NovelToon NovelToon
The Power Of Love

The Power Of Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Patahhati / CEO / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:95k
Nilai: 5
Nama Author: Suci Komala

Syakira Anandita. Gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun, rela bekerja menjadi apa saja demi menghidupi diri dan adiknya-Jonathan.

Sepuluh tahun lalu, ibu yang menjadi sandaran satu-satunya harus menghadap Sang Ilahi setelah melahirkan Jonathan, sedangkan sang ayah entah di mana rimbanya.

Hadirnya dua lelaki merubah perjalanan hidup Syakira. Sedih, tangis dan tawa mewarnai hari-harinya.

"Aku memang tak pandai mengungkapkan rasa cinta, tetapi izinkan aku menjagamu semampu dan sepanjang usiaku." Edric Michael Anderson.

"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihanku, tetapi jatuh cinta padamu di luar kendaliku." Alex Gavin Diaz.

Namun, Syakira, Edric dan Alex harus sama-sama menelan pil pahit karena sebuah kenyataan yang membuat mereka enggan mengenal cinta kembali.

Apa yang sebenarnya terjadi dan siapakah yang menjadi pelabuhan terakhir cinta Syakira?

Daripada penasaran, simak ceritaku, yuk!😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Komala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Maaf Alex

Sudah tiga hari berlalu setelah kejadian itu, Alex tidak berkunjung seperti biasanya. Jangankan mengunjungi Syakira, sekadar mengirim pesan atau menelepon saja tidak.

Pun dengan Syakira yang merasa sakit hati atas perlakuan sang kekasih, terlalu malas untuknya walau hanya bertanya kabar. Dirinya tidak menyangka jika Alex bisa seperti itu. Bahkan Syakira sempat berpikir, alangkah baiknya jika hubungan mereka seperti dulu, hanya sebagai sahabat.

"Kakak, kenapa Om Alex tidak datang lagi?" tanya Jonathan.

Syakira menghela napas. "Entahlah, Jo," sahutnya malas, "sudah siap belum?"

"Udah, ayok," sahut Jonathan.

Jonathan kembali diantar jemput oleh Syakira, dan mulai hari ini pula dirinya akan memulai aktivitas seperti biasanya, menyemir sepatu. Untuk kotak yang rusak, ia sudah meminta kepada tetangganya yang memang seorang tukang untuk diperbaiki.

"Loh, Kakak mau semir lagi?" tanya Jonathan heran.

"Iya, kenapa?"

"Kakak, yakin? Bagaimana jika Om Alex marah?"

"Ck! Tidak ada hubungannya dengan dia, Jo. Kita tidak seharusnya bergantung kepada orang itu."

Jonathan hanya mengangguk.

Tampak garis kecewa tergambar di wajah Jonathan. Terlebih lagi ia mendengar Alex dan Syakira bertengkar pada saat itu. Ingin rasanya Jonathan bertemu dengan Alex dan menceritakan semua yang terjadi. Bukan bermaksud untuk mencampuri urusan orang dewasa, tetapi dirinya hanya ingin menceritakan apa yang ia lihat saja dan tentu sebuah kebenaran atas kesalahpahaman yang terjadi.

Perjalanan ke sekolah hari ini terasa hampa menurut Jonathan. Bagaimana tidak? Tak ada ucap yang keluar dari mulut Syakira, bibirnya rapat bak memakai perekat.

Sesampainya di sekolah, Jonathan langsung masuk ke dalam kelas tanpa salam perpisahan kepada Syakira seperti biasanya. Tentu saja hal itu membuat Syakira merasa heran.

Tak mau ambil pusing, Syakira meninggalkan sekolah dan bergegas ke kota.

***

Tiba di kota, Syakira merasa bingung akan membuka lapak di mana. Ia sudah berniat tidak akan mencari sesuap nasi di tempatnya dulu. Dirinya tidak mau bertemu lagi dengan Edric dan belum siap bertemu dengan Alex meski jauh di lubuk hatinya ada rindu yang menggebu.

Kaki jenjangnya terus menyusuri trotoar hingga akhirnya sampai di salah satu JPO-jembatan penyebrangan orang, agak jauh dari pusat kota, tetapi dekat dengan perkantoran.

"Maaf, Pak. Boleh saya ikut mengais rezeki di sini?" tanya Syakira kepada salah satu pedagang di sana.

"Boleh, Neng. Di sini siapa saja boleh berjualan asal jaga kebersihan saja."

Syakira tersenyum. "Saya bukan berdagang, Pak, tetapi semir sepatu."

"Kenapa gak cari kerja kantoran saja, Neng?"

Dibalik maskernya, Syakira kembali tersenyum lebar dan berkata, "Saya hanya lulusan SMA, Pak."

Obrolan pun terjadi antara mereka. Sang pedagang menyarankan jika Syakira sebaiknya menunggu pelanggan di dekat lapaknya saja, karena para pegawai kantoran setiap pagi membeli makanan darinya.

Benar saja, tak lama Syakira duduk di bangku kebesarannya, para pegawai ramai memenuhi lapak bapak pedagang itu. Seolah berbagi rezeki, beberapa karyawan meminta Syakira untuk membersihkan sepatunya.

Hari pertama mencari rezeki di tempat baru lumayan ramai dan peluh sedikit mengucur di dahi Syakira. Setelah suasana sepi, ia membuka masker dan topinya, sekadar untuk mencari angin agar bertiup ke wajahnya.

Tanpa Syakira ketahui, di atas JPO seseorang tengah mengambil gambar dirinya. Kameranya berhasil ia bidikan tepat di wajah Syakira.

"Sempurna! Sesuai target, bos pasti senang," ucap orang itu dengan senyum puas sambil memandangi hasil jepretannya.

Tepat pukul sembilan, Syakira berpamitan pulang kepada bapak pedagang yang baik hati itu.

Waktunya menjemput Jonathan di sekolah.

***

Di kantor, Alex tampak gelisah karena terus memikirkan Syakira. Bagaimana kabarnya, sudahkah memeriksakan lukanya, sudah minum obat atau belum dan tentang Syakira lainnya, semua memenuhi pikirannya.

"Sedang apa kau sekarang, Sayang?" gumam Alex sembari mengusap wajah Syakira pada layar ponsel.

"Tidak! Aku tidak bisa berdiam diri saja. Aku harus menemuinya dan meminta maaf," gumam Alex lagi.

Alex mengecup foto Syakira. Konyol memang, tetapi itulah yang Alex rasa. Ia tak bisa lepas dari bayang-bayang Syakira.

Suara sepatu menggema semakin kencang seiring dengan semakin dekatnya seseorang menghampiri Alex.

"Ada perlu apa, Tuan Muda Edric?" tanya Alex sinis.

Edric tak memedulikan pertanyaan Alex, ia memilih duduk di sofa dengan kaki ia letakkan di atas meja.

"Cih! Memangnya kenapa? Aku bebas mau ke ruangan mana saja," jawab Edric sombong.

"Kau tak pernah menyentuh pacarmu?" sambung Edric, "padahal bibirnya terasa manis sekali."

Alex beranjak menghampiri Edric dengan rahang mengeras dan kedua tangan mengepal.

Emosi benar-benar menyulut Alex. Ia mencengkeram kerah Edric dan menariknya hingga terduduk di lantai.

"Aduh!" rintih Edric, "bisakah kau pelan-pelan, hah!" tuturnya sembari berdiri dan memegang bokongnya.

Begitulah Edric, ia tidak akan melawan jika dirinya memang bersalah, terlebih dialah yang menjadi dalang kesalahpahaman antara Alex dan pacarnya.

Tanpa basa-basi Edric menceritakan semua yang terjadi.

"Aku sangat mencintai Helena, kau tahu itu, kan? Aku tidak akan pernah berpaling darinya," tutur Edric, "sampaikan terima kasihku untuk pacarmu," sambungnya.

Lagi, Edric mencoba menjelaskan. "Aku mengerti apa yang kau rasa, maaf. Yang harus kau tau, bibir kami hanya sedikiiiiit saja bertemu. Salam perkenalan saja, hahahaha...."

Edric berlari keluar karena takut Alex ngamuk.

"Kurang ajar!" seru Alex sembari melempar sepatu ke arah Edric.

Alex melihat angka jarum jam yang ada di pergelangan tangannya-jam sepuluh.

Tanpa berpikir lagi, Alex menyambar kunci mobil di laci mejanya dan bergegas keluar meninggalkan kantor.

***

Mobil Alex sudah terparkir di luar gerbang sekolah Jonathan. Akan tetapi suasana sudah sepi. Tak mau menerka, dirinya bertanya kepada security yang berjaga. Benar saja, kegiatan belajar mengajar telah usai sepuluh menit yang lalu.

Alex kembali memacu mobilnya ke arah rumah Syakira.

Menyusuri gang dengan berlari, itu yang Alex lakukan. Berharap bisa cepat bertemu dengan pujaan hati.

Tiba di sana, Alex mengetuk pintu rumah Syakira. Namun nihil, sang empu tampaknya tidak ada di rumah, di sana sepi. Lekas tangan merogoh ponsel di saku jas.

"Tidak aktif. Di mana kamu, Sayang?" gumam Alex cemas.

Di kursi teras, Alex dengan setia menunggu kedatangan orang-orang yang ia sayang. Mungkin saja mereka masih dalam perjalanan pulang, pikirnya.

Sudah satu jam berlalu, tetapi yang ditunggu tak kunjung datang. Alex gelisah, pikirannya berkecamuk, takut sesuatu terjadi kepada kekasihnya.

"Sya, Jo ... kalian di mana?" gumam Alex.

Alex bangkit dari duduk dan pergi meninggalkan rumah Syakira.

Alex memacu roda empatnya dengan kecepatan tinggi. Ke TPU, ke klinik kemarin, menyusuri jalanan ibu kota dan beberapa tempat makan Alex datangi. Namun, kakak beradik itu tidak ia temukan.

Pria berdarah bule itu tidak patah semangat. Ia berpikir mungkin saja sekarang Syakira sudah ada di rumahnya. Dirinya kembali memacu mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota.

Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore saat Alex menyusuri jalanan sempit menuju rumah Syakira.

Bibir melengkung indah membentuk senyuman yang membuat wajah Alex bertambah rupawan. Netranya menangkap punggung Syakira dan Jonathan yang akan masuk ke dalam rumah. Ia berlari sembari memanggil orang terkasihnya. Sontak saja membuat kedua orang tersebut menoleh ke arah suara.

Alex memeluk Syakira dan Jonathan. "Kalian ke mana saja? Aku mencari kalian sedari pagi dan syukurlah jika kalian baik-baik saja.

Jonathan tersenyum lebar, sedangkan Syakira diam mematung. Antara rindu dan rasa kecewa masih bertengger di hatinya.

Jonathan melerai pelukan seraya berkata, "Jo, masuk dulu, Kak, Om," pamitnya.

Alex membingkai wajah cantik Syakira. Kedua pasang mata itu bertemu seolah mengungkap rasa rindu antara keduanya.

Tubuh kekar itu, kini kembali merengkuh Syakira-memeluknya erat.

"Maafin Kakak, Sayang. Maaf...," ucap Alex lirih.

"Kakak terlalu cemburu melihatmu kemarin, Sayang. Maaf, Kakak tidak mendengar penjelasan dan sempat tidak mempercayaimu. Kakak sayang kamu, Sya. Sekali lagi maaf," sambung Alex.

Syakira membelas pelukan Alex. "Sya juga sayang sama Kakak. Sya mohon apa pun yang terjadi nanti kita bisa saling percaya. Sya mengerti Kakak marah kemarin karena Kakak cemburu, Sya tahu itu," tuturnya di sela tangis.

Alex melerai pelukan. Jemarinya mengusap tiap tetes air mata yang jatuh dari pelupuk mata Syakira.

"Maaf." Kata itu meluncur kembali dari mulut Alex diiringi kec*pan di kening Syakira.

***

"Tuan, ini calon yang cocok kita jadikan bahan dagangan kita," pesan seseorang dengan mengirim sebuah foto.

"Good! Cari informasi tentang gadis itu, jangan sampai terlewat," balasan pesan dari seseorang yang disebut tuan.

Tuan itu menatap lekat foto di layar ponsel karena menurutnya wajah gadis itu tidak asing lagi.

"Sayang, kau sedang apa?" tanya istri tuan itu di bibir pintu ruang kerja.

"Kemari dan lihatlah," titahnya, "aku merasa tidak asing lagi dengan wajah gadis ini," sambungnya.

Tangan wanita itu terulur meraih ponsel yang diberikan oleh suaminya. Matanya membulat sempurna, seolah dia tahu mirip dengan siapa gadis itu.

"Kau dapat foto ini dari mana?"

"Anjas. Dia mengirimnya dari Jakarta."

Keduanya kini membisu, bergelut dengan pikiran masing-masing. Namun, keduanya menepis dari praduga yang menjurus dan membawa mereka ke cerita masa lalu.

1
Gweny Dafhyci
nah, kan.
Gweny Dafhyci
aww, kalian sweet syekaliii🥰🥰🥰
Gweny Dafhyci
toxic gak tuh..
Gweny Dafhyci
baper kali woii😍😍😍
~🌹eveliniq🌹~
Perfect bintang 5 buat kamu
~🌹eveliniq🌹~
lanjutkan Thor
~🌹eveliniq🌹~
lanjut thor
~🌹eveliniq🌹~
next Thor semangat
~🌹eveliniq🌹~
lanjut Thor
Aku hadir kak suci
sdng mimpi
next
sdng mimpi
nice
Xianlun Ghifa
up... up
Xianlun Ghifa
lanjut
Xianlun Ghifa
😭😭
Xianlun Ghifa
nyicil jejak
Xianlun Ghifa
lanjut
Xianlun Ghifa
next
Sheran Razhelly
Semangat kakak...😘😘😘
SheRaz suka smaa ceritanya🤗🤗🤗🤗🤗
Sheran Razhelly
cih.. sombong amat mentang mentang orang kaya..😏😏😤😤😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!