NovelToon NovelToon
TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*


Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.

Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.


Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.


Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Kamar Tamu Lagi.

Setelah malam itu, Junee berhenti mebahas tentang anak.

Bukan karena dirinya sudah ikhlas.

Tetapi karena setiap kali kata itu keluar dari mulutnya, ia melihat luka di mata Ben. Dan Junee benci menjadi penyebab kesedihan pria itu.

Sudah cukup penderitaan Ben selama 10 tahun yang lalu. Tidak untuk saat ini.

Maka wanita itu memilih untuk diam.

Memilih mundur satu langkah. Lalu mengasingkan diri kembali ke kamar tamu.

“Ben, malam ini aku tidur di kamar sebelah ya.” Ucap Junee di malam ketiga setelah insiden surat cerai. Suaranya datar, seolah sedang membahas menu makan malam.

Padahal mereka baru saja selesai berbagi peluh bersama. Seharusnya tidur saling memeluk. Justru malah ingin pisah ranjang.

Junee menggunakan kembali baju tidurnya, yang satu jam lalu di lepaskan oleh sang suami.

“Alasannya?” Tanya Ben. Nafas pria itu bahkan masih memburu.

“Supaya kamu bisa tidur nyenyak.” Junee memaksakan senyum. “Kamu ‘kan sering lembur kerja. Butuh istirahat yang cukup. Kalau aku tidur disini, pasti akan menganggu. Aku biasanya tanpa sadar menimpa kamu saat sedang terlelap.”

Alasan yang rapi. Masuk akal.

Dan tentu saja bohong.

Kebenarannya sederhana. Junee hanya takut.

Takut Ben melihat ia menangis diam-diam setiap malam. Takut Ben merasa bersalah karena tidak bisa memberinya solusi. Takut kalau kedekatan itu justru membuat mereka berdua hancur lebih cepat.

Ben menatapnya lama.

“Kalau aku mengatakan tidak boleh?”

Junee menggeleng pelan.

“Tolong, Ben.”

Satu kata itu cukup.

Ben tidak pernah bisa menolak kata ‘tolong’ dari Junee.

“Malam ini saja.” Putus Ben. “Besok kamu harus kembali kesini.”

Junee mengangguk, tetapi di dalam hati ia tidak yakin… kapan akan kembali ke kamar utama.

---

Kamar tamu itu terasa sangat dingin.

Lebih kecil dari kamar utama, tanpa balkon, tanpa penghangat ruangan. Hanya ada kasur single, lemari kosong, dan jendela yang menghadap ke tembok gedung sebelah.

Junee duduk di pinggir tempat tidur, sembari memeluk bantal.

Sudah 2 minggu ia tidur di sini. 2 minggu mendengar suara langkah kaki Ben di luar pintu kamar setiap malam.

Dan 2 minggu pula mendengar embusan napas sang suami yang akhirnya pelan, tanda Ben tertidur di atas sofa depan kamar tamu itu.

Ben tidak pernah masuk.

Saat sarapan bersama, Ben tidak pernah memaksa Junee untuk kembali.

Tapi ia juga tidak pernah pergi.

Junee pernah bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa Ben tidak marah?

Kenapa pria itu tidak mendobrak pintu dan menyeret Junee kembali ke kamar?

Jawabannya selalu sama. Karena Ben mencintainya lebih dari egonya sendiri.

Dan itu yang paling menyakitkan untuk Junee.

Malam ke-14, hujan turun lagi.

Junee terbangun pukul 02.00 karena mimpi buruk. Di dalam mimpinya, Ben berdiri di depan hakim, menandatangani surat cerai. Di belakangnya, seorang wanita hamil tersenyum.

Junee terbangun dengan dada sesak dan napas tercekat.

Ia ingin menangis. Tapi wanita itu tidak mau Ben mendengar. Karena saat ini, sang suami pasti sedang tidur di atas sofa, depan kamar itu.

Maka, Junee menutup mulutnya dengan bantal, menggigit kainnya sampai bibirnya perih.

Di luar pintu, terdengar ada suara langkah kaki dan suara napas yang tertahan. Seperti menguping di balik pintu.

“Ben?” bisik Junee pelan.

Tidak ada jawaban.

Namun suara nafas itu tidak menghilang.

Junee melangkah pelan menuju pintu. Lalu membukanya sedikit.

Ben ada di sana.

Duduk di atas lantai bersandar pada dinding, mata terpejam, kemeja kusut, dan rambut berantakan.

Junee ingin menangis.

Rasanya ia ingin membuka pintu lebar-lebar dan menarik Ben masuk.

Tapi ia tidak melakukannya.

“Kenapa kamu tidur di kamar, Ben?” bisik Junee pelan.

Mata Ben pun terbuka.

“Karena kamu tidak di sana.” jawabnya singkat.

Satu kalimat. Tidak ada nada marah. Tidak ada nada memaksa. Hanya fakta.

Junee menutup pintu lagi.

Dan malam itu, ia kembali tidak bisa tidur sama sekali.

---

Keesokan harinya, Bu Ratna datang tanpa kabar.

“Kenapa kamu terlihat kurusan, Neng?” Tanya Bu Ratna sambil menatap Junee dari atas sampai bawah. Matanya tajam, menilai.

Junee tersenyum tipis. “Sedang diet, Bu.”

“Diet? Untuk apa? Kamu sudah kurus.” Bu Ratna duduk di atas sofa, meletakkan tasnya dengan sengaja. “Omong-omong, kapan ibu bisa gendong cucu? Kamu belum isi juga?”

Pertanyaan itu datang seperti tamparan.

Pelan, halus, tetapi tepat di wajah Junee.

Junee menegang.

“Belum ada rezeki, Bu.”

Bu Ratna menghela napas panjang.

“Jangan terlalu lama menunggu, ya. Ben itu anak satu-satunya. Kalau dia tidak punya penerus, perusahaan ini mau diwariskan ke siapa? Ke orang luar?”

Junee menggenggam tangannya di bawah di atas pangkuan.

“Perusahaan itu milik Ben, Bu. Dia yang berhak memutuskan.”

“Tapi dia suamimu, Junee.” kata Bu Ratna pelan. “Kewajiban kamu untuk membuatnya bahagia. Termasuk memberi dia keturunan.”

Kata ‘kewajiban’ itu menusuk.

Junee ingin berteriak. Ingin mengatakan kalau dirinya sudah berusaha. Ingin mengatakan kalau tubuhnya bukan mesin pembuat anak. Yang bisa dengan cepat hamil dan melahirkan.

Rahimnya bahkan sedang tidak baik - baik saja.

Tapi Junee hanya tersenyum.

“Iya, Bu.”

Bu Ratna pergi satu jam kemudian, meninggalkan ruang tamu yang tiba-tiba terasa lebih dingin.

Junee duduk di sana cukup lama.

Memikirkan kata ‘kewajiban’.

Memikirkan kata ‘penerus’.

Pintu penthouse kembali terbuka. Ben baru saja kembali dari kantor. Ia melihat wajah Junee, dan langsung tahu.

“Apa ibu datang lagi?” Tanya pria itu pelan.

Junee mengangguk.

“Ibu bilang aku harus cepat memberi kamu anak.”

Ben menghela napas. Ia duduk di sebelah Junee.

“Jangan dengarkan ucapan ibu.”

“Tapi ibu benar, Ben.” bisik Junee. “Kamu butuh penerus. Kamu butuh keluarga besar. Aku tidak bisa memberi itu.”

Ben menoleh. Tatapannya tajam.

“Aku tidak butuh keluarga besar. Yang aku butuhkan itu kamu. Kalau kamu tidak paham juga, aku akan bilang langsung ke Ibu. Sekarang.”

Junee memegang tangannya.

“Jangan, Ben. Jangan bertengkar hanya karena aku.”

Ben terdiam.

Kemudian ia mengangguk pelan.

“Tapi jangan pernah bilang kamu tidak cukup lagi. Karena untukku, kamu lebih dari cukup.”

Junee menunduk.

Ia tidak menjawab.

Karena dirinya merasa takut, kalau ia menjawab, maka wanita itu akan menangis lagi.

Hati Junee terlalu rapuh jika membahas tentang anak. Ia tidak pernah hal ini terjadi pada dirinya.

Entah makanan apa yang dulu ia makan, sehingga membuat rahimnya bermasalah seperti ini?

---

1
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
ardiana dili
up lg kak
merry yuliana
senangnya kamu dicintai sebegitunya sama ben.. junee
pesan 1 kak
ardiana dili
semoga junne bisa hamil
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Hennyy exo
wow awal yg bagus thor
Naufal Affiq
gak usah dengar ocehan si arga ini ya jun,ingat jun ada ben yang selalu mencintaimu
ardiana dili
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!