NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 2: JALAN BERLUBANG DI BELAKANG HUTAN BAB 8 – Jejak yang Tetap Ada

Sinar matahari siang itu menembus celah dedaunan dengan terang yang hangat, sangat berbeda dengan kabut dingin yang menyelimuti sisi barat beberapa jam lalu. Langkah kaki Arga, Kakek Wito, dan Dimas terasa ringan menyusuri jalan setapak keluar dari kawasan terlarang. Tidak ada lagi hawa yang menekan dada, tidak ada bisikan yang berusaha memutarbalikkan pikiran, dan tidak ada mata tak terlihat yang mengawasi dari balik bayangan. Namun keheningan yang menyertai mereka bukanlah keheningan kosong; ia terasa penuh makna, seolah alam pun sedang menghela napas panjang setelah pertarungan diam‑diam yang berlangsung puluhan tahun itu.

Sesampainya di tugu batu penanda batas wilayah, Kakek Wito berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang, ke arah semak berduri yang kini berdiri tegak rapat seolah tidak pernah terlewati siapa pun.

“Segitiga pelindung sudah kembali utuh,” ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Kesepakatan lama ditegakkan kembali. Namun ingatlah baik‑baik: kekuatan ini tidak bekerja sendiri. Ia butuh penghormatan dari sisi manusia agar tetap berdiri kokoh.”

Dimas berdiri agak di belakang, menatap ke arah hutan dengan tatapan yang jauh lebih berubah dibanding saat pertama kali terlihat di sana. Rasa takut masih ada, namun kini bercampur dengan rasa hormat yang dalam. Ia menyadari bahwa apa yang ia anggap sebagai peluang keuntungan semata ternyata menyimpan harga yang nyaris tak sanggup ia bayar.

“Aku… tidak akan pernah melupakan ini,” ujar Dimas pelan, suaranya mantap. “Dulu aku berpikir tanah itu hanya tanah, batu itu hanya batu. Tapi ternyata di sana ada sejarah, ada janji, dan ada kehidupan yang tidak boleh diusik sembarangan.”

Kakek Wito mengangguk puas. “Ingatan itu adalah perlindungan paling ampuh. Selama ada yang ingat, larangan itu tetap hidup. Dan kau, Nak, sekarang menjadi salah satu dari mereka yang tahu kebenaran itu.”

Mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah panggung. Sepanjang jalan menuju desa, suasana tampak sangat berbeda. Warga beraktivitas seperti biasa, namun ada cahaya yang lebih tenang di wajah mereka. Tidak ada lagi keluhan tentang kabut yang datang tiba‑tiba, tidak ada cerita tentang anak yang tersesat atau ternak yang hilang mendadak. Angin yang berhembus membawa aroma tanah yang segar, bukan lagi bau anyir atau kapur yang menyengat.

Sesampainya di rumah, hari sudah menjelang tengah hari. Kakek Wito segera menyuguhkan air hangat dan jamu penambah tenaga. Tubuh tua itu terlihat lelah, namun matanya berbinar lega. Arga duduk di beranda, membiarkan angin menerpa wajahnya sambil memandang ke arah jalan setapak yang menghilang di balik bukit. Ia merasa ada bagian dari dirinya yang ikut berubah selama perjalanan ini. Bukan hanya soal keberanian menghadapi hal gaib, tapi tentang memahami keseimbangan: bahwa manusia tidak berdiri sendiri di atas dunia ini.

Malam itu, suasana di rumah kembali tenang. Tidak ada gangguan apa pun. Namun sebelum tidur, Arga menyempatkan diri melihat ke arah jendela yang menghadap ke belakang hutan. Langit bersih bertabur bintang, bulan bersinar terang tanpa halangan. Namun di sudut pandang yang samar, seolah ada kilatan cahaya redup di kejauhan—tepat di lokasi batu penjaga tengah. Bukan cahaya yang mengancam, melainkan cahaya yang menjaga.

Keesokan harinya, Dimas berpamitan untuk kembali ke desa asalnya. Ia berjanji tidak akan pernah lagi mendekati kawasan itu tanpa alasan yang benar, apalagi mengambil apa pun dari sana. Sebelum pergi, ia sempat menatap Arga dan Kakek Wito dengan penuh rasa terima kasih.

“Kalau tidak ada kalian… mungkin aku sudah menjadi bagian dari tanah itu selamanya,” katanya sebelum melangkah pergi.

Arga dan Kakek Wito kembali ke dalam rumah. Kakek Wito mengambil buku catatan tua itu lagi, membalik halaman‑halaman terakhirnya. Ia kemudian menulis beberapa baris baru di sana, tinta hitam yang kontras dengan kertas yang sudah menguning.

“Kisah ini tercatat,” ujarnya. “Bukan untuk menakut‑nakuti, tapi untuk diingat. Suatu hari nanti, mungkin puluhan tahun lagi, akan ada yang datang bertanya tentang jalan berlubang di belakang hutan ini. Dan catatan ini akan menjawabnya.”

Arga ikut membaca tulisan itu: “Di balik hutan jati tua, ada tanah yang menyimpan ingatan. Jalan berlubang di sana bukan sekadar celah bumi, tapi tanda perjanjian. Hormati batasnya, dan kedamaian akan terjaga. Lupakan, dan sejarah akan terulang kembali.”

Arga menyadari bahwa tugasnya di sini selesai, namun bukan berarti kisah ini benar‑benar berakhir. Di dunia ini, tempat‑tempat terlarang selalu ada, dan ingatan tanah tidak pernah benar‑benar hilang. Selama ada yang lupa, akan selalu ada celah yang terbuka.

Sore itu, saat matahari mulai turun ke barat, Arga berjalan sendiri ke pinggir kebun, ke arah tempat ia pertama kali melihat tugu batas itu. Ia tidak masuk lebih jauh, hanya berdiri diam sejenak, memberi penghormatan terakhir. Angin berhembus pelan, seolah menyapa balik.

Kisah tentang Jalan Berlubang di Belakang Hutan telah tercatat rapi. Namun bagi Arga, ini hanyalah satu bab dari banyak hal yang belum diketahui. Ia tahu, di sudut lain desa ini, atau di tempat lain yang jauh, mungkin masih ada jejak serupa yang menunggu untuk ditemukan—tempat di mana batas dunia tipis, dan di mana rasa hormat adalah satu‑satunya kunci untuk selamat.

Dan di tempat yang sunyi itu, di antara gundukan tanah yang terlupakan, keheningan kembali berkuasa—tenang, terjaga, namun tetap menyimpan rahasia yang tak akan pernah benar‑benar habis diceritakan.

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!