NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Konflik etika
Popularitas:67.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 30

Hank yang masih berdiri di belakang Aragon tiba-tiba menerima panggilan melalui alat komunikasinya. Wajah pria itu langsung berubah tegang, rahangnya mengerat, setelah mendengar laporan dari salah satu anak buah mereka.

“Tuan,” panggil Hank dengan nada serius.

Aragon tidak menoleh.

“Steven Gu telah tiba di dermaga dan memulai penyerangannya.”

Hank menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Pelabuhan kita di Pulau Morthem baru saja dibombardir. Beberapa gudang ikut terkena ledakan.”

Ruangan mendadak hening.

Aragon tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Pria itu hanya menghabiskan sisa wiski di dalam gelasnya, lalu meletakkan gelas kristal tersebut di atas meja dengan tenang.

Tatapannya jatuh pada dokumen kontrak yang baru saja ditandatangani Aurora.

Perlahan ia memasukkan dokumen itu ke dalam brankas yang tersembunyi di balik panel dinding. Setelah memastikan semuanya aman, Aragon memutar kunci pengaman hingga terdengar bunyi klik yang tegas.

Tak ada kemarahan.

Tak ada makian.

Justru ketenangan itulah yang membuat Hank semakin paham, tuannya mulai marah.

Aragon mengambil mantel hitam panjangnya dan menyampirkannya di bahu dengan gerakan santai.

“Kita berangkat.”

Hanya dua kata.

Namun cukup untuk membuat seluruh suasana berubah mencekam.

Tanpa membuang waktu, Aragon melangkah keluar. Langkah kakinya yang panjang dan mantap menggema di sepanjang koridor mewah hotel tersebut. Para pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak begitu melihatnya lewat.

Beberapa menit kemudian, iring-iringan kendaraan hitam keluar dari halaman hotel dan melaju menembus malam.

Sementara itu, di lantai atas.

Aurora berdiri di dekat jendela kamarnya.

Dari balik tirai tipis, ia melihat deretan mobil mewah meninggalkan hotel dengan kecepatan tinggi.

Ia tidak perlu menebak siapa yang berada di dalam mobil utama.

Pasti Aragon.

Pria itu sudah mendapatkan apa yang diinginkannya malam ini.

Aurora mengembuskan napas pelan.

Perasaannya terasa kosong.

Setelah iring-iringan kendaraan itu menghilang dari pandangan, ia menutup kembali tirai jendela lalu berjalan menuju ranjang besar yang bahkan lebih luas daripada kamar tidurnya di panti asuhan.

Aurora merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu.

Matanya menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal berkilauan.

Namun kemewahan itu sama sekali tidak memberinya rasa nyaman.

Perlahan jemarinya terangkat menyentuh kalung yang menggantung di lehernya.

Liontin bulan sabit itu terasa dingin di kulitnya.

Aurora memainkannya pelan di antara jari-jari mungilnya, tanpa menyadari bahwa benda sederhana yang telah menemaninya sejak kecil itu sedang menjadi alasan mengapa hidupnya berubah dalam semalam.

“Sejak kecil, aku hanya menyimpannya di dalam kotak usang. Aku baru berani memakainya saat aku benar-benar terdesak mencari bantuan untuk panti asuhan.”

Aurora menatap nanar liontin bulan sabit yang kini berada di genggamannya.

“Sebenarnya, aku selalu menganggap benda ini membawa kutukan. Setiap kali melihatnya, aku hanya diingatkan bahwa orang tuaku sengaja membuangku bersama kalung ini, lalu pergi tanpa pernah kembali.” Sebuah senyum pahit terukir samar di bibirnya yang pucat.

“Aku sempat berpikiran bodoh. Mungkin, jika aku memakainya, kalung ini bisa membawa secercah keberuntungan. Setidaknya, cukup untuk menyelamatkan panti asuhan dan anak-anak dari kehancuran.”

Jemarinya mengusap permukaan logam kuno liontin itu dengan perlahan, merasakan setiap ukiran yang kini justru terasa mencekik lehernya.

“Dan tujuanku memang tercapai. Panti asuhan selamat, anak-anak selamat, para suster pun aman. Semua orang yang ingin kulindungi berhasil kuselamatkan.”

Aurora meremas kalung itu kuat-kuat di dalam kepalan tangannya, begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan rantainya terasa menyakitkan kulit.

“Hanya saja, sebagai gantinya... akulah yang harus dijadikan tumbal.”

Tawa lirih yang sarat akan kegetiran lolos dari sela bibirnya. Tatapannya menerawang kosong ke langit-langit kamar yang asing dan mewah.

“Aku berhasil mencari bantuan.”

Kedua matanya perlahan memejam, membiarkan sebutir air mata terakhir jatuh melewati pipinya.

“Namun, aku gagal lolos dari cengkeraman iblis rupawan bernama Aragon.”

Dan jauh di luar sana, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Pesawat pribadi milik Aragon telah bersiap untuk lepas landas menuju Pulau Morthem, tempat kekacauan dan pertumpahan darah tengah berlangsung.

Di berbagai titik, pasukan Aragon bergerak serentak.

Helikopter-helikopter tempur membelah langit malam seperti kawanan capung raksasa yang mengincar mangsanya. Sementara itu, dari jalur laut, kapal-kapal cepat melesat menembus gelombang, membawa para pengawal bersenjata menuju medan pertempuran.

Tak ada yang bergerak lambat malam itu.

Semua orang tahu bahwa seseorang telah menyentuh wilayah milik Aragon.

Dan harga yang harus dibayar tidak akan murah.

Aragon menaiki pesawat pribadinya tanpa banyak bicara. Aura dingin yang menyelimuti pria itu membuat suasana kabin terasa jauh lebih menyesakkan.

“Tuan, seharusnya kita mendarat di Pulau Merthom,” ujar Hank setelah menerima laporan terbaru.

Pulau Merthom adalah pulau kembaran sekaligus pulau asli. Mereka bersebelahan meski jaraknya lumayan jauh. Sedangkan Pulau Morthem merupakan pulau buatan yang dibangun khusus sebagai pusat perdagangan, pelabuhan, dan tempat penyimpanan berbagai aset gelap milik Aragon.

“Tidak memungkinkan untuk mendarat di Pulau Morthem. Landasannya kemungkinan besar sudah disabotase.”

Aragon menoleh sekilas.

“Biarkan tetap begitu.”

Hank mengernyit.

“Maaf, Tuan?”

“Kita tetap mendarat di Pulau Morthem. Lagi pula aku yakin Steven Gu sudah menunggu di sana.”

“Tapi itu terlalu berisiko.”

Tatapan Aragon berubah dingin.

“Aku tidak ingin mereka tahu keberadaan Pulau Merthom.”

Suasana kabin seketika sunyi.

“Aku tidak akan membiarkan mereka mendekati pulau itu, apalagi merusaknya.”

Hank memahami maksud di balik kalimat tersebut.

Pulau Merthom bukan sekadar wilayah rahasia.

Tempat itu adalah satu-satunya tempat yang benar-benar dijaga Aragon.

Sudut bibir Hank perlahan terangkat. Ia berusaha menahannya, tetapi gagal. Senyum itu tetap muncul.

Aragon meliriknya.

“Kau terlihat sangat senang.”

“Bagaimana mungkin saya tidak senang, Tuan?”

Senyuman Hank semakin lebar.

Sudah lama ia tidak mendapatkan kesempatan seperti ini.

Aragon bersandar di kursinya.

“Aku tahu apa yang sebenarnya kau inginkan.”

Mata Hank langsung berbinar.

“Kalau begitu…”

Aragon memotong ucapannya.

“Bantai mereka sebanyak yang kau mau.”

Kalimat itu terdengar datar.

Namun justru itulah yang membuatnya mengerikan.

Senyuman Hank melebar tanpa bisa disembunyikan lagi.

“Tentu saja, Tuan.”

Nada suaranya hampir terdengar gembira.

“Dengan senang hati.”

Setelah itu Hank pergi. Ia menuju kompartemen persenjataan untuk mempersiapkan diri. Sebilah belati hitam terselip di pinggangnya, sementara beberapa magasin cadangan dan pistol otomatis mulai ia periksa satu per satu.

Di sisi lain kabin, Aragon tetap duduk tenang.

Kakinya bersilang santai.

Sikapnya terlihat seolah sedang melakukan perjalanan bisnis biasa.

Namun tangan pria itu tengah membongkar dan memasang kembali pistol perak kesayangannya dengan gerakan yang begitu terlatih.

“Klik!”

“Klik!”

“Klik!”

Setiap bagian senjata diperiksa tanpa cela.

Tatapan Aragon tetap tenang.

Terlalu tenang.

Karena bagi orang-orang yang mengenalnya, ketenangan seperti itu adalah pertanda paling berbahaya.

Pesawat terus melaju menembus kegelapan malam menuju Pulau Morthem.

Di kejauhan, kilatan api mulai terlihat di cakrawala bercampur dengan kilat petir yang menandakan akan turun hujan.

Namun… Malam itu, hujan belum juga turun, yang ada hanyalah hujan peluru dan hujan darah yang telah lebih dulu menanti kedatangan mereka.

Bersambung

1
Anggitadama
dyaarr!!! perang
Anggitadama
kak lanjut
Luna.aluna
ARAGON AKU SUDAH MEMBERIMU HATI SEBANYAK MUNGKIN TOLONG JANGAN KECEWAKAN AKU😂😍
Luna.aluna
Iya mas zaya tahu saya tahu
Luna.aluna
Tukeran dah Aurora aku jadi kamu ☺️☺️☺️
Rainn G.
Kenapa ga dari tadi kata si hank 😭
Lanjut kak jangan di gantung
Rainn G.
Habis bulldog terbitlah aragon 😭 tapi ya mending aragon sih kemana-mana 😂
Rainn G.
😭🤣
Rainn G.
Rese emang kaya tuannya 11 12🗿🏃‍♀️‍➡️
Rainn G.
Omagatttt
Arumi Hanza
Aragon kayak lagi di wawancara 😄
Arumi Hanza
Cepat thor bikin aurora setuju
bvdy13
upp
bvdy13
next
pasya2007
lnjut
ifran 024
next yg banyak thoorr
ifran 024
seruuu
Aswatadhi
lnjut
Aswatadhi
cm aurora yg brani mendellik
luthz700
ditunggu kelanjutan bab baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!