NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Sudah Tidak Tahu

Pagi itu, Aurora tidak memiliki keberanian untuk turun sarapan. Kejadian tamparan semalam masih menghantui pikirannya.

Setiap kali ia memejamkan mata, ia seolah bisa merasakan kembali deru napas Lucien yang hangat di dekat telinganya dan tatapan gelap pria itu yang begitu memprovokasi. Wajahnya seketika memanas—campuran antara malu, marah, dan denial yang luar biasa.

Namun, lamunannya pecah saat ketukan di pintu terdengar.

Tok. Tok.

"Nyonya Besar Ashford ada di bawah, Nyonya. Beliau ingin bertemu Anda secara pribadi," lapor pelayan dari balik pintu.

Aurora tertegun.

Jantungnya berdegup kencang. Neneknya?

Dengan perasaan campur aduk, Aurora turun ke ruang tamu. Ia menemukan Nenek duduk tegak dengan tongkat peraknya, menatap taman melalui jendela besar. Tidak ada aura mengintimidasi seperti biasanya.

Kali ini, wajah wanita tua itu terlihat sangat lelah, seolah beban usia yang selama ini ia sembunyikan telah runtuh seketika.

"Duduklah, Aurora," suara Nenek terdengar parau, namun tetap membawa ketegasan yang tak terbantahkan.

"Untuk apa Nenek kemari?" Aurora bertanya dengan suara bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena sisa amarah yang belum padam.

"Ingin memeriksa apakah aku sudah menjual perak di rumah ini juga untuk menyambung hidup?"

Nenek menatap cucunya.

Kali ini, tatapan itu tidak lagi tajam seperti pagi musim dingin yang menyakitkan itu. Matanya redup, menyimpan penyesalan yang mendalam.

"Aurora... duduklah. Nenek tidak datang untuk menuduhmu."

"Lalu untuk apa? Memberiku perlindungan yang harganya adalah mengakui kebohongan?" Aurora tertawa getir, sebuah tawa yang sarat akan luka lama.

Nenek menghela napas panjang.

"Tuduhan dana abadi itu... laporan anonim itu... Nenek tahu itu semua palsu sejak awal."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Aurora. "Apa?"

"Nenek tahu kau tidak akan pernah menyentuh satu pun karya di museum itu, Aurora. Kau adalah Ashford yang paling tulus mencintai seni," suara Nenek mendadak melembut.

"Tapi saat itu, Moltemer sedang mengawasiku. Dia memasang mata-mata di setiap sudut ruang tamuku. Jika Nenek membelamu saat itu, dia akan tahu bahwa kau adalah kelemahanku. Dia akan menghancurkanmu lebih kejam hanya untuk menjatuhkan Nenek."

Aurora melangkah maju.

"Jadi... Nenek sengaja? Nenek sengaja membuatku merasa seperti sampah dan mengusirku?"

"Nenek harus membuatmu terlihat 'dibuang' oleh keluarga Ashford agar Moltemer mengalihkan pandangannya darimu. Nenek harus memaksamu lari ke perlindungan Lucien Valehart. Hanya di bawah nama Valehart, Moltemer tidak akan berani menyentuhmu."

Nenek Ashford menatap Aurora dalam-dalam, suaranya merendah seolah mereka sedang membicarakan rahasia hidup dan mati.

"Nenek sengaja datang ke museum untuk memeriksa sesuatu di kantormu. Tapi saat Nenek berdiri di lorong gelap, Nenek melihat asistenmu sendiri... dia keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru sambil menyembunyikan sesuatu di balik mantelnya."

"Bella?" Aurora menyambar cepat dengan nada sinis.

"Sekarang Nenek ingin menyalahkan Bella? Setelah Nenek sendiri yang menuduhku mencuri, sekarang Nenek ingin menunjuk orang lain sebagai kambing hitam?"

Nenek Ashford tersentak melihat reaksi dingin itu. Ia meraih sapu tangan, namun Aurora tetap menjaga jarak, menolak untuk disentuh.

"Bella adalah satu-satunya orang yang memelukku saat aku jatuh!" suara Aurora meninggi, bergetar hebat.

"Dia yang menemaniku saat aku menangis. Dan sekarang Nenek datang ke sini hanya untuk memfitnahnya?"

Aurora menggeleng pelan sambil tertawa hambar.

"Luar biasa. Taktik apa lagi ini, Nenek? Apa Nenek ingin aku merasa terancam sehingga aku kembali tunduk pada perintah Nenek?"

"Aurora, Nenek tahu sulit bagimu untuk percaya. Nenek telah menghancurkan kepercayaan itu di ruang tamu tempo hari. Tapi pikirkanlah... siapa yang paling diuntungkan jika kau tidak mempercayai keluargamu sendiri?"

"Keluargaku sendiri adalah orang yang menghancurkanku!" potong Aurora tajam, napasnya memburu.

"Nenek bilang itu sandiwara untuk melindungiku? Itu terdengar seperti naskah drama yang buruk. Jika Nenek ingin melindungiku, Nenek bisa bicara jujur, bukan malah membuangku ke mulut serigala!"

Aurora menyilangkan tangan di dada, membangun benteng pertahanan yang sangat kokoh.

"Aku tidak tahu siapa yang berbohong di sini. Nenek, Bella, atau bahkan Paman. Tapi satu hal yang pasti... aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali. Aku tidak akan biarkan Nenek memanipulasiku lagi dengan cerita mengharukan seperti ini."

......................

Seminggu kemudian.

Gedung Pengadilan Tinggi Aurelia berdiri megah dengan pilar-pilar batu yang kokoh, memancarkan aura otoritas yang mendinginkan nyali. Di dalam ruang sidang, aroma kertas tua, lilin, dan minyak kayu jati memenuhi udara yang pengap. Suara kipas angin besar yang berputar lambat di langit-langit seolah menghitung setiap detik ketegangan yang merayap di hati Aurora.

Aurora duduk di kursi kayu yang keras, jemarinya terkunci rapat di atas pangkuan.

Ia mengenakan setelan jas wanita berwarna abu-abu gelap dengan topi kecil berhias jaring tipis. Di sampingnya, Adrian Morel tampak sibuk memeriksa tumpukan dokumen dengan tenang.

Di barisan kursi penonton, kehadiran seorang pria membuat suasana ruangan terasa jauh lebih menekan.

Lucien Valehart duduk dengan kaki bersilang, mengenakan setelan tuksedo hitam yang sempurna. Ia tidak bicara, namun tatapan matanya yang tajam tertuju lurus pada punggung Aurora, memberikan perlindungan sunyi yang lebih kuat daripada dinding batu pengadilan itu sendiri.

"Sidang perkara sipil nomor 412: Tuan Moltemer Ashford melawan Nyonya Aurora Ashford Valehart atas Pemohononan Pencopotan Wali Amanat karena Pelanggaran Kewajiban Fidusia— tuduhan penggelapan dana abadi dan pencurian aset sejarah," seru panitera pengadilan dengan suara yang menggema.

Semua orang berdiri saat Hakim Agung memasuki ruangan dengan jubah hitamnya yang menyapu lantai. Perbicaraan dimulai dengan tuntutan yang sangat agresif dari pengacara pihak museum.

"Yang Mulia, bukti-bukti menunjukkan adanya aliran dana yang tidak sah dari akun arsip menuju akun pribadi yang terafiliasi dengan terdakwa. Sebagai kurator utama, Nyonya Aurora memiliki akses tak terbatas tanpa pengawasan," ujar pengacara lawan dengan nada yang menghakimi.

Aurora menggigit bibir dalamnya, menahan amarah yang meluap.

Adrian Morel bangkit berdiri.

Ia tidak berteriak, suaranya halus namun setiap katanya terdengar sangat berwibawa di telinga para juri.

"Yang Mulia, anak guam saya telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjaga kemurnian seni di kota ini. Tuduhan ini bukan hanya tidak berdasar, melainkan sebuah konspirasi terencana untuk menyingkirkan sosok Ashford terakhir dari institusi yang mereka bangun sendiri," Adrian memulai pembelaannya.

"Kami meminta pengadilan untuk meninjau kembali buku log keamanan museum pada malam kejadian. Kami menemukan adanya perbedaan waktu yang janggal antara laporan manual dan catatan masuk petugas jaga."

Pengacara lawan tampak gelisah, sementara Nenek Ashford yang duduk di pojok ruangan tetap diam dengan wajah sedingin es.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!