NovelToon NovelToon
Monster Pedang Gerbang Timur

Monster Pedang Gerbang Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Ahli Bela Diri Kuno / Fantasi Timur
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muzu

Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.

Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.

Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.

Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paviliun Gerbang Timur

Uniknya, para selir pandai memainkan peran. Mereka tampak lemah dan saling mengandalkan hingga berpura-pura mendekati berbagai pihak untuk mendapatkan dukungan. Cara mereka memainkan peran sangat alami dan mampu mengecoh banyak pihak.

Kembali ke Gerbang Timur.

Setahun sudah Qin Zhao berlatih semua teknik yang diwariskan padanya. Kemampuannya kini sudah melebihi pendahulunya, Kaisar Qin pertama yang dikenal sebagai legenda di alam kultivasi. Namun, Qin Zhao berbeda. Dia bukan lagi seorang kultivator.

“Semuanya telah aku kuasai, tetapi untuk kembali ke istana belum waktunya. Aku ingin mengukuhkan diri sebagai penguasa tempat ini,” ucap Qin Zhao meneguhkan niat.

Hal pertama yang dilakukannya untuk mewujudkan niatnya itu adalah membangun paviliun di muka gerbang. Maka dari itu, ia bergegas meninggalkan area gerbang untuk mengumpulkan bahan. Tujuannya kali ini adalah hutan di area terluar.

Inilah pertama kalinya Qin Zhao keluar dari area Gerbang Timur. Suasana hidup yang telah dinantikannya lebih dari setahun lamanya.

Kedatangannya disambut oleh rindangnya dedaunan yang melambai tertiup angin.

“Segarnya udara di sini.” Qin Zhao merentangkan kedua tangan seraya mendongak ke atas langit, menikmati cerahnya hari bersama sepoi angin yang mendayu.

Sayangnya, kenikmatan itu hanya berlangsung beberapa saat. Suara benturan logam dari kejauhan mengusiknya. Qin Zhao menoleh ke sumber suara dan segera memakai topeng, lalu berkelebat di antara tingginya semak belukar.

“Kau kalah, Nona,” ucap seorang pria berpipi gembil setelah berhasil menjatuhkan gadis muda bermata sayu.

Tatapan pria gembil itu berubah ketika menyadari gadis di depannya sangat cantik dan bertubuh sintal. Niat membunuhnya pun hilang seketika, berganti dengan keinginan tak senonoh untuk menjamah tubuh mulus sang gadis.

Makin pucatlah gadis itu melihat tatapan penuh hasrat si pipi gembil. Ia pun mundur tergesa, mencoba menjauh darinya.

 “Kau boleh mengambil semua hartaku, bahkan nyawaku, tetapi aku mohon, kau jangan menodaiku,” pinta gadis muda itu mengiba. Tatapan pria gembil terasa menelanjanginya.

“Salah sendiri kau punya wajah cantik dan tubuh montok. Di kehidupan berikutnya, pilihlah menjadi kodok.” Dengan cekatan pria gembil itu menyumpal mulut dan mengikat kedua tangan si gadis lalu menidurkannya.

“Kalau kau takut, pejamkan saja matamu. Aku janji takkan lama,” imbuhnya kemudian melorotkan celana.

Di balik semak belukar, Qin Zhao perlahan mendekat, tanpa suara, dan tiba-tiba saja sudah berada di belakang pria gembil yang sedang berusaha melebarkan kaki si gadis bermulut mungil.

Mimik wajah si gadis berubah pucat begitu melihat keberadaan sosok berpakaian hitam yang sudah berdiri sambil menggenggam pedang. Senyap dan dingin. Begitulah yang terlihat oleh si gadis. Keberadaan sosok hitam itu membuatnya lupa dengan pria gembil yang sedang menjamah tubuhnya.

Detik berikutnya, ayunan pedang melingkari leher pria gembil dalam satu tarikan cepat. Begitu senyap dan begitu tajam bilah pedang itu menembus kulit hingga ke tulang tenggorokan dan memisahkannya. Bahkan, pria gembil itu tidak menyadari lehernya terpenggal. Seketika itu pula kepalanya jatuh membentur tubuh si gadis yang membeku menyaksikannya.

Sosok hitam itu pun menghilang sebelum si gadis sempat menyadarinya.

Qin Zhao memilih pergi meninggalkan si gadis karena ia tidak pernah peduli dan tidak mau tahu siapa gadis itu. Ia hanya tidak ingin hari pertamanya menikmati keindahan alam terusik.

Berada di bawah deretan pohon-pohon besar, Qin Zhao memilih beberapa pohon yang cocok untuk pembangunan paviliunnya.

“Beberapa pohon ini harusnya cukup.” Qin Zhao kemudian merentangkan kedua tangan dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Jari-jarinya yang terbuka mengeluarkan kobaran api yang membentuk simpul energi.

Tanah di bawahnya perlahan bergetar, retakan mulai terbentuk, dan akar-akar pohon terangkat ke permukaan. Delapan pohon yang dipilihnya melayang ke udara. Ia kemudian melambaikan tangan, menerbangkan pohon-pohon itu ke wilayah Gerbang Timur.

“Saatnya menggunakan teknik formasi pengubah bentuk.” Qin Zhao mulai menyusun kerangka bangunan dari pikirannya sebelum ia menggunakan teknik formasi.

Setelah bangunan terbentuk dalam bayangan, ia mulai memainkan jemari tangannya dengan gerakan melingkar. Tangan kanannya menarik garis lurus ke depan, membelah batang pohon. Tangan kirinya kemudian membentuk spiral api, memahat batang pohon dan membentuknya sesuai kebutuhan.

Proses pembangunan paviliun memakan waktu tiga hari penuh. Cukup cepat untuk seorang pemuda yang baru pertama kali mempraktikkan teknik formasi yang dipelajarinya.

“Akhirnya aku memiliki paviliun hasil kreasiku sendiri, meskipun gosong. Ha-ha!” kelakar Qin Zhao. Ia sangat puas melihat bangunan berlantai dua yang hampir sepenuhnya berwarna hitam. Hal itu disebabkan oleh energi api yang digunakan di setiap prosesnya. Jadi, paviliun yang dibangunnya tampak seperti habis terbakar. Meskipun demikian, paviliun yang dibangunnya sangat kokoh.

Langkah selanjutnya adalah memasang umpan untuk menarik perhatian para kultivator, khususnya bagi mereka yang sering melewati area Gerbang Timur. Qin Zhao memilih beberapa artefak kuno yang diwariskan leluhurnya.

“Cermin Langit Abadi ini cocok aku tempatkan di altar paviliun. Cermin ini akan menjadi daya tarik pertama bagi siapa pun begitu membuka pintu. Dan mantra Gulungan Surga Timur ini sangat pas ditempatkan di lantai atas. Baiklah, saatnya mendekorasi paviliun,” ucapnya setelah memilih kedua artefak untuk menarik minat para kultivator.

Gelapnya malam kembali menyelimuti wilayah Gerbang Timur. Qin Zhao berdiri di pelataran paviliun lantai atas. Ia memandangi gemerlapnya bintang-bintang di angkasa seraya memikirkan cara cepat menarik dunia luar untuk berbondong ke paviliunnya.

“Kalau hanya menunggu orang datang, entah kapan datangnya itu. Bukankah ini sangat membosankan?” Qin Zhao terus berpikir hingga ekor matanya beralih ke tubuh Goziro di kejauhan.

“Hei, bangun!” Qin Zhao memanggilnya.

“Ada apa, Tuan?” timpal Goziro masih belum bergerak di tempatnya.

“Bisakah kau membakar langit?”

“Itu mudah, tetapi ini akan memancing orang-orang untuk datang ke tempat kita.”

“Justru itu tujuanku. Kau kemarilah!”

Tanah bergetar keras begitu Goziro bangkit dari tidurnya. Monster itu kemudian merentangkan sayap dan terbang ke arah paviliun. Ini pertama kalinya Qin Zhao melihat Goziro terbang. Makhluk sebesar bukit itu terbang dalam satu hentakan dan sudah berada di hadapannya.

“Sekarang aku benar-benar yakin kau bukan dari dunia ini. Ayo bakarlah langit, dan kau bisa kembali tidur!” pinta Qin Zhao yang kedua matanya terus mengagumi sosok monster milikinya itu.

Tanpa menimpali, Goziro langsung mengepakkan sayap, terbang ke udara. Kepalanya mendongak dengan rahang yang terbuka. Dari dalam mulutnya kobaran api besar keluar menyambar langit yang seketika bergemuruh keras. Kobaran api besar di udara itu membuat langit malam tampak seperti senja hari, tetapi sangat terang menyala.

“Kerja bagus, Goziro,” puji Qin Zhao yang setelah itu ia bersiap diri menyambut kedatangan orang-orang yang penasaran.

Seperti yang sudah diperkirakan, banyak orang yang berbondong-bondong datang ke wilayah Gerbang Timur. Mereka semua mencari sumber cahaya merah yang diperkirakan berpusat di sekitar Gerbang Timur.

“Hei, lihatlah ke sana!” pekik seseorang menunjuk ke arah paviliun.

Sontak saja semua orang menoleh ke arah yang ditunjuk orang itu. Orang-orang yang melayang terbang melesat cepat ke arah paviliun. Sementara yang berada di daratan tak luput mendengarnya juga. Mereka berlarian untuk secepatnya sampai di paviliun.

Lebih dari seribu orang dari berbagai kalangan tiba di muka gerbang. Beberapa dari mereka tampak heran melihat bangunan yang seolah habis terbakar itu tampak begitu eksotis. Namun, bukan dari bentuknya yang membuat mereka berpikir keras, melainkan dari keberadaannya yang entah dari mana asalnya itulah yang membuat mereka semua tak habis pikir.

1
Didi h Suawa
kacau fiksinya,🤭🤭🤭
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: 😄😄😄😄 maafkan 🙏 di sini MC lg masa transisi sebelum dapat kekuatan yang sesungguhnya
total 1 replies
soegiman aja
kok jadi gini?😄😄
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: itu bab penggiringan, Ka. Terima kasih sudah berkenan mampir 🙏
total 1 replies
RN
di tunggu fantasi lokal nya bg biar kaga belibet nyebut nn nya🤣
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: 😄😄😄 nanti ya
total 1 replies
RH
lanjut thor, udah ngasi gift nih👍
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: terima kasih, Ka. Maaf kemarin ga sempat up, agak sibuk di rl 😄
total 1 replies
RH
jdi inget wedang😄
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: wedang jahe diminum pas lg ujan, enak tuh 😄
total 1 replies
Quinnela Estesa
kak Muzu😊 sesekali dong buat Fantasi Barat.
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: Aku kurang suka sama fantasi barat 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!