Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Diculik
"Kenzie! Kenzo...! Di mana kalian berada nak?"
Ayuna lemas seketika. Bagaimana bisa penculik datang ke rumahnya dan mengambil dua buah hatinya. Padahal ia tak pernah merasa memiliki masalah dengan orang lain. Bahkan tak satupun dari keluarganya ada yang mengetahui di mana ia tinggal.
"Kamu ada musuh?" tanya Erlangga.
"Ayuna menggeleng lemah. "Saya nggak pernah bermusuhan dengan siapapun," jawabnya diselingi dengan isak tangisnya. "Saya harus cari mereka ke mana? Kasihan mereka. Mereka masih terlalu kecil. Bagaimana kalau orang itu mencelakainya. Anakku..., hanya mereka yang saya punya pak, tolong bantu saya."
Tangan lemahnya menggenggam tangan Erlangga meminta belas kasihnya. Ia tak peduli meskipun dianggap wanita murahan, baginya yang paling penting anaknya bisa diselamatkan.
"Uang lima ratus juta itu banyak, saya dapat dari mana uang sebanyak itu? Haruskah saya jual diri?"
Disela-sela kegelisahan yang dialami oleh Ayuna menjadi kesempatan emas bagi Erlangga yang memang memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengannya.
"Jual saja padaku, aku pasti akan membantumu."
"A—apa?" Ayuna melotot dan langsung menjauhkan tangannya. "Bapak memanfaatkan kelemahan saya?"
"Bukannya kamu sendiri yang bilang harus jual diri untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat? Memangnya kamu mau jual ke mana? Bahkan gajimu tak sepadan untuk bisa mencapai nominal itu. Sekarang kamu pikir baik-baik, bekerja sama denganku, atau anakmu dalam bahaya."
"Tapi mereka juga buah hati anda, pak! Anda sendiri yang mengakui mereka sebagai milik anda. Kok anda tega mengabaikan hal sepenting ini. Mereka dalam bahaya, dan anda malah mengajak tawar menawar dengan saya!"
Erlangga mundur beberapa langkah dan menduduki kursi kerjanya sembari bergumam. "Terserah kamu saja. Aku nggak mau rugi. Pilihan ada di tanganmu."
Ayuna mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras. Ia menyesal sudah berkata harus jual diri, tapi perkataan itu tak bisa ditarik kembali. Demi dua nyawa, ia terpaksa harus mengorbankan harga dirinya sekali lagi.
"Baiklah, saya setuju," cicitnya pelan dengan wajah menunduk.
Erlangga menatapnya dingin tanpa ekspresi. "Bagus. Sekarang tandatangani perjanjian ini." Pria itu menyodorkan kertas putih yang sudah dipersiapkannya.
Sebelum menandatangani perjanjian itu Ayuna membacanya terlebih dahulu. Dia melebarkan matanya saat melihat isi dari perjanjian itu.
"Apa Bapak ingin menjadikan saya perempuan simpanan anda? Saya cuma minta dibantu lima ratus juta, dan anda meminta saya untuk melayani seumur hidup. Anda sudah gila ya pak?"
Dengan santainya pria itu menjawab. "Terserah kau saja. Mau atau tidak, aku nggak maksa."
"Tapi ini keterlaluan pak! Ini tidak sepadan dengan pengorbanan saya. Saya ini orang susah, dan anda malah memanfaatkannya. Saya setuju bukan berarti saya memang berniat untuk jual diri. Saya butuh uang itu dengan segera, dan rasanya tidak adil kalau sampai saya harus menjadi pelayan anda seumur hidup. Bagaimana anggapan orang-orang di sini? Jangan mentang-mentang Bapak memiliki kekuasaan bisa seenaknya sendiri menekan orang miskin seperti saya."
Erlangga menarik nafasnya dengan menopangkan dagu pada satu tangannya di atas meja sembari berkata. "Nyonya Ayuna yang bawel, aku memintamu untuk menjadi pasanganku. Jadilah istri yang patuh. Aku akan penuhi kebutuhanmu dan juga anak-anak. Seumur hidup bukan berarti aku hanya mengawinimu tanpa ikatan pernikahan. Aku ingin kita menikah secara sah. Apa kau paham?"
"Tapi bagaimana dengan keluarga anda? Apakah mereka bakalan mau menerima kehadiran saya sebagai pasangan anda. Anda juga sudah terikat dengan seseorang, dan saya tidak ingin menjadi orang ketiga pak!"
Agak kesal ditolak mentah-mentah. Padahal selama ini tidak sedikit wanita ingin menjalin hubungan dengannya, tapi kenapa wanita satu itu sangat sulit untuk ditaklukkan.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau, aku nggak maksa," cicit Erlangga. "Urus saja sendiri masalahmu, jangan mengharap bantuanku."
Erlangga langsung melangkah keluar meninggalkannya. Di situ Ayuna stress sendirian. Dia memekik dengan mengacak rambutnya.
"Kejam..!" Ayuna memekik. "Kok ada laki-laki macam gitu! Mentang-mentang memiliki kekuasaan, memperlakukan orang seenak jidatnya. Padahal sudah tahu anaknya sendiri yang diculik, tapi masih juga setenang itu. Kok ada Bapak macam itu!"
Tak peduli kalaupun ada orang yang mendengar ocehannya. Hatinya sudah sangat kesal dan ingin sekali menjerit keras memakinya.
"Ayuna, kamu kenapa menangis? Siapa yang membuatmu menangis?"
Mila terkejut mendapati kehadiran Ayuna dengan wajah sembabnya. Bahkan air matanya masih juga jatuh menetes tak terbendung.
"Mila, anakku diculik."
"A—apa? Bagaimana ceritanya?"
Ayuna menggeleng. "Tadi pagi mereka masih sekolah. Bahkan aku sempat menjemput dan mengantarnya pulang, tapi barusan..."
Hiks... Hiks... Hiks....
Ayuna kembali menangis hingga tubuhnya gemetaran.
"Barusan kenapa Ayuna? Bisa diceritakan padaku?"
Mila ikut panik. Dia cukup tahu bagaimana perjuangan Ayuna selama ini. Bahkan dia juga sudah sangat dekat dengan anak-anak sahabatnya itu.
"Barusan ada nomor tak dikenal. Aku coba angkat dan dia mengancamku, Mila." Dengan diselingi tangisan Ayuna memberikan penjelasan pada sahabat baiknya.
"Dia bilang apa?"
"Dia bilang minta tebusan lima ratus juta dan itu harus diberikan sekarang juga. Uang sebanyak itu aku dapat dari mana Mila, bahkan dua tahun bekerja tak membuatku bisa mengumpulkan uang sebanyak itu."
Refleks Mila mendelik, terkejut. "Apa? Lima ratus juta?"
"Iya Mila. Uang sebanyak itu aku dapat darimana coba?"
Mila menarik nafasnya yang tertahan. "Nggak ada pilihan lain. Kamu harus minta bantuan pak Erlangga. Aku yakin beliau bakalan bantu. Apalagi kamu pegawai di sini."
Ayuna tersenyum getir. "Tidak semua atasan memiliki rasa empati, Mila. Apalagi aku hanya pegawai rendahan. Aku harus berjuang sendiri untuk menyelamatkan anakku. Aku pamit ya..., doakan semoga anak-anak segera ditemukan."
Ayuna modal nekat, meskipun hanya bermodalkan nyawa, ia akan mencari di mana anaknya disekap.
Di ruangan lain Erlangga menemui Sofyan. Dia menjelaskan semua yang dialami oleh Ayuna. Bahkan pria itu tak ragu untuk menjelaskan identitas bocah kembar yang dimiliki oleh Ayuna. Hanya Sofyan yang ia percaya, bahkan ia lebih mempercayainya dibandingkan dengan keluarganya sendiri.
"Cepat kerahkan anak buah untuk melakukan pencarian terhadap putraku. Aku kasih waktu lima jam dari sekarang!"
"Tuan sudah gila ya?! Sekarang saja saya masih belum mengabari mereka untuk melakukan pencarian terhadap si kembar, dan anda memberikan batas waktu lima jam dari sekarang. Kenapa tidak lima detik saja sekalian?"
"Aku tidak sedang bercanda Sofyan! Aku serius!"
"Saya juga Tuan," bantah Sofyan. Hanya pria itu yang berani melawannya. "Saya juga tidak sedang bercanda. Apa Tuan pikir waktu lima jam itu tidak terlalu singkat? Bahkan kita masih belum mengetahui di mana si kecil disekap."
Tangan Erlangga mengepal dengan rahang mengeras. Dia masih belum mengetahui secara jelas siapa dalang dibalik penculikan itu, tapi ia janji tidak akan membiarkannya lolos.
"Siapkan mobil sekarang!"