"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10
Di sisi lain, ketika Anya saat ini sedang di temani tidur kembali oleh Bi Inah. Meskipun demikian, pikiran Anya tentang ketakutannya semenjak kejadian tadi belum juga hilang. Anya terlihat lama melamun sambil menatap langit-langit kamar.
"Huh ... Kira-kira, siapa yaa? Orang yang ingin membuat ku ketakutan seperti itu? ... Tidak mungkin hantu, aku tidak sengaja melihat ia menaiki jendela sebelum masuk ..." gumam Anya di dalam hatinya. Dengan perasaan takutnya ketika kembali melihat jendela yang sudah tertutup sekarang di sampingnya.
Kemudian Anya menatap Bi Inah di sampingnya, yang sudah tertidur lelap. Dengan nyaman saat ini.
"... Sudahlah. Lebih baik aku tidur saja dulu, sudah ada Bi Inah sekarang yang menemani ku," sambung Anya masih ragu, ketika menatap Bi Inah, lalu membenarkan posisi tidurnya berusaha melupakan kejadian tadi dan menghilangkan rasa takutnya.
Ruangan di dalam kamar Anya kembali seperti normal. Kali ini, dengan lampu yang sudah menyalah menjadi penerang di dalam kamar itu. Serta Bi Inah yang menemani tidur malam Anya saat ini.
Tek ...
Tek ...
Tek ...
Suara dari jam besar yang di pasang di kamar Anya berdetak secara otomatis. Kini, malam sunyi yang dingin perlahan pergi. Berganti dengan sinar cahaya mentari yang belum muncul sepenuhnya.
Sinarnya menghiasi langit di kediaman keluarga besar Adiwijaya. Rumah besar dan megah itu kini terlihat sangat indah.
"Hems ..." suara Anya ketika merenggangkan tangannya. Ketika ia bangun, Anya sudah tidak lagi melihat Bi Inah yang semalam tidur bersamanya.
"Loh ... Kemana, Bi Inah? Apa ia sudah bangun dari tadi?" kata Anya dengan pelan, lalu bergerak perlahan beranjak dari tempat tidurnya sambil mengumpulkan sisa-sisa nyawanya. Karena sebenarnya, ini masih terlalu sangat pagi.
Bahkan, para anggota keluarga yang lain saja belum juga bangun dari tidurnya. Masih merasa nyaman dan menikmati mimpi-mimpi di alam bawah sadarnya.
Tap ... Tap ... Tap ...
Cekelek!
"Bi Inah?" tanya Anya ketika baru saja membuka pintu kamar, kini tengah berdiri sosok Bi Inah, yang sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Anya. Walaupun itu bukan orang tua Anya, tapi Bi Inah benar-benar memperdulikan Anya seperti anaknya sendiri.
"Selamat pagi Anya ... Maaf, yaa. Bibi nggak bangunin kamu, takut ganggu tidur kamu ..." kata Bi Inah, dengan ramah dan penuh senyum menyambut Anya saat ini.
"I-iyaa, selamat pagi juga Bi ... Tidak, apa-apa ..." jawab Anya, dengan perasaannya yang sekarang malah terlihat merasa bersalah karena Bi Inah sudah mulai bekerja sebelum dia. "Apa Bibi sudah memasak sepagi ini?" sambung Anya, karena melihat sepiring makanan yang berada di tangan Bi Inah.
"Ah, nggak Anya ... Ini masakan semalam. Cuma Bibi baru hangatin aja untuk kamu ... Ambil," pinta Bi Inah, langsung memberikan sepiring masakan untuk Anya makan sekarang.
"Ih! Bi Inah ... Anya jadi nggak enak. Padahal, Anya bisa ambil sendiri ..." balas Anya, yang merasa semakin tidak enak karena kebaikan hati Bi Inah. Ia terpaksa harus menerimanya.
"Nggak apa-apa, udah ... Gimana tidur kamu?" tanya Bi Inah, yang sekarang malah merasa khawatir tentang kejadian semalam yang menimpa Anya.
"Nyenyak Bi ... Anya belum pernah tidur setenang semalam!" jawab Anya, dengan penuh senyum mengeskpresikan rasa terimakasihnya kepada Bi Inah. "Terimakasih, yaa Bi ..." sambungnya dengan senang.
"Sama-sama ... Oh, iyaa. Kamu bisa mandi dulu Anya, kalau sudah makan ... Nanti kita sama-sama masak lagi buat sarapan pagi keluarga ini ..." ujar Bi Inah, yang terlihat sangat senang ketika melihat Anya sudah baik-baik saja.
"Iyaa Bi ..." balas Anya, tidak tahu lagi harus membalas kebaikan Bi Inah sekarang bagaimana.
"Yaudah, kalau gitu, di habiskan makanannya ... Bibi tinggal dulu ..." kata Bi Inah, yang di balas Anya dengan mengangguk sambil tersenyum.
Setelah di tinggal Bi Inah pergi, sekarang Anya harus kembali lagi masuk ke dalam kamarnya. Untuk sarapan pagi sebelum, mandi dan kembali bekerja untuk keluarga besar Adiwijaya.
Beberapa waktu kemudian ...
Langit yang tadi masih gelap, kini mentari mulai berani menunjukan sinarnya. Ketika cahaya dari sinarnya mulai masuk menghiasi ruangan besar meja makan keluarga Adiwijaya.
Terlihat sudah ada Laras dan Bianca di meja makan itu, sedang menunggu Bi Inah yang tengah sibuk menyiapkan sarapan mereka.
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Terdengar langkah dari orang yang paling berkuasa di dalam rumah ini. Berjalan dengan setelan jas rapihnya sebelum menuju ke perusahaan pribadi miliknya sendiri.
"Selamat pagi," kata Adi, dengan karismanya yang berwibawa menatap putri dan istrinya sebelum bergabung duduk bersama mereka.
"Selamat pagi, sayang ..." balas Laras, dengan suaranya yang lebay. Langsung menghampiri suaminya yang sudah duduk di kursi.
Di susul oleh Bianca yang juga ikut mencium pipi ayahnya. "Selamat pagi pih ..." sambung Bianca, namun dengan nada yang tidak terlalu sama seperti Laras.
Terlihat Bi Inah dan Anya yang sedang sibuk saling bergantian meletakan piring dan lauk di atas meja makan itu. Dan hal itu, mencuri perhatian Adiwijaya ketika melihat lutut Anya.
"Lutut kamu ... Kenapa, Anya?" tanya Adi penasaran, dengan ekspresi yang ramah dan tidak tahu apa-apa kalau sebenarnya itu ulah anaknya sendiri.
Anya yang sudah meletakan piring berisi lauknya, perlahan menatap Adi. Lalu berganti pandang ke arah Laras dan Bianca, yang sudah sangat tidak ingin melihat Anya berada disini.
Keadaan menjadi tegang tiba-tiba. Ketika Bianca yang takut Anya berbicara jujur tentang perbuatannya tadi malam. Anya seperti mendapat tekanan kembali dari dua sosok harimau yang tengah memantaunya.
"Mati gua! ... Awas aja, kalau sampai anak kampung! Ini berani macam-macam ..." ucap Bianca dalam hati, seraya terus menatap Anya dengan mata yang melotot.
Anya sekilas melihat ke arah lututnya, yang sudah di tutup dengan plester kecil dari Bi Inah.
"Hmm ... Terjatuh tuan! Semalam, saya tidak berhati-hati dan terluka di bagian itu ... Tapi ini sudah di obati oleh Bi Inah," ujar Anya menunduk takut. Memberikan penjelasan palsu, dimana dirinya harus berbohong saat ini.
Terlihat ekspresi Bianca yang merasa lega, ia kembali merasakan kemenangan di saat mendengar perkataan Anya sekarang. Adiwijaya sendiri, terlihat langsung percaya begitu saja.
"Lebay! Itu mah, pih ... Paling-paling cuma mau cari perhatian doang ..." kata Bianca tiba-tiba dengan santai, menuduh Anya tanpa alasan yang jelas. Tatapan, amat sangat tidak menyukai keberadaan Anya saat ini.
Adiwijaya dan Laras langsung menatap Bianca anaknya. Melihat Adi akan marah, Laras langsung memotongnya.
"Bianca! ... Tidak boleh kamu seperti itu. Bagaimana pun, Anya sekarang bekerja di rumah ini ... Kita harus memperlakukan dia seperti keluarga kita sendiri," kata Laras, memotong perkataan Adi yang tidak sempat keluar. Sambil menatap Bianca dengan mengedipkan matanya.
Walaupun Bianca tahu, bahwa ibunya hanya berpura-pura. Ekspresi dari Bianca masih saja menunjukan ke tidak sukaannya kepada Anya saat ini.
"Iyaa-iyaa ... Maaf," kata Bianca, berbicara asal tanpa melihat lagi ke arah Anya yang berada di sampingnya.
Huh ...
Suara Adiwijaya yang hanya bisa menghembuskan nafas pelannya. Melihat tingkah laku anaknya yang sering membuatnya pusing kepala.
Kemudian Anya menuangkan air minum satu persatu untuk mereka. Mengisi gelas masing-masing yang berada di hadapan mereka yang masih kosong.
Terlihat Anya sangat terampil ketika menuangkan gelas Laras dan Bianca, dengan sangat hati-hati agar tidak melakukan kesalahan.
Ketika sampai pada ingin mengisi gelas Adiwijaya yang masih kosong, kaki Anya kembali di sandung oleh Bianca. Membuat Anya kehilangan keseimbangan dan tidak sengaja menumpahkan air putihnya ke atas baju mahal Adiwijaya.
Byurr!
Adi yang tersiram, merasa kaget saat hendak mengambil alat makannya. Begitu juga Laras dan Bianca yang langsung menatap Anya dengan tajam.
Anya yang juga merasa kaget langsung menyeimbangkan tubuhnya, seraya menutup mulutnya karena sudah menumpahkan air ke baju majikannya.
Bersambung ...