NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 14: Dibalik menara matahari

Sinar matahari pagi di Kerajaan Valley masuk melalui jendela-jendela kristal di Menara Alkimia Pusat, menciptakan pelangi kecil yang menari di atas meja-meja laboratorium yang penuh dengan botol-botol cairan berwarna warni. George berdiri di tengah ruangan, merasa sedikit canggung karena dikelilingi oleh lima orang pria tua berjubah putih yang terus-menerus bergumam sambil mengarahkan kaca pembesar ke arah lengan kristalnya.

"Tolong, Master Eldric, bisakah kau berhenti menusuk lenganku dengan jarum perak itu?" gerutu George sambil menarik tangannya sedikit menjauh.

Master Eldric, pria tertua dengan janggut putih yang menjuntai hingga ke perutnya, hanya mendongak sekilas. "Sabar, Tuan George. Kristal ini tidak mendinginkan udara di sekitarnya, tapi ia menyerap panas. Ini sangat tidak masuk akal secara hukum alkimia dasar. Kau seharusnya sudah membeku menjadi patung, tapi kau malah terlihat sangat sehat."

"Itu karena ada mana ku di dalamnya, Master Eldric," suara Celestine terdengar dari arah pintu. Ia masuk dengan langkah ringan, mengenakan pakaian yang lebih santai namun tetap elegan dengan aksen emas di pinggangnya.

"Putri Celestine! Syukurlah Anda datang. Jelaskan pada kami, bagaimana mana matahari bisa menetap di dalam struktur es tanpa menyebabkan ledakan uap?" tanya Eldric dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.

Celestine berdiri di samping George, meletakkan tangannya di atas kristal putih di lengan George. "Ini bukan lagi es biasa, Master. Ini adalah kalsit surya yang telah dimurnikan. George bukan lagi pembawa kutukan, dia adalah katalisator bagi cahaya yang aku berikan."

George menatap Celestine dengan alis bertautan. "Katalisator? Jadi aku ini sekarang adalah alat percobaanmu?"

Celestine tertawa kecil sambil menepuk lengan George. "Jangan tersinggung, Ksatria Es. Maksudku, kau adalah bukti bahwa dua kekuatan yang bertolak belakang bisa menciptakan sesuatu yang baru. Master Eldric, apakah sudah ada hasil dari pengujian mananya?"

Eldric berjalan menuju sebuah kuali besar yang berisi cairan emas cair. "Hasilnya luar biasa, Putri. Jika Tuan George memfokuskan pikirannya, dia tidak hanya bisa membekukan air, tapi dia bisa menciptakan es yang tidak akan mencair bahkan di tengah gurun pasir sekalipun. Kami menyebutnya Es Abadi Valley."

"Apakah itu berguna untuk perang?" tanya George dengan nada serius.

Theodore yang tiba-tiba muncul dari balik tirai laboratorium menyahut. "Bukan untuk perang, George. Bayangkan jika kita bisa mengirimkan makanan segar melintasi benua dengan kotak es buatanmu. Atau mendinginkan laboratorium para alkemis saat mereka mengolah logam cair yang sangat panas. Kau adalah aset ekonomi terbesar yang pernah dimiliki kerajaan ini."

George menghela napas panjang dan menatap Theodore. "Jadi, peran jenderalku berubah menjadi pembuat kotak es, Yang Mulia?"

Theodore tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang. "Tentu saja tidak secara harfiah. Tapi kekuatanmu membuka kemungkinan yang tidak pernah kami bayangkan selama ribuan tahun sejarah agung kami. Bagaimana perasaanmu sendiri, George? Apakah kau merasa... berbeda?"

"Aku merasa lebih ringan," jawab George jujur. "Dulu, setiap kali aku menggunakan sihir es, rasanya seperti ada bagian dari jiwaku yang ikut membeku. Sekarang, rasanya seperti aliran air yang jernih. Tapi aku tetap merasa canggung dengan perhatian yang berlebihan dari para ahli ini."

"Master Eldric, berikan George ruang sebentar," perintah Celestine. "Aku ingin mengajaknya ke taman atas. Dia sudah terlalu lama berada di ruangan yang penuh asap belerang ini."

"Tapi Putri, aku belum mengambil sampel napas dinginnya!" teriak Eldric kecewa saat Celestine menarik George keluar dari ruangan itu.

Mereka berjalan menuju balkon tertinggi menara yang menghadap langsung ke pasar dagang yang hiruk pikuk di bawah sana. Dari ketinggian ini, Valley terlihat seperti hamparan emas yang tak berujung.

"Terima kasih telah menyelamatkanku dari mereka, Celestine," kata George saat mereka akhirnya sampai di udara terbuka.

"Sama-sama. Master Eldric memang sedikit obsesif kalau menyangkut hal-hal baru. Tapi dia benar, kau adalah keajaiban bagi mereka," sahut Celestine.

George menyandarkan tangannya di pagar balkon, menatap ke arah pelabuhan udara di mana kapal-kapal dagang mulai lepas landas. "Kau tahu, Celestine, di utara aku diajarkan bahwa kekuatan adalah tentang siapa yang paling kuat bertahan dalam badai. Di sini, aku belajar bahwa kekuatan adalah tentang apa yang bisa kau bangun dengan kekuatan itu."

"Itulah inti dari Valley, George. Kami tidak membangun benteng untuk mengurung diri, kami membangun pasar untuk berbagi," kata Celestine sambil berdiri di sampingnya. "Bagaimana menurutmu tentang gelar yang ditawarkan Theodore semalam? Jenderal Pelindung Fajar?"

George menoleh ke arah Celestine, wajahnya tampak berpikir keras. "Nama itu terlalu megah untuk pria sepertiku. Tapi jika itu artinya aku bisa tetap berada di sisimu dan menjaga perdamaian ini, aku akan menerimanya."

"Hanya itu alasannya? Karena ingin menjagaku?" goda Celestine.

"Alasan itu sudah lebih dari cukup bagiku," jawab George dengan nada yang sangat tulus.

Celestine terdiam sejenak, wajahnya sedikit memerah. "Theodore bilang dia ingin kita melakukan perjalanan ke kota-kota lain di Valley bulan depan. Dia ingin rakyat melihat bahwa aliansi kita bukan sekadar kertas di atas meja, tapi sesuatu yang nyata."

"Perjalanan keliling kerajaan? Apakah aku harus berdansa di setiap kota?" tanya George dengan raut wajah yang tampak horor.

Celestine tertawa riang, suaranya terbawa angin musim semi yang hangat. "Mungkin. Dan mungkin kau harus belajar cara tersenyum lebih sering, Jenderal George. Rakyat Valley tidak suka melihat pahlawan mereka terlihat seperti baru saja menelan kepingan salju yang pahit."

"Aku akan mencoba," gumam George, meskipun ia akhirnya ikut tersenyum tipis. "Selama kau ada di sana untuk membetulkan langkah dansaku yang salah."

"Aku akan selalu ada di sana," janji Celestine.

Tiba-tiba, seorang pelayan berlari menghampiri mereka di balkon. "Tuan Putri! Yang Mulia Raja Theodore memanggil Anda dan Tuan George ke aula utama. Ada utusan dari perbatasan utara yang baru saja tiba."

Wajah George seketika menegang. "Apakah itu dari ayahku?"

"Kami belum tahu, Tuan. Tapi utusan itu membawa bendera putih dan sebuah surat dengan segel Marquess," jawab si pelayan dengan napas terengah.

Celestine menggenggam tangan kristal George. "Apapun itu, kita hadapi bersama. Ingat, kau bukan lagi buronan di sini. Kau adalah pahlawan Valley."

George mengangguk, ia meluruskan punggungnya dan aura ksatria yang kuat kembali terpancar dari dirinya. "Ayo. Mari kita lihat apa yang ingin disampaikan oleh masa laluku kepada masa depanku."

Mereka berjalan turun kembali menuju istana, melewati koridor emas yang kini terasa lebih seperti rumah daripada sebelumnya. Sejarah agung Valley sedang ditulis ulang, dan kali ini, tintanya adalah perpaduan antara panasnya matahari dan keteguhan es yang abadi.

George dan Celestine melangkah masuk ke Aula Besar dengan langkah yang berirama. Di tengah ruangan yang luas itu, berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah tebal berwarna kelabu tua yang tampak sangat kontras dengan kemegahan emas di sekelilingnya. Pria itu memegang sebuah gulungan perkamen dengan segel lilin berwarna biru tua, lambang resmi dari keluarga Marquess Augustine.

Theodore berdiri di depan tahtanya, tangannya terlipat di depan dada. "George, Celestine, utusan ini baru saja menempuh perjalanan jauh dari gerbang utara. Dia membawa pesan pribadi dari Marquess."

George melangkah maju, wajahnya kaku seperti pahatan es. "Katakan padaku, apa yang ingin disampaikan ayahku setelah dia membiarkan ksatria terbaiknya diburu seperti binatang?"

Utusan itu membungkuk sangat rendah, suaranya gemetar. "Tuan Muda George, Marquess tidak lagi mengirimkan perintah penangkapan. Setelah badai di Puncak Kesunyian mereda dan langit utara menjadi cerah, beliau menyadari bahwa kekuatan yang Anda bawa bukan lagi kutukan yang membahayakan, melainkan berkat yang menyelamatkan tanah kami."

"Jadi sekarang dia menyebutnya berkat?" George mendengus sinis, meski matanya menunjukkan kilatan kelegaan yang ia sembunyikan.

"Isi surat ini," Theodore memotong sambil membuka perkamen tersebut, "adalah pernyataan resmi permohonan maaf. Marquess menyatakan bahwa status buronanmu telah dicabut sepenuhnya. Lebih dari itu, dia menawarkan aliansi dagang terbuka dengan Valley untuk pertama kalinya dalam sejarah."

Celestine menoleh ke arah George dengan mata berbinar. "George, dengar itu! Ini bukan hanya tentang pengampunan, ini tentang perdamaian antara dua kerajaan kita."

"Marquess juga menulis," Theodore melanjutkan sambil menatap George dengan senyum tipis, "bahwa jika Tuan Putri Celestine benar-benar berniat membawa George ke Valley, maka dia menitipkan putra terbaiknya untuk menjaga perdamaian ini. Beliau tidak akan meminta George kembali, selama George tetap setia pada janji barunya di sini."

George terdiam cukup lama. Ia menatap tangan kristal putihnya, lalu menatap utusan itu. "Sampaikan pada ayahku, aku telah menemukan jalan baru di bawah matahari Valley. Aku akan menjaga perdamaian ini dengan nyawaku sendiri, tapi bukan sebagai bidaknya lagi, melainkan sebagai Jenderal Pelindung Fajar."

Utusan itu membungkuk sekali lagi lalu perlahan mundur keluar dari aula. Begitu pintu besar tertutup, George menghela napas panjang, seolah beban yang selama ini menghimpit pundaknya baru saja menguap.

"Kau bebas, George. Benar-benar bebas," bisik Celestine sambil menggandeng tangan George.

"Rasanya aneh," jawab George pelan. "Selama ini aku hidup untuk berlari atau bertarung. Sekarang, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak ada lagi yang mengejarku."

Theodore melangkah turun dari podiumnya. "Nah, karena urusan diplomatik yang membosankan ini sudah selesai, bagaimana kalau kita kembali ke rencana awal? Celestine, aku sudah memerintahkan koki istana untuk menyiapkan jamuan kecil di taman mawar. George butuh suasana yang lebih santai daripada laboratorium atau aula penuh tekanan ini."

"Kue cokelatnya, Kak? Apakah sudah siap?" tanya Celestine dengan semangat.

"Tentu saja. Dan jangan lupa, George harus mencoba minuman fermentasi madu terbaik kami. Itu akan menghangatkan hatimu yang dingin itu, Jenderal," goda Theodore sambil merangkul bahu George.

Mereka bertiga berjalan menuju taman paviliun mawar. Taman itu adalah mahakarya alkimia, di mana bunga-bunga mawar bisa mekar dalam berbagai warna yang berubah-ubah tergantung pada pantulan sinar matahari. Di tengah taman, sebuah meja marmer kecil sudah tertata rapi dengan berbagai kudapan mewah.

"Silakan duduk, Jenderal George," kata Celestine sambil menarik kursi untuk George.

"Kau benar-benar menikmati peranmu sebagai tuan rumah, ya?" komentar George sambil duduk.

"Tentu saja. Dan kau harus mencoba kue ini. Ini adalah resep turun-temurun keluarga Vallery," Celestine menyodorkan piring kecil berisi kue cokelat yang masih mengepulkan aroma manis.

George mengambil potongan kecil dan mencicipinya. Untuk sesaat, ia memejamkan mata. "Sangat berbeda dengan makanan di utara yang biasanya hanya untuk bertahan hidup. Ini... ini benar-benar terasa seperti kemewahan."

"Selamat datang di kehidupan barumu, George," Theodore mengangkat gelasnya. "Di Valley, kami tidak hanya hidup untuk bertahan, kami hidup untuk menikmati keindahan."

Percakapan mengalir dengan santai di bawah naungan pohon-pohon yang rindang. George mulai bercerita tentang keindahan tersembunyi di utara yang belum pernah didengar oleh orang selatan, sementara Theodore dan Celestine menjelaskan tentang sistem alkimia yang menggerakkan ekonomi kerajaan mereka.

"Jadi, George," tanya Theodore setelah beberapa saat. "Apa rencana pertamamu sebagai jenderal di sini? Selain makan kue cokelat adikku, tentu saja."

George menatap langit Valley yang biru cerah. "Aku ingin membangun sekolah pelatihan baru. Gabungan antara teknik bela diri ksatria utara dan penggunaan alat-alat alkimia Valley. Kita bisa menciptakan pasukan penjaga yang tidak tertandingi untuk melindungi jalur dagang kita."

"Ide yang brilian!" seru Theodore. "Aku akan memberikanmu akses ke gudang senjata tua di sayap timur untuk dijadikan markas pertamamu."

Celestine tersenyum melihat kedua pria itu mulai akrab membicarakan rencana masa depan. Ia merasa perjalanannya dari Valley ke utara dan kembali lagi bukan hanya sebuah pelarian, melainkan sebuah takdir yang menyatukan dua dunia yang berbeda.

"George," panggil Celestine pelan saat Theodore mulai sibuk berdiskusi dengan seorang pelayan tentang jadwal pertemuan besok.

"Ya?"

"Terima kasih telah memilih untuk tetap tinggal. Aku tahu ini perubahan besar bagimu."

George menatap tangan kristal putihnya, lalu menggenggam jemari Celestine di bawah meja. "Tempat ini memiliki emas dan sejarah yang agung, Celestine. Tapi alasan utamaku tetap di sini adalah karena matahariku ada tepat di depanku."

Celestine merona merah, ia tertawa kecil untuk menutupi rasa malunya. "Kau mulai belajar cara bicara orang Valley, ya? Terlalu manis."

"Aku hanya mengatakan kebenaran," sahut George dengan senyum tipis yang tulus.

Matahari mulai terbenam di ufuk barat, memberikan warna jingga keemasan pada seluruh taman mawar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!