NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

Langkah Yara di dalam kamar tidak lagi memiliki ritme. Dengan napas yang memburu dan jemari yang gemetar hebat, dia menggeledah setiap sudut ruangan yang telah menjadi saksi bisu kehidupannya selama dua belas tahun terakhir.

Menggunakan lampu kilat dari ponselnya, dia memeriksa celah-celah kecil yang selama ini luput dari pandangannya.

Satu di atas tudung lampu tidur. Satu di sela-sela ventilasi pendingin ruangan. Dan yang paling membuat dadanya mencelos hingga ke dasar bumi—sebuah lensa sekecil biji kacang tertanam di balik cermin wastafel kamar mandinya.

Yara mundur selangkah, membekap mulutnya sendiri agar jeritan mualnya tidak lolos ke udara.

Lensa-lensa itu laksana mata iblis yang terus mengawasinya, merekam setiap jengkal privasi, kerentanan, dan tubuhnya untuk kemudian dilempar ke meja judi bisnis sang ayah. Rasa jijik yang teramat sangat menjalar di bawah kulitnya.

"Aku akan menuntut kalian semua... aku bersumpah akan menyeret kalian ke pengadilan sampai membusuk," desis Yara, suaranya serak, sarat akan racun amarah yang meletup-letup.

Tanpa membuang waktu, Yara menarik sebuah koper kain besar dari dalam lemari.

Dia melempar pakaian-pakaiannya, beberapa dokumen penting, dan sisa tabungan pribadinya ke dalam sana secara acak.

Dia tidak bisa membawa koper ini melewati pintu depan; itu akan memicu kecurigaan. Dengan sisa tenaga yang dipompa oleh rasa panik, Yara menyeret koper tersebut ke arah pintu balkon kamarnya, membukanya perlahan, lalu melemparkan benda besar itu ke bawah, mendarat di atas semak-semak tebal yang gelap di area taman samping.

Yara menarik napas dalam-dalam, merapikan gaun birunya yang sedikit kusut, lalu melangkah keluar kamar hanya dengan menenteng sebuah tas jinjing kecil.

Dia harus berakting seolah-olah semuanya baik-baik saja. Seolah dia hanya ingin keluar sebentar untuk mengurus urusan penting.

Namun, baru beberapa langkah dia menapak di koridor mewah yang sunyi itu, sebuah suara bariton yang terlampau familier memecah keheningan.

"Sayang... Kau sudah pulang, Nak?"

Tuan Berto Walker berdiri di dekat undakan tangga, mengenakan jubah tidur sutranya dengan seulas senyum hangat yang biasa dia pamerkan.

Wajah paruh baya itu tampak begitu teduh, begitu penuh bapak, sangat kontras dengan rekaman suara iblis yang baru saja Yara dengar di kamar Caca.

Yara merasakan seolah seluruh sendi lututnya dikunci. Kakinya seakan berkhianat, enggan digerakkan karena rasa syok yang teramat sangat. Namun, dia memaksa sepasang matanya untuk menatap lurus sang ayah.

"Iya, Dad. Aku sudah pulang," jawab Yara, suaranya bergetar halus namun dia usahakan tetap terdengar datar. "Dan aku akan segera keluar lagi untuk mengurus sesuatu hal yang mendesak."

Berto mengerutkan keningnya sedikit, melangkah mendekat. "Kapan kau pulang, Nak? Daddy tidak mendengar suara mobilmu di depan."

"Baru saja, Dad. Aku pulang menggunakan taksi karena kunci mobilku hilang di kampus," Yara meremas tali tas kecilnya, mencoba menstabilkan napasnya yang memburu. "Aku ke kamar hanya untuk mengambil beberapa berkas penting milik Profesor yang tertinggal."

"Ah, begitu. Jangan terlalu memaksakan dirimu bekerja, Sayang. Kau harus menjaga kesehatanmu," ucap Berto, mengulurkan tangan untuk mengusap pundak Yara dengan lembut. Sentuhan yang dulu terasa hangat, kini terasa laksana sulur ular berbisa yang membakar kulitnya. "Hati-hati di jalan, Sayang."

Munafik!

Semoga kau bahagia di neraka, Pak Tua Bangka!

Akting yang luar biasa gila!

Kata-kata itu menjerit liar di dalam dada Yara, namun yang keluar dari bibirnya hanyalah sebuah anggukan samar.

Dia membalikkan badan, melangkah dengan terburu-buru menuruni anak tangga, mengabaikan tatapan sang ayah.

Begitu kakinya menginjak halaman luar mansion, Yara langsung berlari ke arah semak-semak samping, menyambar kopernya yang terjatuh, lalu setengah menyeretnya menuju gerbang luar di mana sebuah taksi pesanan daringnya sudah menunggu sejak tadi.

Pintu taksi ditutup dengan deburan keras. Begitu mobil bergerak membelah malam Los Angeles, seluruh pertahanan yang dibangun Yara runtuh seketika.

Tangisannya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Dia menangis sepuasnya di kursi belakang, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan yang gemetar.

Air matanya mengalir deras, membasahi pipi dan merusak riasan matanya. Dada Yara sesak, naik turun karena napas yang tersendat-sendat akibat rasa sakit yang teramat sangat.

"Kita kemana, Nona?" tanya sang sopir taksi dari kaca spion tengah, merasa iba sekaligus bingung melihat penumpang anggunnya menangis sejadi-jadinya.

Yara tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak memiliki tempat tujuan. Di kota sebesar ini, dengan segala kemewahan yang pernah melekat pada namanya, dia menyadari satu kenyataan pahit: dia tidak punya teman sejati. Semua orang mendekatinya karena status, karena kecantikannya, atau karena rumor-rumor murahan.

"Berkeliling... berkeliling kota saja dulu, Sir. Tolong jangan berhenti," jawab Yara dengan suara serak di sela-sela isaknya.

Di dalam keheningan taksi yang terus berjalan, pikiran Yara berputar pada ketakutan yang teramat sangat. Dia benar-benar takut untuk bertindak.

Jika dia melaporkan ayahnya ke polisi, bagaimana jika video-video menjijikkan itu sengaja disebar oleh Caca atau kolega bisnis ayahnya ke internet sebagai bentuk balas dendam? Nama baiknya sebagai asisten dosen akan hancur lebur, martabatnya sebagai wanita akan habis tak bersisa.

"Oh, Tuhan... Kenapa ini tidak adil?!" Yara meremas dadanya sendiri. Tubuhnya bergetar hebat di bawah siraman lampu jalanan yang masuk dari jendela taksi.

Dia membayangkan dengan ngeri, berapa banyak pasang mata pria-pria tua menjijikkan di luar sana yang telah menonton rekaman tubuhnya tanpa izin? Rasa terhina itu membakar harga dirinya hingga menjadi abu.

Namun di balik ketakutannya, kilatan dendam membara di matanya. "Si tua bangka itu... dia harus membusuk di penjara. Mereka semua harus hancur."

Tangisannya kembali meledak, memenuhi ruang sempit taksi tersebut. "Huaaaaa... huhuhu..." Untuk pertama kalinya dalam hidup, Yara tidak bisa lagi menjadi sosok wanita kuat yang angkuh seperti yang selalu dipesankan oleh mendiang ibu kandungnya sebelum meninggal.

Dia merasa hancur, telanjang, dan tak punya daya.

"Pak, berhenti... berhenti di jembatan depan itu saja," perintah Yara tiba-tiba ketika melihat siluet jembatan layang Los Angeles yang panjang membentang di depan sana. Dia butuh udara segar. Dia merasa ruangan taksi ini terlalu sempit untuk menampung seluruh sesak di dadanya.

Yara membayar ongkos taksi dengan terburu-buru, lalu keluar sembari menyeret kopernya ke tepian jembatan. Angin malam yang dingin langsung menerpa wajahnya, menerbangkan rambut hitamnya yang terlepas dari ikatan. Jembatan itu sunyi, hanya dilewati beberapa kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Yara berjalan mendekati pagar pembatas besi, menatap hamparan air gelap yang jauh di bawah sana. Air matanya kembali menetes. Dia mencengkeram besi pembatas, lalu berteriak sekuat tenaga membelah gemuruh angin malam.

"Ibuuuuuuuu...!"

Suaranya melengking tinggi, sarat akan keputusasaan yang mendalam. "Kenapa Ibu meninggalkanku sendirian di tempat terkutuk ini?! Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Ibu! Pria yang kupanggil ayah... dia menjualku! Rumah yang kutempati... itu adalah neraka! Aku lelah berpura-pura kuat, Ibu... Aku tidak punya tempat untuk pulang!"

Jeritan itu bergaung di udara malam, sebuah rintihan hati dari seorang anak yang benar-benar yatim piatu di tengah dunia yang kejam.

Merasa berteriak di atas aspal tidak cukup melegakan dadanya, Yara yang sedang dikuasai emosi gila itu mulai mengangkat kakinya, memanjat dinding pembatas jembatan.

Dia berdiri di atas beton tipis yang membatasi dirinya dengan jurang kematian bawah sana, bermaksud untuk meneriakkan seluruh sisa rasa sakitnya agar terbang bersama angin.

Sementara itu, dari arah yang berlawanan, sebuah mobil sport hitam arang matte melaju dengan kecepatan sedang.

Maximilian Valerio baru saja pulang dari apartemen milik Demon setelah menghabiskan waktu beberapa jam untuk menenangkan pikirannya yang kacau akibat insiden siang tadi.

Suasana di dalam mobil Max tampak begitu santai dan tenang. Musik beraliran jazz mengalun pelan dari pengeras suara. Max sempat melirik ponselnya yang terpasang di dasbor, melihat sebuah pesan masuk dari sang ibu yang menyuruhnya berkendara dengan hati-hati.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang tulus saat jemarinya mengetik balasan singkat untuk ibunya.

Namun, ketenangan itu menguap dalam hitungan detik.

Saat mobilnya melewati pertengahan jembatan, sepasang mata tajam Max menangkap sebuah siluet wanita bergaun biru dongker yang sedang berdiri goyah di atas dinding pembatas jembatan, dengan rambut yang berantakan tertiup angin.

Jantung Max hampir saja melompat keluar dari tempatnya. Rem mobil diinjak dengan sentakan keras hingga menimbulkan suara decitan yang memekakkan telinga di atas aspal.

"Apa yang... Sial! Apakah dia gila?!" umpat Max spontan. Dia mengenali gaun itu. Dia mengenali siluet tubuh itu. Itu adalah Amieyara Walker.

Max melihat ke sekeliling dengan rasa tidak percaya. Beberapa mobil melintas begitu saja tanpa ada niat untuk berhenti atau menolong wanita itu. "Kenapa orang-orang tidak mencoba menghentikannya sejak tadi?!" lirih Max berang.

Max langsung membuka pintu mobilnya, melompat keluar, dan berlari sekencang mungkin membelah malam menuju tempat Yara berdiri.

"Hei! Apa kau sudah gila?!" teriak Max dengan suara baritonnya yang menggelegar, mencoba memecah konsentrasi Yara.

Yara yang sedang menangis tersedu-sedu sembari menatap air di bawah sana, seketika tersentak kaget mendengar teriakan keras dari arah belakangnya.

Karena emosinya yang sedang tidak stabil dan tubuhnya yang gemetar hebat, gerakan mendadak itu justru membuat keseimbangan kakinya goyah di atas beton tipis. Tubuh Yara limbung ke arah belakang—ke arah jurang.

Dengan refleks yang luar biasa cepat, Max menjatuhkan tubuhnya ke depan, menjulurkan kedua tangannya yang kekar, dan berhasil mencengkeram pergelangan tangan serta pinggang Yara tepat sedetik sebelum wanita itu terjatuh ke bawah.

Dengan satu sentakan kuat, Max menarik tubuh Yara kembali ke atas lantai aspal jembatan.

Mereka berdua terjatuh bersama di atas aspal dingin, dengan posisi tubuh Yara yang berada di atas dada tegap Max. Napas Max memburu, jantungnya berdegup kencang karena rasa terkejut yang belum hilang.

Max mendorong bahu Yara sedikit agar wanita itu menegakkan tubuhnya, lalu membentaknya dengan sisa kepanikan. "Apa kau pikir dengan jatuh dari sini kau akan langsung tewas, hah?! Bodoh! Ketinggian ini tidak akan langsung membunuhmu, Yara! Air itu hanya akan mematahkan tulang-tulangmu dan membuatmu mati perlahan karena kesakitan!"

Yara yang masih dirundung kesedihan yang mendalam, mendadak dimarahi dengan kata-kata kasar oleh pria yang paling tidak ingin dia temui malam ini. Hantaman rasa sakit, takut, dan lelah yang bertumpuk di dadanya membuat Yara tidak memiliki tenaga lagi untuk membalas dengan kata-kata tajam.

Yara kembali menundukkan kepalanya, meremas jaket kulit milik Max yang berada di bawahnya, lalu kembali menangis sekencang-kencangnya laksana seorang anak kecil yang kehilangan arah.

"Huhuhu... Oh, Tuhan... Kenapa semuanya begini..." tangis Yara pecah, bahunya naik turun dengan hebat.

Max tertegun di tempatnya bersandar pada aspal. Amarahnya seketika surut digantikan oleh rasa bingung dan keterkejutan yang teramat sangat.

Di hadapannya saat ini, tidak ada lagi asisten profesor yang angkuh, tidak ada lagi wanita bermulut tajam yang menjulukinya bocah birahi. Yang ada hanyalah sesosok wanita yang luar biasa rapuh, hancur, dan dipenuhi oleh air mata.

Melihat kerapuhan yang begitu nyata dari wanita yang dijuluki 'janda satu malam' ini, Max mengabaikan sejenak fakta bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di kampus.

Dia memiliki seorang ibu dan seorang adik perempuan; dia tahu betul bahwa seorang wanita tidak akan menangis sehancur ini jika bukan karena luka yang sudah menembus batas kemampuannya.

Max mengira, Yara mungkin mencoba bunuh diri karena tidak kuat menahan rasa sakit hati dan malu akibat diceraikan dalam waktu satu malam oleh David Joseph serta dihina oleh seisi kampus.

Tanpa berpikir panjang tentang ego atau harga dirinya, Max mengangkat tangannya, lalu melingkarkannya di sekeliling punggung Yara, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukan hangatnya di tengah dinginnya malam jembatan Los Angeles.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!