Novel ini adalah karya pertama yang saya yakini bikin kepala pusing disebabkan typo, alur membagongkan, hal hal diluar nurul, dan cerita klise yang freak. saya sangat ingin merevisi karya ini tetapi rasa malas ini menguasai tubuh tanpa ampun. jadi maafkan cerita yang memusingkan ini rakyat ku!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ina corlet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor okezone technology
Pikiran Tomi benar–benar kacau. Sejak pagi kegelisahan menempel seperti bayangan yang tak mau pergi. Ia cemas memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi, terlebih karena hingga siang hari sekretaris Hans belum juga menghubunginya. Detik demi detik terasa seperti siksaan.
Hingga akhirnya—
Drrt! Drrt!
Getaran ponselnya mengguncang lamunan. Nama Sekretaris Hans tertera jelas di layar. Napas Tomi tercekat.
“Selamat siang, Tuan Tomi. Tuan Yas menyetujui permintaan pertemuan Anda untuk siang ini. Silakan datang ke kantor. Saya akan menunggu kedatangan Anda.”
“Baiklah Sekretaris Hans, terima kasih sudah membantu saya.”
Tomi segera menghidupkan mobilnya dan melaju menuju kantor pusat Okezone Technology.
Perusahaan raksasa yang didirikan Tuan Gunawan dua puluh tahun lalu. Dengan keteguhan dan kemurahan hatinya, Gunawan membawa perusahaannya berkembang pesat dan menjadi penolong bagi banyak orang: dari rumah sakit, kampus kecil, hingga mahasiswa berprestasi yang diberi akses pekerjaan. Namun kini, sang dermawan itu telah tiada.
Perusahaan kini berada di tangan putranya, Ilyas Gunawan,
Satu-satunya anak yang ditinggal sendirian setelah ibunya meninggal sepuluh tahun lalu, dan ayahnya menyusul sebulan yang lalu dengan membawa satu cinta untuk istrinya.
Kekosongan yang menghimpit membuat Yas tampak semakin dingin—hidup dalam kemewahan tapi dikelilingi kesunyian.
Setiba di kantor, Tomi diarahkan menuju ruangan tempat Yas menunggunya. Di depan pintu, Sekretaris Hans menyambutnya.
“Selamat datang, Tuan Tomi. Mari masuk, Tuan Yas sudah menunggu.”
Ruangan itu megah, namun kehadiran Yas yang duduk di sudut ruangan dengan secangkir teh hangat, justru membuat suasana terasa berat.
“Langsung saja,” ucap Yas datar. “Aku tidak ingin berbasa-basi. Apa yang kau inginkan?”
Tomi menelan ludah. “Maaf bila saya lancang, Tuan Yas. Saya… ingin meminta maaf atas kekacauan semalam. Tentang wanita yang ada di kamar Anda.. Namanya Kiara. Dia hanya pelayan pengantar minuman. Dan saya merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya.”
“Jadi, kau ingin bilang aku yang bersalah?” Tatapan Yas tajam.
“Tidak, Tuan. Saya hanya… prihatin. Hidupnya sebatang kara.”
Yas menghela napas pendek. “Baik. Hans akan memberi cek kosong. Berikan padanya. Isi berapa pun yang dia mau. Jika kau tak lupa, aku pun hanya sebatang kara.”
“Tapi Tuan… bukan itu yang saya maksud. Sungguh maafkan saya.”
“Lanjutkan, apa maumu?” perintah Yas.
Dengan suara bergetar, Tomi menunduk.
“Saya takut… bila Kiara mengandung. Apa yang harus dia lakukan nanti? Saya tidak ingin membiarkannya sendirian…”
Yas terbelalak dingin.
“Ck. Jadi, kau ingin aku menikahinya? Secara tidak langsung, itu maksudmu, bukan? Menjadi ayah siaga begitu? Lucu sekali manusia itu.”
“Maafkan saya, Tuan. Saya hanya—”
“Kau membuat keputusan yang salah, Tomi. Kau tahu risiko apa yang menanti.”
Ketegangan mencekik udara. Tomi tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Hans, antar dia keluar. Pembicaraan selesai.”
Tomi pasrah. Ia gagal melindungi Kiara, dan kini ia tak tahu harus berbuat apa.
Ia memutuskan pulang, untuk berdiskusi dengan adiknya, Sana.
Malam telah larut. Di rumah, Bella sedang menjaga Kiara yang perlahan membaik.
“Kiara, kamu mau sesuatu?” tanya Bella.
Kiara menggeleng.
“Wajahmu pucat. Kau hanya makan saat minum obat. Bilang saja jika ingin sesuatu.”
“Mm sepertinya bubur sup sangat enak. Atau roti ice cream?. Tunggu tunggu, steak dengan saus mushroom juga terlihat menggiurkan, at-- ”
“ASTAGA! Baik, aku pesan dulu. Bukan main manusia satu ini” Bella keluar dari kamar dan terus menggerutu, anehnya itu terasa menyenangkan bagi Kiara.
Tak lama, suara langkah terdengar dari pintu utama,
“Hai Bell, Sana ada di mana?”
“Ah kak Tomi rupanya. Sana ada di kamar, Ka.”
“Bagaimana Kiara?”
“Sudah membaik. Malah minta makan banyak! seperti orang kerasukan.”
Tomi tertawa kecil. “Syukurlah. Temani dia ya, aku mau mengobrol dengan Sana.”
"Tentu."
Tok-tok
“San, boleh masuk? Aku ingin bicara.”
“Masuk, saja Kak!”
Tomi langsung duduk di tepi ranjang, ia melihat adiknya sedang mengerjakan sesuatu di sudut meja.
“San… aku sudah membuat keputusan.”
“Keputusan? tentang apa?”
“Aku berniat bertanggung jawab atas Kiara. Aku… siap menikahinya.”
“APA?!" Sana terperanjak dan langsung menatap Tomi, "Kak! Ini bukan salah Kakak! Jangan ambil beban yang bukan milikmu!”
“Aku gagal menjaganya. Aku tidak bisa membiarkannya menghadapi semua ini sendiri.”
“Lalu bagaimana dengan Tuan Yas? Dia tidak mau bertanggung jawab?”
“Tentu saja dia menyelesaikannya dengan cek kosong. Aku... Begini, ini menyangkut hidup seseorang. Kiara mungkin saja… melakukan hal buruk pada dirinya karena ini.”
Sana terdiam lama.
“Lalu soal perasaan? Kalian bahkan tidak saling mencintai.”
“Jika Kiara setuju, aku tak peduli soal itu. Yang penting dia tidak menderita.”
Keheningan menebal.
Kiara berbaring di kamar, memegangi selimut yang terasa semakin berat di tangannya.
Tubuhnya memang mulai pulih, tetapi pikirannya tidak.
Sejak kejadian semalam, ia merasa dirinya kotor… rusak… dan sendirian.
Ia mendengar suara-suara samar dari kamar sebelah. Suara Tomi. Suara Sana. Ia tidak sengaja mendengarkan, dan beberapa kata menyusup ke pendengarannya—cukup untuk membuat dadanya menegang.
“…aku siap menikahinya.”
Dunia Kiara seperti berhenti.
Jantungnya berdegup keras, tidak tahu harus merasa apa.
Takut?
Terharu?
Tidak percaya?
Menikahiku? Untuk apa? Kenapa harus dia? Kenapa bukan orang itu…?
Air matanya tiba-tiba menetes. Ia menutup mulut, menahan isakan.
Ia tidak ingin menjadi beban Tomi. Ia tidak ingin hidupnya menjadi keputusan orang lain.
Dan… bagaimana jika benar aku mengandung?
Tangannya meremas selimut semakin kuat.
Ia menatap langit-langit kamar.
Kesunyian menyergap.
“Ya Tuhan…” bisiknya lirih. “Apa yang harus aku lakukan…?”
Bersambung…
apa Kiara hilang ingatan
apa
kelakuan deff