Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02
Byurrrr ...
"Bangun! Enak sekali kau tidur dan tidak melakukan pekerjaan apapun di sini, apa kau tidak melihat kalau matahari sudah sangat tinggi naik ke atas sana dan kau masih saja tidur?" ucap Rusita setelah menyirami Sofia dengan air dingin.
"Ma, kenapa menyiram ku dengan air? Ini sangat dingin," kata Sofia sambil mengelap wajah nya dengan selimut.
Sedari dulu Sofia sangat lah lemah dia tidak pernah bisa melawan kekerasan sang mama dan adik tirinya dia selalu menjadi gadis patuh dan penurut.
Kenapa katamu? Apa kau pikir kau bisa menjadi nona muda di sini? Ingat ya, nona muda hanya lah putri ku, ya itu Tara dan kau bukan siapa-siapa," ungkap Rusita yang kemudian menarik Sofia dari ranjang.
Sofia terjatuh ke lantai kamar nya sambil mengigil kedinginan.
"Apa yang harus aku lakukan ma? Bukan kah ini masih sangat pagi? Tara juga belum kembali dari liburan nya, aku harus melayani siapa? Bukan kah di mansion banyak pelayan? Mama biasanya tidak meminta ku melayani mama," kata Sofia masih berbicara sopan santun meskipun wanita itu sangat kejam dengan nya.
Rusita membungkuk dan memegang kedua pipi Sofia, bukan memegang tapi mencengkram nya dengan kuat, hal ini sudah terbiasa di lakukan oleh Rusita kepada anak tirinya itu.
"Pelayan kata mu? Oh ya aku lupa mengatakan kepada mu kalau seluruh aset kekayaan milik papa mu sudah menjadi milikku sepenuhnya, dan kau juga akan ku jadikan pelayan di mansion ini," katanya sambil tersenyum.
Sofia kembali menangis, ia menggelengkan kepalanya sambil menatap mama Rusita.
"Apa? Tidak terima? Cih aku benar-benar muak melihat wajah mu, sekarang cepat mandi dan pakai pakaian pelayan aku tidak sabar ingin melihat mu menjadi pelayan, selama ini aku hanya memberikan mu waktu sampai kau jadi sebatang kara untuk menjadikan mu berada di posisi ini," ungkap mama Rusita yang kemudian berlalu pergi dari kamar Sofia.
"Hiksss ... Hikss ... Hiksss ..." tangis Sofia kembali pecah, di usia nya yang sangat muda seperti ini, selain menuruti Rusita ia tidak tau lagi harus bagaimana,
Ia segera bangkit dari tempat nya dan kemudian mandi, mau tidak mau Sofia harus memakai pakaian pelayan dan melayani Rusita mulai hari ini dan entah sampai kapan ia akan seperti itu.
Ia juga tidak ingin di usir dari sana dan tidak punya tempat untuk di tinggali, Rusita yang kejam hanya bisa membuat nya menderita jika ia membangkang.
Hari itu Sofia pun mulai mengerjakan pekerjaan pelayan, dia tidak peduli seberapa lelah dan mengantuk dirinya.
"Astaga nona muda, kenapa nona melakukan pekerjaan ini? Kami bisa melakukan nya? Dan kenapa nona memakai pakaian ini?" ucap pelayan pribadi Sofia yang dulunya selalu bertugas melayani Sofia.
"Tidak bi, sekarang aku juga adalah pelayan di sini," kata Sofia yang membuat para pelayan mendengar nya seperti tidak masuk akal.
"Apa? Bagaimana mungkin? Nona adalah pewaris satu-satunya di sini mana mungkin jadi pelayan," ucap Luvi sang pelayan pribadi Sofia.
"Kenapa tidak? Dengar sini semuanya, semua pelayan sekarang berkumpul semuanya di hadapan saya, sekarang!" Kata Rusita dengan tegas.
Para pelayan yang mendengar itu segera berkumpul, total ada sepuluh pelayan dan satu kepala pelayan laki-laki yang sudah bertugas di mansion selama lima tahun terakhir.
"Ada apa ini?"
"Iya ada apa ya?"
"Lah itu kenapa nona muda memakai pakaian pelayan?"
Terdengar bisik-bisik para pelayan yang saat ini sedang berkumpul di hadapan mama Rusita.
"Dengar semuanya, mulai hari ini, aku lah yang berkuasa di sini, yang akan membayar gaji kalian adalah aku, maka dari itu kalian harus patuh dengan ku, dan satu lagi di sini hanya ada satu nona muda, ya itu putri ku ya itu Tara," ibarat sebuah pengumuman penting Rusita benar-benar mengumumkan nya secara lantang.
Beberapa pelayan seketika terbelalak kaget, mereka tidak bisa mempercayai perubahan yang tidak masuk akal seperti ini.
"Bagaimana mungkin ini nyonya? Nona muda kan adalah anak kandung dari tuan Afdan," bantah Luvi.
"Diam kau, aku tidak meminta kau untuk bicara, apa kau ingin aku pecat?" tanya Rusita menatap Luvi dengan tatapan tajam.
Selama ini yang selalu membela Sofia adalah Luvi, dia bahkan rela di hukum oleh Rusita demi membela Sofia.
Luvi adalah anak dari mantan kepala pelayan sebelumnya di mansion, ibu nya dulu adalah kepala pelayan yang sangat di percayai oleh mendiang papa Afdan di sana, namun ibu nya telah lama meningal dunia. Dan Luvi memilih untuk mengabdikan diri kepada Sofia karena bukan hanya sekedar pelayan dan majikan, mereka sudah bersahabat dari kecil karena Luvi selalu membantu ibunya bekerja.
Usia Luvi adalah dua puluh dua tahun, dua tahun lebih tua dari Sofia.
"Aku ..." Luvi barusaja hendak menjawab ucapan Rusita lagi.
Namun dengan cepat Sofia menahan tangan nya untuk tetap diam, Sofia bahkan sampai mengelengkan kepala nya.
"Luvi hentikan, jangan bicara lagi, aku tidak apa-apa," ucap Sofia sambil memegang pergelangan tangan Luvi.
Luvi pun terdiam, kalau sudah Sofia yang bicara ia tidak ingin berkata apa-apa lagi.
"Aku harus mencari cara untuk membantu nona muda, tuan muda Samuel, iya dia harus tau soal ini, aku akan mengabari nya nanti saat dia sudah ada waktu," batin Luvi yang tak ingin tinggal diam.
"Baik sekarang kalian bubar dan kerjakan pekerjaan kalian secepatnya," ucap mama Rusita yang kemudian meningalkan ruang tengah tersebut.
"Baik nyonya," jawab semua pelayan bersamaan.
Sementara itu di sisi lain.
"Kak, kapan kau akan memutuskan hubungan mu dengan wanita itu?" Kata Tara sambil memakai kembali pakaiannya.
"Sabar sayang, pertunangan ini, orang tua ku bagaimana dengan mereka? Aku tidak punya alasan untuk memutuskan nya, aku sangat bingung," kata seorang laki-laki yang saat ini juga sedang mengunakan pakaian nya.
"Ya tinggal bilang saja kalau setelah papa ku meninggal, pertunangan ini tak lagi bisa di lanjutkan, katakan saja sebenarnya kau mencintaiku bukan dia," ujar Tara berdiri dan membantu laki-laki tersebut memasangkan dasi.
"Pertunangan ini di atur mama dan papa ku karena dia adalah pewaris di kelaurga Amores, seandainya kau adalah pewarisnya, kedua orang tua ku tidak akan mempermasalahkan pertukaran ini," kata laki-laki itu lagi sambil menatap Tara dengan penuh cinta.
Wajah Tara seketika meredup setelah mendengar ucapan laki-laki tersebut, dia sadar kalau dirinya adalah anak tiri dan tidak mungkin bisa menggantikan anak kandung.
"Apa kak Samuel tidak mencintai ku? Aku sudah memberikan apapun yang tidak wanita itu berikan kepada mu kak," kata Tara dengan wajah memerah.
Samuel terdiam, di bandingkan dengan Sofia Tara memang lebih patuh dan rela memberikan apa saja untuk dirinya, ia jadi sayang melepaskan Tara yang kini ia jadikan pemuas nafsu nya.
Bersambung ....