NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

BAB 18: Kilau di Lantai Teratas dan Ikatan yang Mengakar

Perjalanan pulang dari pusat kota malam itu terasa begitu singkat. Di dalam kabin mobil sport hitam milik Zayn, keheningan yang tercipta bukanlah keheningan yang canggung, melainkan sebuah kedamaian yang begitu pekat. Elva Ileana duduk menyandar dengan pandangan lurus ke depan, sementara tangan kirinya masih setia tenggelam di dalam genggaman tangan kanan Zayn di atas tuas kendali.

Sisa rasa manis dari kembang gula dan kehangatan festival kuliner tadi seolah masih tertinggal, melingkupi atmosfer di antara mereka berdua.Begitu mobil berhenti di area parkir bawah tanah apartemen penthouse mewah mereka, Zayn mematikan mesin. Dia tidak langsung turun, melainkan berbalik menatap Elva yang tampak sedikit mengantuk namun masih mempertahankan senyuman manis di bibirnya.

"Capek?" tanya Zayn, suaranya berat dan rendah, memecah kesunyian malam di dalam mobil. Elva menoleh, menggelengkan kepalanya perlahan seraya membalas tatapan mata elang Zayn.

"Sedikit, Zayn. Tapi aku senang sekali. Ini malam minggu terbaik yang pernah aku punya seumur hidupku." Zayn tidak menyahut dengan kata-kata.

Dia hanya mengangguk kecil, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat hangat—jenis senyuman yang kini hanya dilemparkannya jika dia sedang bersama Elva. Zayn turun terlebih dahulu, memutari kap mobil dengan langkah lebar untuk membukakan pintu bagi Elva, lalu menuntun gadis itu memasuki lift pribadi yang langsung melesat menuju lantai teratas gedung.

Begitu pintu lift terbuka dan menampilkan interior apartemen mewah mereka yang bernuansa monokrom kaku, Elva langsung melangkah masuk ke dalam ruang tengah. Dia melepas flat shoes putihnya dengan helaan napas lega, lalu mendudukkan diri di atas sofa beludru besar yang sangat empuk. Angin malam yang berembus pelan dari arah balkon yang sengaja dibuka sedikit membuat gorden sutra abu-abu di ruangan itu bergoyang lambat.

Zayn berjalan ke arah dapur bersih, menuangkan segelas air putih hangat dan membawanya ke ruang tengah. Dia meletakkan gelas itu di atas meja kopi marmer di depan Elva, lalu ikut mendudukkan tubuh tegapnya di sebelah gadis itu.

"Minum dulu," perintah Zayn pendek.

"Terima kasih, Zayn," ucap Elva patuh. Dia meraih gelas itu, menyesap air hangatnya perlahan, merasakan tenggorokannya yang kering setelah puas tertawa dan mengobrol di festival tadi kembali segar. Setelah meletakkan kembali gelasnya, Elva membetulkan posisi duduknya menghadap penuh ke arah Zayn.

"Zayn, setelah ini... apa kita akan tetap seperti ini?"Zayn mengernyitkan dahi tajam, menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Elva. "

Maksud lo?"

Elva menunduk, jemari tangannya meremas pelan ujung gaun bermotif bunga-bunga kecil yang dipakainya. "Maksudku... masalah hukum keluargaku sudah selesai karena bantuan Papa kamu. Hubunganku dengan Papa dan Mama di rumah juga sudah terputus seutuhnya. Aku... aku hanya merasa bersalah jika terus-menerus merepotkan mu di apartemen ini. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikanmu."

Mendengar ucapan Elva, rahang tegas Zayn seketika mengeras. Rasa kesal yang bercampur dengan dorongan protektif yang posesif mendadak membakar dadanya. Zayn memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka hingga Elva bisa mencium aroma maskulin khas perpaduan mint dan parfum mahal dari tubuh cowok itu.Zayn meraih kedua pergelangan tangan Elva, menahannya dengan genggaman yang hangat namun sangat kokoh di atas sofa.

"Gue udah bilang berapa kali, Elva? Jangan pernah sebut kata 'merepotkan' lagi di depan gue," ucap Zayn, suaranya rendah, berat, dan sarat akan penekanan yang mutlak.

"Gue nggak pernah butuh lo membalas apa pun. Keberadaan lo di sini, senyuman lo yang murni setiap kali gue balik sekolah, itu udah lebih dari cukup buat gue."

Zayn melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Elva, beralih merangkul pundak mungil gadis itu lembut, menariknya agar bersandar erat pada dada bidangnya yang dilapisi kaus hitam polos.

"Tempat ini adalah rumah lo. Apartemen ini bukan lagi cuma punya gue, tapi punya kita. Lo nggak perlu pergi ke mana-mana, karena tempat lo pulang... emang di sebelah gue." Elva tertegun, air mata haru kembali menggenang di pelupuk matanya.

Setiap kata yang keluar dari mulut cowok sedingin es ini selalu berhasil memberikan rasa aman yang begitu nyata, meruntuhkan sisa-sisa rasa minder dan tidak berharga yang selama belasan tahun ini ditanamkan oleh keluarga Ileana di dalam jiwanya. Elva melingkarkan kedua lengan kecilnya di pinggang tegap Zayn, memeluk cowok itu erat-erat seolah takut kehilangan perisai terbaiknya.

"Gue punya sesuatu buat lo," bisik Zayn tiba-tiba tepat di samping telinga Elva setelah keheningan melingkupi mereka selama beberapa saat. Elva mendongak, melonggarkan pelukannya dengan wajah polos yang dipenuhi rasa penasaran.

"Sesuatu? Apa itu, Zayn?"Zayn tidak langsung menjawab. Dia meraba saku jaket denim gelapnya yang tadi dilepaskan dan ditaruh di lengan sofa. Dari dalam saku tersebut, Zayn mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam pekat yang tampak sangat elegan.

Dia membuka kotak itu di depan wajah Elva.Di dalam kotak tersebut, sebuah kaleng rantai perak murni yang sangat halus berkilau diterpa cahaya lampu tidur yang redup. Di tengah rantai itu, terdapat sebuah liontin kecil berbentuk siluet huruf 'Z' dan 'E' yang saling bertautan erat dengan hiasan sebutir berlian kecil di sudutnya, melambangkan inisial nama mereka berdua yang tidak akan pernah bisa terpisahkan.

Mata Elva terbelalak kecil. Dia menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, benar-benar kehilangan kata-kata melihat keindahan perhiasan di depannya.

"Z-Zayn... ini..."

"Gue pesen ini dari pengrajin perhiasan langganan Mama dua hari lalu," potong Zayn santai, meskipun guratan canggung kembali terlihat jelas di lehernya karena tidak terbiasa memberikan hadiah romantis seperti ini.

"Ini tanda ikatan resmi dari gue. Biar lalat-lalat di sekolah kayak Rendy tadi siang sadar diri kalau lo udah ada yang punya secara mutlak."

Ternyata, motif utama cowok posesif ini memberikan kaleng tersebut sebagian besar didorong oleh rasa cemburu beratnya yang menggemaskan akibat kejadian di kelas IPS siang tadi. Elva yang menyadari hal itu tidak bisa menahan tawa kecilnya yang sangat renyah.

"Posesifnya nggak ilang-ilang ya," goda Elva sambil tersenyum sangat manis, membuat matanya menyipit lucu.

"Biarin. Emang lo punya gue," sahut Zayn lempeng tanpa rasa bersalah. Dia mengambil kalung perak itu dari dalam kotak.

"Balik badan lo. Gue pasangin."

Elva menurut, dia membalikkan tubuhnya membelakangi Zayn dan menyibak rambut hitam panjangnya yang halus ke depan, memperlihatkan tengkuk lehernya yang putih bersih dan ramping. Zayn memajukan tubuhnya, napas hangatnya yang teratur menerpa permukaan kulit leher Elva, membuat bulu kuduk gadis itu meremang karena gugup.

Dengan jemari tangannya yang besar namun bergerak sangat telaten, Zayn memasangkan pengait kalung tersebut di leher Elva.Setelah selesai, Elva kembali berbalik menghadap Zayn. Dia memegangi liontin berinisial nama mereka di dadanya dengan jemari yang bergetar bahagia.

"Bagus nggak?" tanya Elva ragu.Zayn menatap Elva dengan intens. Sinar bulan purnama dari arah jendela lobi memantulkan kilau di atas rantai perak di leher Elva, membuat kecantikan alami gadis itu terlihat berlipat-lipat lebih memukau malam ini.

"Bagus. Pas banget di lo," ucap Zayn rendah, kelembutan di matanya kini terpancar utuh tanpa ada sekat dinding es lagi.Zayn menarik tubuh Elva kembali ke dalam dekapan hangatnya, mengecup puncak kepala gadis itu selama beberapa detik dengan penuh perasaan cinta yang mendalam.

Di atas lantai teratas gedung penthouse mewah ini, di bawah saksi bisu pendaran bintang dan kilau liontin ikatan resmi mereka, Elva akhirnya tahu bahwa badai besar di dalam lembaran takdir hidupnya telah benar-benar berganti dengan fajar baru yang sangat cerah.

Dia telah seutuhnya aman, dicintai, dan memiliki tempat pulang abadi di balik rengkuhan posesif sang tuan muda.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!