Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Permintaan di Balik Pintu
Keheningan malam di Paris mendadak pecah oleh dentuman jantung Vanya yang berpacu liar di balik pintu kamar mandi yang terkunci rapat. Di dalam ruangan kecil yang mewah dengan marmer putih itu, Vanya menyandarkan punggungnya ke pintu, napasnya tersengal-sengal. Bayangan Devan yang tiba-tiba muncul di atas ranjangnya—di negara yang berbeda, di zona waktu yang berbeda—benar-benar merusak seluruh pertahanan profesional yang ia bangun sejak mendarat di Prancis.
"Devan! Kenapa kau bisa di sini?!" teriak Vanya lagi, suaranya sedikit teredam oleh dinding kamar mandi.
"Aku punya kaki, aku punya paspor, tentu saja aku bisa di sini," sahut Devan dari luar. Suaranya terdengar jauh lebih tenang sekarang, bahkan ada sedikit nada geli yang terselip di sana. Ia duduk di pinggir tempat tidur, merapikan rambutnya yang berantakan akibat tendangan Vanya tadi. "Lagipula, ini kamar istriku. Kenapa aku tidak boleh ada di sini?"
Vanya memejamkan mata, memijat pelipisnya. Ia menyadari satu hal yang fatal: pakaiannya tertinggal di luar. Ia hanya berbalut selimut tebal yang ia sambar tadi, dan ia tidak mungkin keluar hanya dengan balutan kain itu di depan Devan.
"Devan... aku tidak mau berdebat," ucap Vanya, mencoba mengatur suaranya agar tetap terdengar berwibawa meski situasinya sangat memalukan. "Tolong... tolong ambilkan baju tidurku di koper."
"Apa? Aku tidak dengar," goda Devan. Ia sengaja ingin membalas perlakuan dingin Vanya selama di Jakarta.
"Ambilkan baju tidurku di koper! Kalau kau tidak mau menolong, tolong keluar dari kamar ini sekarang juga! Aku mau ganti baju!" tegas Vanya.
Devan menghela napas, menyerah pada keras kepala istrinya. Ia berdiri dan melangkah di dalam kamar yang kini sudah terang benderang. "Dimana kopernya?"
"Di dekat sofa," jawab Vanya singkat.
Devan berjalan menuju sofa mewah di sudut kamar. Ia melihat koper perak milik Vanya yang terbuka setengah. Di sana, pakaian kerja dan perlengkapan mandi tertata sangat rapi—ciri khas Vanya yang perfeksionis. Saat ia hendak mengambil setelan piyama satin, ia mendengar suara Vanya lagi, kali ini volumenya jauh lebih kecil, hampir seperti bisikan yang tertelan angin.
"Sekalian... ambilkan pakaian dalamku," gumam Vanya.
Devan menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi dengan kening berkerut. "Apa? Kau bilang apa?"
"Pakaian dalam..." suara Vanya masih sangat pelan, wajahnya di dalam kamar mandi pasti sudah semerah tomat.
"Apaan sih? Gak denger, Vanya! Bicara yang jelas!" seru Devan, sebenarnya ia sudah mendengar, tapi godaan untuk menjahili Vanya terlalu besar untuk dilewatkan.
"PAKAIAN DALAM!" teriak Vanya akhirnya, frustrasi karena malu.
"Oh! Bilang dong dari tadi. Tidak usah pakai urat," sahut Devan sambil tertawa kecil. Tangannya meraba bagian kantong dalam koper dan mengambil apa yang diminta. Rasanya aneh bagi Devan. Selama tiga tahun pernikahan, ini adalah pertama kalinya ia menyentuh barang-barang pribadi istrinya sesara langsung. Biasanya, mereka hidup seperti orang asing yang hanya berbagi alamat rumah.
Devan berjalan perlahan ke arah pintu kamar mandi. Ia berdiri tepat di depan pintu yang tertutup itu.
Tok! Tok! Tok!
"Nih, bajunya. Lengkap dengan pesanan tambahanmu," ucap Devan dengan nada meledek.
Pintu terbuka hanya beberapa senti, cukup untuk sebuah tangan ramping keluar. Vanya menyambar pakaian itu dengan kecepatan kilat. "Makasih!" serunya sebelum pintu kembali tertutup rapat dan terdengar bunyi kunci diputar.
Devan kembali ke tempat tidur, ia berbaring telentang sambil menatap langit-langit kamar yang berhias ukiran klasik. Ada perasaan aneh yang merayap di hatinya. Mengapa ia merasa jauh lebih bersemangat berada di sini, bertengkar kecil dengan istrinya yang kaku, daripada menghabiskan waktu dengan Viona yang selalu menuntut kemewahan?
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Vanya keluar dengan piyama satin panjang berwarna biru gelap yang tertutup rapat hingga ke leher. Rambutnya yang masih agak basah dibiarkan terurai. Ia tidak menatap Devan, melainkan langsung menuju meja kecil untuk mengambil segelas air.
"Jadi," Vanya membuka suara setelah meneguk airnya, "siapa pria yang menelponku tadi siang?"
Devan bangkit dan duduk tegak. "Justru itu yang ingin kutanyakan! Aku meneleponmu dan seorang pria menjawab, lalu dia mematikan teleponnya begitu saja! Siapa dia, Vanya? Kau membawa selingkuhan ke Paris?" jangan samakan aku denganmu ya.
Vanya menatap Devan dengan tatapan datar, hampir merasa kasihan pada tingkat kecemburuan suaminya yang tidak berdasar. "Itu Pak Hans, Devan. Ponselku tertinggal di meja saat aku sedang di panggung pembukaan cabang baru. Pak Hans mengangkatnya karena kupikir ada keadaan darurat dari kantor pusat, tapi katanya si penelepon hanya diam lalu memutus sambungan."
Devan terdiam. Rasa malu menyergapnya. Jadi pria yang ia cemburui adalah asisten tua ayahnya sendiri?
"Dan soal kau ada di sini..." Vanya melanjutkan, berjalan menuju sofa untuk mengambil bantal, "aku tahu Sesilia yang membantumu. Aku akan memotong jatah bulananmu untuk mengganti tiket pesawat dan biaya hotel ini. Jangan harap bisa hidup gratis di Paris."
"Vanya! Aku suamimu!"
"Dan aku bosmu, Devan. Tidurlah di kasur, aku akan tidur di sofa," ucap Vanya tanpa emosi.
"Tidak! Sofa ini sempit dan kau sedang sakit leher," Devan berdiri, menarik tangan Vanya sebelum wanita itu sempat meletakkan bantal di sofa. "Tidur di kasur. Aku tidak akan menyentuhmu. Kasur ini cukup besar untuk dua orang tanpa harus bersentuhan. Lagipula... aku sudah jauh-jauh ke sini bukan untuk melihatmu jatuh sakit di sofa hotel bintang lima."
Vanya menatap mata Devan, mencari kebohongan di sana, namun ia hanya menemukan sisa-sisa kegelisahan. Akhirnya, karena tubuhnya memang sudah sangat lelah, ia mengangguk pelan. "Hanya tidur, Devan. Jika kau berani macam-macam, aku akan menelepon keamanan hotel dan memulangkanmu dengan pesawat kargo."
"Galak sekali," gumam Devan, namun ia tersenyum tipis. Malam itu, di kota paling romantis di dunia, pasangan yang paling kaku ini akhirnya berbagi tempat tidur yang sama tanpa ada dinding pembatas, meski hati mereka masih butuh waktu lama untuk saling menemukan.
Cahaya matahari pagi Paris menyelinap malu-malu dari celah gorden sutra, membangunkan Devan dari tidur lelapnya. Ia menggeliat, tangannya meraba sisi ranjang yang sudah dingin. Kosong. Vanya sudah menghilang, persis seperti kebiasaannya di Jakarta. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sebuah kertas kecil berwarna kuning menempel tepat di dada bidang Devan yang bertelanjang.
Devan mengambil memo itu dan membacanya: "Aku rapat. Kalau mau sarapan, pesan saja ke layanan kamar. Jangan keluyuran tanpa memberi tahu Pak Hans. – Vanya."
Sebuah senyum tipis tersungging di bibir Devan. Meski pesannya singkat dan bernada perintah, ada perhatian kecil yang terselip di sana. Devan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, dan entah mengapa, ingatannya justru berputar kembali pada kejadian semalam. Bayangan saat lampu kamar menyala dan melihat Vanya yang hanya mengenakan dalaman tipis melintas begitu saja di benaknya. Kulitnya yang putih, bahunya yang kecil, dadanya yang berrisi,lekung pinggang nya sexy dan aura wanita dewasa yang selama ini tersembunyi di balik jas kantor yang kaku.
"Astaga... kenapa dia bisa terlihat seksi juga kalau sedang tidak pakai baju?" gumam Devan pelan. Sedetik kemudian ia menggelengkan kepala dengan keras, menepuk pipinya sendiri. "Astaga, aku berpikir kotor! Maafkan aku, Viona!"
Namun, pikiran itu justru membawa Devan pada sebuah perbandingan yang tak terelakkan. Ia teringat hubungannya dengan Viona. Mereka sudah berpacaran selama lima tahun, hubungan yang penuh dengan kata-kata manis dan kemewahan. Tapi anehnya, Devan baru menyadari satu hal ia belum pernah sampai ke titik seintim itu dengan Viona. Setiap kali suasana mendukung, selalu saja ada gangguan—entah ponsel Viona berbunyi, ada tamu yang datang, atau Viona mendadak mengeluh lelah.
"Dipikir-pikir... lima tahun pacaran, aku belum pernah melihat Viona sedetail itu," Devan bicara sendiri sambil menatap langit-langit kamar. "Kenapa justru dengan Vanya yang baru tiga tahun menikah—dan kami tidak saling cinta—aku malah merasa tegang seperti ini setelah...?"
Rasa bersalah pada Viona mendadak bertabrakan dengan rasa penasaran yang baru muncul terhadap istrinya sendiri. Devan bangkit dari tempat tidur, mencoba mengusir bayangan Vanya dari kepalanya, namun aroma parfum soft floral yang masih tertinggal di bantal Vanya seolah terus mengikutinya, mengingatkannya bahwa "pajangan" di rumahnya kini telah menjelma menjadi sosok yang sangat nyata dan mulai mengganggu ketenangan jiwanya.