Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsen, Utusan Penghina
Seminggu telah berlalu sejak eksekusi di Alun-Alun Utama.
Dampaknya terasa seperti gempa bumi yang merambat perlahan ke seluruh penjuru kerajaan. Di ibukota, pasar-pasar kembali ramai, namun suasananya berbeda. Para pedagang tidak lagi berbisik dengan ketakutan saat menyebutkan nama Ratu. Mereka berbicara dengan nada waspada, penuh perhitungan. Pajak turun, koruptor mati, dan jalanan menjadi lebih aman karena penjaga kota—yang sebelumnya malas—kini bekerja dengan disiplin militer di bawah pengawasan Jenderal Kaelia.
Namun, di kalangan bangsawan dan istana, ketegangan justru memuncak. Floren telah menyentuh sarang lebah. Dengan menyita aset para pejabat korup, ia telah memangkas sumber pendapatan banyak keluarga bangsawan yang selama ini hidup dari "bagian" korupsi tersebut.
Dan di tengah badai politik internal ini, tamu asing tiba.
Kerajaan Aethelgard, tetangga sebelah timur Mobelle yang dikenal dengan kekayaan tambang emas dan diplomasi liciknya, mengirimkan utusan resmi. Pemimpin mereka, Ratu Isolde, dikenal sebagai wanita yang anggun, manipulatif, dan sangat tradisional. Ia memandang reformasi Floren sebagai "kekacauan barbar" yang mengancam tatanan dunia di mana wanita memimpin dan pria tunduk.
Utusan itu adalah Pangeran Arsen. Putra kedua Ratu Isolde. Terkenal di seluruh benua bukan karena kekuatan militernya, tapi karena lidahnya yang setajam silet dan kecerdasannya yang dingin.
Ruang Perjamuan Besar disiapkan untuk menyambut kedatangan pangeran Arsen. Meja panjang terbuat dari kayu mahoni hitam diletakkan di tengah ruangan, dihiasi dengan piring-piring perak dan lilin-lilin tinggi.
Floren duduk di ujung meja, sendirian. Ia mengenakan gaun malam berwarna merah darah—bukan karena ia ingin terlihat menggoda, tapi karena itu adalah warna kekuasaan, warna peringatan. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tanpa riasan berlebihan, hanya lipstik merah tua yang mempertegas garis rahangnya yang tegas.
Di sisi kanan meja, duduk pangeran Arsen. Pria itu tampan dengan cara yang tajam dan berbahaya. Rambut pirang platinumnya disisir ke belakang, menonjolkan struktur wajahnya yang sudut-sudutnya keras. Matanya berwarna biru es, menatap Floren dengan campuran rasa ingin tahu dan penghinaan terbuka.
Di antara mereka, jarak kosong yang luas. Tidak ada pelayan yang berdiri di dekat meja. Semua pelayan berjaga di dinding, jauh dari jangkauan Dekrit Dua Meter.
Kaelia berdiri di belakang kursi Floren, tangan di gagang pedang, matanya mengawasi setiap gerakan Arsen.
"Ayam panggang ini agak kering, Yang Mulia," kata Arsen tiba-tiba, memecah keheningan yang telah berlangsung selama sepuluh menit pertama perjamuan. Ia menusuk potongan daging di piringnya dengan garpu perak, lalu menoleh ke Floren dengan senyuman miring. "Apakah dapur istana Mobelle juga mengalami 'reformasi'? Atau mungkin koki-kokinya terlalu takut untuk memasak dengan benar karena khawatir akan dipenggal jika rasanya tidak sesuai selera Ratu?"
Floren tidak menoleh. Ia terus memotong dagingnya dengan presisi bedah.
"Dapur istana beroperasi dengan standar efisiensi baru, Pangeran Arsen," jawab Floren datar. "Kami mengurangi pemborosan bahan baku. Jika daging Anda kering, itu karena lemak berlebih—simbol kemewahan yang tidak perlu—telah dibuang. Saya kira Kerajaan Aethelgard juga sedang belajar tentang efisiensi, mengingat laporan defisit anggaran Anda tahun lalu."
Arsen tertawa pendek. Suara itu renyah, tapi tidak hangat.
"Cerdas. Anda membaca laporan keuangan saya?" tanya Arsen, alisnya terangkat. "Saya kira Ratu Mobelle lebih sibuk menghitung kepala-kepala yang dipenggal daripada membaca neraca keuangan negara tetangga."
"Saya membaca semuanya," kata Floren, akhirnya menatap Arsen. Tatapannya dingin, tak berkedip. "Termasuk fakta bahwa Anda datang ke sini bukan hanya untuk memperbarui perjanjian dagang. Anda datang untuk menilai apakah 'Tiran Berdarah' Mobelle layak diajak bicara, atau apakah Anda harus menyiapkan pasukan untuk invasi pencegahan."
Wajah Arsen berubah sedikit. Senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi serius yang lebih menghormati.
"Anda terlalu blak-blakan," kata Arsen. "Itu jarang ditemukan pada seorang Ratu. Biasanya, mereka menyembunyikan niat di balik tawa dan anggur manis."
"Saya tidak punya waktu untuk tawa palsu," balas Floren. "Dan saya tidak minum anggur saat bernegosiasi dengan seseorang yang mungkin membawa racun di ujung lidahnya."
Arsen meletakkan garpunya. Ia bersandar di kursinya, menatap Floren dengan intensitas baru.
"Jadi, inilah Ratu Mobelle Floren Amelie. Pembunuh ibu kandungnya sendiri bahkan tidak meninggalkan saudara-saudari. Eksekutor puluhan bangsawan dalam seminggu. Wanita yang melarang pria mendekat dalam radius dua meter." Arsen menggelengkan kepala pelan. "Anda tahu, di Aethelgard, kami menyebut Anda monster. Kami menyebut Anda aberrasi alam. Seorang wanita yang menolak kodratnya untuk dicintai, yang memilih darah daripada belaian."
Floren merasakan nyeri kecil di dadanya mendengar kata-kata itu. Kodrat. Kata yang sering digunakan untuk menjustifikasi penindasan.
"Kodrat saya adalah memimpin," kata Floren tenang. "Dan jika memimpin berarti membersihkan sampah yang membusuk di kerajaan ini, maka saya akan menjadi monster. Lebih baik dihormati karena ketakutan daripada dicintai karena kepalsuan."
Arsen mencondongkan tubuh ke depan, meski tetap menjaga jarak. Matanya menyipit.
"Ketakutan adalah alat yang tumpul, Yang Mulia. Itu membuat orang patuh, tapi tidak loyal. Saat punggung Anda berbalik, mereka akan menusuk Anda. Dan melihat berapa banyak musuh yang Anda buat di dalam negeri sendiri... saya ragu Anda akan tidur nyenyak malam ini."
"Mungkin," aku Floren. "Tapi setidaknya saya tidur dengan tangan bersih dari uang haram."
Arsen terdiam sejenak. Ia tampak sedang mempelajari Floren, mencari celah, mencari kelemahan. Lalu, ia tersenyum lagi. Kali ini, senyum itu lebih tipis, lebih berbahaya.
"Baiklah. Mari kita bicara bisnis. Aethelgard bersedia melanjutkan ekspor bijih besi ke Mobelle. Sebagai gantinya, kami meminta akses eksklusif ke pelabuhan selatan Mobelle untuk kapal dagang kami. Dan..." Arsen pause, matanya berkilat licik. "...kami meminta jaminan keamanan bagi warga Aethelgard di Mobelle. Termasuk hak ekstrateritorial. Hukum Mobelle tidak berlaku bagi mereka."
Floren hampir tertawa. Hak ekstrateritorial? Itu berarti warga Aethelgard bisa melakukan kejahatan di tanah Mobelle tanpa dihukum. Itu adalah bentuk kolonialisme halus.
"Tidak," kata Floren singkat.
Arsen mengangkat alis. "Anda belum mendengar penawarannya."
"Saya tidak perlu," balas Floren. "Hukum Mobelle berlaku untuk semua orang di tanah Mobelle. Titik. Jika warga Aethelgard melanggar hukum, mereka akan diadili oleh pengadilan kami. Jika Anda tidak percaya pada keadilan kami, jangan kirim warga Anda ke sini."
Arsen menatapnya lama. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.
"Anda menolak tawaran perdagangan yang menguntungkan demi prinsip hukum yang kaku?" tanya Arsen. "Itu bodoh. Secara ekonomi, itu kerugian besar bagi Mobelle."
"Secara jangka pendek, mungkin," kata Floren. "Tapi secara jangka panjang, kedaulatan hukum adalah fondasi stabilitas. Jika saya memberi pengecualian untuk Aethelgard, besok Zenthoria akan meminta hal yang sama. Lusa kerajaan lain. Dan akhirnya, Mobelle akan menjadi boneka asing di tanah sendiri. Saya tidak merebut takhta ini untuk menjual kedaulatan rakyat saya."
Arsen terdiam. Ia menatap Floren dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada kekaguman? Atau mungkin kejengkelan karena strateginya gagal?
"Anda..." Arsen memulai, lalu berhenti. Ia mengambil gelas angurnya, menyesapnya perlahan. "Anda berbeda dari rumor, Yang Mulia. Rumor mengatakan Anda gila. Tapi Anda tampaknya... sangat waras. Terlalu waras untuk kenyamanan orang-orang di sekitar Anda."
"Kenyamanan adalah musuh kemajuan," kata Floren.
Arsen meletakkan gelasnya.
"Baiklah. Saya akan melaporkan penolakan Anda kepada Ibu Ratu. Tapi ingat, Yang Mulia. Dunia ini tidak menyukai anomali. Dan Anda adalah anomali terbesar yang pernah dilihat benua ini dalam seratus tahun."
Arsen berdiri. Ia membungkuk sedikit, sebuah gestur formal yang dingin.
"Selamat malam, Ratu Floren. Semoga mimpi Anda tidak dihantui oleh hantu-hantu yang Anda ciptakan."
Floren tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Arsen saat pria itu berjalan keluar dari ruang perjamuan, langkah kakinya ringan dan elegan.
Saat pintu tertutup, Kaelia melangkah maju dari bayangan.
"Dia licik," kata Kaelia. "Dia mencoba menjebakmu dengan penawaran ekonomi. Jika kamu menerima hak ekstrateritorial, rakyat akan memberontak. Jika kamu menolak, dia bisa menggunakan itu sebagai alasan untuk memutus hubungan dagang dan memicu resesi."
"Dia underestimate (meremehkan) keteguhan rakyat," kata Floren lelah. Ia mengusap dahinya. Kepalanya mulai sakit. "Rakyat lebih memilih harga besi yang sedikit lebih mahal daripada dihina di tanah sendiri. Saya bertaruh pada harga diri mereka."
Kaelia menatap Floren. "Itu taruhan tinggi."
"Saya tahu," gumam Floren. "Tapi saya harus menunjukkan bahwa Mobelle bukan lagi kerajaan yang bisa diinjak-injak oleh siapapun dan oleh bangsa manapun."
Floren berdiri, merasa lemas. Adrenalin negosiasi telah habis, meninggalkan kelelahan fisik yang berat.
"Aku butuh udara," kata Floren.
"Jangan keluar sendirian," peringatan Kaelia.
"Saya tidak akan. Saya hanya ke balkon pribadi. Awasi dari luar pintu."
Floren berjalan menuju pintu samping yang mengarah ke kamar pribadinya. Saat ia melewati ambang pintu, ia melihat sesuatu di lantai.
Sebuah kertas kecil, terlipat rapi, terselip di bawah keset kaki.
Floren membungkuk—hati-hati agar tidak kehilangan keseimbangan—dan mengambilnya. Ia membuka lipatan kertas itu.
Tulisan tangan yang elegan, mirip dengan yang dikirim Arsen tadi, tapi isinya berbeda.
Yang Mulia,
Anda menolak hak ekstrateritorial. Menarik. Kebanyakan Ratu akan menerimanya demi kemewahan. Apakah Anda benar-benar peduli pada rakyat, atau Anda hanya menikmati peran sebagai martir? Hati-hati. Arsen tidak akan lupa penghinaan ini. Dan dia punya cara-cara halus untuk membuat orang menderita tanpa menyentuh kulit mereka.
- Sahabat yang memperhatikan
Tidak ada tanda tangan. Tapi Floren tahu siapa penulisnya. Hanya satu orang di istana ini yang cukup berani, cukup cerdas, dan cukup dekat untuk menyelipkan pesan seperti ini tanpa ketahuan penjaga.
Julian.
Putra Perdana Menteri Vane. calon guru sekolah pria. Pria yang cintanya ditolak.
Floren meremas kertas itu. Julian mengawasinya. Dia tahu setiap langkah Floren.
Apakah ini peringatan tulus? Atau manipulasi lain dari keluarga Vane untuk membuat Floren paranoid?
Floren melemparkan kertas itu ke atas meja.
"Kaelia!" panggilnya.
Jenderal itu muncul di ambang pintu. "Ya, Yang Mulia?"
"Perintahkan penjaga untuk meningkatkan pengawasan di sekitar kamar Pangeran Julian. Bukan untuk menahannya. Tapi untuk memastikan tidak ada orang lain yang masuk atau keluar dari kamarnya tanpa sepengetahuan saya."
Kaelia mengerutkan kening. "Julian? Apa dia melakukan sesuatu?"
"Dia terlalu tahu," kata Floren dingin. "Dan di permainan ini, pengetahuan adalah senjata. Saya perlu tahu siapa yang memberinya amunisi."
Kaelia mengangguk. "Akan dilakukan."
Floren berjalan ke balkon, membuka pintu kaca. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya, membawa aroma hujan dan tanah basah.
Di bawah sana, kota Mobelle tidur. Lampu-lampu minyak berkelap-kelip seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
Floren memegang pagar balkon erat-erat.
Arsen marah. Vane curiga. Julian mengamati. Dan Kael... Kael masih menjadi misteri.
Ia merasa seperti berdiri di tepi jurang. Satu langkah salah, dan semuanya akan runtuh.
Tapi ia tidak bisa mundur.
"Saya tidak akan jatuh," bisik Floren pada angin malam. "Saya akan terbang. Atau hancur mencoba."
Di kejauhan, dari sayap timur istana, terdengar suara biola yang sedih dan indah. Melodi yang dimainkan dengan sempurna, penuh dengan kesepian.
Kael.
Floren menutup matanya, mendengarkan musik itu sejenak. Musik itu indah. Tapi baginya, itu terdengar seperti tangisan.
Dan Floren Amelie tidak punya waktu untuk menangis. Mungkin air mata senjata mematikan jika di gunakan oleh laki-laki di dunia ini, dunia ini keras bagi wanita dan merendahkan bagi pria.
Arsen. pria itu menahan politik, sesuatu yang mungkin sudah di siapkan sejak lama.