No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyucian yang Ternoda
Udara di luar Paviliun Lentera Abadi tidak lagi sekadar dingin, melainkan terasa berat dan mencekik seolah-olah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk kulit hingga ke tulang. Kabut hitam yang biasanya merayap tenang di permukaan tanah Lembah Sunyi kini bergejolak hebat, tertekan oleh dinding cahaya transparan yang perlahan menyempit dari empat penjuru mata angin. Di balik dinding cahaya itu, selusin kultivator berjubah putih bersih dari Sekte Awan Putih berdiri dengan posisi meditasi yang sempurna, tangan mereka terus-menerus merapalkan mantra suci yang memekakkan telinga batin.
Bian Zhi berdiri tepat di ambang pintu paviliun yang megah namun suram. Pedang hitamnya tidak lagi disarungkan, melainkan tertancap dalam di lantai batu teras, menciptakan retakan-retakan yang memancarkan uap hitam pekat yang berbau logam. Matanya yang tajam dan tak berkedip menatap ke arah pemimpin rombongan itu—seorang pria paruh baya dengan jenggot panjang yang memegang seberkas jimat emas raksasa di tangan kanannya, jimat yang memancarkan energi Yang yang sangat menyengat.
"Penjaga Lembah! Menyerahlah sekarang juga!" seru pemimpin itu, suaranya diperkuat dengan tenaga dalam yang menggetarkan dedaunan kering hingga hancur menjadi debu. "Jimat Penjara Langit ini akan menghancurkan setiap energi Yin jahat di tempat ini. Serahkan iblis He Xueyi dan biarkan kami menyucikan tempat terkutuk ini agar roh-roh malang di bawah sana bisa beristirahat dengan tenang!"
Bian Zhi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat kecil dengan jari telunjuk yang sangat meremehkan, seolah-olah para kultivator sakti itu hanyalah sekumpulan lalat yang mengganggu. Di belakang pilar paviliun, arwah Xiao Bo yang biasanya tidak bisa diam, kini hanya bisa meringkuk membeku dengan wajah pucat pasi. Cahaya keemasan dari jimat-jimat itu adalah racun mematikan yang bisa menghapus keberadaan arwah rendahan sepertinya dalam hitungan detik.
"Tuan kami tidak menerima tamu yang datang dengan kebisingan jimat murahan dan khotbah kosong yang munafik," ucap Bian Zhi, suaranya membelah gemuruh angin mantra dengan ketajaman yang mengerikan, membuat beberapa kultivator muda di barisan belakang sedikit goyah.
"Sombong! Jika kau memilih jalan kehancuran, maka biarlah cahaya matahari menyapu keberadaanmu selamanya! Serang!"
Selusin jimat emas melesat serentak dari tangan para kultivator, membentuk formasi bintang di langit malam yang gelap. Jimat-jimat itu meledak di udara, berubah menjadi rantai-rantai cahaya yang menjulur seperti ular, berusaha melilit tubuh dan membelenggu pergerakan Bian Zhi. Namun, sebelum rantai cahaya itu sempat menyentuh seujung rambutnya, sebuah pendaran biru tua yang pekat keluar dari dalam kegelapan paviliun, memadamkan cahaya emas tersebut dalam sekejap.
He Xueyi melangkah keluar dengan keanggunan yang membawa maut. Lentera di tangannya tidak lagi bersinar lembut, melainkan memancarkan api yang berwarna ungu kehitaman yang menjilat-jilat udara. Setiap langkah yang ia ambil membuat tanah di bawah sepatunya menghitam seketika, dan jimat-jimat emas yang beterbangan di sekitarnya hangus menjadi abu sebelum sempat mendekat dalam radius tiga meter.
"Kalian bicara tentang kesucian," He Xueyi berbisik, namun suaranya terdengar sangat jelas dan nyata tepat di telinga setiap kultivator di sana, seolah ia sedang berdiri tepat di belakang punggung mereka. "Tapi kalian datang ke sini hanya untuk mencuri esensi jiwa yang tersimpan di dalam lenteraku demi memperpanjang umur guru-guru kalian yang sudah renta dan takut akan kematian. Keserakahan kalian berbau lebih busuk daripada mayat yang membusuk di ruang bawah tanahku."
He Xueyi mengangkat lenteranya tinggi-tinggi ke langit yang muram, memicu pusaran energi hitam di atas paviliun. "Bian Zhi, bersihkan sampah-sampah ini sekarang juga. Jangan sisakan satu pun jimat yang masih utuh. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya disegel di dalam kegelapan abadi yang selama ini mereka benci dan takuti."
"Hamba laksanakan, Tuan."
Bian Zhi mencabut pedangnya dari lantai batu dengan satu sentakan kuat yang menimbulkan percikan api hitam. Dalam satu gerakan yang melampaui batas kecepatan mata manusia fana, ia melesat ke tengah-tengah formasi Sekte Awan Putih seperti bayangan maut. Pedang hitamnya menebas udara secara horizontal, melepaskan gelombang energi Yin yang berbentuk sabit raksasa yang menebas segalanya.
CRAAAKK!
Kubah cahaya transparan yang membungkus lembah itu retak dan pecah berkeping-keping seketika seperti kaca yang dihantam palu godam. Para kultivator itu serentak memuntahkan darah segar dan terlempar ke belakang saat aliran tenaga dalam mereka berbalik menyerang organ dalam sendiri akibat segel yang dihancurkan secara paksa oleh kekuatan luar. Pemimpin mereka mencoba dengan putus asa melepaskan jimat emas terakhirnya yang paling kuat, sebuah jimat pemusnah roh tingkat tinggi, namun Bian Zhi sudah berada tepat di depannya dalam kedipan mata. Ujung pedang hitam yang dingin itu menempel di tenggorokan sang pemimpin sekte, menghentikan seluruh doa dan mantra yang hendak ia rapal.
"Jimatmu tidak akan pernah bisa menyegel sesuatu yang memang sudah tidak memiliki jiwa sejak awal," ucap Bian Zhi dengan nada yang datar, dingin, dan benar-benar tanpa ampun.
He Xueyi berdiri di atas undakan tangga tertinggi, menatap pemandangan itu dengan mata tanpa emosi, seolah sedang menonton pertunjukan boneka yang membosankan. "Seret mereka masuk ke sel bawah tanah keempat, Bian Zhi. Aku butuh beberapa esensi segar untuk memperkuat lapisan pelindung koridor timur sebelum fajar menyingsing tiba. Pastikan mereka tetap bernapas sampai proses ekstraksi dimulai."
Malam itu, Lembah Sunyi kembali membuktikan kebenarannya yang pahit kepada dunia luar: bahwa tidak ada cahaya suci mana pun yang cukup terang untuk menembus kedalaman kegelapan yang dijaga oleh He Xueyi dan asisten setianya. Suara rintihan dan seruan putus asa para kultivator yang diseret masuk ke dalam paviliun perlahan menghilang ke dalam tanah, tertutup oleh sunyi yang kembali berkuasa dengan penuh otoritas.