Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Media
Kericuhan terjadi. Kamera dan blitz menyambar tanpa henti. Para wartawan berdiri dari tempat mereka duduk. Mengambil setiap momen sepasang 'kekasih' itu.
Lillyane Jones melangkah mengikuti sang pangeran hingga menaiki mobil hitam yang tertutup sempurna bagi penumpang. Gorden di jendela dan sebuah kaca hitam pembatas antara sopir serta penumpang.
Tubuhnya telah menegang. Raut wajah dari kebingungan menjadi marah. Alisnya bertaut dengan rona merah yang nyata.
Plakkk!
Tangan Lillyane Jones menampar dengan keras. Mendarat di pipi Noah yang tanpa cela. Suara yang keras menyebabkan bekas merah di pipi itu. Wajah pria itu tertoleh ke samping. Namun ia hanya diam.
"Apa yang kau lakukan, Noah?" tanyanya dengan suara nafas menderu. Dadanya kembang kempis.
"Morgan, jalan." Titah Noah setelah kembali duduk dengan posisi yang nyaman.
Pria itu langsung duduk dengan rahang yang menegang. Jawabannya hanya satu, "Menyelamatkanmu."
Dan mutlak tanpa penolakan.
"Apakah menurutmu ini akan membantuku dalam kekacauan yang kau buat?" tanya Lilly kesal. Mengabaikan setiap formalitas yang ada. Tak ada panggilan kehormatan lagi, semua terhapus sirna akibat kekacauan yang Noah buat baru saja.
Hidup damainya runtuh dalam sepersekian detik hanya karena Noah yang tiba-tiba menjadi pahlawan di tengah kekacauan.
Seharusnya lelaki itu tidak perlu datang dan tiba-tiba mengumumkan hoax hubungan mereka.
"Jika aku tidak menyelamatkanmu hari ini, maka kejadian ke depannya lebih mengerikan." Untuk pertama kalinya, Noah berbicara panjang pada Lilly dengan sedikit ancaman
"Aku sudah menyelamatkan diriku dengan melompat hancur bersama reputasiku."
Noah masih dalam posisi yang sama. Rahangnya mengeras. Raut wajahnya terlihat lebih menakutkan daripada biasanya. Suasana di bangku penumpang begitu panas.
Di sebelahnya, Lilly masih menggebu dalam keterdiaman Noah yang menurutnya cukup kurang ajar.
"Apa kau pikir aku akan membiarkannya?"
"Noah, kenapa kau selalu ingin aku hancur?!"
Kali ini Noah tak terima. Wajahnya yang tadinya datar kini di penuhi gurat pada dahinya. Alisnya yang tebal saling bertaut lebih dekat. Udara kian terasa pengap dan tipis. Seolah oksigen menguap.
"Aku hanya melakukan yang seharusnya."
Satu detik
Dua detik
Dunia Lilly runtuh. Tak ada pertolongan lagi. Ia masuk terlalu dalam. Kejadian mencium di pesta jamuan seharusnya adalah kali pertama dan terakhir ia berurusan dengan anggota keluarga kerajaan.
Mobil mereka melaju menembus siang yang mendung. Hujan deras mengguyur sepanjang jalan. Lilly sudah jauh lebih tenang. Dia membuka sedikit gorden jendela mobil. Jalanan ini begitu asing. Menjauhi pusat perkotaan. Semakin melewati hutan. Tanpa sadar mereka telah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Tangan gadis itu terkepal disisi gaun merah mudanya. "Kemana kita akan pergi?"
"Ke tempat aman untuk sekarang."
Lilly menghela nafasnya. Berbisik pelan, "Apakah akan ada tempat aman bagi kita?"
Namun keterdiaman hanyalah jawaban. Mobil itu berbelok ke arah halaman mansion yang megah. Berdiri di tengah hutan pinus dengan pagar yang megah serta besar.
Mereka berhenti tepat di depan pintu utama. "Silahkan."
Morgan membuka pintu Lilly. Mempersilakan gadis itu turun untuk melihat kemegahan yang ada. Besar dengan tatanan taman yang indah. Mereka berada di tengah hutan pinus pada musim panas seperti saat ini.
Namun hanya untuk sesaat ia berdiri sembari memandang jauh sebelum Noah memegang tangannya dengan erat. "Mari masuk."
Kakinya melangkah mengikuti gerakan Noah. Memasuki ruangan yang jauh lebih megah. Setiap sudutnya menampilkan kemegahan dan kelas dari pemilik. Sebuah foto keluarga kerajaan yang besar memenuhi hampir separuh dinding sisi kiri aula mansion.
Mata Lillyane terpaku pada sebuah foto tua lainnya. Gambar yang jelas dan besar. Terdapat tiga pria tua yang berdiri memegang tongkat kebesaran. Tertulis, 'Founders Of Vardoria'
Namun semua keheningan itu tak berlangsung lama. Tubuh Lillyane ditarik ke belakang tubuh Noah. Jantung Lilly berdebar sesaat. Aroma musk wood dari Noah tercium kian pekat kala hidungnya menabrak punggung pria itu.
Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar, ketukan heels yang menjadi alunan dalam aula mansion yang sepi itu.
Lillyane mengintip dari belakang Noah, Sang Permaisuri menghampiri mereka dengan tatapan marah. Rona wajahnya memerah terlihat jelas. Tangannya terkepal pada kedua sisi tubuhnya yang terbalut dress sutra warna hitam dengan blazer putih di punggungnya. Rambutnya tergelung sempurna tanpa anak rambut yang berani mencuat keluar. Namun wajah yang cantik sempurna itu menegang dengan urat leher yang kian tampak.
Tangan permaisuri melayang tepat ke arah pipi Noah. Menamparnya keras lalu memukul dada putranya.
Plakkk!
"Apa yang kau lakukan Noah!" Teriaknya. Suara Permaisuri menggema di ruangan. Menciptakan kengerian tersendiri.
Wajah pria itu tertoleh. Bekas tamparan Lilly tadi kini bertambah dengan tamparan ibundanya. Sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah.
"Kau mengacaukan seluruh kerajaan hanya dalam satu siaran langsung!" Teriak Permaisuri.
"Bagaimana ibu bisa melindungimu lagi!"
Namun Noah masih memilih diam. Pandangannya melihat ke arah ibunya yang menangis. Untuk kali pertamanya, Lilly melihat sang Permaisuri yang biasa tampil elegan dengan senyum cerah itu menangis.
"Kau menyeret dirimu dalam kekacauan yang tak semestinya." Suara Permaisuri terdengar parau. Air matanya meluncur bebas. Tangan yang sibuk memukul dada putranya beberapa kali.
"Aku hanya melakukan yang seharusnya dilakukan."
"Dengan mengumumkan hal segila itu? Kau menyeret keluarga kita dalam kekacauan. Kau juga menyeret Lillyane Jones dalam kekacauan juga."
"Jika aku tidak melakukannya, mungkin ada hal yang lebih besar terjadi."
Suasana kembali sunyi sesaat.
Lilly kian terdiam di balik tubuh Noah. Menundukkan kepalanya. Jemarinya yang sedikit basah saling tertaut.
Permaisuri tergelak. Tawa frustasinya terdengar menggema di aula mansion ini.
"Kau baru saja menantang seluruh bangsawan Vardoria, termasuk Tuan Albert."
"Biarkan saja. Aku tak peduli."
"Kerajaan ini bukan hanya tentang kepedulianmu, Noah!" Suara permaisuri kian meninggi.
Lilly yang berdiri di belakang tubuh Noah merasa kian ciut. Atmosfer udara di aula mansion yang awalnya sejuk kian menipis menjadi sesak.
Untuk kali ini, Noah meninggikan suaranya.
"Ayah bisa saja menyeret Lilly dalam sabotase demi melindungi Ronny."
Permaisuri terdiam sesaat. Gelak tawa selanjutnya penuh kekecewaan.
"Ku pikir membesarkan seorang penerus tahta yang kuat. Ternyata membesarkan ayahmu saat muda."
Dan suasana kembali sunyi. Hingga akhirnya suara pintu mansion dibuka terdengar. Suara ketukan diiringi langkah kaki mendekat.
Teratur.
Perlahan.
Dan penuh wibawa.
Seluruh orang dalam aula mansion menengok ke arah sana.
Seorang pria berambut perak tengah berjalan mendekati mereka menggunakan tongkat keemasan. Setelah hitam membalut tubuhnya tuanya. Disampingnya berdiri, Viviane yang melangkah pelan sembari menggandeng tangan pria itu.
"Paman." Panggil Permaisuri dengan suara yang kian lemah tak percaya.
"Grand Duke D'orvain." Bisik Noah pelan.
Lilly terdiam disana. Menatap pada semua orang yang tampak elegan dan berwibawa. Ia mulai membandingkan penampilannya sendiri untuk sesaat.
"Salam Yang Mulia Permaisuri. Salam juga, Yang Mulia Pangeran."
Permaisuri dan Noah menundukkan kepalanya sesaat.
"Berita diluar menyebar begitu luas." Ujarnya pelan. Ia mengangkat tangan kanannya. Seorang asisten pribadi mendekat. Menyerahkan tablet pada Permaisuri.
Berita disana terpampang kian menggila. Media digiring oleh anonim yang mengaku dari kerajaan. Foto Noah dan Lilly di konferensi pers tersebar bagai debu.
'Pangeran Noah dan Lillyane Jones adalah pasangan kekasih satu malam'
'Cinta satu malam Lillyane Jones berakhir seperti cinderella. Apakah ini Cinderella era modern?'
Dan satu opini tergiring sempurna disana,
'Jika memang benar adanya cinta satu malam. Maka pernyataan Pangeran Noah dianggap sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai pria satu malam yang jatuh hati pada Lillyane Jones.'
Noah merebut tablet itu. Membacanya pelan dengan raut wajah yang kian berubah. Wajahnya kian mengeras.
"Jika kita mundur sekarang, maka opini publik akan menyerang kembali Noah." Suara Grand Duke terdengar jauh lebih tenang dalam siyuasi ini.
Semua terdiam mendengar pernyataan itu. Permaisuri membeku untuk sesaat. Amarahnya yang meletup meluap begitu saja. Kini yang tersisa adalah keputusasaan.
Bangsawan akan meremehkan kerajaan.
Publik akan mendapat skandal percintaan pangeran mahkota.
Grand Duke D'orvain melihat ke arah Lilly, "Siapa namamu?" tanyanya pelan.
Lilly menatap ke arah pria tua itu. "Lillyane Jones."
"Jones... Sepertinya aku pernah mendengar nama itu."
Ia menatap cukup lama ke arah Lilly. Pandangan yang awalnya datar dan tak terbaca kini berubah dengan satu sipitan mata yang lama. Grand Duke D'orvain mengalihkan pandangan pada Permaisuri.
"Jika kita mundur, opini akan berbalik dan simpati rakyat yang berlebihan akan memrotes pada pangeran mahkota."
Noah diam sesaat. Pandangannya jatuh pada pria tua itu.
"Apa yang akan kau lakukan, Noah?"
"Aku akan tetap menikahinya."
Grand Duke D'orvain mengangkat sebelah alisnya. "Jika begitu harus ditunjukkan bahwa kerajaan tak akan kalah oleh media-media itu."
"Mulai sekarang Lillyane Jones akan berada dalam perlindunganku. Dan aku sebagai salah satu tetua kerajaan mendukung penuh keputusan kalian."
Noah menatapnya lama. Tak ada belas kasihan dalam keputusan d'Orvain. Hanya perhitungan.
Grand Duke D'orvain kembali melihat mata hazel gadis itu. Dalam cahaya aula mansion, mata itu terlihat seperti suasana musim gugur dengan kilauan yang indah bak berlian.
"Setidaknya mata gadis ini cantik sekali. Aku sudah lama tak melihat mata itu."
Dan setelahnya Grand Duke D'orvain berbalik arah. Suara ketukan tongkatnya menggema kembali menjauh dari Aula. Permaisuri mengantarkan pria tua itu keluar. Sedang Viviane menatap Noah cukup lama sebelum akhirnya beralih ke Lilly.
"Selamat datang ke dunia bangsawan, Lillyane Jones. Ah, atau bisa ku sebut calon putri mahkota."
Pandangannya kembali pada Noah.
"Kau membuat berita yang menarik dalam satu kekacauan cintamu, Noah."
Setelahnya Viviane mundur. Mendekat ke arah Grand Duke d'Orvain.
Suasana kembali sunyi senyap. Meninggalkan Noah dan Lilly dalam atmosfer yang berbeda. Nafas Lilly terdengar tak stabil, kali ini ia terjebak dalam hidup yang tak ada dalam pilihannya.
*****
"