NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menitipkan Dua Jiwa Di Tanah Pusaka

Setelah tujuh hari tinggal dan bercengkrama di Nagari Pandai Sikek, akhirnya tibalah saatnya bagi Roy Arka Denta untuk berpamitan kembali ke tempat asalnya. Selama seminggu itu, ia telah berbagi cerita, menyampaikan kenyataan pahit mengenai musibah yang menimpa keluarga, dan menyaksikan sendiri bagaimana suasana di tanah leluhur tetap terjaga dengan adat dan kebersamaan yang kuat. Kini, dengan hati yang berat namun sedikit lebih tenang, ia berdiri di hadapan seluruh keluarga besar marga Sikumbang yang telah berkumpul di halaman Rumah Gadang untuk melepas kepergiannya.

Satu per satu, Roy menghadap para tetua marga yang dihormati. Dengan penuh rasa hormat dan sopan santun, ia menundukkan kepalanya dan mencium punggung tangan Datuk Rajo Alam Nan Sati Sikumbang, Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang, serta Datuk Rajo Alam Nan Gampo Sikumbang sebagai tanda bakti dan penghormatan tertinggi.

“Terima kasih atas segala sambutan, nasihat, dan perhatian yang Bapak-bapak berikan selama saya di sini,” ucapnya dengan suara yang tulus.

“Saya mohon pamit dan doa restu agar perjalanan saya selamat sampai tujuan.”

Setelah melepaskan pelukan itu, Roy berbalik menghadap Arlan Rasyad Sikumbang. Di antara semua anggota keluarga, dialah yang paling dekat dengannya, dan dialah yang akan dipercayakan untuk menjaga dua keponakan kembarnya. Tanpa ragu, keduanya saling merangkul dan berpelukan erat, seolah mengikat janji persaudaraan yang tak akan terputus oleh jarak.

“Arlan, saya harus kembali sekarang,” ucap Roy sambil menepuk pelan punggung adik iparnya itu.

“Namun saya berjanji, saya akan kembali lagi ke sini. Tepat ketika Bhumi dan Bayu menginjak usia sembilan belas tahun, saya akan datang menjemput mereka untuk dibawa pulang ke Jakarta, agar mereka dapat melanjutkan hidup dan menuntut ilmu di sana.”

Arlan Rasyad membalas pelukan itu dengan tegas, lalu melepaskannya sedikit dan menatap mata Roy dengan penuh keteguhan hati.

“Kau tidak perlu khawatir, Roy,” jawabnya dengan suara yang mantap dan penuh tanggung jawab.

“Anggap saja mereka bukan lagi keponakan bagiku, melainkan anakku sendiri. Aku akan menjaga mereka, mendidik mereka, dan menanamkan segala ajaran serta ilmu warisan leluhur dengan sepenuh hati. Selama mereka ada di bawah asuhanku, keselamatan dan kehormatan mereka akan saya jaga seolah nyawa saya sendiri.”

Mendengar janji yang tegas itu, hati Roy terasa lebih lega. Ia kembali menundukkan kepala, merasa yakin bahwa kedua anak kembar itu berada di tangan yang tepat. Setelah berpamitan sekali lagi dengan seluruh kerabat, ia melangkah meninggalkan halaman Rumah Gadang, meninggalkan dua jiwa kecil yang kini dititipkan dengan penuh harapan dan doa agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan terhormat.

Desa Pande Sikek, Minangkabau Sumatera Barat,2007

Beberapa tahun pun berlalu begitu cepat. Kini, Bhumi dan Bayu telah berusia dua belas tahun. Wajah mereka yang dulu terlihat polos kini mulai mulai beranjak remaja.Hari-hari mereka juga diisi dengan kegiatan lain yang tak kalah penting.Selepas Sekolah Berlatih Silek Minangkabau selepas Sholat Ashar dan belajar ilmu agama Selepas Maghrib.

Setelah salat Maghrib dan Isya berjamaah, atau pada pagi hari sebelum matahari terbit, kedua anak kembar itu selalu berjalan menuju surau tua yang terletak tidak jauh dari pemukiman. Di sana mereka tidak sendirian, melainkan berkumpul bersama banyak sepupu mereka dari keluarga besar marga Sikumbang, mulai dari yang seusia hingga yang lebih tua. Semua duduk berbaris rapi di hadapan Datuk Rajo Alam Nan Sati Payobadar, kakek mereka sekaligus tetua yang dihormati, untuk belajar mengaji dan memahami ajaran Islam. Dengan suara yang lembut namun berwibawa, sang kakek membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an, menjelaskan maknanya, serta mengajarkan tata cara beribadah dan akhlak yang mulia.

Di sela-sela pelajaran, Datuk Rajo Alam Nan Sati sering menyisipkan nasihat yang mendalam, menghubungkan antara ilmu agama dengan ilmu bela diri yang sedang mereka tekuni bersama.

"Danga'an elok, Cucu-cucuku sadonyo(Dengarkan baik-baik, cucu-cucuku sekalian)," ucapnya suatu hari sambil menatap seluruh anak muda yang hadir dengan tatapan penuh kasih sayang.

"Ilmu Silek Minangkabau nan kamu sadonyo palajari ko bukannyo hanyo untuak malukoi urang lain atau mancari kamangangan sajo. Ilmu ko ibarat sabiah pisau nan tajam — bisa dipakai untuak malinduang diri jo urang nan lamah, tapi juo bisa manjadi bencano kalau dapek di tangan nan indak tau bateh(Ilmu Silek Minangkabau yang kalian pelajari bukanlah semata-mata untuk menyakiti orang lain atau mencari kemenangan semata. Ilmu ini ibarat sebilah pisau tajam — bisa digunakan untuk melindungi diri dan orang yang lemah, namun bisa juga menjadi bencana jika berada di tangan yang tidak tahu batas.)"

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tegas:

"Kok karano itu, ilmu silek ko harus dilandasi dek ilmu agamo Islam nan kuek. Agamo tu panuntuak hati jo pikiranmu. Ianyo nan akan mangaja kapan harus mamakai kakuatan, kapan harus manahan diri, jo macamano manggunoan ilmu tu untuak kabaikan. Tanpa landasan iman jo takwa, surang pendekar bisa barubah manjadi perusak nan manakutkan. Tapi kalau dilandasi agamo, kakuatan tu akan manjadi palinduang jo cerminan kajujuran.(Karena itulah, ilmu silek ini harus dilandasi oleh ilmu agama Islam yang kuat. Agama adalah penuntun hati dan pikiranmu. Ia yang akan mengajarkan kapan harus menggunakan kekuatan, kapan harus menahan diri, dan bagaimana menggunakan ilmu itu untuk kebaikan. Tanpa landasan iman dan takwa, seorang pendekar bisa berubah menjadi perusak yang menakutkan. Namun jika dilandasi agama, kekuatan itu akan menjadi pelindung dan menjadi cerminan kejujuran.)"

Bhumi dan Bayu, bersama semua sepupu lainnya, mendengarkan dengan saksama. Mereka mulai memahami bahwa setiap gerakan yang mereka hafal, setiap kekuatan yang mereka bangun, harus selalu diiringi dengan pengendalian diri yang diajarkan dalam agama. Mereka diajarkan bahwa keberanian yang sesungguhnya bukanlah berani berkelahi, melainkan berani menahan amarah dan berani membela kebenaran dengan cara yang benar.

Di surau itu, di bawah bimbingan sang kakek, mereka tumbuh bersama memahami bahwa mempelajari Silek Harimau tidak hanya soal kuat dan cepat, tetapi juga soal bersih hati, jujur, dan takut kepada Tuhan. Ilmu agama menjadi pondasi yang memperkuat jiwa mereka, seiring dengan ilmu bela diri yang memperkuat tubuh mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!