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 22.45, ia segera meraih ranselnya dan berpamitan pada Lulu. Ia keasikan mengobrol, tadinya ia akan pulang jam 10 tapi ternyata sudah terlewat hampir satu jam.
Semoga orang rumah tidak ada yang menungguku pulang.
Alisya segera ke parkiran untuk mengambil motor, lalu melajukan motornya dengan sedikit kencang, karena ia ingin sampai rumah sebelum jam 12 malam.
***
Sesampainya di rumah, terlihat lampu ruang depan sudah padam, namun lampu kamar Malik masih menyala terang. Lalu Alisya mencoba membuka pintu perlahan, ia kira sudah dikunci, tapi ternyata belum. Ia bersyukur jadi ia tidak harus memanggil orang rumah untuk membukanya.
"Pintunya langsung dikunci saja Sya." Terdengar suara Malik pelan setelah Alisya menutup pintu.
Tanpa menjawab, Alisya segera mengunci pintu lalu masuk ke kamarnya, merebahkan badannya di kasur hingga akhirnya ia pun tertidur.
Paginya...
Cahaya matahari mulai menampakkan sinarnya, menerobos sisi-sisi jendela kamar Alisya sampai membuatnya terbangun.
"Ah sudah pagi rupanya, perasaan baru sebentar aku tertidur." gumamnya pelan. Lalu ia segera bangkit untuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, ia langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan, ternyata di dapur sudah ada Nisa. Awalnya ia ragu untuk membantu, karena masih merasa bersalah atas kejadian kemarin sore kemarin, tapi jika ia tidak membantu, entah kapan kakaknya akan selesai memasak.
Alisya menghampiri Nisa lalu membantu memotong sayuran, dengan sedikit keberanian ia memulai pembicaraan.
"Kak, aku minta maaf soal kemarin sore." ucap Alisya pelan karena takut Nisa masih marah.
"Iya nggak apa-apa, kakak ngerti kok Sya, kamu pasti kecewa karena ga diizinin kerja di luar kota." jawab Nisa santai.
"Iya sih awalnya aku kecewa banget sama ayah, tapi setelah dipikir-pikir ayah pasti punya alasan untuk itu. Lagian niat awal aku pengen kerja di Bandung karena aku pengen ketemu lagi sama mantan aku waktu di SMA, tapi ternyata dia udah mau nikah hari minggu depan." Akhirnya Alisya cerita pada kakaknya niat awal ia ingin mencari pekerjaan di Bandung.
"Oh jadi itu alasan kamu nyari kerjaan di Bandung, pantas saja ayah tidak mengizinkan."
"Ya bukan itu maksudnya kak, lagian kan ayah tidak tahu alasan yang itu, aku memang ingin kerja di luar kota."
"Ya sudah, ayo cepet selesaikan memotong sayurannya, mereka pasti sudah kelaparan."
Selesai memasak, Alisya mulai menyiapkan semuanya di meja makan. Herman, Malik dan Bang Dul sudah duduk di kursi masing-masing, termasuk juga Delisa.
Setelah semua siap tersaji, mereka makan bersama, sesekali Alisya mengajak bicara Delisa yang tengah disuapi makan oleh Nisa.
Setelah selesai makan, Alisya mencuci semua piring dan gelas kotornya. Saat ia akan masuk kamar, tiba-tiba Herman memanggilnya, menyuruhnya untuk ke ruang depan. Alisya sedikit curiga, kenapa ayahnya memanggilnya, ada apa sebenarnya, Alisya penasaran.
Alisya memang ingin meminta maaf pada ayahnya, tapi nanti, untuk sekarang ia masih malu karena sikapnya yang pergi tanpa pamit kemarin. Lalu ia menghampiri ayahnya, dan duduk di depannya.
"Sya, ada hal yang ingin ayah bicarakan denganmu. Ini menyangkut masa depan kamu." ucap Herman pada Alisya.
"Sebenarnya ada apa yah ? Apa ayah sakit ?" menatap ayah lekat, Ayah menggeleng. "Lalu ada apa ini ?" tanya Alisya penasaran.
"Ayah akan menjodohkan kamu dengan anak teman ibumu." ucap Herman lembut. "Malam ini mereka akan datang ke sini untuk memperkenalkan calon suamimu dan menentukan tanggal pernikahannya."
Jleb. Alisya menelan ludah mendengar ucapan ayahnya, apa sebenarnya maksud ayahnya itu ? Ayahnya sudah tidak mengizinkannya untuk bekerja di luar kota, ia bisa menerimanya. Tapi kenapa sekarang ayahnya malah bicara yang tidak-tidak, ayahnya akan menjodohkannya dengan laki-laki yang tidak sama sekali ia kenal.
Ia berpikir, apa ayahnya mencoba untuk mengusirnya ? Apa ayahnya tidak sayang lagi padanya ? Kenapa semuanya bisa terjadi ?
Ya Tuhan aku harus menjawab apa ?
Alisya tertunduk lesu, ia bingung harus bagaimana, baginya ini semua terlalu cepat.
Sebelum Alisya menjawab, ayahnya sudah melanjutkan ucapannya, ayahnya bilang ini semua perjanjian mendiang ibunya di masa lalu, janji seorang pasien kepada ibunya karena ibunya sudah mau menolongnya tanpa pamrih.
Sekarang pasien ini sudah menjadi orang sukses sehingga dia ingin menepati janjinya pada mendiang ibunya. Alisya semakin lesu, nafasnya sesak setiap mendengar cerita tentang ibunya, ia selalu merasa bersalah, karena melahirkannya, ibunya pergi untuk selama-lamanya. Air matanya mulai membendung, menetes membasahi kedua pipinya.
"Hapus pikiran jekek itu Sya, kamu bukan penyebab ibu meninggal. Ini semua sudah takdir, takdir yang harus kita jalani." ucap Herman mengingatkan, seolah-olah ayahnya tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang. "Ayah tahu ini terlalu cepat, ayah juga tidak menyangka ini akan terjadi. Sebelum ibumu meninggal, dia sudah berusaha memberitahu ayah mengenai perjodohan ini, tapi ayah tidak menghiraukannya. Untuk itu ayah jadi merasa bersalah hingga akhirnya ayah menerima rencana perjodohan ini."
"Baiklah, jika itu membuat ayah tenang dan bahagia, Alisya bersedia dijodohkan dengan anak teman ibu itu." ucap Alisya pasrah. Mungkin dengan menerima ini, ia bisa menebus rasa bersalahnya atas kepergian ibunya.
Herman tersenyum bahagia mendengar jawaban Alisya lalu beliau memeluk Alisya, mencium pucuk kepalanya lembut sembari berucap. "Terimakasih banyak nak."
Di tempat lain
"Fino, mama ingin bicara sebentar denganmu." ucap Ambar pada anaknya yang baru selesai sarapan.
"Ada apa sih ma ? aku sudah telat, pagi ini aku ada meeting." jawab Fino sedikit tergesa-gesa, hendak meninggalkan meja makan.
"Mama akan menjodohkan kamu dengan anak teman mama, pulang secepatnya, karena nanti malam kita akan pergi ke rumahnya." ucap Ambar tanpa bertele-tele.
Fino melirik pada papa nya, bermaksud bertanya, namun papa nya hanya menggeleng. "Maksud mama apa ? dijodohkan ? Apa mama bercanda ?" tanya Fino yang kembali duduk mendengar ucapan mama nya.
"Mama tidak bercanda, mama sangat serius untuk hal ini. Usia kamu sudah tidak muda lagi Fino, Mama sangat ingin secepatnya menimang cucu." ucap Ambar lirih. Lalu menggenggam tangan suaminya.
"Tapi ma kenapa harus dijodohkan, Fino bisa mencari sendiri calon istri yang mama inginkan."
"Kamu sudah berkali-kali bicara seperti itu pada mama, tapi sampai sekarang kamu belum membuktikannya. Kamu masih saja sibuk dengan pekerjaan kamu itu."
"Baiklah-baiklah, aku akan terima perjodohan ini, tapi mama jangan memaksaku untuk mencintai wanita itu. Karena sampai saat ini hatiku masih terkunci untuk mencintai wanita manapun." ucap Fino tegas. Lalu pergi meninggalkan mama dan papa nya.
"Dasar anak keras kepala, biarlah untuk sekarang kamu tidak mencintai Alisya. Alisya pun pasti demikian. Tapi setelah mereka menikah nanti dan tinggal bersama, pasti akan tumbuh benih-benih cinta diantara mereka." ucap Ambar yakin.
"Apa mama sudah yakin dengan keputusan ini ?" tanya Eko pada Ambar. Eko sedari tadi tidak ikut bicara, karena ia tidak mau membuat istrinya kecewa. Ia selalu menerima keputusan istrinya, selagi itu masih wajar.
"Iya mama sangat yakin pa, keluarga pak Suherman itu keluarga baik-baik, walaupun mereka hidup sederhana, tapi mereka selalu terlihat bahagia. Pak Suherman bekerja keras untuk membiayai sekolah anak-anak nya sampai mereka lulus sarjana."
"Baiklah, papa ikut saja apa keputusan mama. Papa yakin intuisi seorang ibu itu tidak pernah salah. Dan semoga anak kita tidak membuat kesalahan apapun pada keluarga pak Suherman."
"Iya pa, semoga saja, Tapi mama yakin itu tidak akan terjadi. Karena pada dasarnya anak kita itu anak yang baik, hanya saja karena kejadian 5 tahun yang lalu, membuat dia menjadi orang yang dingin dan cenderung cuek pada siapa pun."