Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lubang Besar
Satu tahun yang lalu
Patin tidak seperti hari biasanya berangkat ke sawah lebih pagi. Persis sesudah turun subuh.
Hari ini ia mau membuka aliran air yang terhubung ke tanahnya. Tidak lama lagi musim tandur akan dimulai.
Diselimuti kabut pagi yang masih lumayan tebal.
Matahari masih jauh untuk bisa sampai ke sebuah desa yang dekat dengan kawasan perhutanan.
Jujur saja Patin masih mengantuk. Karena akhir-akhir ini ia terlalu sering begadang.
Patin dan istrinya baru saja diberikan tanggung jawab berupa momongan.
Bayi lucu lagi imut pertama mereka sudah memasuki umur satu bulan.
Patin melangkah melalui jalan setapak di pinggiran pembatas antara sawah satu dengan sawah yang lain.
Patin yang sudah mulai bekerja membantu orang tua di ladang dari semenjak kecil, hafal betul seluk beluk tanah di tempat ia dilahirkan.
Ibarat kata mau kedua matanya ditutup pakai bh hitam doff pun Patin masih bisa sampai ke sawah warisan peninggalan kedua orang tuanya yang sudah tidak aktif lagi menjadi petani.
Sambil mengucek mata yang sayu. Patin hampir terperosok ke dalam sebuah jurang yang curam.
LUBANG BESAR
Andai saja kaki kanan Patin tidak sigap dan mengerem.
Patin sudah lewat. Terkubur hidup-hidup.
Patin terkejut bukan kepalang. Ia teriak sekencang-kencangnya.
"Gusti Allah",
"Apa ini?",
Patin jatuh tersungkur ke belakang.
Tanah sawah di desanya ambles.
Di depannya tampak sinkhole yang sangat besar.
"Astaghfirullah",
"Dosa apa yang diperbuat orang-orang di kampung ini ya Allah?",
"Ampunilah kami ya Allah",
Patin kembali ke pemukiman dimana rumah-rumah tetangga masih pada tutup.
Sambil berteriak lantang minta bantuan.
"Tolong... ",
"Tolong... ",
Rombongan jamaah sholat subuh yang baru saja turun dari masjid ikut panik menghampiri Patin yang tadi mereka lihat keluar masjid lebih dahulu.
"Ada apa Patin?",
"Kamu kenapa?",
"Tanah kita ambles... ",
Terang Patin dengan muka yang memelas.
Berbondong-bondong bapak-bapak pergi untuk melihat dengan mata kepala mereka sendiri apa yang disampaikan oleh Patin. Salah satu warga desa yang jarang bersenda gurau sia-sia.
Apakah kesaksian Patin benar adanya atau sekedar bualan sebuah fatamorgana belaka?
"Innalilahi wa innailaihi rojiun",
"Ada apa ini?",
"Kenapa ini?",
"Ini namanya sinkhole bapak-bapak",
"Sebuah fenomena alam yang juga sudah terjadi di tempat yang lain",
"Tapi kenapa sebesar ini pak?",
"Yang aku lihat di televisi luasnya bahkan tidak sampai seperempat petak sawah",
"Tapi lihatlah ini",
"Banyak warga pemilik sawah yang kehilangan tanahnya",
"Masya Allah",
Bagi mereka yang tanahnya tidak amblas lebih tenang dalam menyikapi kenyataan pahit ini.
Namun bagi mereka yang sawah atau tanahnya hilang merosot ke dalam bumi seperti Patin.
Mereka histeris, terpukul, menangis, lalu pingsan.
Kejutan tidak sampai di sana.
Ketika sang surya tiba.
Mereka melihat dengan jelas sinkhole juga memakan sampai menghabiskan jalan utama.
Jalan raya terputus.
Beberapa pekan setelah terjadinya tragedi sinkhole yang menggemparkan
"Asu... Asu.... ",
"Goblok... ",
"Habis kena musibah malah dikasihnya tausiyah, bukan bantuan atau lapangan pekerjaan",
"Kalau kamu tidak suka, ya tidak usah berangkat",
"Iya, tinggal saja di rumah",
"Bukan begitu, aku berangkat karena berkatnya kan lumayan buat makan malam keluarga",
Percakapan tiga sekawan yang memiliki lahan sawah berdampingan yang sama-sama mengalami ambles parah.
Mereka yang setiap hari akrab baik ketika bekerja di ladang ataupun ketika ngobrol di manapun menjadi semakin kompak setelah peristiwa naas yang memprihatinkan ini.
Mereka lebih bersatu terutama ketika kepala dan isi pikiran mendidih karena kehilangan yang banyak.
Mengumpat dan sumpah serapah tidak bisa ditahan.
Ketiga sekawan itu adalah Oscar, Betok dan Patin.
Terdengar sekilas nama-nama KTP atau pun nama panggilan mereka seperti nama-nama ikan yang hidup di air tawar.
Oscar adalah yang paling terpelajar diantara ketiganya. Seorang sarjana yang lebih memilih tinggal di desa sebagai seorang yang gemar bercocok tanam.
Tapi Oscar juga yang paling vokal layaknya seorang pemimpin.
"Apa-apa selalu dikait-kaitkan dengan masalah religius",
"Tanahnya amblas malah disuruh doa bersama, bukannya segera melakukan perbaikan",
"Benar juga katamu Oscar",
"Kalau jadi pemalas dan tidak bekerja, mau merapal dari subuh sampai subuh lagi pun tidak akan bisa membuahkan hasil",
"Harus bekerja",
Oscar dan Betok saling menguatkan argumen mereka.
"Bagaimana denganmu Patin, dari tadi diam saja?",
"Memangnya harus bagaimana, kita sebagai rakyat biasa hanya bisa menunggu apa tindakan yang akan dilakukan sebagai solusi oleh para pengurus daerah",
"Bukan begitu?",
"Lagian aku masih tidak habis pikir kenapa permukaan tanah bisa ambles dalam waktu satu malam",
"Kalau jawaban itu karena semakin tua bumi yang kita tinggali, menjadi semakin lapuk",
"Lapisan tanah yang memiliki rongga-rongga seketika ambyar",
"Masih bersyukur tidak ada korban jiwa di desa kita",
"Sebetulnya fenomena sinkhole itu sudah sejak zaman dahulu terjadi di belahan bumi yang lain",
"Makanya di wilayah yang tandus atau padang pasir banyak ditemukan goa",
"Kita baru sekarang mengalaminya karena dulu banyak pohon-pohon besar yang usianya sampai ratusan tahun yang menguatkan tanah dimana kita berdiri",
"Setelah hutannya mulai konsisten menjadi gundul-gundul pacul",
"Terjadilah banyak bencana seperti banjir, tanah longsor dan juga fenomena lubang besar ini",
"Sebetulnya lubang-lubang yang lain juga sudah lama ada terbentuk bahkan sebelum kita menyadarinya",
"Tapi jauh tinggi di atas sana",
"Atmosfir bumi yang semakin hari lapisannya kian menipis dan bolong-bolong",
"Penyebabnya karena polusi udara dari kemacetan lalu lintas atau pun dari asap kotor yang keluar dari limbah pabrik",
"Tapi ada juga yang memiliki pendapat bahwa semua kejadian ini tidak lepas dari kelalaian dan kebiadaban manusia sebagai makhluk yang dipercaya mengelola dunia",
"Ada yang bilang karena energi negatif dari saking parahnya perbuatan-perbuatan maksiat",
"Ada juga yang menghubungkannya dengan makhluk halus",
"Tapi bukannya memang ada di suatu tempat berupa lubang besar layaknya goa yang tembus sampai dalam ke bawah tanah yang diyakini sebagai markas atau tempat tinggal para bangsa jin dan setan?",
"Katanya kekuatan kegelapannya sangat pekat",
"Yang lebih absurd lagi ada juga yang bilang kalau lubang-lubang itu tercipta sebagai bukti eksistensi adanya alien atau makhluk dari luar angkasa",
"Maksud kamu ufo?",
Oscar dan Betok bicara panjang kali lebar di serambi masjid.
Saling adu komentar siapa yang paling sok tahu.
Patin yang banyak diam lebih suka mendengarkan kedua temannya yang nyerocos kaya perempuan.
Mereka dan jamaah yang lain sedang menunggu dimulainya sebuah acara pengajian.
"Sudah, ceramahnya dilanjutkan nanti saja",
"Pembicara yang asli sudah datang",
"Siapa itu?",
"Sepertinya aku juga baru lihat",
"Namanya profesor Albus",
"Beliau dulunya seorang mualaf",
"Beliau lulusan dari Mesir",