Hidup adalah perjuangan, begitupun dengan cinta. Khanaya
Jika Cinta kita berakhir, maka berjuanglah untuk memulai semuanya dari awal lagi. Adrian
Sepasang kekasih yang menjalani hubungan mereka dengan suka cita. Namun semuanya harus terhalang oleh masa lalu si pria yang membuat Dia harus meninggalkan kekasihnya.
Namun, siapa sangka kesalah fahaman semakin terjadi saat si pria berada jauh dari pemilik hatinya. Kesalah fahaman ini membuat cinta mereka berakhir. Sampai suatu saat mereka di pertemukan kembali dan memulai semuanya dari awal lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Anak? Siapa yang di maksud pria itu?
Andin kembali masuk ke dalam kamarnya dengan fikiran yang kacau. Dia terus memikirkan perkataan pria tadi. Siapa yang di maksud anak Tuan nya itu?
Apa mungkin aku bukan anak kandung Ayah dan Ibu ya. Aaaa.. Aku gak mau, kalau sampai aku bukan anak mereka. Hiks
Sudah mengambil kesimpulan sendiri, tanpa mencari tahu kebenaran nya. Abdin terus memikirkan perkataan pria tadi sampai Dia selesai dengan mandinya.
Kalau beneran aku bukan anak Ayah dan Ibu, terus aku anak siapa??
Masih menjadi pertanyaan yang terus berseliweran di kepalanya. Kalau misalkan bukan aku? Terus siapa? Abang? Gak mungkin, Abang kan anak pertama Ibu dan Ayah.
Andin menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi tengkurap. Membenamkan wajahnya di atas bantal.
...🐦🐦🐦🐦🐦🐦...
Sementara itu di dalam ruang tamu semuanya masih terasa mencengkam menegangkan. Maria menatap tajam pada pria yang duduk di depannya yang masih terlihat tenang.
"Kalau memang Dia ingin bertemu dengan anaku. Kenapa baru sekarang Hah? Setelah belasan tahun Dia meninggalkan ku dan lebih percaya pada Ibunya" kata Maria dengan amarah yang meluap luap
"Saya hanya menjalankan tugas dari Tuan, untuk lebih jelasnya silahkan anda temui Tuan di tempat ini besok siang" pria itu menyimpan secarik kertas berisikan alamat salah satu cafe
Cih
"Saya tidak mau menemuinya, sampai kapanpun" tolak Maria tegas
"Kalau anda tidak mau menemuinya dan bicara baik baik padanya. Maka jangan salahkan saya jika saya akan mengambil anak anda dengan paksa"
Maria tersenyum sinis "Gak usah mengancam saya. Sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa memisahkan aku dengan anaku"
"Kalau begitu datanglah, anda tahukan bagaimana sifat Tuan jika keinginannya tidak di penuhi. Tuan sudah berubah Nonya, tidak seperti dulu lagi"
Cih
"Berubah? Apa Dia sudah berubah dan tidak lagi di perdaya oleh Ibunya?"tanya Maria sinis
Pria itu diam, mungkin untuk satu ini Tuannya belum berubah. Namun setidaknya Dia tidak seegois dulu.
Maria tersenyum sinis "Enggak 'kan? Sudah ku duga, kalau pria bodoh itu masih sama seperti dulu"
"Maaf Nyonya, sepertinya saya harus pergi. Jika Nyonya ingin mempertahankan anak anda, maka besok siang datanglah dan temui Tuan" Dia berdiri lalu pergi meninggalkan rumah Maria.
Maria masih duduk di tempatnya dengan perasaan was was. Tidak mau kalau anaknya di ambil oleh pria itu. Pria yang telah menyakitinya selama ini.
Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Terlalu berat untuk Maria menghadapi hidup sampai saat ini. Dia belum siap jika harus bertemu lagi dengan orang di masa lalunya.
"Bu" Adrian sudah duduk di samping Maria membuat Dia terkejut
"Ad..drian?? Sejak kapan kamu di..sini?" Tanya Maria gugup
Apa Dia mendengar semuanya?
"Baru saja Bu, tamunya udah pergi?"tanya Adrian
Maria menghembuskan nafas lega "Sudah"
"Tadi itu siapa Bu?"tanya Adrian penasaran
"Di...dia.... teman Ibu waktu kuliah. Cuma mau memberi tahukan kalau besok siang ada acara reuni" bohong Maria
Adrian mengangguk mengerti, meski tidak bisa di pungkiri kalau ada yang janggal dalam hatinya. Tidak mungkin kalau pria itu hanya untuk memberi tahukan acara reuni saja. Melihat bagaimana ekfresi Ibunya tadi.
Sebenarnya apa yang di sembunyikan Ibu??
Keesokan harinya, Maria telah mneceritakan apa yang terjadi kemarin pada suaminya. Dia juga minta izin untuk menemui orang yang ingin Dia temui itu.
"Beneran mau datang menemuinya Bu? Gimana kalau aku gak usah kerja aja dan pergi menemanimu bertemu Dia" kata Deni
Maria yang sedang memasangkan dasi di leher suaminya menggeleng "Gak perlu Yah, aku harus temui Dia dan bicara baik baik sama Dia. Lagian Ayah juga gak bisa ambil cuti mendadak seperti ini"
Deni mengangguk "Baiklah, hati hati ya kalau ada apa apa hubungi aku. Cup" Deni mencium kening istrinya
"Iya"
...🐦🐦🐦🐦🐦🐦...
Maria telah berada di cafe, duduk menunggu seseorang yang ingin bertemu dengannya. Di temani segelas jus mangga yang masih terluhat utuh, belum tersentuh sedikit pun.
Seorang pria paru baya yang masih terlihat gagah dan ketampanan nya tidak berubah seingat Maria. Dia tetap terlihat tampan meski tidak lagi muda.
Duduk di kursi depan Maria setelah sang asisten pribadi menarik kursi untuknya. Menatap Maria dengan tatapan sendu, rasa rindu, penyesalan, rasa bersalah bercampur menjadi satu.
"Maaf membuatmu menunggu Maria" kata Arnold Julian
Pria blasteran itu adalah pria di masa lalu Maria. Wanita asli Indonesia yang lemah lembut dan penuh dengan keceriaan itu berhasil membuat seorang Arnold jatuh cinta padanya. Tapi sayang, perjuangan cinta mereka harus berakhir di tahun ke dua pernikahan mereka.
Maria meremas tangannya di bawah meja, jujur saja Maria masih merasakan getaran itu. Getaran yang selama 18 tahun yang lalu Dia rasakan. Kini Dia harus bertemu lagi dengan pria yang menghancurkan hidupnya. Tapi, bodohnya Maria tidak bisa membenci pria di depan nya ini.
"Maria, mari berdamai untuk anak kita" kata pertama yang Arnold katakan setelah cukup lama mereka terdiam dengan fikiran masing masing.
Maria mencoba menetralkan perasaannya, Dia tersenyum sinis "Berdamai? Memang selama ini kita musuhan ya? Aku tidak merasa memusuhimu selama ini"
Skakmat!!
Arnold tak mampu lagi berbicara untuk menyangkal ucapan Maria. Benar, Maria tidak memusuhinya selama ini. Bahkan Maria masih menghubunginya saat putranya lahir ke dunia tanpa ada Arnold di sampingnya.
Tapi sayang, saat itu mata hati Arnold masih tertutup. Dia terlalu mempercayai ucapan Ibunya yang ternyata hanya dusta.
Kini, Maria tidak pernah lagi menghubunginya sejak saat itu dan Dia pindah ke kota ini. Maria lelah, jika hanya Dia yang berjuang sementara Arnold tidak mau berjuang demi mempertahankan rumah tangga mereka. Semuanya percuma, hanya akan sia sia.
"Cih. Setelah selama 18 tahun lamanya kau baru datang untuk menemui anakmu? Selama ini, Dia sudah hidup bahagia dan hidup dengan benar. Jadi kumohon jangan ganggu Dia" kata Maria penuh dengan penekanan
"Maria, pleasss. Aku tidak bisa lagi mempunyai keturunan dari istriku saat ini. Hanya Dia yang bisa menggantikan ku meneruskan perusahaan keluarga Julian" kata Arnold memelas
Cih
"Kenapa istrimu tidak bisa memberikan keturunan untukmu? Bukankah Dia adalah wanita bermatabat yang selalu di bangga banggakan Ibumu itu" kata Maria dengan emosi meluap luap
"Maaf" lirih Arnold dengan wajah menunduk
Maria tersenyum sinis "Maaf tidak bisa merubah semuanya Arnold. Tidak bisa merubah bagaimana dulu aku hidup luntang lantung tanpa suami. Sampai usia Adrian 8 bulan, Mas Deni datang mencariku dan dengan lapang dada Dia mau menikahiku dan menerima Adrian seperti anak kandung nya sendiri"
"Saat aku berharap kamu yang mencariku Mas. Meski kita sudah resmi bercerai saat Adrian baru tiga hari lahir ke dunia ini. Bodohnya aku masih menunggu dan mengharapkan mu datang mencariku dan anaku" air mata sudah tidak bisa lagi di tahan oleh Maria
Masa lalu yang terlalu menyakitkan untuk di ingat lagi. Maria yang di telantarkan oleh suaminya saat Dia hamil 8 bulan. Karna Ibu mertuanya yang tidak menyukai Maria, dengan mudahnya Dia mempengaruhi fikiran Arnold dengan memfitnah Maria.
Maria yang saat itu baru saja pulang dari rumah sakit setelah memeriksa kandungannya bertemu dengan Deni secara tidak sengaja.
Maria yang sudah mengenal Deni dengan baik karna dulu mereka satu sekolah. Deni adalah kakak kelasnya, tapi sayang kebaikan Deni yang ingin mengantarkan Maria pulang malah di manfaatkan mertuanya untuk memfitnahnya.
Arnold yang sedang ada tugas di luar negri membuatnya tidak tahu apa yang terjadi dan di alami istrinya di tanah air. Sehingga saat Ibunya memberi tahukan kalau Maria selingkuh dengan pria lain yang bernama Deni.
Sungguh membuat Arnold murka, pria posesif ini bodoh tanpa mau menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga begitu mudahnya Dia menceraikan Maria dan mengusirnya tanpa belas kasihan sedikit pun. Padahal saat itu Maria sedang mengandung anaknya.
Hingga sebulan kemudian barulah Arnold mengetahui kebenaran nya. Dia kalang kabut mencari keberadaan istrinya. Salah... Tapi sudah menjadi mantan istrinya. Arnold tahu kalau Maria sudah melahirkan anaknya seminggu yang lalu, tepat saat mereka sah bercerai.
Namun sayang, Maria sudah pergi dari kota itu membawa anaknya bersama dengan sakit dan luka di hatinya.
Bersambung
Like Komen nya dan vote nya juga jangan lupa ya.🤗🤗
ku tunggu karya slanjutnya kak😉
thank kaka akhirnya happy ending ,