NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Anjing

Udara luar menusuk paru-parunya. Halaman belakang itu seluas lapangan bola, dipagari kawat berduri.

Sabrina bersandar sesaat pada kusen kayu pintu belakang yang lapuk. Angin malam lereng gunung menghantam wajah pucatnya tanpa ampun. Tangan kanannya mencengkeram erat gagang belati curian dari mayat Haryo. Tangan kirinya memeluk Sebastian yang tertidur damai di dalam dekapan dadanya.

Ia melirik ke bawah kakinya. Ada keranjang rotan berisi tumpukan kain cucian kotor milik para penjaga vila. Bau deterjen murahan dan pemutih pakaian menguap tajam dari keranjang itu.

Sempurna.

Sabrina membungkuk pelan menahan denyut nyeri di pangkal panggulnya. Ia menarik selembar kemeja flanel tebal yang paling menyengat bau bahan kimianya. Ia membalutkan kemeja kasar itu menutupi kain beludru yang membungkus bayinya. Bau amis darah segar dari rahimnya terlalu mencolok di area terbuka seperti ini. Ia butuh kamuflase penciuman untuk mengecoh hidung predator malam.

"Napas pelan, Jagoan," bisik Sabrina sangat pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding bata dingin, mengambil momen jeda krusial.

Ritme jantungnya berpacu liar. Sensasi robekan di jalan lahirnya berdenyut konstan merusak fokus otaknya. Ia memejamkan mata, membiarkan energi hangat dari tubuh kecil di dadanya mengalir masuk ke sistem sarafnya. Bayi ini sama sekali tidak rewel. Sebastian bernapas tenang. Sinkronisasi luar biasa antara ibu dan anak di tengah medan jagal.

"Tolong! Siapa aja, tolong bukain gerbang ini!"

Jeritan melengking Boni memecah keheningan dari arah sudut pagar kawat berduri.

Sabrina membuka matanya. Netra hitamnya menajam menembus gulita. Di ujung halaman sana, bayangan raksasa Boni sedang memanjat panik pagar setinggi dua meter.

Tiga ekor anjing jenis Rottweiler bermata merah menyala sedang melompat liar di bawah kaki Boni. Liur menetes deras dari rahang kokoh mereka. Suara gonggongan brutal hewan-hewan itu menggetarkan tanah berumput.

Radio komunikasi di sabuk Sabrina mendadak berderit bising.

"Boni! Gue denger suara gonggongan! Lo di mana sekarang?!" Suara melengking Kania Tanjung meledak dari speaker kecil itu.

Sabrina mencabut radio itu dari sabuknya. Ia melangkah tenang keluar dari bayangan teras, menyeret telapak kakinya yang berlumur darah menyusuri rumput basah.

"Jawab gue, Bangsat!" Teriak Kania lagi. Nada paniknya menyiratkan ketakutan absolut akan kegagalan.

"Nyonya Kania," ucap Sabrina datar ke arah mikrofon. Suaranya sedingin bongkahan es kutub, memotong semua histeria di ujung saluran.

Hening total menyergap frekuensi radio selama tiga detik.

"Siapa ini?" Suara Kania kini bergetar, turun dua oktaf menjadi bisikan ngeri. "Sabrina? Lo belum mati?"

"Suaramu melengking merusak telingaku, Kania," balas Sabrina santai. Ia melangkah semakin dekat ke arah keributan di sudut pagar. "Kirim preman yang lebih mahal sedikit besok-besok. Sampah yang kau bayar malam ini sudah jadi pupuk di lantai gudang."

"Lo bohong! Gue bayar mahal mereka buat ngulitin lo!"

"Mau dengar suara anak buahmu menangis?" Sabrina menekan tombol transmisi dan menyodorkan radio itu ke arah depan.

"Tarik anjing-anjing gila ini, Nyonya!" Boni meraung dari atas pagar kawat. Ujung sepatu botnya ditarik paksa oleh gigitan rahang salah satu Rottweiler. Celana jeans pria itu robek seketika. "Pawangnya kabur ke mana?! Tolongin gue!"

"Goblok! Biarin aja anjing itu makan kalian semua!" Maki Kania putus asa. Klik. Sambungan radio diputus sepihak dari seberang sana.

Sabrina melempar radio itu ke tanah berumput. Ia berdiri tenang berjarak lima meter dari Boni.

Preman raksasa itu menoleh panik. Matanya membelalak lebar melihat siluet Sabrina berdiri tegak di bawah cahaya bulan purnama. Gaun putih wanita itu hancur berlumuran darah kental. Tangan kanannya memegang pisau berkilat.

"Lo... Jangan mendekat, siluman gila!" Boni menendang moncong anjing yang terus melompat menggigit betisnya. Kawat tajam di atas pagar mulai merobek telapak tangan pria itu.

"Kau lari terlalu lambat, Boni," ucap Sabrina dingin.

"Tolongin gue! Panggil anjing ini mundur!" Boni memohon dengan air mata menetes dari sudut matanya. Reputasi jagoan terminalnya lenyap tak bersisa. "Gue janji bakal pergi dari kota ini malam ini juga! Gue nggak bakal ngomong sama Kania atau Adrian Halim!"

"Anjing memakan daging busuk," balas Sabrina tak acuh. "Kau sangat cocok menjadi menu makan malam mereka."

Angin berembus memutar arah.

Bau amis darah segar dari paha dan kaki Sabrina tertiup kencang menuju arah pagar. Insting predator hewan selalu mengutamakan mangsa yang terluka parah. Bau darah itu jauh lebih memabukkan daripada keringat ketakutan seorang pria dewasa.

Tiga anjing besar itu mendadak berhenti melompat.

Mereka melepaskan gigitan di celana Boni. Ketiga kepala besar itu menoleh serempak ke arah Sabrina. Moncong mereka mengendus udara rakus. Telinga mereka berdiri tegak. Geraman rendah yang menggetarkan dada mulai keluar dari tenggorokan hewan-hewan buas tersebut.

"Syukurin lo, Sundel!" Boni tertawa histeris di atas pagar. "Anjing-anjing ini sengaja dibikin kelaparan tiga hari sama Kania! Mereka nyium darah segar lo! Lo yang bakal habis dicabik-cabik sekarang!"

Rottweiler pertama mengambil langkah maju. Diikuti anjing kedua dan ketiga. Formasi setengah lingkaran mulai terbentuk mengepung Sabrina. Taring-taring kuning tajam terekspos jelas.

Sabrina tidak mundur satu sentimeter pun.

Di kehidupan masa lalunya, Maureen pernah bertahan hidup tiga minggu di dalam hutan bersalju Siberia hanya berbekal pisau lipat. Ia pernah memburu dan menyembelih kawanan serigala abu-abu kelaparan untuk diambil kulit dan dagingnya. Anjing penjaga peliharaan manusia seperti ini hanyalah anak anjing di mata seorang algojo elit.

Sabrina menurunkan titik tumpu badannya, mengabaikan rasa ngilu mematikan di rahimnya. Ia merenggangkan kaki kirinya ke belakang, membentuk kuda-kuda tempur solid. Tangan kanannya memutar belati dengan sangat lincah.

Buntalan flanel di dadanya ia eratkan menggunakan sisa tenaga tangan kirinya. Bau amonia dari kain flanel itu sukses menyembunyikan bau verniks dan napas bayi Sebastian dari deteksi anjing-anjing ini.

"Maju," tantang Sabrina. Volume suaranya rendah, nyaris menyerupai geraman tandingan.

Anjing terbesar, sang alfa kawanan, melolong marah dan berlari menerjang lurus ke arah leher Sabrina.

Sabrina tidak menghindar. Ia justru mengambil satu langkah agresif menyongsong lompatan hewan raksasa itu. Sorot matanya berubah menjadi lubang hitam yang menghisap semua sisa cahaya kehidupan. Ia melepaskan seluruh aura membunuhnya. Niat mencabut nyawa yang sangat pekat, dingin, dan purba.

Hewan memiliki radar insting jauh lebih peka daripada manusia. Di udara kosong pertengahan lompatannya, insting anjing alfa itu menabrak dinding niat membunuh Sabrina yang luar biasa dominan.

Ini bukan aura mangsa yang terluka. Ini adalah aura predator puncak rantai makanan yang siap memakan mereka hidup-hidup.

Dua anjing di belakang sang alfa mendadak berhenti berlari. Kaki mereka mengerem mendadak menggesek rumput basah. Telinga mereka turun menekuk, ekor mereka masuk bersembunyi di antara kedua kaki belakang. Mereka mengeluarkan suara rengekan ketakutan dan mundur mencari jarak aman.

Sang alfa mendarat canggung tepat di depan kaki Sabrina. Momentum serangannya patah total. Bulu kuduknya berdiri tegang menahan teror psikologis yang tidak bisa dijelaskan oleh otak binatangnya.

Sabrina menundukkan kepalanya, menatap lurus tepat menembus pupil anjing buas itu tanpa berkedip. Mata hitam Sabrina tidak memancarkan ketakutan, melainkan dominasi absolut seorang ibu yang siap merobek jantung siapa saja demi melindungi anaknya.

"Duduk," desis Sabrina tajam. Kata itu keluar bersama uap dingin dari celah bibirnya.

Anjing alfa itu menggeram pelan menahan kebingungan instingnya sendiri. Langkah kaki depannya bergetar. Hewan itu menolak menyerah begitu saja di hadapan bau darah yang sangat menggoda selera makannya.

Dua anjing berhenti. Satu masih mendekat. Gigi rottweiler itu menganga dalam jarak setengah meter dari tangannya.

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!