Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Terendah dan Keputusan Nekat
Tiga hari telah berlalu sejak surat pemecatan itu turun, dan dunia Gavin telah berubah menjadi neraka dunia. Koper usangnya kini terasa lima kali lebih berat saat dia seret menyusuri jalanan distrik Ximending yang diguyur hujan gerimis.
Gavin mencoba melamar pekerjaan apa saja. Dia mendatangi beberapa kedai makanan di sekitar Taipei, memohon dengan wajah melas agar diizinkan mencuci piring atau mengangkat karung beras. Namun, semua pemilik kedai menggelengkan kepala saat melihat paspornya. Tanpa surat izin kerja resmi dari pabrik lama yang aktif, mempekerjakan Gavin berarti pelanggaran hukum berat. Dia adalah pekerja ilegal sekarang.
Malam harinya, Gavin duduk meringkuk di sudut koridor stasiun bawah tanah yang dingin. Dompetnya kosong melompong, hanya menyisakan beberapa koin recehan yang bahkan tidak cukup untuk membeli sebotol air mineral.
Untuk pertama kalinya dalam 27 tahun hidupnya, air mata Gavin benar-benar jatuh membasahi pipinya. Dia menangis sesenggukan di kegelapan, meratapi harga dirinya yang telah hancur lebur. Dulu dia adalah sultan yang membuang-buang uang di Jakarta, dan sekarang dia bahkan tidak lebih berharga daripada tumpukan kardus bekas di sampingnya. Dia benar-benar berada di titik terendah.
Sementara itu, di lantai empat puluh lima menara kaca Chen Corp, atmosfer ruangan terasa mencekam. Di atas meja marmer Tiffany, tergeletak sebuah dokumen somasi resmi dari notaris keluarga besarnya.
Surat itu adalah perintah mutlak dari ayahnya: Jika dalam waktu empat belas hari Tiffany tidak mengumumkan pertunangan resmi dengan aliansi bisnis yang setara, seluruh hak pengelolaan dan saham mayoritas Chen Corp akan dialihkan.
Tiffany mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan rasa stres bergolak hebat di dadanya. Dia telah mengorbankan masa mudanya, waktu tidurnya, dan kesehatannya demi membangun perusahaan ini, dan sekarang keluarganya ingin merebut semuanya hanya karena dia seorang wanita yang belum menikah—yang artinya belum bisa memberi keturunan penerus untuk keluarga Chen.
"Aku tidak akan membiarkan jerih payahku selama ini sia-sia," desis Tiffany, matanya menyala penuh tekad nekat.
Otak bisnisnya yang taktis langsung bekerja di bawah tekanan ekstrem. Dia butuh suami kontrak. Tapi siapa? Pria lokal Taiwan pasti akan mudah diselidiki oleh mata-mata ayahnya. Dia butuh orang asing yang bersih dari radar politik Taiwan.
Tiba-tiba, wajah buruh Indonesia yang tempo hari menolongnya saat hujan melintas di benaknya.
Tiffany tertegun. Dia membuka laci mejanya, mengambil kembali berkas data pekerja migran yang sempat dia minta dari kepala pabrik Taoyuan sebelum dia memecat pria itu. Di sana terpampang foto wajah Gavin yang bersih tanpa riasan, rahangnya yang tegas, dan struktur wajahnya yang sangat proporsional.
"Gavin Wijaya," gumam Tiffany, jemarinya mengetuk foto itu.
Logika taktis Tiffany langsung terhubung dengan sempurna. Pria ini adalah kandidat paling realistis. Karena Tiffany tahu betul tabiat ayahnya. Pria tua itu adalah pebisnis ulung yang sangat penuh curiga. Jika Tiffany membawa pria sembarangan, ayahnya pasti akan menyewa intelijen bisnis untuk menguliti latar belakang pria tersebut dalam sekejap. Tiffany butuh tameng eksternal yang bersih dari radar politik dan bisnis di Taiwan, tetapi memiliki potensi visual yang tak terbantahkan untuk menipu mata elang sang ayah.
Pertama, statusnya sebagai warga negara asing membuatnya berada di luar lingkaran sosial dan bisnis di Taiwan. Tidak ada koneksi lokal, tidak ada keterikatan keluarga di sini. Jadi, Ayah Tiffany tidak akan bisa memeriksa latar belakang bisnis di luar negeri dalam waktu singkat.
Kedua, dia baru saja dipecat dari pekerjaan. Artinya sekarang dia tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki stabilitas, dan tidak memiliki posisi tawar.
Orang seperti ini tidak akan punya ruang untuk menolak tawaran yang tepat.
Dan yang paling penting, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk memperhatikannya.
"Cukup bisa dikendalikan," ucapnya pelan.
Sebuah senyuman dingin dan penuh kemenangan perlahan terukir di wajah pucat Tiffany. Skenario penjebakannya sudah matang di kepala.
Dia meraih interkom di mejanya. "Hubungi Pak Wang, kepala pabrik Taoyuan sekarang juga."
Hanya dalam hitungan menit, suara gemetar Pak Wang terdengar dari seberang telepon. Tiffany tidak membuang waktu. Dia langsung memerintahkan Pak Wang untuk mencari keberadaan Gavin saat itu juga.
Pak Wang yang panik tentu saja tidak tahu di mana Gavin berada. Namun, sebagai mandor yang berpengalaman, dia langsung mengumpulkan beberapa pekerja migran asal Indonesia di asrama. Lewat jaringan pertemanan sesama TKI itulah, Pak Wang akhirnya berhasil mendapatkan nomor milik Gavin.
Sementara itu, di sudut Stasiun Utama Taipei, Gavin sedang duduk lesu menatap layar ponselnya yang menyala redup karena baterai yang sekarat. Tiba-tiba, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.
Gavin buru-buru mengangkatnya. "Halo, ini siapa?"
"Gavin! Ini aku, Pak Wang. Dengar baik-baik, ada sebuah pekerjaan untukmu. Ini kesempatan terakhirmu untuk bekerja di perusahaan ini. Besok siang jam dua belas tepat, kamu datang ke restoran VIP di alamat yang aku kirimkan ini. Jangan telat! Dan jangan membuat masalah lagi!"
Klik. Panggilan diputus. Sebuah pesan teks berisi alamat restoran mewah di pusat kota Taipei masuk ke ponsel Gavin.
Gavin menatap layar hitam ponselnya dengan mata berbinar-binar cerah. Rasa putus asanya mendadak lenyap, berganti dengan senyum lebar yang penuh rasa syukur.
"Ya Tuhan... terima kasih! Apa mungkin tante judes itu menyesal karena telah memecatku?!" seru Gavin girang, memeluk koper usangnya dengan erat di tengah keramaian stasiun. "Akhirnya aku dapat kerjaan lagi! Sialan kau, Tante Judes, nanti kalau kau minta maaf tidak akan aku maafkan dengan mudah! Lihat saja besok, aku akan meminta kontrak kerja dengan gaji dua kali lipat sebagai kompensasi telah memecatku secara semena-mena! Hahaha!"
Gavin berjalan dengan langkah tegap menuju toilet stasiun untuk membasuh wajahnya, bersiap untuk wawancara kerja besok siang. Dia benar-benar tidak menyadari bahwa pekerjaan yang dijanjikan oleh Pak Wang sebenarnya adalah sebuah jebakan kontrak pernikahan yang dirancang khusus oleh sang Tante Judes untuk mengurung seluruh sisa hidupnya.