NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Bayangan Masa Lalu Di Amerika.

Hari itu, Liora akhirnya mengambil keputusan besar yang sudah lama ia pertimbangkan. Ia memutuskan untuk meninggalkan Italia untuk sementara dan terbang ke Amerika. Dua bulan, itulah waktu yang ia tetapkan untuk dirinya sendiri waktu yang ia butuhkan untuk mengumpulkan kekuatan, menjernihkan pikiran, dan menata kembali hati yang masih dipenuhi luka.

Di dalam kamarnya, koper besar sudah tertata dengan rapi. Seperti kebiasaannya, Liora menyiapkan semuanya dengan cermat—pakaian formal, dokumen-dokumen penting, peralatan kerja, dan beberapa barang pribadi yang tidak bisa ia tinggalkan. Semuanya teratur seperti hidupnya yang selalu ia paksa tetap seimbang meski hatinya sudah lama tidak stabil.

John berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan prihatin.

“Liora… kau benar-benar akan berangkat ke Amerika?” tanyanya lembut.

“Iya, John,” jawab Liora tanpa banyak ekspresi. Suaranya tenang, namun terdengar berat. “Aku perlu menjauh sebentar. Untuk menata diri. Untuk sementara, aku percayakan perusahaan padamu.”

John menghela napas pelan.

“Aku mengerti. Kau memang butuh waktu. Luka seperti yang kau alami… tidak bisa sembuh kalau terus kau pendam. Jangan khawatir, aku akan menjaga perusahaanmu sebaik mungkin.”

Liora hanya memberikan anggukan kecil.

“Terima kasih, John.”

Tak lama kemudian, ia meninggalkan mansion dengan mobil yang dikemudikan Noah. Perjalanan menuju bandara terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada percakapan, hanya suara mesin mobil dan pikiran Liora yang entah berada di mana.

Setibanya di bandara, pesawat pribadi milik ayahnya, Heron Wiliam Anderlecht, sudah menunggu. Pesawat itu begitu besar dan mewah, simbol kekuasaan keluarga Anderlecht yang tak pernah pudar.

Selama penerbangan, Liora hanya duduk diam. Tatapannya kosong menembus jendela, seolah sedang melihat sesuatu di kejauhan—sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Sesekali ia memejamkan mata, mencoba menahan gelombang emosi yang ingin pecah.

Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di Amerika. Udara negeri itu terasa asing namun sekaligus akrab, seperti tempat yang pernah ditinggali lama tetapi ditinggalkan terlalu cepat. Ia langsung menuju mansion miliknya, sebuah rumah besar yang jarang ia tempati, namun tetap terawat.

Malam itu, Liora membaringkan diri di ranjang besar yang dingin.

“Besok… aku harus mulai bekerja lagi,” gumamnya lirih. “Mungkin mengajar di universitas akan mengalihkan pikiranku.”

Keesokan paginya, Liora mengenakan pakaian formal berwarna hitam dengan rambut terikat rapi. Ia menuju American University, tempat yang sudah beberapa kali ditawarkan padanya, namun baru sekarang ia pertimbangkan.

Ia langsung menuju ruang rektor. Di sana, seorang pria paruh baya menyambutnya dengan cemas.

“Selamat datang, Nona Liora Wiliam Anderlecht. Saya Damian Marley, rektor di universitas ini. Ada yang dapat saya bantu?” suaranya terdengar hati-hati, seolah takut salah bicara.

“Saya ingin melamar menjadi profesor di universitas ini,” jawab Liora tegas, tanpa basa-basi.

Damian tertegun.

“Profesor…?”

“Siapkan ruangan terbaik untuk saya. Berapa pun biayanya.” Wajahnya tetap tanpa ekspresi.

Damian menelan ludah.

“T-tentu, Nona Liora. Anda bahkan bisa mulai mengajar hari ini, jika Anda mau.”

“Hm.” Hanya itu balasan Liora.

Begitu Liora meninggalkan ruangan, Damian langsung menghembuskan napas panjang.

“Hampir saja aku terpeleset bicara… wanita itu benar-benar berbahaya,” gumamnya pelan sambil mengusap keningnya yang berkeringat.

Hari itu juga, Liora masuk ke kelas Bisnis Digital. Para mahasiswa yang sudah duduk langsung terdiam ketika melihat wanita berwibawa itu melangkah masuk.

“Nama saya Liora Wiliam Anderlecht,” katanya tegas. “Mulai hari ini, saya dosen kalian.”

Tatapannya menusuk.

“Di kelas saya, disiplin adalah hal utama. Kalau tidak suka, kalian boleh keluar sekarang.”

Tidak ada satu pun yang bergerak. Suasana kelas benar-benar membeku.

Namun di tengah kelas, tiga gadis tampak saling berpandangan Viera, Viora, dan Viola. Mata mereka melebar, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Setelah kelas berakhir, mahasiswa lain langsung berhamburan keluar. Hanya tiga gadis itu yang tetap duduk.

Liora mengernyit.

“Kenapa kalian masih di sini?”

Ketiganya langsung berdiri serempak dan berteriak penuh semangat,

“TANTE LIORA!!”

Liora terdiam, antara kaget dan bingung.

“Viora… Viol… Viera ?” ucapnya perlahan.

“Sejak kapan Tante jadi dosen di sini?” tanya mereka bersamaan.

“Sejak pagi tadi,” jawab Liora datar. “Aku sambil mengurus perusahaan keluarga di Amerika.”

Viora menatapnya lembut.

“Tante… apa Tante sedang sedih?”

Liora terdiam lama sebelum akhirnya mengangguk.

“Iya, sayang. Tante ke sini untuk menenangkan diri… setelah kepergian Paman Adrian.”

Ketiga gadis itu langsung terdiam. Wajah mereka berubah sendu.

“Maaf, Tante… kami tidak bermaksud mengingatkan Tante,” ucap Viola pelan.

Liora menggeleng, kemudian tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa, anak-anak.”

Lalu ia memandang ketiganya penuh perhatian.

“Kalian benar-benar memilih jurusan bisnis karena kemauan sendiri?”

“Iya, Tante,” jawab Viera mantap. “Kami ingin seperti Tante, seperti kakek, seperti ayah.”

Liora tersenyum tipis penuh haru.

“Bagus. Keluarga kita butuh penerus yang kuat.”

Namun suasana kembali berubah ketika Viola berbisik pelan,

“Tante… kami sebenarnya kasihan melihat Tante sendirian setelah setahun Paman Adrian pergi.”

Liora memejamkan mata sejenak.

“Paman kalian… bahkan meninggalkan surat untuk Tante,” ucapnya pelan. “Dia bilang… jika bisa, Tante harus menikah lagi.”

Ketiganya terkejut.

“Tapi Tante tidak bisa,” lanjut Liora dengan suara hampir bergetar. “Cinta Tante untuknya terlalu besar.”

“Maafkan kami, Tante,” ucap Viora cepat. “Kami tidak bermaksud ”

“Tidak apa-apa.” Liora tersenyum kecil, meski matanya berkaca-kaca.

Ia kemudian berkata,

“Ayo pulang. Kita makan di mansion Tante.”

“Mansion?” ketiganya terkejut.

Liora mengetuk dahi mereka ringan.

“Jangan kaget begitu. Kalian pikir Tante cuma punya mansion di Italia? Di Amerika, Kanada, Spanyol… semua ada.”

Mereka langsung melongo kagum.

Dalam perjalanan ke mansion, Liora menyetir sendiri.

“Tante… kenapa tidak pakai sopir?” tanya Viora.

“Ada di mansion. Tapi tadi Tante ingin sendiri dulu,” jawab Liora santai.

Viola memandang ke luar jendela lalu berkata pelan,

“Tante selalu melindungi kami, ya…”

“Sudah kewajiban Tante,” jawab Liora datar namun penuh makna.

Kemudian, suara Liora menjadi lebih serius.

“Kalian harus tahu satu hal.”

Ketiganya menatapnya.

“Kalian adalah cucu Heron Wiliam Anderlecht.”

Suasana mobil langsung berubah tegang.

“Musuh keluarga kita masih berkeliaran. Tante ke sini bukan hanya untuk mengajar… tapi juga untuk menjaga kalian.”

Ketiganya terdiam.

“Tante tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kalian. Bahkan kalau Tante harus turun tangan sendiri.”

Air mata mulai mengalir di pipi ketiga gadis itu.

“Tante… kami tidak tahu beban yang Tante pikul selama ini…”

“Tidak apa-apa,” jawab Liora pelan. “Yang penting mulai sekarang, dengarkan Tante.”

“Iya, Tante.”

Setiba di mansion, ketiganya langsung terkagum-kagum.

“Besar banget!” seru Viola.

“Cantik sekali!” tambah Viera.

Liora hanya tertawa kecil.

“Kalian ini seperti anak kecil.”

Di dalam mansion, mereka berhenti di depan foto keluarga besar Anderlecht.

“Ini… kakek, nenek, dan ayah kalian,” kata Liora lembut.

Mereka menatap foto itu penuh haru.

“Wajah ayah mirip sekali dengan kakek,” komentar Viora.

“Iya,” Liora mengangguk. “Dan kalian tahu… Tante mirip nenek kalian.”

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan,

“Tapi ayah kalian dulu selalu bilang… keberanian dan ketegasan Tante bahkan melampaui kakek kalian.”

Ruangan menjadi sunyi.

Liora menatap foto itu dengan sorot mata yang penuh kenangan dan luka.

“Sejak mereka pergi… hanya Tante yang menjaga semuanya.”

Ia tersenyum kecil, namun begitu menyakitkan.

“Dan sampai sekarang… Tante masih melakukannya.”

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!