NovelToon NovelToon
The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Alana Kanaya

Dylan pikir dirinya hanya seorang yatim piatu yang beruntung karena diadopsi oleh keluarga Regan yang berpengaruh. Hingga suatu hari kejadian beruntun yang mengancam hidup dirinya juga hidup orang-orang yang dia sayangi membongkar rahasia besar selama 20 tahun.

Emily Winchester gadis cantik dan periang, dia pikir selama ini dia tak akan pernah jatuh cinta kepada sahabatnya yang sangat posesif. Tapi Dylan berhasil menggoyahkan perasaannya, dia jatuh cinta dengan Dylan sang sahabat yang nyawanya tengah terancam.

Sebetulnya bukan hanya Dylan yang nyawanya terancam, tapi juga Emily yang nyawanya menjadi taruhan karena dendam masa lalu.

Akankah hubungan Emily dan Dylan berubah dari sahabat menjadi cinta?
Tapi, siapakah orang-orang yang mengancam hidup mereka berdua? Akankah mereka selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Emily terbangun di tengah malam, badannya basah oleh keringat dan dia merasa sangat kehausan, dengan perlahan dia turun dari tempat tidur dan meringis ketika merasakan ngilu dikakinya, dengan terpincang-pincang Emily menuju lemari pakaian untuk mengganti baju tidurnya yang basah oleh keringat dengan kaos longgar bergambar Tazmania Devil kesukaannya, kaos itu hanya menutup setengah dari pahanya.

"Ini lebih baik," ucapnya setelah menguncir kuda rambut hitamnya, hembusan angin dari penyejuk ruangan terasa segar ketika menyentuh tengkuknya.

Dengan terpincang-pincang Emily membuka pintu kamar dan menuju lemari es yang terletak di pojok dapur, ruangan depannya tampak gelap hanya cahaya bulan dari jendela yang memberikan sedikit pencahayaan ke dalam apartemennya.

"Aaah sejuknya," desah Emily ketika membuka lemari es dan menikmati rasa sejuk yang keluar dari kotak ajaib itu.

Emily berlama-lama menunduk di depan lemari pendingin, dengan kepala sedikit dimasukan ke dalam untuk lebih menerima sensasi sejuknya, setelah merasa puas Emily mengambil botol air mineral, membuka tutupnya kemudian berdiri sambil meneguk isinya yang langsung saja dia semburkan kembali ketika melihat sosok pria bertelanjang dada tengah berdiri didepannya sambil berpangku tangan.

"Sial, Em, apa yang kau lakukan?!" Umpat Dylan ketika menerima semburan air dari mulut Emily.

"Demi Tuhan, Dylan, kau mengagetkanku!" Teriak Emily ketika dia menyadari sosok pria itu adalah Dylan.

Pria itu mengelap muka dan badannya yang terkena semburan air minum Emily dengan handuk yang ada dipundaknya, dengan rambut yang masih basah dapat dipastikan kalau Dylan baru saja selesai mandi.

"Apa yang sedang kau lakukan di dalam sana, Em?"

Dylan bertanya sambil memperhatikan penampilan Emily dari atas sampai bawah, malam ini gadis itu tampak sangat menggoda, dengan kaos longgar putihnya yang hanya menutupi setengah pahanya yang jenjang, rambutnya yang diikat asal-asalan malah menambah kesan seksi padanya.

"Aku kepanasan dan sangat kehausan," jawab Emily gugup menerima pandangan yang menyelidik dari Dylan, mengapa dia merasa segugup ini? Dylan bahkan pernah melihatnya mengenakan bikini, dan dia baik-baik saja dengan hal itu.

"Apa yang kau lakukan di sini? Dan, dimana pakaianmu?" Lanjut Emily sambil menatap Dylan yang bertelanjang dada.

Ya Tuhan sejak kapan tubuh Dylan jadi begitu menggoda? ratap Emily dalam hati, dia tidak bisa mengalihkan matanya dari perut Dylan yang kotak-kotak, sial! Emily sangat ingin menyentuhnya! Dan warna kulitnya yang keemasan terkena cahaya bulan dari luar menambah kesan seksi, jangan lupakan bulu halusnya yang memanjang dari pusar menuju.. Stop, ok! Emily menggelengkan kepala untuk mengusir pikirannya yang berkelana.

Emily berjalan cepat menuju sofa yang diikuti Dylan dari belakang.

"Yeah, minimal aku masih memakai celana," ucap Dylan dengan santai sambil duduk di samping Emily.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Emily meminum air mineral yang tadi dibawanya hanya untuk mengalihkan tatapannya dari Dylan.

Ya Tuhan, dia sangat seksi dengan rambut yang masih basah, dan kenapa wangi mawar mint shamponya begitu tercium sangat menggoda ketika pria itu memakainya. Shamponya? Dylan memakai shamponya?

"Hei, apa kau memakai shampoku? Sial, Dylan, itu hadiah dari Lexa yang dia sengaja beli di Paris dan itu sangat mahal apa kau tahu?" Sembur Emily setelah dia menyadari kalau pria itu memakai shamponya yang mahal.

"Ya, itu untuk jawaban kalau aku memakai shampomu dan tidak, aku tidak mengetahui kalau itu mahal, Em," jawab Dylan sambil mengambil botol minuman dari tangan Emily dan menghabiskan isinya. Emily hanya bisa mendengus kemudian menyandarkan kepala kesandaran sofa.

"Jadi, apa yang kau lakukan di sini?" Ulang Emily sambil melirik Dylan yang kini telah menyandarkan kepala disandaran sofa disebelahnya.

"Aku mengkhawatirkanmu, Em, aku pikir kau mungkin akan merasa kesakitan karena kakimu sedang cedera, dan kau butuh seseorang untuk merawatmu," suara Dylan terdengar tulus dan cemas.

Perhatian sederhana itu membuat Emily merasakan hangat didadanya, tentu saja selama ini Dylan dan Theo akan mencemaskannya kalau sesuatu terjadi pada dia maupun Alexa, tapi malam ini terasa berbeda, ada sesuatu yang lain yang dirasakan Emily atas perhatian Dylan.

"Aku tak apa-apa, Dylan, hanya keseleo dan bukankah dokter juga sudah mengatakan kalau dua hari lagi aku akan bisa berlari seperti biasa lagi?" Jawab Emily sambil tersenyum mencoba menenangkan Dylan.

"Yeah, tapi aku akan tetap menjagamu ok?" Dylan berdiri lalu mengambil air mineral lagi dalam lemari pendingin dan memberikannya kepada Emily.

"Sebaiknya kau kembali tidur, kau butuh istirahat," Dylan membantu Emily berdiri dan memapahnya ke depan kamar gadis itu.

"Baiklah, kau juga harus tidur Dylan ini sudah larut," perintah Emily sambil berdiri diambang pintu kamarnya menghadap Dylan yang masih berdiri menatapnya.

"Aku akan tidur setelah aku mandi," ucap Dylan sambil tersenyum nakal.

"Bukannya kau baru saja mandi? Apa sepanas itu ya?" Emily terlihat mengerutkan alis matanya bingung.

"Yeah, malam ini benar-benar panas," ucap Dylan sambil berjalan menuju kamar mandi.

"Em!" Panggil Dylan ketika Emily baru akan menutup pintu kamarnya, dan kembali menatap pria itu dengan mata bulatnya.

"Aku tidak tahu kalau Micky Mouse bisa begitu seksi," lanjut Dylan sambil melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar mandi, dan tertawa ketika menutup pintu kamar mandi.

Emily masih berdiri di ambang pintu tampak berpikir dan tidak mengerti maksud Dylan, Micky Mouse?

"Ooh, sial!" Teriak Emily ketika menyadari maksud Dylan.

Dia cepat-cepat menutup pintu kamar tidurnya dan mengoceh tentang kebodohannya sendiri, bagaimana bisa dia lupa kalau hari ini dia memakai celana dalam Micky Mouse yang hanya ditutupi memakai kaos saja, dan dengan bebasnya dia berjalan-jalan di depan Dylan!

Ingin sekali Emily menjedotkan kepalanya ke dinding kamarnya, alih-alih melakukan hal itu Emily lebih memilih menjatuhkan diri keatas kasur kemudian menutup mukanya dengan bantal dan dia mulai berteriak, tapi sialnya Dylan masih mendengar teriakan yang teredam itu, karena terdengar suara tawa Dylan diiringi dengan suara langkah kakinya di depan kamar gadis itu.

*****

"Tidak, kau tidak boleh bekerja hari ini, aku akan meminta ijin kepada Bosmu," Dylan berjalan menuju wastafel kemudian mencuci piring kotor bekas mereka sarapan pagi ini. Sepanjang sarapan tadi diisi dengan perdebatan, Dylan melarang Emily untuk bekerja hari ini mengingat kakinya yang masih cedera, sedangkan Emily memaksa untuk pergi kerja.

"Kau tidak mengerti, aku harus menyelesaikan laporan keuanganku secepatnya jadi aku tidak mungkin bolos kerja."

"Kau tidak bolos, kau sedang cedera, Em." Dylan berjalan menuju sofa tempat Emily duduk sambil cemberut.

"Dengar! Bagaimana kalau kau minta mereka mengirimkan pekerjaanmu lewat email? Atau mengirimkannya kesini?" Dylan mencoba memberikan solusi, dan sepertinya Emily bisa menerima itu.

"Baiklah aku akan meminta Jane mengantarkannya kesini," ucap Emily setelah mempertimbangkan usul Dylan, yang ditanggapi pria itu dengan mengacak-acak rambut Emily sambil tersenyum.

"Kau tidak pergi kerja?" Tanya Emily sambil meminum coklat panas yang tadi dibuatkan Dylan untuknya.

"Aku akan pulang dulu untuk ganti baju, aku sudah menghubungi Theo kalau aku akan sedikit terlambat," Dylan berdiri lalu memakai jaketnya dan bersiap-siap pergi, "Aku akan datang lagi nanti siang untuk membawakanmu makan siang," Dylan mengambil kunci mobilnya dari atas meja.

"Jangan bertingkah aneh ok? Atau kakimu akan kembali sakit, apa sebaiknya aku tidak masuk kerja saja hari ini?" Dylan tampak ragu meninggalkan Emily sendirian dengan kaki yang cedera.

"Demi Tuhan, Dylan, aku cuma keseleo, ok? Aku masih bisa bergerak," Emily mendorong Dylan ke arah pintu keluar.

"Aku baik-baik saja, kalau ada apa-apa kau orang pertama yang aku hubungi," lanjut Emily sambil membuka pintu apartemnya, "Jadi sekarang pergilah, Theo pasti sudah menunggumu," perintah Emily sambil memberi tanda dengan kepalanya supaya Dylan pergi.

"Baiklah aku pergi, ingat jangan melakukan hal-hal aneh oke?" Emily hanya memutar bola matanya mendengar perkataan pria itu.

"Aku berjanji, aku tidak akan melakukan koprol dengan kaki seperti ini." Dylan tersenyum mendengar ucapan kesal gadis itu.

"Baiklah-baiklah aku pergi sekarang," dengan kedua tangan terangkat seperti orang yang menyerah Dylan keluar dari apartemen Emily.

"Em."

Dylan memanggil Emily yang hendak menutup pintu, dan tanpa permisi pria itu mencium lembut Emily dengan tangan memegang kedua sisi kepala gadis itu yang masih berdiri mematung karena terkejut, setelah tersadar dari keterkejutannya Emily perlahan memejamkan matanya dan memegang kerah jaket Dylan untuk menariknya lebih dekat.

Masih tersisa rasa manis dari coklat yang tadi diminum Emily yang membuat Dylan semakin memperdalam ciumannya, tangan Emily kini telah bergelayut dengan mesra di leher pria yang notabanenya adalah sahabatnya sendiri. Demi Tuhan, seseorang dari mereka harus memghentikan ciuman itu, dan Dylan yang berinisiatif melakukan hal itu walaupun itu hal yang paling berat dia lakukan. Kening mereka saling beradu dengan nafas saling memburu, senyum terbit di bibir keduanya.

Dylan mencium kembali bibir Emily dengan cepat, "Sampai jumpa nanti siang," ucap Dylan dengan suara serak dan perlahan pergi meninggalkan Emily yang masih belum sepenuhnya sadar dari kejadian tadi.

Perlahan Emily menutup pintu apartemennya lalu menjedotkan kepala ke daun pintu yang tertutup, Emily mencoba mengatur napasnya supaya kembali tenang.

"Dylan, sialan! Aku rasa aku akan terkena serangan jantung gara-gara dia," geram Emily sambil berjalan menuju sofanya.

Baru saja Emily menenangkan jantungnya yang berpacu di luar batas normal, telepon genggamnya tiba-tiba saja berbunyi dengan nyaring yang sukses mengejutkan Emily dan membuat dia melonjak kaget.

"Aww!"

Emily meringis ketika merasakan kakinya berdenyut karena lonjakannya tadi kakinya tanpa sadar terbentur meja. Tanpa melihat nama sipenelpon, Emily menjawab panggilan itu sambil mengelus-elus kakinya yang sakit.

"Ok, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi? Aku baru saja merasakan jantungku mau copot, dan berhubung aku baik-baik saja pasti ada sesuatu yang terjadi denganmu.”

Emily memeriksa nama si penelpon dan meringis setelah mengetahui siapa yang menghubunginya. Ya Tuhan, untuk saat ini dia berharap andai sinyal ikatan batin di antara dia dan kembarannya bisa seperti sinyal telepone yang mengalami gangguan betapa bahagianya dia, tapi sayang sinyalnya dengan kembarannya itu melebihi kecepatan 4G.

*****

1
darmiati thamrin
seperti biasa.. karyamu selalu kereeen... makasih ya untuk authornya
Anonim
Siapa ya pangawal itu
lala
penokohan, alur cerita sampai tata bahasanya yang rapih buat novel ini kereeeen banget
sherly
menarik
Ana Setya Diningsih
Keren...keren... keren...karya ka alana selalu keren.
Ana Setya Diningsih
Aahhhh selalu suka alur cerita ka Alana.../Kiss/
Ana Setya Diningsih
Baca lagi kesekian kali nya. Ada yg tahu ka alana pindah kemana? Kangen karya² nya
Putri Nurmala Sari
Novel-novel karya alana kanaya selalu menarik untuk dibaca
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝ Kɪͫᴀͣɴͬᴅᷤ⏤͟͟͞Rą
hhmmm mungkin sajaa tp yg melakukan pacarnya dengan mnggunakan komputer jen
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝ Kɪͫᴀͣɴͬᴅᷤ⏤͟͟͞Rą
hhmm kok curigaa kalau ini laki2 yg mngintai Emily
wahh Jane dibodohin nih
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝ Kɪͫᴀͣɴͬᴅᷤ⏤͟͟͞Rą
misterius
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝ Kɪͫᴀͣɴͬᴅᷤ⏤͟͟͞Rą
🤣🤣🤣🤣
Yuni Rahayu
kereeeeeeenn pisaaaaan
ida
pengen baca Alex Alexa tapi udah di hapus
cimski: pindah lapak kmana?
total 5 replies
Penti Santika
seru banget ceritanya...jadi kangen sama Oka🥰
valent
kyknya kakak adek nih dylan & calista , penasaran misteri latar belakang dylan
MoonChild7
Cerita yg luar biasa seruu 🥰😍😍😍
Evi Nopianti
suka... suka... suka
Lenni Namora
👍
Eva Maria
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!