Seri ketiga dari kisah Cinta Tak Perna Salah Mengisahkan seorang guru relawan yang memilih hidup jauh dari orangtuanya. karena kecintaannya terhadap anak - anak. Maria Theresia namanya gadis Kalimantan ber darah campur China . Dan dia di cintai oleh laki - laki asli papua bernama Roy Denis.
Apakah kisah cinta mereka bisa abadi selamanya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu
Hari ini, Roy bersama orangtua dan saudara Mia, berangkat ke Jakarta untuk menghadiri wisudanya Maria Theresia Johan. Mia sudah bersiap untuk jemput, dia tidak menyangka Roy ada bersama rombongan orangtuanya. Dia langsung memeluk dan mencium papi dan maminya.
"Ko sama - sama orangtua dan adikku kak??"
"Ngak boleh ya??" Mia hanya tersenyum. Roy tersenyum dan langsung memeluk Mia.
Karena apartemen yang dibeli orangtuanya besar dan mempunyai empat kamar, maka Roy diajak oleh orangtua Mia untuk nginap di apartemen juga. Adrian yang bertugas di pangkalan udara yang ada di Jakarta, akan ke kembali ke messnya. Jadi Roy bisa sekamar dengan dokter Adriel. Biar mereka bisa pergi bersamaan saat wisuda Mia.
Malam ini, Roy membantu Mia menyiapkan makan malam buat mereka. Kebiasaan keluarganya Mia adalah sama - sama menyiapkan ketiga saudara laki - lakinya pasti membantu. Bahkan papi juga.
"Kak duduk saja, kaka itu tamu??"
"Aku itu calon suamimu kebiasaan keluarga kamu harus aku pelajari kalau mau jadi anak mantu yang baik dan di sayangi mertua."
"Anak mantu???"
"Kamu lupa dek, saya sudah lamar ko, di kalimantan." Mia tersenyum.
"Tapi berani sekali sih kaka."
"Saya ngak main - main jika saya sudah cinta sama anak orang."
Mami dan papi Mia tersenyum melihat kedua anaknya Mia dan Roy calon menantu yang sudah di anggap anaknya sedang bekerja membantu di dapur. Tak lama Roy datang dengan membawa lauk yang sudah masak.
"Biar mami bantu lagi." Roy hanya tersenyum.
"Roy??!!"
"Ya pi."
"Malam ini Mia masak makanan yang kalau dia buat pasti enak. Kamu harus makan banyak."
"Iya kak, masakan ini kalau cece buat pasti enak."
"Iya pi, pasti Roy makan yang banyak."
Mereka makan malam bersama mami dan Mia membantu mengisi makanan di piring masing - masing. Roy yang biasa makan mengambil sendiri merasa kaget. Kebersamaan yang tidak perna dia rasakan sebagai seorang anak memiliki keluarga yang utuh. Namun dia sudah berjanji untuk tidak bersikap sama seperti papanya.
Semua kesiapan Mia buat besok wisuda sudah disiapkan. Selesai wisuda Mia, papi sudah menyewa satu ruangan vip restoran buat mereka makan siang bersama.
Pagi - pagi kerempongan sudah terjadi. Namun sarapan sudah disiapkan mami, Mia sedang make up sendiri. Roy ke kamar Mia menanyakan apa yang bisa dia bantu.
"Sayang, kaka bantu apa?"
"Bantu doa ya." Roy tersenyum. Dia tidak menyangka Mia cantik sekali dengan polesan sederhananya. Semalam Roy menawarkan buat ke salon, namun Mia tidak mau, karena dia tidak mau bertukar alat - alat makeup.
"Kamu cantik sekali."
"Memang anak papi itu kan cantik??"
"Iya sih pi, sangat cantik."
"Jadi kalau sudah menikah, jaga dia baik - baik ya nak."
Papinya sudah menangis. Mia langsung memeluk papinya. Begitu juga Roy dia memeluk calon mertuanya.
"Roy janji pi, akan menjaga anak papi ini sebaik mungkin. Dia yang Roy cintai."
Acara wisuda sedang berlangsung di aula besar milik universitas negeri ini. Roy dan kedua adik kembar Mia sudah mengatur rencana akan memberi kejutan buat cece mereka. Andre dan Adriel membantu Roy calon ipar mereka untuk menyukseskan rencananya. Karena wisuda pertama bagi strata dua, maka dengan bantuan Adriel yang berkomunikasi dengan panitia acara kejutan ini akan di mulai.
Maria Theresia Johan ada dalam jajaran mahasiswa yang mendapat cum laude. Waktu namanya disebut Maria Theresia Johan, S.Si, M.Si dia pun maju ke panggung, orangtuanya begitu bangga, waktu hendak turun dia mendengar suara seseorang yang menyatakan perasaan cintanya. Dan Roy Denis Sam, S.IP berjalan membawa bunga dari arah tamu undangan, tepat di tangga turun dia berlutut dan membuka kotak cincin lamaran.
"Maukah kau menikah denganku Maria Theresia Johan??" Mia merasa haru, dari jauh terlihat anak didiknya yang meneriakan kata "Mau mau mau" membuat air mata Mia menetes. Dia langsung memegang tangan Roy dan mengatakan mau. Roy langsung mengenakan cincin berlian yang memang sudah dia siapkan dua bulan lalu untuk melamar Mia. Roy langsung memeluknya dan mengendongnya ke arah orangtuanya.
Papi dan mami Mia langsung memeluk kedua anaknya. Dan semua mata memandang mereka. Selesai acara wisuda langsung di arahkan mereka semua ke restoran yang sudah dipesan. Hadir disana juga ketiga anak yang akan bertanding ke Jenewa mewakili Indonesia Alex, Jojo, Maria bersama Kak Hans. Sedangkan kak Juli ada di Jayapura karena baru selesai melahirkan anak cowok.
"Papi tidak meminta apa pun dari nak Roy, papi tahu bahwa cinta kalian kuat. Tolong jaga anak papi dan jangan sakiti. Papi kalau bertarung dengan Roy, pasti papi kalah, tetapi papi punya banyak cara untuk bisa mengambil anak papi lagi pulang, jika kau jahati nak."
"Roy berjanji untuk tidak menyakiti Mia."
Satu bulan waktu yang disiapkan Roy, agar bisa menikahi perempuan yang dia cintai.Namun nasib sial menimpa Mia, karena kelelahan Mia drop kesehatannya dan harus di rawat di rumah sakit untung Adriel adiknya ada jadi langsung dibawa ke rumah sakit.
Rencana mereka untuk ke Kalimantan akhirnya di batalkan, karena Mia harus dirawat selama tiga hari. Roy setia menjaga kekasihnya itu. Dia tidak berpindah sedikit pun dari Mia.
"Kak, perhatian kamu ini, yang buat adek susah lupa ko."
"Bagus dong."
Ketika Mia lelah karena hanya tidur - tiduran, Roy menyetel lagu dansa di handphonenya lalu dia berdansa dengan Mia.
"Kamu sweet banget." Roy hanya tersenyum.
"Bagaimana rasanya?? Sudah bergerakkan sayang."
"Terima kasih kak, i love you."
"I love you more."
Mamanya Roy sudah ada di Kalimantan, begitu juga bapak dan ibu bupati, mereka meluangkan waktu untuk menghadiri acara pernikahan ini. Dan alumi sekolah tinggi ilmu pemerintahan dalam negeri ini sudah siap mengadakan upacara dalam pernikahan praja mereka. Garden Party, sesuai impian Mia, tamu undangan hanya keluarga, koko Marco dari Amerika juga datang untuk kebahagian adiknya. Saudara perempuan mereka.
Roy Denis Sam laki - laki pegunungan berdarah campuran cina sentani berhasil mempersunting Maria Theresia Johan perempuan kalimantan berdarah campuran cina. Tidak banyak yang hadir, namun pejabat daerah yang datang bersama bupati turut memberi restu buat kedua pengantin. Bahkan kak Hans bersama ketiga anak juga ada. Kak Yuli, Anna dan Sara hanya bisa memberi selamat lewat telepon, mereka menangis karena tidak bisa ikut dalam acara itu.
Roy dan Mia sudah mengikrarkan janji mereka di hadapan Tuhan dan Jemaat serta Negara untuk bersama sampai maut memisahkan mereka.
Tamu undangan dari Papua sudah mulai kembali ke tempat tugas mereka. Begitu juga dengan bapa dan mama bupati, mereka ini juga yang berjasa dalam penyatuan dua insan ini. Roy dan Mia tidak bisa berlama - lama dengan keluarga Mia di Kalimantan. Malam ini ada ibadah pengucapan syukur, karena besok Mia bersama suami dan mama mertuanya sudah kembali ke Papua.
"Hati - hati ya sayang. We love you."
"Roy janji akan menjaga cinta Roy dengan baik mami dan papi."
"Kami percaya padamu sayang."
Perpisahan kali ini rasanya berbeda bagi Mia yang terbiasa merantau. Kali ini dia berpisah karena sudah menjadi istri dari pilihan hidupnya. Dia memilih hidup dengan laki - laki papua yang dia cintai. Dia tahu bahwa pasti ada banyak cobaan yang di hadapi dalam setiap rumah tangga, namun dia mau serahkan semua kepada Tuhan itulah tekat Mia.
Penerbangan kedua menuju Papua, namun bukan ke tempat tugas mereka. Melainkan ke kota Jayapura. Disini mama masih menahan mereka, karena mama mau buat ibadah pengucapan syukur. Mamanya Roy adalah seorang perawat senior. Dia pegawai negeri.
"Sayang, karena kita berdua tidak perna pacaran, kakak mau sayang manja sama kaka."
"Memang adek akan manja kok, tanpa kakak minta."
Roy tersenyum. Dia mencium bibir mungil istrinya. Dan memberikan pundaknya sebagai tempat istrinya menyandarkan kepalanya.