Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Gema Badai di Sayap Malam
Suasana di luar Grand Ballroom Shangri-La berubah menjadi kekacauan massal dalam hitungan menit. Begitu Cassian melangkah turun dari podium, puluhan jurnalis dari berbagai media finansial dan gosip terkemuka langsung merangsek maju, mengabaikan barikade pengawal keamanan. Kilatan lampu blitz kamera menyala bertubi-tubi, memantul di dinding kaca hotel yang mewah.
"Tuan Noir! Siapa sebenarnya Aisya Manik Sulayman?!"
"Apakah pernikahan ini murni untuk mengamankan hak veto Anda?!"
"Bagaimana tanggapan Anda mengenai pembatalan sepihak aliansi dengan keluarga Winston?!"
Cassian tidak berhenti, bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah kerumunan media yang berteriak histeris. Wajah tampannya tertekuk datar, memancarkan aura dingin yang membuat para pengawal bekerja dua kali lebih keras untuk membukakan jalan baginya. Di sampingnya, Kevin terus menempel sambil sibuk menerima panggilan telepon yang masuk tanpa henti di ponsel komunikatornya.
"Sialan kau, Cassian!"
Sebuah teriakan penuh amarah terdengar dari arah belakang. Langkah kaki Cassian terhenti tepat di depan pintu keluar khusus VIP. Ia berbalik perlahan, mendapati Alexander Noir sedang berjalan terengah-engah dengan bantuan tongkat peraknya, dikawal oleh dua orang kepercayaannya. Di belakang sang ayah, Rebecca Winston berdiri dengan mata yang memerah menahan malu dan amarah yang luar biasa.
"Kau pikir kau bisa lolos setelah mempermalukan keluarga kita dan dinasti Winston di depan publik?!" napas Alexander memburu, dadanya naik-turun menahan gejolak kemarahan. "Pernikahan sampah apa ini?! Gadis suburban dari antah berantah?! Kau telah menghancurkan reputasi yang kubangun puluhan tahun, Cassian!"
Cassian menatap ayahnya dari ketinggian posturnya yang menjulang. Sepasang mata elang milik pria setinggi 195 cm itu menatap sang ayah tanpa emosi, seolah pria tua di hadapannya bukanlah siapa-siapa.
"Aku tidak menghancurkan reputasimu, Ayah. Aku hanya mengambil apa yang sudah sah menjadi hakku," sahut Cassian, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan penekanan yang mematikan. "Ketentuan legal dari kepemilikan saham warisan keluarga besar murni menyatakan bahwa kendali mutlak 51% saham akan beralih penuh kepadaku begitu aku memiliki dokumen pernikahan sah yang diakui oleh hukum Ontario. Dan seperti yang kau lihat di atas layar tadi... aku telah memenuhinya."
"Kau memanfaatkannya!" tuding Rebecca dengan suara bergetar, melangkah maju ke samping Alexander. "Kau tidak mencintai gadis itu, Cassian! Kau hanya menjadikannya alat untuk menyingkirkanku! Pernikahan ini palsu!"
Seulas senyuman sinis yang teramat tipis terukir di bibir Cassian mendengar ucapan Rebecca. Ia merapikan letak kancing tuksedo hitamnya dengan gerakan yang teramat elegan.
"Palsu atau tidak, dokumen itu mengikat secara hukum sipil, Rebecca. Dan di dunia bisnis yang kalian agungkan... hukum adalah satu-satunya kebenaran yang diakui," desis Cassian tajam, telak membungkam argumen Rebecca.
Cassian tidak memberikan kesempatan lagi bagi mereka untuk membalas. Ia berbalik sepenuhnya dan melangkah ke koridor privat menuju lift eksklusif, bersiap meninggalkan hotel. Namun, langkah kakinya yang lebar mendadak terhenti ketika sesosok wanita paruh baya berdiri menghadang jalannya di area yang lebih tenang tersebut.
Nyonya Eleanor Noir—ibu kandung Cassian—berdiri tegak di sana dengan balutan gaun sutra kelabu yang elegan. Tidak seperti Alexander yang meledak-ledak penuh amarah, atau Rebecca yang hancur harga dirinya, raut wajah Eleanor tampak teramat tenang. Terlalu tenang untuk seorang ibu yang baru saja melihat putranya mengacaukan rencana besar keluarga di depan seluruh elite Toronto.
Kevin yang berada di belakang Cassian langsung menundukkan kepala dalam, mundur dua langkah untuk memberi privasi mutlak bagi ibu dan anak tersebut.
"Kau melangkah terlalu jauh malam ini, Cassian," suara Eleanor terdengar lembut, namun memiliki resonansi dingin yang sama persis dengan intonasi suara Cassian saat mengintimidasi lawan bisnisnya.
Cassian menatap ibunya. Jika ada satu orang di dunia ini yang tidak bisa ia remehkan, itu adalah Eleanor. Wanita yang melahirkannya ini adalah sosok yang mengajarinya bagaimana cara menyembunyikan belati di balik senyuman formal.
"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan, Ibu," sahut Cassian datar, melingkarkan jemarinya di atas jam tangan mewahnya. "Aku menyelamatkan Noir Enterprises dari keserakahan Winston, sekaligus menyelamatkan diriku sendiri dari pernikahan transaksional yang kalian susun."
Eleanor maju selangkah, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang putranya. Bukannya memaki, wanita itu justru menghela napas panjang, lalu seulas senyuman tipis—senyuman yang sarat akan teka-teki—terukir di birbunya yang dipulas lipstik salem.
"Ibu tidak peduli dengan keluarga Winston, Cassian. Mereka bisa mencari aliansi lain," ujar Eleanor pelan, melipat kedua tangannya di depan dada. "Yang menarik perhatian Ibu adalah caramu mengeksekusi ini semua. Kau membawa seorang gadis Muslim dari pinggiran kota. Kau bahkan berpura-pura bersujud di masjid demi selembar sertifikat sipil."
Pandangan Eleanor menyipit, berkilat penuh selidik yang tajam. "Pertanyaannya... seberapa jauh kau bisa mengendalikan bidak kecil yang kau pilih ini? Gadis itu... Aisya... dia tidak dibesarkan di dunia kita, Cassian. Dia terlalu murni. Dan kau tahu apa yang terjadi pada benda murni yang dilemparkan ke dalam tangki hiu seperti keluarga kita?"
Mendengar nama Aisya disebut oleh ibunya, rahang Cassian tanpa sadar mengeras. Sisi sinisnya bangkit, mencoba menepis riak tidak nyaman yang mendadak menyengat dadanya.
"Dia aman di mansion. Dia patuh, naif, dan tidak akan merepotkan," jawab Cassian dingin, berusaha mempertahankan dinding batasan teritorinya. "Ibu tidak perlu khawatir. Aisya hanya instrumen hukum yang kukunci di dalam rumah."
Eleanor terkekeh rendah, sebuah tawa anggun namun sarat akan peringatan yang mematikan. Ia melangkah melewati Cassian, namun sempat berhenti tepat di samping bahu putranya yang kokoh.
"Kau mungkin mengira kau telah mengamankannya di dalam rumahmu, Cassian," bisik Eleanor tajam, matanya menatap lurus ke lorong depan. "Tapi ingat kata-kata Ibu... ketika kau mulai menggunakan seseorang yang tulus sebagai tameng perangmu, kau sedang bermain dengan api yang tidak bisa kau prediksi kapan akan membakar tanganmu sendiri. Sifat ceroboh atau kenaifannya, suatu hari nanti, akan menjadi celah yang meruntuhkan logikamu."
Setelah mengatakan itu, Eleanor melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum mawar klasiknya yang menggantung di udara koridor yang sunyi.
Cassian mematung selama beberapa detik, mencerna peringatan ibunya yang terasa seperti kutukan tak kasat mata. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku celana, menepis kasar bayangan wajah polos berkacamata bulat itu dari benaknya.
Ia segera melangkah keluar menuju pelataran hotel, di mana limusin hitamnya sudah menunggu dengan pintu yang terbuka. Kevin dengan sigap menghalau sisa jurnalis yang mencoba mendekat sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan dentuman rapat.
Begitu mobil melaju membelah jalanan malam Toronto yang diguyur rintik hujan, keheningan yang pekat langsung menyelimuti kabin limusin yang kedap suara. Cassian menyandarkan punggungnya pada jok kulit, melonggarkan dasi kupu-kupu hitam di lehernya dengan kasar. Topeng tenangnya perlahan runtuh, menyisakan keletihan mental setelah memenangkan pertempuran besar.
"Tuan Cassian," panggil Kevin memecah kesunyian, matanya tetap tertuju pada layar tablet. "Sesuai perkiraan, pencarian nama 'Aisya Manik Sulayman' di internet melonjak drastis dalam lima menit terakhir. Beberapa peretas media mulai mencoba melacak alamat rumah paman beliau di dekat Islamic Centre."
Mendengar laporan itu, ingatan Cassian kembali terlempar pada peringatan ibunya yang baru saja terngiang. Ia mengerutkan kening tidak nyaman.
"Bagaimana situasi di The Bridle Path?" tanya Cassian dingin.
"Tim keamanan lapis pertama sudah menutup seluruh akses jalan privat menuju mansion. Tidak akan ada satu pun jurnalis atau kendaraan asing yang bisa mendekati area rumah tanpa verifikasi biometrik," lapor Kevin pasti. "Nona Aisya aman di dalam."
Cassian menatap keluar jendela mobil, memperhatikan rintik air yang mengalir di kaca. Bom sudah diledakkan, dan dampaknya akan segera sampai ke kediamannya. Ia tahu, babak berikutnya dari permainan ini bukan lagi tentang menghadapi Alexander atau Rebecca, melainkan tentang bagaimana ia harus terus mempertahankan topeng manipulasinya di hadapan gadis naif yang sama sekali tidak tahu bahwa namanya baru saja ia jadikan tameng perang.
"Jalan lebih cepat, Kevin," perintah Cassian tajam. "Kita pulang sekarang."
semangat jg buat author nya 😍
di tunggu kelanjutannya Thor 😍
tegas dan bertanggung jawab
lanjut thor😍