NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Setelah berganti pakaian dengan kaos rumahan yang longgar dan sejuk, Tina melangkah kembali ke teras depan. Langkah kakinya yang ringan terdengar berketuk di atas lantai. Namun, sesampainya di teras, ia mendapati kursi kayu panjang itu sudah kosong. Bilah-bilah bambu yang tadi dibersihkan oleh ayahnya tergeletak rapi di sudut halaman, sementara pisau rautnya sudah disimpan. Di atas meja, *totebag* kanvas tebal pemberian Ibu Yuna masih tergeletak manis dalam posisi yang sama.

"Bagaimana, Bah? Apa isinya?" tanya Tina, mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman yang sepi. Merasa tidak ada sahutan, ia melangkah masuk ke dalam rumah. "Ma... Mama?"

"Iya, Nak? Ada apa?" suara Bu Aminah menyahut dari arah kamar mandi, samar-samar terdengar gemercik air wudhu.

"Abah mana, Ma?"

"Abahmu sudah pergi ke masjid, kan sudah masuk waktu zuhur. Memangnya kenapa?" tanya Bu Aminah, muncul dari balik pintu kamar mandi dengan wajah yang basah dan segar oleh air wudhu.

"Ah, tidak apa-apa, Ma. Cuma nanya saja," jawab Tina halus.

Ia kemudian membawa *totebag* tersebut ke ruang tengah, meletakkannya di atas meja makan, dan menarik ritsletingnya perlahan. Begitu kain kanvas itu terbuka lebar, mata Tina seketika membelalak. Di dalam tas tersebut berjejer beberapa kotak transparan berisi berbagai macam kue yang terlihat sangat cantik, higienis, dan mewah. Ada potongan kuas lapis legit dengan mentega yang wangi, jajaran *pastry* modern dengan taburan kacang almond, serta kue sus buah yang vla-nya tampak mengilap menggoda selera.

Bentuk dan kemasannya jelas bukan berasal dari pasar tradisional desa, melainkan dari toko roti premium yang hanya ada di pusat kota kabupaten.

"Apa itu, Nak?" Tiba-tiba suara Bu Aminah memecah keheningan. Wanita tua itu rupanya sudah berjalan mendekati meja makan sambil membenarkan letak mukenah yang bersiap ia kenakan untuk salat.

"Ah... ini, Ma. Bingkisan dari Ibu Yuna yang tadi Ina ceritakan. Ternyata isinya kue," jawab Tina, masih agak terpaku menatap jajaran makanan manis yang tampak kontras dengan kesederhanaan meja makan mereka. "Mama mau mencobanya sekarang?"

Bu Aminah tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya perlahan. "Nanti saja, taruh saja dulu di dalam kulkas, Nak. Mama mau salat zuhur dulu sebelum waktunya habis."

"Iya, Ma," sahut Tina patuh.

Ia mengangkat kotak-kotak kue tersebut dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam lemari es. Setelah memastikan semuanya rapi, rasa lelah yang teramat sangat tiba-tiba menyerang pertahanan tubuh Tina. Kelopak matanya terasa seberat timah, dampak dari emosi yang terkuras habis karena perjalanannya menuju rumah pak David tadi. Tina berjalan lunglai menuju kamarnya, merebahkan diri di atas kasur kapuk, dan dalam hitungan menit, ia sudah tertidur pulas dalam pelukan rasa letih yang mendalam.

Satu jam berlalu dalam keheningan yang pekat. Suara derit pintu depan yang dibuka perlahan menandai kepulangan si bungsu dari sekolah.

"Assalamu’alaikum..." sapa Lisa, melangkah masuk ke dalam rumah setelah menempuh perjalanan melelahkan dari sekolah SMA-nya.

Namun, tidak ada sahutan. Lisa melepaskan sepatu sekolahnya, melangkah lebih dalam, dan mendapati rumah terasa sangat sunyi dan lengang. Tidak ada suara tawa bayi Rika, tidak ada omelan ibunya, dan tidak ada suara umpatan Fandi yang biasanya sedang sibuk dengan ponselnya.

"Kemana semua orang?" gumam Lisa heran.

Langkah kakinya membawa gadis remaja itu menuju kamar Tina. Ia mendorong pintu yang tidak terkunci rapat dan menemukan kakak perempuannya sedang tertidur begitu pulas, bahkan masih mengenakan daster rumahan dengan posisi tangan yang memeluk bantal. Lisa kemudian mengecek kamar-kamar yang lain, dan barulah ia menyadari bahwa siang itu, seluruh penghuni rumah rupanya sedang tenggelam dalam ritual tidur siang massal.

"Ah, tumben sekali Kak Tina tidur siang jam segini," batin Lisa keheranan. Biasanya, jam-jam seperti ini adalah waktu di mana kakaknya akan sibuk membersihkan dapur, mencuci baju kloter kedua, atau bersiap-siap pergi ke kebun belakang.

Merasa perutnya lapar setelah seharian belajar, Lisa melangkah masuk ke dalam dapur. Ia membuka pintu kulkas dengan harapan menemukan air dingin atau sisa lauk makan siang. Namun, begitu pintu lemari es itu terbuka, mata Lisa langsung terpaku pada beberapa kotak bening di rak tengah.

"Wah! Ini kan... kue yang sedang tren di media sosial!" seru Lisa tertahan, matanya berbinar-binar penuh ketakutan sekaligus kekaguman. Ia mengenali logo dan bentuk kue sus buah serta *pastry* almond tersebut dari video-video kuliner yang sering lewat di beranda ponselnya. "Siapa yang beli ini? Kebetulan sekali, aku mau banget beli ini sejak minggu lalu tapi tidak punya uang, hehe."

"Lagi apa?"

"Astaghfirullahaladzim! Kakak!" Lisa terlonjak kaget, memegangi dadanya yang berdegup kencang karena suara serak khas orang bangun tidur tiba-tiba terdengar tepat di belakang pundaknya. "Bikin kaget saja! Bukannya tadi Kakak sedang tidur pulas di kamar?"

Tina yang baru saja terbangun hanya mengucek matanya pelan, mengabaikan protes adiknya. Ia berjalan menuju rak gelas, mengambil satu gelas belimbing, lalu mengisinya dengan air dari teko dan meminumnya hingga tandas. Rasa kantuknya berangsur-angsur menguap.

Lisa mengabaikan rasa bersalahnya, jarinya menunjuk heboh ke arah dalam kulkas. "Kak, ini siapa yang beli? Apa ini kue-kue mahal yang di dalam kulkas asli?"

Tina meletakkan gelasnya kembali ke atas meja, tersenyum tipis melihat binar kekanak-kanakan di wajah adiknya. "Oh, itu... itu pemberian dari Ibu Yuna tadi siang sewaktu Kakak pulang sekolah."

"Ibu Yuna? Ibu Yuna yang kaya dari kota yang punya rumah panggung besar itu?" tanya Lisa memastikan dengan mata membulat.

"Iya, siapa lagi Ibu Yuna di desa ini, Lisa."

Lisa menyipitkan matanya, menatap Tina dengan pandangan menyelidik yang usil. "Hmm... emangnya Kakak punya hubungan apa dengan Ibu Yuna? Kok tiba-tiba dikasih makanan mewah begini?"

Tina mendengus geli, menjitak pelan dahi adiknya dengan ujung jari. "Kamu ini... memangnya kalau orang memberi sesuatu itu harus selalu ada hubungan khusus?

Berprasangka baik sedikit kenapa."

"Hehe, tidak juga sih, Kak," Lisa menyengir, menggosok dahinya yang tidak sakit.

"Dasar. Kalau mau dimakan, ambil saja, makan. Jangan nanti setelah kuenya habis baru dicari-cari sambil merengek," ujar Tina memberikan izin.

"Beneran bisa dimakan ini, Kak?" tanya Lisa lagi, seolah masih tidak percaya keberuntungannya siang ini.

Tina terkekeh, melangkah mendekati meja makan. "Terus, kalau tidak boleh dimakan, masa mau dipajang terus di dalam kulkas sampai berjamur?"

Tanpa menunggu komando untuk kedua kalinya, Lisa dengan riang mengambil sepotong kue sus buah yang penampilannya paling menggoda. Ia menggigitnya perlahan, membiarkan vla yang manis dan gurih meleleh di dalam mulutnya. "Hmmm! Enak sekali, Kak! Rasanya premium, beda dengan kue pasar!"

"Iya kah?" tanya Tina, memperhatikan ekspresi bahagia adiknya yang tampak sangat tulus.

"Iya, nih coba sedikit! Tapi nanti bagian Kakak yang sisa di kotak ini aku makan semua ya, hehe," goda Lisa dengan mulut yang masih penuh dengan kue.

Tina menggeleng-gelengkan kepala, hatinya sedikit menghangat melihat keceriaan adiknya. "Dasar kelinci rakus. Makan saja, habiskan."

"Sungguh, Kak?"

"Iya, Lisa. Sungguh."

Di saat Lisa sedang asyik menikmati potongan kuenya yang kedua, raut wajah remaja itu tiba-tiba berubah menjadi sedikit lebih serius. Ia meletakkan garpu kecilnya, menatap kakaknya yang sedang duduk bersandar di kursi seberang meja.

"Hm, Kak..." panggil Lisa.

"Iya, ada apa?"

"Bagaimana kalau... Ibu Yuna selalu memberikan Kakak sesuatu itu karena sebenarnya dia ada tujuan tersembunyi?" tanya Lisa, menyuarakan konspirasi kecil yang tiba-tiba melintas di kepalanya.

Tina menghela napas, menopang dagunya dengan tangan. "Kamu ini mulai lagi berpikir yang tidak-tidak. Tujuan apa memangnya?"

"Ya... bisa saja kan, Kak? Misalnya, dia itu sebenarnya suka sama Kakak dan mau menjodohkan Kakak dengan salah satu anaknya atau saudaranya yang di kota," cerocos Lisa dengan mata berbinar, khas imajinasi anak remaja yang terlalu banyak membaca cerita fiksi.

Tina tersenyum kecut, ada rasa getir yang menyelimuti hatinya saat mendengar kata "jodoh" dan "kota". "Kamu ini baru bangun tidur ya, makanya bicaranya melantur. Ibu Yuna itu datang dan tinggal di desa ini karena dia mau mencari ketenangan, Lis. Dia itu kehilangan suami dan anak tunggalnya dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun lalu di kota. Makanya dia memilih untuk tinggal di kampung untuk menghilangkan....." Tina menjeda kalimatnya, pandangannya menerawang menembus dinding dapur. "Tapi... kadang-kadang Kakak juga merasa kasihan sama Ibu Yuna. Pasti dia merasa kesepian sekali tinggal sendirian di rumah panggung sebesar itu."

Mendengar fakta tersebut, Lisa terdiam sejenak. Namun, sedetik kemudian, ia mengembuskan napas panjang dengan nada suara yang berubah menjadi sendu.

"Kok Kakak malah kasihan sama dia? Kalau aku... aku justru merasa iri, Kak. Aku lebih suka kalau bisa tinggal sendirian seperti dia, kaya, tenang, dan tidak perlu merasa terbebani dengan urusan atau masalah orang lain," tutur Lisa, suaranya melemah saat matanya menatap sudut ruang tengah yang berantakan. "Seperti keadaan rumah kita saat ini... setiap hari, setiap waktu, selalu saja ada masalah dan keributan. Tidak dari Kak Rika, ya dari Fandi. Aku... aku sampai sering berpikir, kapan ya keluarga kita bisa seperti keluarga orang lain di luar sana? Yang selalu terlihat tenang, bercanda, dan tertawa bersama tanpa perlu meributkan uang atau kemalasan setiap hari."

Tina terpaku. Kalimat polos yang keluar dari bibir adik bungsunya itu menghantam dadanya dengan telak. Ternyata, toksisitas dan tekanan di rumah ini tidak hanya merusak jiwanya, melainkan sudah mulai mengikis kebahagiaan masa muda Lisa yang seharusnya berjalan tanpa beban.

Tina mengulurkan tangannya, mengusap punggung tangan Lisa dengan lembut, mencoba menyalurkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. "Sudah... habiskan makananmu. Jangan terlalu banyak berpikir yang berat-berat, itu bukan tugasmu."

Lisa mendongak, matanya tampak sedikit berkaca-kaca.

"Semuanya pasti akan ada jalannya, Lis. Kita hanya perlu bertahan dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa," ucap Tina dengan nada suara yang bergetar, mencoba menyemangati adiknya sekaligus meyakinkan dirinya sendiri yang saat ini juga sedang berada di ambang batas keputusasaan.

"Benar, Kak. Tapi jujur ya... coba saja kalau Kakak tidak ada di rumah ini, aku pasti sudah lama kabur karena tidak betah tinggal di sini," Lisa jujur, menyuarakan isi hatinya yang paling dalam.

"Astaghfirullah, Lisa! Istighfar, tidak boleh bicara seperti itu," tegur Tina lembut namun tegas, terkejut mendengar keputusasaan adiknya yang begitu besar.

Setelah pembicaraan itu selesai,  Tina kembali menuju kamarnya sendiri. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah setiap jengkal lantai rumah ini menahan bebannya untuk melangkah maju.

Sementara itu, di meja makan dapur yang kini kembali sepi, Lisa masih duduk termenung. Potongan kue di piringnya sudah habis, namun pikirannya masih tertinggal pada sosok kakak perempuannya.

Dalam keheningan dapur itu, pikiran Lisa mengembara jauh, dipenuhi oleh rasa kagum sekaligus keprihatinan yang mendalam. *“Aku tidak tahu sebesar apa luasnya kesabaran yang dimiliki oleh Kak Tina,”* batin Lisa dalam hati, matanya menatap pintu kamar Tina yang tertutup rapat. *“Kalau aku jadi dia... mana mungkin aku kuat. Setiap hari menahan ego orang rumah, lalu masih harus kuat turun ke sawah berlumpur, pergi memetik coklat, dan mengurus kebun belakang, bekerja keras seperti seorang laki-laki tanpa pernah mengeluh.”*

Lisa menyatukan kedua tangannya di atas meja, menutup matanya perlahan. Di dalam hatinya yang paling dalam, sebuah doa tulus membubung tinggi ke langit siang itu. *“Ya Allah... hamba mohon, pertemukanlah kakak hamba, Kak Tina, dengan seorang laki-laki yang kaya, terpandang, dan yang paling penting... sangat menyayanginya. Angkatlah derajatnya, ya Allah, agar dia tidak perlu lagi memikul semua beban ini sendirian seumur hidupnya.”*

Lisa tidak pernah tahu, bahwa di luar sana, seorang laki-laki kaya dari kota yang ia doakan baru saja menancapkan kukunya kuat-kuat pada takdir kakaknya, siap membawa perubahan besar yang akan menjungkirbalikkan dunia mereka dalam waktu dekat.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!