Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesi Curhat
Pukul 11 siang. Jeviza duduk termenung di perpustakaan seorang diri. Biasanya ada Tevi di sebelahnya, namun kali ini gadis itu masih tertahan di toilet akibat soto pedas yang ia makan tadi pagi untuk sarapan.
Buku di depan Jeviza masih terbuka, tetapi sama sekali tidak ia baca. Sekedar pajangan karena tempat yang ia kunjungi saat ini. Pikiran Jeviza penuh akan masalahnya dengan keluarga Kean. Apa lagi nanti orang tuanya akan datang. Jeviza harus bersiap apapun itu yang akan orang tuanya katakan nanti.
"Gue denger-denger lo ikut Kean ke rumah eyangnya?"
Jeviza menoleh, tubuhnya sempat menegang melihat Vio yang tiba-tiba duduk di depannya.
Laptop mulai gadis itu nyalakan, sesekali melirik Jeviza yang masih diam.
"Dari awal lo emang ngincer, Kean kan?"
Jeviza menghela napas dalam. Menatap Vio dengan tatapan datar, tidak ada takut seperti biasanya, karena jujur saja rasa takutnya sudah habis untuk kedatangan orang tuanya hari ini.
"Kalau gue nggak ngincar juga kenyataannya kita tetep tinggal satu rumah, kak."
Vio mendengus, mendongak pada Jeviza, tertahan dengan sorot mata yang sama sebelum kembali fokus pada layar laptopnya.
"Ck, mau satu rumah satu kamar pun. Kean nggak akan suka lo, dia cuma manfaatin lo karena kalian tinggal bareng, semua orang juga tahu kalau Kean masih gamon sama Agnes."
Jeviza mengepalkan tangannya, tetapi dadanya tergelitik ingin tertawa mendengar ucapan Vio.
Ia menutup buku yang dibawanya. Berdiri dan menatap Vio, kali ini dengan sorot mata menantang.
"Emang pernah kak Kean bilang kalau kak Agnes mantannya?"
Jeviza berbalik, tidak memberi kesempatan Vio untuk menjawab ucapannya.
Vio diam, tangannya terkepal di atas meja. Memang bukan Kean sendiri yang mengatakan jika Agnes mantannya, tetapi yang beredar memang keduanya yang dulu sangat dekat di waktu SMA, dan putusnya mereka karena Agens harus melanjutkan kuliah di luar negeri.
Jeviza berjalan santai di koridor kampus. Masih ada sekitar 1 jam sebelum kelas kembali di mulai. Ia meniliki sekitar yang tampak begitu ramai, tetapi entah kenapa ia merasa seperti ada yang kurang.
Keandra yang sekarang berada di Jakarta, tidak di satu kota yang sama dengannya.
"Apa-apaan sih, gue?" Jeviza menggelengkan kepalanya. Mengingat pikiran anehnya yang merasa kesepian dengan tidak adanya Kean.
Ingatkan Jeviza, kalau masalah pelik yang sedang terjadi saat ini bersumber dari cowok itu, harusnya Jeviza marah, bukan malah merasa kesepian tanpa adanya sumber masalahnya.
"Jevi." Tevi berlari menghampiri.
Jeviza menoleh, mengamati wajah Tevi yang tampak lebih pucat dari tadi.
"Vi, lo pucet banget? Absen aja deh, lo butuh istirahat."
Tevi menggeleng. Mencoba menenangkan Jeviza dengan seulas senyumnya. "Aman kok, Je. Ini juga udah nggak mules lagi."
"Yakin? Kalau nggak kuat bilang, gue temenin lo pulang."
Tevi mengangguk, menggandeng Jeviza untuk menuju ke taman kampus.
"Duduk di sana kayaknya enak, Je. Spoi-spoi anginnya."
Jeviza menoleh pada bangku besi panjang di bawah pohon. Lalu mengangguk. "Ayo."
Sejenak Jeviza melupakan masalahnya, tetapi tetap raut cemas dan juga kebingungan Jeviza dapat dilihat Tevi yang notabennya paling peka diantara mereka.
"Lo dari pagi keliatan kaya orang bingung, Je." Tevi menatap seksama Jeviza, lalu beralih pada kedua kakinya yang ia ayun-ayunkan. "Kalau ada masalah, cerita aja nggak papa, gue pasti dengerin."
Jeviza merubah posisinya menghadap Tevi, bingung ingin memulai dari mana.
"Vi, kalau tiba-tiba mantan lo ngajak nikah, lo mau gimana?"
Untuk yang pertama kalinya, Tevi tidak setenang biasanya ketika mendengar cerita Jeviza, ia bahkan sampai tersedak air ludahnya sendiri.
Mantan Jeviza ngajak nikah?
Kak Kean maksud lo kan, Je?
"Ini maksudnya, mantan lo kan, Je?"
Jeviza tercengang, ia tidak mengatakan itu dirinya, tetapi memang dari cara mengutarakan juga bukan seperti sedang menceritakan orang lain.
Tevi menggeser tubuhnya, mengamati sekeliling, tampak ada beberapa mahasiwi juga yang sedang mengobrol di bawah pohon seperti mereka, tetapi jaraknya masih cukup jauh.
"Je, jujur sama gue, selama ini lo selalu cerita tentang mantan, itu kisah lo sendiri kan?"
Jeviza tidak langsung menjawab, ia menatap Tevi tidak percaya. Tevi sangat pintar dalam menilai seseorang, seperti halnya memaknai ceritanya selama ini.
Lalu anggukan kepala Jeviza seketika membuat Tevi menghela napas dalam, tetapi sorot mata itu masih begitu intens, tidak biasa.
Jangan bilang lo juga tahu siapa mantan gue
Jeviza menatap Tevi mencari jawaban, melihat gelagat Tevi yang kini berubah normal tidak seintens tadi, Jeviza mendesah dengan napas yang sangat pelan.
Gue rasa, enggak
"Je, mantan lo juga kuliah di sini kan?"
Lagi, pertanyaan Tevi yang lebih terdengar seperti pernyataan itu membuat Jeviza semakin terperangah.
"Vi, lo kok bisa?"
Jeviza tidak tahu lagi, sebanyak apa Tevi curiga atau tahu tentang hubungannya dengan mantan yang sebenarnya tidak pernah Jeviza ceritakan secara gamblang. Tetapi Tevi selalu berhasil menyimpulkannya dengan benar.
"Gue udah curiga dari lama, sorry Je. Tapi gue harus bilang ini ke lo."
Tevi membenarkan letak kaca matanya, seakan apa yang akan ia bicarakan sesuatu yang sangat besar dan jelas serius.
"Mantan lo itu...kak Kean, kan?"
Duar
Jeviza diam tidak bisa bereaksi apa-apa selain telinga yang tiba-tiba seperti berdengung, juga jantung yang berdetak dengan begitu cepat karena ucapan Tevi. Biasanya ia merasakan kegugupan seperti sekarang ini ketika bersama Kean, tetapi Tevi, gadis itu ternyata mengetahui banyak rahasia tentangnya, tanpa Jeviza beritahu.
"It's okay, Je. Nggak papa, kalau emang dia mantan lo, gue bisa jaga rahasia kok, sampai lo sendiri siap buat jujur sama yang lain."
Tevi menggenggam tangan Jeviza, tersenyum ditengah wajah pucat Jeviza.
"Vi, lo cenayang?" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Jeviza.
Kali ini Tevi terkekeh, memperlihatkan lesung pipi kanan dan kirinya. Terlihat lebih manis.
"Gue beberapa kali nggak sengaja liat interaksi kalian, Je. Terus tatapan kak Kean ke lo itu beda." Tevi ingat beberapa kali melihat tatapan mata Keandra pada Jeviza.
Apa lagi Kean pernah mengirimnya pesan untuk menanyakan keberadaan Jeviza padanya, rasanya kalau hanya sebatas saudara jauh yang kebetulan tinggal bersama itu tidak akan seintens itu. Tevi cukup tahu.
"Jadi, yang sering mereka bilang mantan kak Kean itu, juga lo kan, Je? Bukan kak Agnes?" Tevi bertanya dengan hati-hati.
Jeviza menghela napas panjang, tidak mengiyakan, tetapi juga tidak menyangkal.
"Gue nggak tahu, Vi. Setelah putus 2 tahun lalu kak Kean punya pacar lagi apa enggak."
Tevi langsung menggeleng sebagai jawaban. "Kata anak-anak sih enggak, Je. Makanya pada bilang susah deketin kak Kean karena rumornya masih belum move on sama mantan SMAnya kan?"
Tevi tersenyum menggoda, menyenggol lengan Jeviza. "Enggak taunya temen gue ini yang bikin si mahadahsyat Keandra galmov."
Jeviza ikut menyunggingkan senyumnya, wajahnya sudah merah karena digoda Tevi.
"Pasti canggung banget ya, Je? Selama ini lo harus satu rumah sama kak Kean, secara mantan nasa satu atap?"
Jeviza menganggukan kepalanya. Mengingat interaksi dengan Kean yang selalu mendebarkan dadanya.
"Terus, kok bisa beliau yang masih muda ini ngajak lo nikah? Kalian enggak-"
Jeviza buru-buru menggeleng. "Ceritanya panjang dan rumit Vi, kapan-kapan gue ceritain, tapi janji keep silent ya Vi?"
Tevi menganggukan kepalanya, ia senang karena diantara teman Jeviza, ia yang dipercaya untuk menjaga rahasia gadis itu yang bisa saja menggemparkan satu kampus.
Gue penasaran reaksi anak-anak kalau tau kak Kean mau nikah, dan nikahnya sama lo, Je
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭