NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 07

PLAK!!

Niat hati Velisa hendak menampar wajah Alyra, namun tubuh tinggi Ervin berhasil menghadang, berakhir pipi kiri sang suami-lah yang menjadi sasaran murkanya.

“Aaaaa … PUTRAKU!!” Zaskia memekik di sisi kursi tamu, buru-buru berlari menaiki empat undakan anak tangga pelaminan.

Sebelumnya, ia turun untuk menghampiri rekan bisnis suaminya.

Pupilnya semakin membesar. “Ervin? Apa yang kamu lakukan?” kini pandangan bergeser pada sang menantu. “Velisa! Kamu sudah gila?!”

Yang dihardik seketika tersentak, “Sayang … apa yang kamu lakukan?” Bibir bawahnya bergetar. “Kamu melindungi wanita sampah ini?” Tatapan setajam ujung mata pisau tertuju pada perempuan yang masih berwajah datar.

Ervin tak segera menjawab, tangan mengelus pipi yang memanas. “Velisa, kamu sudah keterlaluan. Lebih baik kita pergi dari sini.”

Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung menarik kasar tangan istrinya, menyeret ke arah pintu keluar.

“Ervin … sakit!” jeritnya, sama sekali tak dihiraukan.

Erlan hanya menatap biasa. Sorot matanya tak setajam tadi, diam-diam melirik sisi wajah sang istri.

‘Apa yang dia rasakan? Sedih? Muak? Marah? Raut wajahnya … begitu sulit ditebak.’

“Semua ini gara-gara kamu, Alyra! Mengapa kamu harus hadir di dalam kehidupan putraku, nyusahin aja!” Zaskia menatap sinis sosok yang masih tetap tenang, kemudian melengos, pergi tanpa bicara.

Dirham meraup kasar wajahnya, begitu malu menyaksikan tingkah konyol keluarganya. “Memalukan sekali.” ia menghela napas panjang.

Setelah beberapa saat, situasi kembali kondusif. Gedung besar itu mulai lengang, perempuan berambut pekat sebahu melangkah mendekati sejoli yang masih saling diam, memilih tak saling pandang.

“Acara sudah hampir selesai, bila pengantin merasa lelah sudah boleh—”

“Ayo pergi.” Erlan meraih tangan sang istri, mengajaknya keluar meninggalkan gedung megah namun terasa sesak baginya.

Staf wo hanya menatap tak percaya pada sosok yang bersikap acuh, seolah tak melihat dirinya. Ia bahkan belum selesai bicara namun sudah ditinggal begitu saja.

“Apa saya tak nampak? Tak kasat mata, kah?”

.

.

.

Tiba di dalam lift. Erlan melepas genggaman, menekan tombol, lalu berdiri dengan kedua tangan terselip pada saku celana.

“Mengapa kau hanya diam?”

Alyra mengangkat wajah, menatap lekat bahu lebar yang berdiri kokoh di depan, dirinya berada di bagian lift belakang.

“Kalau mau marah, lampiaskan saja saat di sana. Tak perlu bersusah payah menahan diri dan berpura-pura tetap tenang.”

“Saya tidak berpura-pura,” sahut Alyra, kini wajahnya tertunduk. “Saya hanya mencoba sabar dan bersikap tak peduli. Biarkan saja, bila meladeni mereka ... Hanya akan menaikan tensi saja.”

Erlan menoleh pelan, menghela napas. “Baguslah. Setidaknya kau tak akan merepotkan saat tinggal seatap bersama mereka. Kurasa ... Dirimu sudah sangat terbiasa menghadapi manusia seperti mereka.”

Alyra mengangkat alis. “Tinggal bersama mereka?” Ia tampak terkejut, mendongak, keningnya mengernyit. “Jangan bilang … kita akan tetap tinggal di rumah besar Pradana meski sudah menikah?”

“Benar,” sahut Erlan dengan tenang, tatapan tetap lurus ke depan.

“Kenapa? Kenapa harus tinggal serumah?” protes Alyra, menatap heran pada sosok berwajah datar. “Kita bisa pindah rumah saja, bila Anda tak mau repot mencari hunian, biar saya saja yang mempersiapkan. Mencari villa, apartemen, atau rumah di sebuah komplek, saya yang akan mengurusnya,” usulnya, berharap suami akan setuju.

“Saya adalah pewaris keluarga Pradana, mengapa harus repot-repot meninggalkan istana?” nada suaranya rendah, menjawab tanpa menoleh.

“Tapi—”

Pintu lift terbuka, Erlan melangkah keluar tanpa mempedulikan protes sang istri.

“Pak Erlan!” Alyra memanggil, berlari kecil menyusul langkah lebar Erlan.

Yang dipanggil tak merespon, terus berjalan menuju lokasi mobilnya terparkir.

“Mengapa tidak diskusikan dahulu dengan saya perihal tinggal satu atap bersama mereka? Kita sudah menikah dan artinya mulai sekarang Anda tidak bisa memutuskan apapun seorang diri,” ucap Alyra, berusaha menyamai langkah cepat sang suami.

“Bukankah kita sudah sepakat untuk tak saling ikut campur dan mengurus hidup masing-masing?” Kini Erlan menghentikan laju kaki, membuat Alyra yang berjalan cepat seketika menabrak keras bahunya yang kokoh.

Bruk!

“Akh!” Alyra langsung mendongak, mundur satu langkah. Tangan mengelus dahi.

“Mengapa tak kau tanyakan semua itu sebelum menyetujui pernikahan ini?” Erlan memutar badan, menatap lekat sosok yang masih mengenakan gaun pengantin. “Sudah terlambat, tak ada pilihan untukmu selain mengikuti keinginanku. Bila tak mau, kau bisa ajukan cerai malam ini.”

Kaki jenjang nan tegap itu kembali melangkah, tangan meraih remot kecil di saku jas, Erlan masuk ke sebuah mobil type jeep yang sudah dimodifikasi.

Sementara Alyra masih berdiri dengan raut kesal sambil menggigit bibir bawahnya. “Apa katanya, cerai? Wah … Erlando sungguh luar biasa. Begitu mudah mengucap cerai padahal belum juga lewat 24 jam sejak ia mengucap akad.”

Mobil berwarna hitam itu melaju pelan dan berhenti di dekat Alyra, Erlan menurunkan kaca di kursi penumpang. “Kau ingin pulang denganku? Atau memesan taksi?” Ia bertanya, namun tak menatap sang istri.

Alyra tak menjawab, ada amarah yang menyala pada sorot matanya. Ia memegang tuas pintu mobil, memilih duduk di kursi bagian tengah.

Erlan meilirik pada spion dalam. “Kau pikir aku supir? Duduk di depan,” titahnya.

Yang diperintah tak mengindahkan, hanya menatap tajam pada sosok dingin yang memegang stir mobil.

“Alyra. Duduk di depan.” Kedua kalinya Erlan meminta.

Alyra memutar bola matanya, menghela napas malas, akhirnya turun dan kembali duduk pada kursi di samping kemudi.

Dengan kasar ia memasang sabuk pengaman, membuang muka, menatap ke arah kaca jendela.

Erlan tetap bersikap acuh, kembali memindahkan tuas persneling, kemudian menginjak gas.

.

.

“AAAAKH!!!”

BRAK!

PYAR!

Guci pajangan berukuran setengah meter terguling, pot bunga dan beberapa hiasan dinding berserakan di lantai, hancur berkeping-keping, menjadi sasaran amukan istri Ervino Pradana.

“Katakan padaku. Kamu masih mencintai Alyra? Kamu belum bisa merelakannya, iya?!” Suara itu menggema di sebuah rumah mewah bak istana.

Para bibi dan beberapa penjaga rumah hanya berdiri kaku di ambang pintu dan sisi ruangan. Tak berani mendekat, apalagi menyela.

Yang dihardik hanya berdiri, menatap dengan ekspresi jengah. “Velisa. Kamu bisa tenang dulu? Nggak akan berujung baik kalau membicarakan masalah ini dengan kepala panas seperti ini, penuh emosi!”

Di ruang keluarga yang cukup luas, Velisa berdiri dan menatap nanar sang suami, usai membabi buta, memporak-pondakan seisi ruangan.

Ia menyeka pipi bersimbah air mata, tatapan berubah setajam ujung belati. “Bagaimana aku bisa tenang setelah menyaksikan sendiri, suamiku berdiri untuk melindungi mantan kekasihnya!”

“Aku nggak berniat untuk melindunginya, aku cuma mencegah keributan, Sa! Kalau aku nggak nahan kamu … apa yang akan terjadi di sana? Banyak mata yang mengawasi kita, Sa!Mengertilah.” Putra Sulung Dirham Pradana tampak kewalahan menghadapi sang istri yang memang pemilik sikap tempramental, suka meledak-ledak bila kepalang emosi.

“Pembohong!!” Velisa berteriak histeris, wajahnya memerah, sorot mata dipenuhi murka. “Aku bisa melihat bagaimana kagumnya kamu saat melihat Alyra mengenakan gaun pengantin. Sorot mata berbinar yang nggak pernah aku lihat bahkan saat di hari pernikahan kita, Ervin! Kamu cuma diam, memandangku tanpa cinta, seolah aku adalah mempelai wanita yang nggak pernah kamu inginkan!”

Kini Velisa melangkah mendekati sang suami. “Tapi tidak dengan Alyra, kamu bahkan berani memuji kecantikannya di hadapanku!”

“Sampai kapan kamu akan terus membahas masalah yang sudah lalu? Aku capek, Sa. Aku muak.” Suara Ervin merendah, namun ekspresinya terlihat marah.

“Apa, muak?” Velisa tersenyum getir. “Kamu menyesal menikahiku?” Pertanyaan tak masuk akal itu meluncur dari bibir wanita yang baru sepekan menyandang status istri.

“Apa?” Ervin mengerutkan dahinya.

“Apa kamu menyesal menikahiku?!” Sekali lagi ia bertanya, kali ini lebih keras suaranya.

Ervin tersentak, namun berusaha terlihat tenang. “Apa kamu sudah gila? Kenapa mengajukan pertanyaan konyol seperti ini?”

“Apa sulitnya menjawab pertanyaanku, Ervin?” Velisa masih terlihat geram, menuntut jawaban.

“Haruskah aku menjawab jujur?”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!