Season 1 kisah hubungan antara Sita, Agung dan juga Arum.
Season 2 berkisah konflik rumah tangga Aida dan Rama
"Eh, buset bang, panggilan spesial, emang lu pikir gue mau ma elu?" _Sita.
"Itu panggilan spesial buat dinda"_ Agung.
"Emak kawinin kamu Ta! Biar solehah." _emak Sari.
Perjodohan keduanya dilakukan saat Agung masih memiliki rupa yang menurut kebanyakan gadis tidak enak di lihat, meski dahulunya dia tampan.
Sita berusaha merubah lelaki itu kembali agar mau merubah penampilamnya.
Di tengah kebahagiaan mereka, Arum–sang mantan kekasih, kembali mengharapkan dirinya, bahkan dengan terang-terangan rela di jadikan istri kedua.
Apa, Sita dan Agung bisa menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka, akibat mantan yang selalu mengganggu?
Season 2
Aida yang merupakan adik kandung Agung, memiliki suami yang selalu menyusahkan keluarganya.
Konflik keduanya selalu melibatkan keluarga Sita dan Agung.
Sampai ... sebuah kejadian membuat lelaki pilihan Aida itu menyesal.
Apa mereka akan tetap bisa bersama, atau Aida memilih melepaskan sang suami pada akhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Saat SD
"Serius Ta!" Devi lantas menghadang langkah Sita.
"Entar lah gue jelasin di rumah."
"Ok, emang lu mau di kawinin ma siapa Ta."
"Buset di kawinin, belom Vi, gua baru mau di jodohin, lu kira gue kambing di kawinin, sembarangan!" omelnya.
Devi tertawa mendengar jawaban Sita, "Sama aja ujungnya juga kawin."
"Brisik Vi, sono lu naek, di marahi Nyonya Margareth baru tau rasa lu!" Sita mendorong pelan bahu Devi saat mereka sampai di depan eskalator.
.
.
.
Malam harinya selepas pulang kerja, Ameliya kembali menghangatkan makanan bawaan Sita. Sebab sore tadi mereka benar-benar tak makan apa-apa.
"Beuh! makan malem-malem, jadi lemak semua ini mah!" gerutu Ameliya di dapur.
"Dari pada ngga bisa tidur gegara perut keroncongan mending makan Mel," jawab Devi.
Devi dan Sita merebahkan diri di kasur mereka, membiarkan Ameliya sendirian berkutat menghangatkan makanannya di dapur.
"Cius Ta, siapa sih calon laki lu?" tanya Devi.
"Agung," jawab Sita kilat.
"Agung? anaknya bu Romlah? bukanan dia masih SMA?" Devi menebak, membayangkan sosok lelaki yang dia kenal, yang memang satu kampung dengan mereka.
"Bukan ogeb! masa iya gue di jodohin ma bocah bau kencur gitu!" sungut Sita kesal.
"Alah, anak sekarang kecil-kecil juga dah bisa bikin anak Ta, jangan salah, asal bisa tegak lurus mah!" Seloroh Ameliya menjawab omongan Sita.
"Vangke! otak lu ngeres, ngomong ke situ mulu!"
"Lah trus Agung yang mana Ta!" ucap Devi kesal.
"Agung orang kampung sebelah," masih membuat teka-teki kepada dua sahabatnya.
"Ishh, elu mah! buru yang mana?"
Sita menghela napas kesal, "yang punya pabrik tahu pinggir jalan itu lohh DEVI AYU NINGTYAS!!" bentaknya menyebut nama lengkap Devi.
Devi lantas memukul Sita menggunakan bantal, "kagak usah nyolot vangke!"
Namun setelahnya Devi tertawa terbahak-bahak, mengingat kejadian 15 tahun silam saat mereka masih kanak-kanak.
"Berarti do'a lu, waktu kecil di ijabah Allah Ta," ucap Devi di sela tawanya.
Sita bingung do'a seperti apa yang dulu memang pernah dia panjatkan, otaknya memutar semua memori yang pernah terjadi, namun nihil, dia tak ingat sedikitpun.
Apalagi ingatan kanak-kanaknya, hanya sebagian kecil yang dia ingat.
"Emang gue pernah do'a apa Vi?"
Devi lantas memutar kembali memori masa kecil mereka, mereka memang berteman dari kecil, bahkan selalu masuk sekolah di tempat yang sama, hanya sering berbeda kelas.
"Waktu kita kelas 1 SD, lu inget?" Sita mengernyit, dan menggeleng.
"Waktu entu, kita pulang lewat sawahnya mbah Taryo." Sita tau nama yang di sebutkan Devi namun tak ingat kejadian yang pernah di alaminya di tempat yang Devi sebutkan.
"Elah, gegara si Amel bilang kebelet pup, akhirnya kita pulang lewat sawah mbah Taryo, elu ingetkan rumah mbah Taryo samping sawahnya persis, dia juga miara soang."
Sita mulai ingat tempat mbah Taryo yang di katakan Devi, meski dia sudah lama tak melewati tempat itu.
"Trus?"
"Nah, apesnnya waktu kita lewat, tuh soang ngejar kita, ampe akhirnya lu jatoh di galengan sawah, kaki lu keseleo."
Sita ingat jika kakinya waktu kecil memang pernah terluka, hingga dia di ajak sang ibu ke rumah tukang urut dan membuatnya bolos sekolah selama seminggu, namun dia masih tak mengingat kejadian yang lainnya, apa lagi jika kakinya pernah masuk ke pematang sawah.
"Bang Agung, yang gendong lu, waktu itu dia kelas 6 SD, lu inget kagak! pernah bilang apa ma dia?" Sita masih menggeleng.
"Bang Agung, makasih ya, nanti kalo Sita udah gede Sita mau deh jadi istri bang Agung," ucap Devi menirukan suara anak kecil.
"Trus kita jawab apa Mel?"
"Aamiin," ucap Devi dan Ameliya kompak.
"Lagian ngapa lu pada aminin elah!" gantian Sita yang memukul Devi dengan bantal guling yang tengah di peluknya.
Ameliya lantas menghentikan obrolan mereka dengan meletakan makanan yang sudah di hangatkan di ruang tamu.
Sita dan Devi mengambil keperluan makan mereka, seperti piring dan air minum.
Mereka makan dengan di selingi obrolan ringan, mengenang masa kanak-kanak mereka, hingga di akhir makan mereka mengenang cerita masa SMA mereka.
"Memori gue mah ingetnya cuma pas masa-masa SMA aja," ujar Sita.
"Emang memori apa yang elu inget Ta, selain rok di gunting ama guru BK gegara terlalu ketat?" ucap Devi sambil cekikikan, mengingat kejadian sial yang selalu di alami Sita dan Ameliya di sekolahnya, karena kelakuan mereka sendiri.
Sebab semasa SMA, mereka bertiga masuk di sekolah yang sama hanya berbeda jurusan.
Jika Sita masuk di SMK mengambil jurusan sekertaris, Ameliya mengambil jurusan perhotelan, sedangkan Devi memilih masuk di sekolah SMA mengambil jurusan IPA, namun masih satu sekolah, hanya berbeda gedung.
"Waktu acara renang, gue narik kolor pak Wisnu di kolam renang, abis dia maen ngelelepin kepala gue pas lewat, panik gue narik eh yang ketarik kolornya."
Devi sampai tersedak mendengar cerita sahabatnya itu, "kaya apa muka tuh guru, pasti dah kaya kepiting rebus."
"Apaan, gue malah di hukum di pinggir kolam!"
"Lu liat senjata tempurnya dong Ta?" tanya Ameliya yang malah di balas tonyoran oleh Sita dan Devi.
"Mana ada orang di dalem aer mau kelep perhatiin yang gituan, dasar otak lu ngeres!" ujar Sita kesal.
.
.
Pagi harinya, mereka masih melihat wajah murung Sita, sepertinya perjodohan itu memang benar-benar membuat sahabat mereka dilema.
"Ta, sebenernya apa yang elu pikirin sih! kalo emang keberatan lu kan bisa ngomong baek-baek sama emak lu," ucap Devi.
Sita menghela napas rancunya, dia tau sang ibu tak akan memaksanya, namun dia harus memberi alasan yang masuk akal, agar sang ibu tak merasa malu menolak lamaran temannya itu.
"Gue mikirin si Andi, lu tau sendiri, bokap gue pernah pesen supaya Andi harus masuk pesantren SMP entar."
Sita menjelaskan biaya yang harus di keluarkan untuk masuk sekolah khusus agama itu yang tak murah.
Meski banyak pilihan, namun Sita memilih menyekolahkan Andi di tempat yang terbaik.
Karena kini dia menjadi tulang punggung di keluarganya, dia tak ingin sang ibu malah mengalah, dan memilih menjual harta warisan ayahnya, biarlah dia berjuang untuk masa depan adiknya.
Sita juga bercerita, jika dia menikah, bisa saja Agung tak menyetujui dia bekerja, jika menolak atas dasar tak cinta Sita yakin akan di patahkan oleh sang ibu, lantas alasan seperti apa yang harus dia katakan.
Devi dan Ameliya paham akan kegundahan Sita, mereka menebak jika ibunda Sita berteman dengan ibunda Agung, memang harus di pikirkan secara matang penolakan perjodohan mereka jangan sampai melukai kedua belah pihak.
"Ya udah kita bikin planing ' Cara menggagalkan perjodohan' nah nanti kita tulis satu-satu gimana?" Ameliya akhirnya memberi mereka masukan.
"Kayaknya harus di mulai dari emaknya Agung, soalnya dia kan yang kata lu ngebet ngelamar elu?"
Sita mengangguk, membenarkan, sepertinya berawal dari Aminah terlebih dahulu, jika Aminah tak menyukainya, pikir mereka perjodohan itu akan batal dengan sendirinya.
.
.
.
tbc.
akhir dari aida gimana thor,, bonchap dong