NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 07. Baby Blues

Mentari datang menggantikan singgasana rembulan yang sudah berjaga semalam. Kamar yang seharusnya sudah nampak terang, pagi ini tetap dibiarkan temaram. Tak membiarkan sinar mentari menerangi melalui gorden yang dibuka oleh si pemilik kamar yang masih meringkuk di atas kasur dengan mata terpejam. Suasana kamar ini benar-benar nampak begitu suram.

Awan sudah pergi ke kantor sejak satu jam yang lalu. Lelaki itu seperti tidak peduli dengan keadaan sang istri yang tubuhnya sudah begitu lemah karena rasa sakit yang dirasakan. Bahkan pekerjaan rumah yang sejak kemarin belum sempat terjamah, ia biarkan begitu saja. Tidak ada satupun inisiatif dari lelaki itu untuk sekedar membantu Wulan menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya.

Suara tangis Bagas memecah keheningan kamar. Perlahan, suara bayi mungil itu merembet masuk ke dalam alam mimpi sang ibu yang masih terlelap. Raga yang tengah dipeluk oleh mimpi itu seperti di bangunkan paksa hingga tubuh Wulan bergeliat. Dahi berkerut dengan mata yang memicing dan kini ia benar-benar meraih kesadarannya.

Wulan meraih tubuh Bagas dan ia bawa ke dalam dekapan. Ia sandarkan punggungnya di tembok sembari mengasihi sang anak yang terlihat sangat lapar. Wulan yang biasa bernyanyi ketika mengasihi, pagi ini wanita itu nampak hening tak bersuara sama sekali. Ia tatap sekeliling ruangan dengan tatapan nyalang dengan segala isi di kepala yang berlalu lalang ke sana kemari.

Setengah jam berlalu, Wulan mencoba menggeser tubuh Bagas agar tidak lagi menyusu. Ia bermaksud ingin kembali melanjutkan tidurnya mengingat kepalanya yang terasa begitu berat. Alih-alih bayi itu tenang karena baru saja menyusu, Bagas justru semakin menangis kencang. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Wulan menimang tubuh Bagas agar bisa lebih tenang.

"Aaarrgghhh... Kamu ini kenapa? Kenapa kamu sejak semalam menangis terus!"

Wulan berteriak frustrasi kala mendengar tangisan Bagas yang semakin melengking dan memekak telinga. Berkali-kali Wulan mencoba untuk menenangkan bayi mungil itu namun tetap saja tidak berhasil. Bahkan saat ini tubuh mungil Bagas seperti meronta dengan begitu kuat menggerakkan kaki dan tangannya.

"Aaarggghhhh.. Aku capek, aku capek!"

Dengan kasar, Wulan menghempaskan tubuh bayi itu di atas kasur. Akibat perbuatannya, tanpa sadar posisi Bagas menjadi tengkurap yang membuat bayi itu semakin kencang menangis. Wulan seperti kehilangan akal sehatnya. Tidak memikirkan betapa bahayanya yang ia lakukan ini.

Wulan duduk di sudut kamar dan hanya menatap Bagas yang menangis kencang itu dengan tatapan nyalang. Wulan duduk sembari memeluk lutut. Berkali-kali ia menjambak rambutnya juga memukul-mukul kepalanya sendiri. Benar-benar seperti seseorang yang frustrasi.

"Aku capek. Kepalaku sakit. Perutku nyeri. Kenapa dia menangis terus!"

Wulan semakin berteriak frustrasi dan seakan kian hilang kendali. Semakin ia dengar suara tangis Bagas, maka dadanya semakin bergemuruh hebat dan juga kepalanya terasa semakin berat.

"Akan aku buat dia berhenti menangis selamanya."

Wulan beranjak dari posisinya. Ia berjalan mendekat ke arah sang anak yang masih menangis histeris. Ia raih dengan kasar kaki Bagas, hingga kini posisi kepala bayi mungil itu ada di bawah sedangkan kakinya berada di atas yang di cengkeram kuat oleh tangan Wulan.

"Aku pastikan kamu tidak akan menangis lagi!"

Wulan berancang-ancang akan melempar tubuh Bagas ke arah tembok. Ia pikir dengan cara ini tidak ada lagi suara tangis yang membuatnya semakin frustrasi. Saat ia akan melepaskan genggaman tangannya tiba-tiba...

"Wulan, stop!"

Seorang wanita yang melihat kejadian mengerikan ada di depan mata bergegas mendekat ke arah Wulan. Dengan gerak cepat ia merebut tubuh Bagas yang hampir saja dilempar oleh ibu kandungnya sendiri. Wanita itu dengan erat mendekap tubuh Bagas seraya menenangkannya.

"Lan, apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu seperti ini?"

Dialah Risma, istri dari Toni yang merupakan teman Awan di kantor. Sudah sejak lama Risma dan Wulan berteman. Bahkan dulu hampir setiap minggu sekali Risma sering mampir mampir ke kontrakan Wulan hanya untuk sekedar ngobrol ataupun rujakan. Semenjak Wulan melahirkan, Risma sama sekali belum sempat menjenguk, dan baru hari ini ia bisa datang ke kontrakan Wulan. Namun betapa terkejutnya ia melihat apa yang tersaji di depan mata.

Risma mencoba menenangkan Bagas yang masih menangis. Sesekali ia tatap wajah Wulan yang kacau sekali. Meski belum sepenuhnya tahu apa yang terjadi, namun Risma paham jika Wulan dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja.

Melihat kedatangan Risma, seakan menyadarkan Wulan yang seperti orang kesetanan. Sejenak wanita itu menatap lekat wajah Risma yang tengah mendekap tubuh Bagas kemudian tubuhnya meluruh di atas lantai.

Bruk!

"Aku capek, aku capek. Tidak ada seorang pun yang mengerti kondisiku. Dia hanya bisa protes dan meremehkan apa yang sudah aku kerjakan. Aku capek."

Wulan berujar lirih seraya menundukkan kepala. Wanita itu menangis tergugu dengan dibalut oleh rasa penyesalan.

"Ya Tuhan, Wulan..."

Bagas sudah sedikit lebih tenang. Tangis bayi mungil itu sudah berhenti hanya tinggal isakan tangisnya saja. Perlahan, Risma meletakkan tubuh Bagas di atas kasur. Kemudian ia berjalan ke arah Wulan yang duduk bersimpuh di atas lantai.

Risma ikut bersimpuh di atas lantai. Ia tarik lengan tangan Wulan dan ia bawa ke dalam dekapannya. Wanita itu memeluk tubuh Wulan yang terlihat kacau dan berantakan ini dengan erat.

"Apa yang terjadi Lan?"

Wulan menggelengkan kepalanya di atas pundak Risma. Tangis wanita itu semakin terdengar menyayat hati Risma yang mendengarnya. Tangis yang seakan menjadi luapan emosi yang mungkin selama ini ia pendam sendiri.

"Aku capek, Ris. Aku capek!"

Risma mengusap-usap punggung Wulan. Menenangkan dan mentransfer energi yang jauh lebih positif.

"Jika kamu capek, kamu istirahat Lan. Jangan terlalu memaksakan diri mengerjakan semuanya."

"Tapi dia tidak memberikan kesempatan untukku beristirahat Ris. Dia selalu menuntutku untuk melakukan semuanya dengan sempurna. Tanpa sedikitpun ia mengerti jika aku ini lelah sekali."

"Sabar Lan, sabar."

Risma turut meneteskan air mata kala mendengar tangis pilu yang keluar dari bibir Wulan. Ia bisa memahami bagaimana kondisi Wulan yang baru dalam hitungan minggu melahirkan melalui proses sesar. Tentunya, wanita itu harus mendapatkan support oleh orang-orang di sekitar untuk merecovery kondisi fisik maupun psikisnya.

"Aku sampai tidak memikirkan diriku sendiri agar semua pekerjaan rumah ini bisa teratasi, namun semakin hari, aku justru diinjak-injak seperti tidak memiliki harga diri. Aku benar-benar capek Ris."

"Sabar Lan, hari ini biar aku yang membantumu. Oke?" ucap Risma yang seakan menjadi pelita di gelapnya hidup Wulan saat ini. "Tapi berjanjilah padaku. Ini untuk pertama dan terakhir kalinya kamu melakukan hal seperti ini."

Wulan hanya menggelengkan kepala. Wanita itu terdiam dan hanya tangis pilu yang masih terdengar menyayat dada. Tangis seorang ibu muda yang tidak memiliki tempat untuk mencurahkan segala beban yang ia rasa. Hingga semua menumpuk, menggunung dan hari ini meledak dan hampir saja sang anak yang menjadi korbannya.

Risma melerai pelukannya dari tubuh Wulan. Ia tatap lekat manik mata Wulan yang masih memancarkan sorot kesedihan dan luka yang tak terperi itu.

"Lihatlah makhluk kecil itu Lan!" titah Risma sembari menunjuk ke arah Bagas. "Hampir saja dia meregang nyawa di tangamu. Kamu tidak kasihan?"

Wulan menoleh ke arah Bagas. Hatinya berdenyut nyeri melihat makhluk kecil yang bahkan baru bisa menangis itu mencoba menenangkan dirinya sendiri. Isak tangis yang masih terdengar samar dari bibir Bagas seakan kian meremas jantungnya.

Akal sehat dan kesadaran Wulan kembali utuh memeluk raga. Lelehan bulir bening dari bingkai matanya seakan berbicara jika ia teramat menyesal. Karena hampir saja bayi tak berdosa itu kehilangan nyawa di tangannya.

Wulan menyeret tubuhnya sendiri untuk bisa menjangkau keberadaan Bagas. Tangannya terulur, meraih tubuh mungilnya. Ia kecup berkali-kali wajah Bagas yang sudah terlihat jauh lebih tenang ini.

"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu..."

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!