Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Hubungi Aku
Bab 10
Edward, Anji dan Rendi masih berbincang di luar cafe. Anji tentu saja sambil menghis4p vape. Rendi menunggu Yuli yang masih otw, jadwal menemui dokter kandungan. (Yang lupa kalau Yuli udah hamil, Baca : Emergency Love Bab 87). Asoka ada panggilan darurat pasien yang harus tindakan.
“Nggak, belum minat gue,” seru Rendi. “Yuli sih udah semangatin aja.”
Mereka membicarakan saran Edward agar kedua rekannya itu melanjutkan pendidikan dokter spesialis
“Sama, gue pengen nikahin si Bela dulu. Udah kebelet pengen k4win,” cetus Anji, langsung mendapatkan geplakan di punggung dari Rendi.
“Isi ot4k lo bener-bener dah. Iya juga sih, cepet nikah sana. Anak gadis orang jangan di kasih dp duluan.”
Edward melirik dua pria yang bersikap mencurigakan tidak jauh dari posisi mereka.
“Lo gimana Ward, serius sama Cahaya?”
“Serius apaan sih. Urusan saya sama Cahaya sebatas dokter dan pasien.”
Anji mencibir. “Gue laki-laki kali, tau banget sorot mata lo waktu menatap Cahaya. Kayak ada panah asmara gitu. Ngaku aja dah.”
Rendi pun pamit, karena Yuli sudah di parkiran.
Srek.
Pintu Cafe didorong dari dalam. Cahaya keluar sambil fokus pada ponsel menjadi fokus perhatian Edward. Dahinya mengernyit, salah satu pria yang mencurigakan mengekor langkah gadis itu.
“Cahaya.”
“Mas Adit.”
“Ward, lo denger gue nggak sih. Beuh, beneran udah nggak fokus, lagi jatuh cinta ini mah,” ejek Anji.
“Dia Adit,” ucap Edward.
“Hah, Adit siapa?”
“Gue duluan,” ujar Edward.
Cahaya tampak mengusir Adit, ada perdebatan diantara mereka. Situasi Cahaya kalah karena dua pria itu.
“Itu Cahaya,” ujar Anji. “sama siapa?”
“Ikut aku pulang, untuk apa kamu di sini. Kerja jadi pelayan, di rumah romo dan di rumahku nanti aku akan ratukan kamu dek.”
“Sebaiknya mas Adit pergi, Mas Jarwo juga. Jangan ikut campur dengan hidupku. Ini pilihanku.” Aya menunjuk dad4nya sendiri dengan pandangan sengit pada Adit dan Jarwo.
“Kita pulang dek, kita mau menikah. Nggak pantes, anak gadis kabur-kaburan begini. Apa kata orang, putri keluarga Janitra jadi pelayan di ibukota.”
“Ndak. Kalian saja yang pergi. Jangan bikin ribut mas atau aku panggil keamanan,” ancam Aya.
Edward masih mengawasi, belum waktunya dia terlibat dan ikut campur. MEski rasanya ingin menarik Aya ke belakang dan pasang badan untuk kedua pria tidak tahu diri itu.
“Kamu pikir mas takut.” Adit meraih tangan Aya dan mencengkramnya. “Kita pulang.”
“Nggak, lepas!” Aya menggerakan tangannya agar lepas dari cengkraman. Situasi sudah tidak kondusif, sudah mulai main fisik.
“Lepaskan dia!”
“Om Edward.”
Adit dan Jarwo menoleh, tangan Aya masih dalam cengkraman Adit. “Jangan ikut campur, ini urusan kami. Dia calon istri saya.”
“Gimana nggak ikut campur, lo bikin keributan di rumah sakit dan Cahaya itu masih keluarga besar SM. Dia adiknya Andin.” Anji sampai menunjuk Adit.
“Dia calon istriku.”
“Disini ada dokter THT, sebaiknya periksakan telingamu. Cahaya menolak perjodohan kalian,” jelas Edward, pandangannya tertuju pada tangan Aya masih dicengkram Adit.
“Dek, kamu kenal mereka?” Adit menunjuk Edward dan Anji.
“Iya, mereka orang baik.” Aya masih berusaha melepaskan tangannya.
“Maaf ini urusan keluarga, mas-mas baiknya pergi. Kami tidak akan cari ribut, hanya jemput Cahaya,” seru Jarwo seraya mengatupkan kedua tangan di depan dad4nya.
Edward tidak sabar, ia menghempaskan tangan Adit dan membawa Aya ke belakangnya.
“Hei.”
Geram Adit pada Edward, tapi langkahnya tertahan oleh Anji. “Apa?”
“Mas, jangan buat keributan,” bisik Jarwo pada Adit.
“Mas Adit dan Mas Jarwo, jangan ganggu aku. Pernikahan kita tidak akan terjadi, aku menolak. Kaburnya aku dari rumah adalah jawaban dan penolakan hubungan kita,” jelas Aya.
“Lo denger! Cahaya nggak mau nikah sama lo. Ward, bawa Cahaya pergi.”
“Ayo.” Edward menggenggam tangan Aya dan berlalu dari sana.
“Tapi om ….”
“Biarkan Anji yang urus,” ujar Edward.”
Adit mengump4t pada Anji.
“Cari mati lo. Woi Sopo Jarwo, ajak si Adit pergi dari sini,” usir Anji. Dua jarinya menunjuk mata sendiri dan menunjuk pada mata Adit seolah mengatakan, I’m watching you.
“Kalian akan menyesal,” pekik Adit.
“Takutttt,” ejek Anji meninggalkan tempat itu.
“Si4l. Kenapa berantakan begini,” kesal Adit.
***
“Om, biar aku balik lagi. Mas Adit dan Mas Jarwo, takutnya berkelahi, Temennya Om nanti ….”
“Nggak akan. Dia udah biasa, malah senang dengan keributan begitu. Aku antar kamu pulang, pakai seatbelt nya.” Dalam hati Edward bersorak, ada alasan untuknya mengantarkan gadis ini pulang.
Aya menoleh keluar jendela, masih khawatir ada keributan selepas ia pergi tadi. Tidak mendengar perintah Edward.
“Eh.” Saat menoleh, wajah Edward hanya berjarak beberapa centi saja. Mendadak ia nge-freeze, sama halnya dengan Edward. Om Edward, mau apa sih. Jantung aku jadi deg-degan. Mana kelihatan makin ganteng kalau deket begini, batin Aya.
“Seatbelt.”
Masih saling memandang, Aya sampai menelan saliva.
Srek.
Tali seatbelt ditarik Edward menyilang di depan dad4 lalu menjauh. Aya menghela lega, kembali membuang pandangan ke samping. Mungkin wajahnya sudah merona karena kejutan tadi.
Bukan hanya Aya, Edward pun sama. Ulahnya tadi membuat gejolak dan sensasi berbeda. Pikirannya malah berkelana, membayangkan hal lain. Perlahan mobil melaju. Untuk menghilangkan canggung, Edward memutar musik.
….
Mata itu berhasil hipnotisku
Menjerat nafsu jiwa
Mengurungku kedalam Keindahan
Rasanya ingin malam ini
Menciummu hingga lemas
Rasanya ingin malam ini
Memelukmu hingga terlelap
(Pemujamu-Ada Band)
….
Mulut Edward mengump4t pelan setelah saling tatap dengan Aya mendengar lirik lagu itu. Segera ia matikan saja. Bukannya waras, pikirannya malam membayangkan melakukan apa yang ada di lirik lagu.
“Andin tahu Sopo Jarwo datang kemari?” tanya Edward mengurai suasana canggung itu.
“Aku belum cerita kalau Mas Adit ada di Jakarta. Nggak mau Mbak Andin kepikiran. Dia pasti khawatir banget. Terus aku nggak akan boleh kerja lagi.”
“Bahaya, pria itu bisa nekat. Tadi saja dia berani pegang tangan kamu,” tutur Edward dengan nada tidak biasa, sambil mengemudi.
“Om juga pegang tangan aku,” sahut Aya.
“I-iya, itu untuk selamatkan kamu dari tangan Sopo. Dia cengkram kamu. Coba dicek merah atau lebam nggak.” Berlebihan, mungkin kalau Anji mendengar ucapannya ini, ia kembali akan menjadi bahan ejekan seumur hidup.
“Nggak sih, nggak merah.”
Mobil berhenti karena lampu lalu lintas. Tangan Edward meraih lengan Aya.
“Coba aku lihat.” Meneliti seolah ada sesuatu yang tidak terlihat di lengan itu. “Hm, tidak ada lebam. Tapi kalau nanti sakit, hubungi aku. Kita buat visum lalu tuntut saja si Sopo Jarwo.”
Aya terkekeh. “Om dokter ada-ada aja deh. Masa pakai nuntut segala.”
“Aku serius.”
Raut wajah Aya perlahan berubah datar. “Aku hubungi om kemana? Rumah sakit?”
“Mana ponselmu?” pinta Edward. Aya merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel yang langsung direbut Edward. Beruntung tidak ada sistem mengunci layar. Mengutak atik ponsel itu. Ternyata memanggil nomornya dari ponsel Aya.
“Aku sudah simpan, hubungi kalau tanganmu mendadak sakit.”
Aya menerima ponselnya, tersenyum membaca nama kontak yang dibuat Edward. “Om Dokter Ganteng.”
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣