Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad di Ambang Perpisahan
Bau karbol dan aroma antiseptik yang menyengat di ruang VVIP rumah sakit itu menjadi saksi bisu dari sebuah prosesi yang paling tidak diinginkan Kalea dalam hidupnya. Tidak ada gaun putih mewah dengan ekor panjang, tidak ada dekorasi bunga mawar yang memenuhi ruangan, dan tidak ada musik romantis. Yang ada hanyalah suara detak mesin bedside monitor yang menjadi pengiring langkah Lea menuju ranjang kakaknya.
Najwa berbaring di sana, pucat dan lemah di atas bangkar rumah sakit. Sebuah masker oksigen masih terpasang, namun matanya terbuka sayu, menatap adiknya dengan binar penuh harap yang justru terasa seperti sembilu bagi Lea.
Di sudut ruangan, berdiri Ibu yang terus terisak, dirangkul oleh Papa yang wajahnya nampak menua sepuluh tahun dalam semalam. Bunda dan Ayah orang tua angkat Lea dari London juga hadir dengan gurat kesedihan yang mendalam. Di pojok ruangan, Dira, sahabat masa kecil Lea, menunduk dengan bahu bergetar. Ia satu-satunya orang yang tahu betapa hancurnya hati Lea saat ini.
Gus Malik duduk di samping bangkar, mengenakan koko putih bersih dan peci hitam. Wajahnya sangat kaku, matanya merah, namun punggungnya tetap tegak seperti karang yang tak boleh runtuh meski dihantam badai.
"Kita mulai sekarang?" suara Papa bergetar saat bertanya pada penghulu yang sudah duduk di depan Gus Malik.
Lea merasa dunianya runtuh. Ia berdiri di samping ranjang Najwa, mengenakan kebaya putih sederhana titipan kakaknya. Ia merasa seperti boneka kayu yang digerakkan oleh benang takdir. Ia ingin berteriak, ia ingin lari kembali ke London, ke pelukan Tom, ke kebebasan yang ia banggakan. Tapi saat tangannya digenggam oleh tangan Najwa yang dingin dan kurus, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Malik Al-Fatih bin Ahmad, dengan putri kandung saya, Kalea Az-Zahra, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan perhiasan emas tiga puluh gram dibayar tunai."
Suara Papa bergema di ruangan yang sempit itu.
Gus Malik menarik napas panjang. Tanpa menatap Lea, dengan suara rendah yang mantap namun penuh duka, ia menjawab.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kalea Az-Zahra binti Rahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
"Sah."
Kata itu bagaikan vonis mati bagi Lea. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipinya yang sudah pucat. Ia resmi menjadi istri dari pria yang paling ia benci di dunia ini. Ia resmi menjadi "cadangan" yang akan mengisi kekosongan saat kakaknya pergi nanti.
Najwa tersenyum di balik masker oksigennya. Tangannya yang lemah menarik tangan Lea dan tangan Malik, lalu menyatukannya di atas dadanya yang turun-naik dengan susah payah. Ini adalah pertama kalinya kulit Lea bersentuhan dengan kulit Malik. Malik tersentak, ia tampak kaku dan tidak nyaman, namun ia tidak menarik tangannya demi menghormati keinginan istrinya yang sedang sekarat.
Lea bisa merasakan betapa dinginnya tangan Malik sedingin sikap pria itu padanya.
"Bimbing... adikku..." bisik Najwa, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi mesin rumah sakit.
Malik hanya mengangguk pelan, kepalanya tetap menunduk. Ia tidak mengucapkan janji manis, tidak juga menatap Lea dengan cinta. Baginya, pernikahan ini adalah pengabdian terakhirnya pada Najwa, sebuah beban suci yang harus ia pikul meski hatinya menolak.
Setelah prosesi selesai, Bunda memeluk Lea erat. "Sabar, Sayang... ini jalan terbaik," bisik Bunda.
Lea tidak menjawab. Ia menoleh pada Dira yang menatapnya dengan tatapan iba. Lea ingin menjerit pada sahabatnya itu, mengatakan bahwa ia merasa sudah mati di dalam tubuh yang masih bernapas ini.
Malam itu, setelah keluarga besar pulang dan menyisakan kesunyian di rumah sakit, Lea berdiri di balkon ruang tunggu. Ia merogoh ponselnya, melihat foto Tom yang masih menjadi wallpaper -nya. Tangannya gemetar hebat. Ia baru saja mengkhianati dirinya sendiri, mengkhianati cintanya, dan mengkhianati masa depannya demi sebuah sandiwara yang ia sepakati dengan pria dingin itu.
Gus Malik keluar dari kamar Najwa, hendak mengambil air minum. Ia melihat Lea di balkon. Sesuai perjanjian di Bab 6, Malik tidak mendekat. Ia berhenti di ambang pintu, tetap memunggungi Lea, menjaga jarak terjauh yang bisa ia lakukan.
"Najwa sudah tidur," ucap Malik datar. "Kamu bisa istirahat di kamar sebelah. Besok pagi kita akan kembali ke pesantren untuk mengurus kepindahan barang-barangmu."
"Gue nggak mau pindah ke kamar lo," ketus Lea, suaranya serak karena sisa tangis.
"Sesuai perjanjian, Kalea," Malik memejamkan mata sejenak. "Status kita rahasia. Kamu akan tetap di kamar tamu. Saya tidak akan menyentuhmu, bahkan tidak akan memasuki ruanganmu tanpa izin. Tapi secara administratif, kamu adalah tanggung jawab saya sekarang."
"Tanggung jawab?" Lea berbalik, menatap punggung Malik dengan benci. "Lo nikahin gue karena terpaksa, Gus. Jangan sok peduli. Lo benci lihat gue, dan gue lebih benci lagi harus ada di dekat lo."
"Benar," jawab Malik singkat, suaranya sangat dingin hingga membuat suhu ruangan terasa turun. "Tapi benci atau tidak, akad sudah diucapkan. Di mata Tuhan, kamu adalah makmum saya. Dan di depan Najwa, kita adalah suami istri yang bahagia. Itu saja yang perlu kamu ingat."
Malik melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Lea kembali menatap langit Jakarta yang gelap. Ia merasa seperti burung yang sayapnya baru saja dipatahkan, lalu dimasukkan ke dalam sangkar emas yang harum namun mematikan.
Pernikahan rahasia ini baru saja dimulai, dan Lea tahu, mulai besok, setiap detik hidupnya akan menjadi peperangan melawan kedinginan Gus Malik dan kerinduannya pada kebebasan yang telah ia jual.