NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01 : Rumah makan Dermawan

Opening:

WARNING: BACA BAIK-BAIK!

Hari itu, aku belum tahu... Bahwa keputusan menerima kerja di Rumah Makan Dermawan adalah kesalahan terbesarnya.

Tempat itu terlihat biasa.

Hangat. Ramah. Penuh tawa.

Tapi tidak semua yang bekerja disana pulang balik ke rumah sebagai diri mereka sendiri.

Ada yang tertinggal.

Ada yang tidak pernah benar-benar pergi.

Dan tanpa aku sadari.

Sejak pertama kali aku melangkah masuk.

Sesuatu sudah memperhatikan aku.

Sejak awal.

( 06/09 )

NAYA.

_

"Naya."

"Selamat bekerja di Rumah Makan Dermawan!" Seru Pak Dermawan selaku pemilik rumah makan Dermawan.

"Kamu saya tempatkan di rumah makan ini, dan semoga saja kamu bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja kita. Taruh tas kamu di atas aja karena waktu kerja kita nggak boleh pakai tas," ucap Pak Dermawan selaku pemilik Rumah Makan Dermawan.

Naya melihat sekitar. Rumah makan itu sederhana namun cukup stylist dengan kursi kayu, meja kayu, dinding kayu, lampu yang menyala kekuningan. Tapi ada juga showcase minuman koin, meja kasir yang nampak modern lengkap dengan komputernya.

"Kenapa melamun?"

Naya tersentak sadar mendengar suara bosnya.

"Iya, Pak?"

"Di atas ada ruangan, naik tangga saja," ucap Pak Dermawan.

Naya mengangguk, lalu dengan langkah pelan dan terlihat tidak percaya diri dia berjalan lurus ke depan menaiki tangga. Untuk sesaat, Naya merasa… Ada yang memperhatikannya dari arah atas. Tapi saat ia mendongak ke atas, tidak ada siapa-siapa. Kembali Naya menaiki tangga itu, menghiraukan keraguannya.

Di lantai dua ada dua pintu. Naya membaca: pintu yang satu "Khusus Karyawan" dan satu lagi "CS Penyimpanan Stok Makanan Beku". Naya membuka pintu "Khusus Karyawan". Di dalam terlihat seorang wanita yang agak terkejut karena Naya tiba-tiba membuka pintu.

Di belakang wanita itu ada lemari triplek. Naya sempet liat nametag karyawan masih nyantol 'SARI'. Di bawahnya ada coretan kecil bertuliskan 'JANGAN'.

Lemari triplek itu sedikit terbuka seolah ada yang mendorongnya, padahal Naya yakin.. Tadi tidak seperti itu. Dari dalam lemari.. Seperti ada sesuatu yang bergesek pelan.

"Siapa kamu?" tanya wanita itu.

Naya kaget.

Wajah jutek, rambut pendek sebahu, berkacamata. Make up-nya teratur sempurna, high heels membuatnya terlihat lebih tinggi. Setidaknya begitu penilaian dari observasi singkat Naya.

"A-aku... Aku kasir baru," jawab Naya malu-malu.

"Oohh." Wanita itu menyemprotkan parfum ke bajunya sampai Naya bisa mencium aroma menyengat karena ruangan itu tertutup.

"Aku juga kasir baru di sini sih, baru mau 3 bulan di sini," ujar wanita itu tanpa memperkenalkan diri.

Naya tak cepat merespon.

"Ya udah, aku kerja dulu."

Wanita itu berjalan menyelonong melewati Naya yang menepi memberi ruang. Terasa mengintimidasi.

Pak Dermawan melihat Abel turun. Ia bingung karena Naya tidak juga turun padahal hanya disuruh menaruh tas.

"Abel, di mana Naya?" tanya Pak Dermawan.

"Ngelamun, Pak," jawab Abel ngasal.

Pak Dermawan hanya menggelengkan kepala.

"Abel ke kasir dulu ya, Pak. Uang semalam belum dipisah soalnya."

"Iya, kamu pisah dulu terus tarok di laci sebelah ya, kunci laci digantung di paku tanggal," ujar Pak Dermawan memberi instruksi.

"Iya, Pak." Abel kembali berjalan.

Tak lama, Pak Dermawan mendengar langkah kaki. Di tangga, Naya berjalan pelan menghampirinya. Pak Dermawan hanya bisa sabar. Dia memang sedang butuh karyawan, dan Naya ini disarankan langsung oleh temannya yang bekerja di sebuah pabrik enoki.

"Udah tarok tasnya di atas?" tanya Pak Dermawan.

"Sudah, Pak," jawab Naya.

"Sini, saya perkenalkan kamu dengan yang lain," ajak Pak Dermawan.

Naya gugup mengikutinya.

"Ini Agus, baru kerja sama Bapak 4 hari," ucap Pak Dermawan. Tawa seorang lelaki lain menggelegar.

"4 hari, Mang." Rifki nggak nahan tawa.

"Diem kamu, Rifki," semprot Pak Dermawan yang juga menahan tawa.

"Iya, 4 hari. Tiap hari dia lupa absen, makanya diitung ulang terus," celetuk Rifki ngakak.

Agus cengengesan sambil mengangkat galon ke dispenser.

"Iya, ini Agus baru kerja 4 hari sama saya, terus itu Rifki baru kerja 7 bulan sama saya," ujar Pak Dermawan memperkenalkan lelaki berambut lurus panjang yang hampir menutupi matanya.

"Aku Naya," Naya malu-malu memperkenalkan diri.

"Haloww Naya, boleh kali lah yaw," ujar Rifki dengan nada alay.

Naya tidak menjawab.

"Ini Agus, terus itu Rifki." Pak Dermawan melangkah melewati ruangan bumbu dan sampai di meja kasir. Naya bertemu lagi dengan wanita tadi. Wanita itu mahir melayani pelanggan dengan senyum manis.

Naya melihat wajah Pak Dermawan yang nampak puas dengan kinerja Abel.

Setelah selesai melayani pelanggan, Abel sadar ada Pak Dermawan dan Naya.

"Iya Pak, ada apa?" tanya Abel sambil melirik Naya.

"Ini Bapak kenalin kasir baru. Kemarin sudah training 3 hari sih tapi sebelumnya dia belum pernah ada pengalaman jadi kasir, jadi kamu tolong bantu ajari dia gimana cara jadi kasir pinter kayak Abel," ucap Pak Dermawan memuji Abel.

"Yaa aku aja baru kerja nggak sampai 3 bulan, Pak. Masa harus aku yang ngajarin, aku aja diajarin Mbak Sari," ujar Abel canggung.

"Kamu harus ajari dia karena Sari kan udah resign di sini," ujar Pak Dermawan.

Abel cemberut lalu mengulurkan tangan, "Aku Abel."

Naya agak terkejut tapi segera menyambut. "Naya."

Abel mengangguk lalu menarik kembali tangannya.

"Kalian harus bisa jadi partner yang baik karena Abel ke depannya akan lebih saya fokuskan ke pembukuan dan kasir juga. Jadi kalau Abel sibuk pembukuan, Naya harus bisa handle meja kasir sendiri," ujar Pak Dermawan.

"Siap, Pak," jawab Naya.

"Oh iya, kita belum ke bagian kitchen-nya ya," ujar Pak Dermawan.

Mereka ke dapur utama. Bersih, nyaman, teratur. Ada dua orang memakai celemek: pria muda dan wanita berjilbab coklat yang terlihat dewasa dan bijak.

"Waduh siapa nih, Pak?" tanya wanita berjilbab itu penasaran.

"Kasir baru kita dong," ujar Pak Dermawan ramah.

"Kasir baru, Pak?" tanya pria itu.

"Iya. Ini namanya Naya, orangnya malu-malu tapi kalian ajak asik ya, jangan nggak ditemenin," ujar Pak Dermawan.

"Enggak dong, Pak. Ya kali nggak kita temenin," ujar wanita itu.

"Oh iya Naya, ini namanya Mbak Nesya. Panggil dia Mbak karena dia 31 tahun," ujar Pak Dermawan.

"Ih, Pak, kenapa harus spill umur sih," balas Nesya cemberut.

"Kan Mbak emang udah berumur!" celetuk pria itu tertawa kencang.

"Yang itu namanya Zuan," ucap Pak Dermawan memperkenalkan pria dengan wajah penuh senyum itu.

"Naya," ujar Naya pelan. Mbak Nesya langsung menghampiri lalu menepuk pelan bokongnya. Naya kaget dan hanya bisa diam.

"Kita itu di sini harus malu-maluin, jangan malu-malu," ujar Mbak Nesya.

Pintu dapur terbuka.

"Ada pesanan. Nasi rendang ayam, minum teh tawar 1, antar ke meja nomor 7."

Suara itu mengagetkan semua orang. Suara seorang wanita cantik nampak menawan, auranya begitu feminim. Wajahnya yang begitu ayu, bibirnya di poleskan lipstik merah yang begitu pas, alisnya, rambutnya yang di sanggul, jujur saja siapapun yang melihat pasti akan langsung suka dengan perawakan wanita itu apalagi tubuhnya yang langsing namun terlihat berisi membuatnya terlihat bugar seolah sering berolahraga.

"O-oke!!" Jawab Mbak Nesya, jantungnya hampir copot.

Zuan yang tertawa terbahak tadi langsung berubah menjadi kalem.

Naya cukup terpesona dengan perawakan wanita yang hanya berdiri saja di pintu dapur, seolah di mata kedua wanita ada kekuatan sihir yang membuat siapapun yang melihat matanya akan tenggelam jauh ke dalam.

"Ya udah ayo masak!" Suruh wanita cantik itu.

Nesya dan Zuan pun dengan sigap bergerak.

"Rosa!" Pak Dermawan memanggil wanita anggun itu dengan panggilan, Rosa.

"Iya, Pak." Jawab Rosa mendekat.

"Ini ada karyawan baru, jangan lupa kenalan." Jelas Pak Dermawan.

Rosa langsung memperhatikan Naya dari atas ke bawah. Menarik.

"Ini karyawan baru kita. Kasir baru," ucap Pak Dermawan.

"Alisnya tebal, enggak perlu sulam alis lagi," puji Rosa langsung mengulurkan tangan, dan memperkenalkan diri, "Rosa."

"Naya."

Salamannya erat sampai Naya meringis.

"Nanti pas pulang, ikut Rosa ke mess. Kan Rosa pulang jam 7 ya?" tanya Pak Dermawan.

"Iya, Pak. Terus kenapa?"

"Kamu ajak Naya ke mess karena dia akan tinggal di sana bareng kalian," ujar Pak Dermawan.

"Iya, Pak." Jawab Rosa tersenyum miring. Ia berdiri di samping Naya masih menggenggam tangannya, "Nanti kita pulang bareng ke rumah baru kamu," Bisiknya di telinga Naya yang membuat merinding.

Nafas Rosa terasa dingin ditelinga Naya. Terlalu dingin. Bukan seperti nafas manusia pada umumnya.

Naya ingin menjauh, namun entah kenapa tubuhnya kaku. Seolah ada sesuatu yang menahan kakinya.

Dan saat Rosa tersenyum, untuk sesaat Naya merasa senyum itu bukan benar-benar ditujukan kepada dirinya.

Naya tidak menjawab.

"Aku tunggu nanti." ujar Rosa mengedipkan sebelah matanya lalu pergi.

Zuan yang sedang menyiapkan teh tawar nampak sibuk mencuri pandang kepada Rosa yang jujur saja membuatnya sedikit berdebar.

"Rosa, kemana?" Tanya Pak Dermawan.

"Mau bikin konten Pak di meja kasir sama Abel." Jawab Rosa yang telah meninggalkan dapur.

Pak Dermawan yang melihat Naya memberikan senyum ramah.

"Oh iya Naya, kamu boleh lihat daftar menu dulu sambil hafalin biar nggak bingung sama harganya juga," ujar Pak Dermawan.

"Siap, Pak."

"Sekalian tuh, kalau meja kasir kotor atau lagi sepi, kamu tolong bantu bersih-bersih meja, bantu Rifki sama Agus. Ngerti?"

"Ngerti, Pak."

"Kita di sini harus inisiatif ya, Naya." ucap Nesya yang sedang menghias masakan dengan potongan timun.

"Betul!" Seru Zuan sekarang.

"Kemaren aja Zuan malu-maluin sampe gosong masak nasgor," sahut Nesya.

Zuan cengengesan, "Kan biar ada aroma smokey-nya, Mbak."

"Ada-ada saja kalian." Pak Dermawan menggeleng sambil senyum, menatap Naya yang masih canggung.

"Naya harus inisiatif biar cepat berkembang. Silakan lihat-lihat dulu tempat kerja ini," ujar Pak Dermawan.

"Iya, Pak."

Pak Dermawan meninggalkan dapur, membiarkan Naya beradaptasi.

Naya menggigit bibir bawahnya sambil melihat Nesya menghubungi seseorang. Tak lama Agus masuk membawa masakan. Naya mulai mengerti alurnya.

"Anter ke Komplek Perimnas Blok C No.13, kan?"

"Iya, Mang," jawab Zuan.

Nesya mengambil buku lalu memberikannya ke Naya.

"Di dalam bukunya udah ada menu restoran kita, paket lengkap, boleh kamu baca," ujar Nesya.

Naya menerima dan membuka lembaran. Di lembar ke-7, ada struk merah kejepit. Tintanya udah luntur, tapi masih kebaca: Dhahar kudu wareg - Sari 12/06.

Ujung jari Naya menyentuh kertas itu. Dingin. Aneh.

Padahal kertas harusnya tidak sedingin ini.

Tinta yang sudah pudar itu... Seakan sedikit berubah. Seolah... Tulisan itu tidak ingin dilupakan.

Naya diem. Tanggal 12/06... 3 bulan lalu.

Naya membaca lagi lembar itu lagi. Naya menunduk, masih memegang struk dengan tinta merah itu. Ia hendak meletakkannya kembali ke dalam buku. Tapi tangannya berhenti, tulisan di struk itu perlahan berubah huruf perhuruf yang hampir hilang sekarang terlihat, dan terbaca jelas.

'JANGAN MAKAN DISINI!'

Naya membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tulisan itu.. Seperti baru saja tertulis.

Naya mengangkat kepala, semua orang masih dengan kesibukannya masing-masing.

" Udah mau jam 12." Zuan tiba-tiba berhenti memasak.

Setelah membereskan dapur Nesya berkata pada Naya, "Kamu makan dulu. Kita di sini makannya bergantian."

"Iya, Mbak." Jawab Naya melihat kembali struk itu namun anehnya tidak ada selembar struk dihalaman buku itu.

Naya meletakkan buku di atas meja dengan wajah yang terlihat gugup. Sepertinya dia sedang berhalusinasi tadi.

"Diem banget dia," celetuk Zuan.

"Udah biarin, makan bareng noh, mana tau jodoh," ujar Mbak Nesya.

"Nggak mau. Sia-sia cakep kalau cuek mah," ujar Zuan.

Naya mendengar percakapan itu tapi diam. Dia bingung mau makan apa.

"Kamu ambil aja piringnya, ambil apa yang mau kamu makan. Nasinya udah banyak di mejikom besar sana. Lauknya bebas. Sambel jangan banyak soalnya harga cabe lagi naik," ujar Mbak Nesya.

"Iya, Mbak."

"Tuh kan. Datar," ujar Zuan.

"Udah, diem kamu ah," tegur Mbak Nesya.

Zuan cengengesan.

"Dasar Rosa!" Sindir Mbak Nesya kepada Zuan membuat Zuan terdiam karna Nesya memang tahu jika Zuan suka Rosa.

"Makan dulu aku ya! Udah jam 12 kan?" seru Rifki datang ke dapur.

"Sok atuh makan aja," seru Zuan.

"Laper banget gue, Gila," balas Rifki.

"Kamu juga Zuan, makan, mumpung lagi sepi," ujar Mbak Nesya.

"Mbak, ini ada pesanan nasi goreng special mix cumi sama jeruk viral ice!" seru Rosa masuk dapur.

Zuan langsung mati gaya di tempat saat Rosa lagi-lagi membuka pintu dapur.

"Ya wes masak," ujar Mbak Nesya.

"Aku kirim di grup ya pesanannya apa aja," ujar Rosa.

Di meja makan karyawan, Rifki dan Naya makan bersama.

"Lu sebelumnya kerja di mana sih kok kelihatan canggung gitu?" tanya Rifki.

"Baru kali ini merantau ke kota, jadi belum ada pengalaman," balas Naya.

"Emang sebelumnya dimana?"

"Medan."

"Oohh... Jauh ya. Usia lu berapa?"

"21 tahun."

"Beda 2 tahun sama gue. Sebelumnya lu kerja di mana?"

"Belum kerja."

"Kenapa gak nyari kerja disana?"

"Kakak aku merantau ke sini, jadi aku datang ke sini juga buat nyari kerja." Jelas Naya.

"Tapi sialnya kenapa kamu malah milih kerja di sini padahal banyak lowongan lain." Rifki terdengar sesal terhadap keputusan Naya yang menurutnya na'as.

"Pengen cari pengalaman aja," jawab Naya pelan.

"Oohh.. Siapa yang masukin?" Tanya Rifki merasa penasaran.

"Mbak Ranti, dia kerja dipabrik Enoki." Jelas Naya.

"Oohh, di sini kerjanya berat, anjirr. Kalau bisa sih ya di sini harus multitalenta. Mungkin lu emang kasir, tapi lu harus bisa semuanya di sini," ujar Rifki.

"Maksudnya?" tanya Naya bingung.

"Semisal nih, kayak gantian makan. Pas Rosa lagi makan, nah lu gantiin job dia. Kalau nggak ada kami, lu bantu cek bahan, ada yang kosong nggak. Lu harus bisa nyetok bahan juga," Rifki menjelaskan. Naya masih belum terlalu mengerti.

"Oohh..." Naya mengangguk paham.

"Dan di sini banyak aturan yang harus kamu turuti, dan juga ada larangan yang harus kamu hindari jika tidak ingin terkena musibah," ujar Rifki serius.

"Maksudnya?" Naya bingung.

"Cepat lambat kamu akan ngerti," ujar Rifki sambil makan.

"Kamu udah berapa lama kerja di sini?" tanya Naya.

"7 bulan."

"Gajian tanggal berapa sih di sini?"

"Eh, kenapa? Duit lu dah nipis?" tanya Rifki cengengesan.

"Enggak. Aku kan belum tau."

"Kok nggak nanya bos?"

"Nggak enak."

"Di sini ya kita gajian tuh tiap tanggal 13, tengah bulan," ujar Rifki.

"Berapa emang?" Naya nanya pelan.

Rifki ketawa, "Ya lu jangan kaget ya. Tiga koma. Tapi makan tidur ditanggung. Di luar mah gaji tiga juta juga abis buat kos plus makan doang."

Naya mengangguk kikuk.

"Gaji ganjil, kerjaan genep. Keren kan? Itu namanya paket bundling," sindir Rifki tertawa. "Belum lagi harus ngikutin aturan anehnya." Rifki tersenyum kecut.

"Nanti Desember lu tau rasanya kumpul semua cabang. Serem tapi pestanya besar-besaran."

"Desember? Kumpul semua cabang?" Naya ulang.

"DIEM LU, RIF!" Mbak Nesya tiba-tiba nongol bawa cobek. "Mulut lu kalau lagi makan nggak bisa diem apa?"

Rifki cengengesan. "Iya, Mbak. Ampun."

Naya mengunyah pelan makanannya. Entah kenapa kata-kata Rifki barusan… Tidak terasa seperti candaan.

'Musibah…?'

1
Sarah
Noooo! Abelllll Jangan matiiii! 🙅‍♀️😃
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Sarah: Yahh... bahasa Jawa sama Sunda kayaknya emang banyak kata yang agak mirip deh. Dan kalau gak salah juga akar bahasanya sama sih. Meski tetep beda. Kalau di Sunda sih “Dhahar Kudu Wareg” itu kayak, “Makan Harus Kenyang” atau kalau konteksnya emang nama ya “Dhahar Harus Kenyang”. Meskipun di Sunda tulisan “Dhahar”-nya gak ada ‘H’-nya sih. “Dahar” aja, tapi bunyinya sama. Kalau di Jawa “Dhahar Kudu Wareg”-nya artinya apa tuh kak?
total 2 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!