Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Luka Lama dan Jangkar Baru
"Aruna? Ada apa?!"
Suara Bumi yang sarat akan kepanikan memecah keheningan ruang keluarga. Terdengar bunyi dentingan keras saat ia meletakkan dua cangkir kopi panas itu ke atas meja kaca dengan terburu-buru.
Aku tidak bisa menjawab. Mulutku terbuka, tapi udara seolah menolak masuk ke paru-paruku. Tanganku gemetar hebat menunjuk ke arah layar laptop yang masih menyala. Air mata mengalir deras, memburamkan pandanganku, namun rekaman suara yang baru saja kudengar terus berputar ulang di kepalaku bagai kaset rusak yang mematikan.
“Jangan berani-berani menyentuh Aruna! Aku sendiri yang akan memutus rem mobilku sebelum kau menyentuhnya!”
Bumi bergegas berlutut di sebelahku. Wajahnya pucat melihat keadaanku yang nyaris seperti orang kehabisan napas. Pandangannya beralih dari wajahku ke layar laptop, lalu ke file audio yang baru saja selesai diputar.
Tanpa banyak bertanya, Bumi meraih mousepad, menggeser kursor, dan memutar ulang rekaman itu dari awal.
Ruang tengah apartemenku kembali diisi oleh suara perdebatan yang direkam secara diam-diam tiga tahun lalu. Suara Adrian yang penuh amarah keputusasaan, dan suara Rendra yang sedingin es.
Saat rekaman itu berakhir untuk kedua kalinya, rahang Bumi mengeras hingga urat lehernya menonjol tajam. Tangannya yang bertumpu di atas karpet mengepal sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tidak perlu bertanya siapa pemilik suara kedua itu. Instingnya sudah memberikan jawaban yang tepat.
"Itu Rendra," bisikku parau, suaraku pecah oleh isakan. "Dan Adrian... dia tahu, Bumi. Dia tahu rem mobilnya akan disabotase. Dia memilih mati malam itu... dia menukar nyawanya demi melindungiku."
Rasa bersalah yang teramat masif—sebuah beban berton-ton yang tak kasatmata—jatuh menimpa dadaku, meremukkan seluruh pertahananku.
Selama tiga tahun terakhir, aku mengutuki takdir. Aku pernah diam-diam menyalahkan Adrian karena berkendara terlalu ceroboh malam itu, meninggalkanku sendirian di tengah pusaran keluarga Wiratmadja yang serakah. Tapi ternyata... pria itu mengemudikan mobilnya menuju kematian dengan mata terbuka lebar, hanya agar Rendra tidak mengirimkan pembunuh bayaran ke apartemenku.
"Aku... aku ini kutukan, Bumi," isakku, memeluk lututku sendiri, menenggelamkan wajahku yang hancur. Zirah CEO yang selalu kubanggakan kini telah menguap tanpa sisa. "Semua pria yang berada di dekatku... mereka hancur. Adrian mati karena aku. Sifa nyaris mati karena aku. Dan sekarang kamu... Rendra tidak akan berhenti sampai dia menyingkirkanmu juga. Aku pembawa sial!"
Aku menunggu Bumi mundur. Aku menunggu logika programmer-nya bekerja dan menyadari bahwa dua miliar rupiah tidak sepadan dengan nyawa yang dipertaruhkan. Aku menunggu pria itu membenarkan ucapanku, berkemas, dan pergi meninggalkanku dalam kegelapan yang pantas kudapatkan.
Namun, yang kurasakan selanjutnya adalah kehangatan yang merengkuhku.
Bumi menggeser posisinya, memangkas sisa jarak di antara kami, dan menarik tubuhku yang bergetar hebat ke dalam pelukannya. Tangannya yang besar dan kokoh memeluk punggungku, sementara tangan satunya menekan pelan bagian belakang kepalaku, menyembunyikan wajahku yang basah di ceruk lehernya.
"Ssst... lepaskan saja. Menangislah, Aruna," bisiknya lembut, tepat di telingaku. Suaranya bergetar oleh empati yang begitu dalam.
"Kau harus pergi dari sini..." paksaku di sela isakan, mencoba mendorong dadanya, namun tenagaku habis terkuras. "Dia monster, Bumi. Dia akan membunuhmu."
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana," jawab Bumi.
Kali ini, dia menggunakan kata 'aku'. Kata itu meluncur begitu natural dari bibirnya, menghancurkan sisa-sisa tembok pembatas di antara kami.
Bumi sedikit mengurai pelukannya, memegang kedua bahuku, memaksaku mendongak menatap wajahnya. Mata cokelat pekatnya menatap lurus ke dalam mataku yang sembab. Tidak ada keraguan di sana. Tidak ada ketakutan. Yang ada hanyalah keteguhan yang sanggup meruntuhkan gunung.
"Dengarkan aku, Aruna," ucapnya tegas, namun dengan nada yang luar biasa lembut. "Dalam agama kita, tidak ada yang namanya 'pembawa sial'. Kematian Adrian sudah tertulis di Lauhul Mahfudz jauh sebelum dia lahir. Dia memilih jalan itu karena dia mencintaimu, dan itu adalah bentuk pengorbanan terhormat dari seorang suami. Jangan nodai pengorbanannya dengan menyalahkan dirimu sendiri."
Air mataku terus mengalir, namun kata-katanya perlahan meresap ke dalam hatiku yang gersang, layaknya air hujan di tanah kemarau.
"Dan soal Rendra..." Mata Bumi menggelap, memancarkan aura predator yang membuatku tanpa sadar menahan napas. "Biarkan dia mencoba. Dia pikir nyawaku mudah diambil karena aku miskin dan tidak punya koneksi. Tapi dia lupa, aku punya alasan untuk hidup yang jauh lebih kuat dari ambisinya. Aku punya ibuku, aku punya Sifa..."
Bumi menelan ludah, ibu jarinya perlahan terangkat, mengusap air mata di pipiku dengan gerakan yang sangat hati-hati.
"...dan sekarang, aku punya kamu, Aruna."
Jantungku seperti melewatkan satu detakannya. Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada merayu. Itu adalah sebuah ikrar. Sebuah deklarasi dari seorang pria yang telah memutuskan untuk menjadikan diriku sebagai bagian dari benteng pertahanannya.
"Kamu... kamu benar-benar tidak takut?" bisikku, suaraku masih serak.
Bumi tersenyum tipis, sebuah senyuman miris yang tulus. "Tentu saja aku takut. Aku manusia biasa, saat aku melihat monitor EKG Sifa menjadi garis lurus, aku nyaris kehilangan akalku. Tapi melihatmu menerobos masuk ke ruang ICU itu, mengancam dokter-dokter itu, membuang semua harga dirimu demi keluargaku... ketakutanku hilang."
Bumi kembali menarikku ke dalam pelukannya, kali ini menyandarkan pipinya di puncak kepalaku. "Kamu tidak berjuang sendirian lagi, Aruna. Kita akan menghancurkan Rendra dan Sarah. Bersama-sama."
Malam itu, di atas karpet berbulu di ruang tengah, aku menangis hingga suaraku habis. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku mengizinkan diriku menjadi lemah. Aku menangisi Adrian, aku menangisi beban perusahaanku, dan aku menangisi keajaiban aneh yang membawa pria dari divisi Back-end ini ke dalam hidupku.
Dan selama aku menangis, Bumi tidak melepaskan pelukannya. Dia membiarkan kaus putihnya basah oleh air mata dan riasanku. Tangannya tidak pernah berhenti mengusap punggungku dengan ritme yang konstan, melantunkan zikir pelan yang entah bagaimana bertindak bagai obat penenang paling ampuh bagi saraf-sarafku.
Tanpa kusadari, kelelahan fisik dan mental yang menumpuk selama berhari-hari akhirnya menarikku ke alam bawah sadar. Aku tertidur di dalam dekapannya.
Cahaya keemasan yang menembus celah gorden vertikal membangunkanku keesokan paginya.
Aku membuka mata perlahan. Kepalaku terasa berat, dan mataku pasti bengkak akibat menangis semalaman. Saat kesadaranku mulai terkumpul, aku menyadari bahwa aku tidak berada di atas karpet.
Aku berbaring di atas sofa ruang keluarga, diselimuti dengan selimut tebal yang hangat. Bantal sofa diletakkan dengan pas di bawah kepalaku.
Aku bangkit duduk, mengusap wajahku. Mataku menyapu ruangan.
Bumi ada di sana. Dia duduk bersila di lantai, bersandar pada meja kaca, menghadap laptopnya. Matanya merah, dan di sebelahnya terdapat tiga cangkir kopi yang sudah kosong. Dia tidak tidur semalaman.
Mendengar pergerakanku, Bumi menoleh. Wajahnya yang kelelahan seketika dihiasi senyum tipis.
"Selamat pagi," sapanya, suaranya parau.
Aku merapatkan selimut ke tubuhku, merasa sedikit malu mengingat betapa histerisnya aku semalam. "Pagi... Kamu tidak tidur, Bumi?"
"Hanya memejamkan mata sebentar sesudah Subuh," jawabnya, memutar tubuhnya menghadapku. "Aku menghabiskan sisa malam untuk melacak jejak digital dari mana rekaman audio itu dikirimkan ke folder rahasia Sarah. Kita butuh lebih dari sekadar rekaman suara untuk menyeret Rendra ke penjara. Suara bisa dimanipulasi dengan AI di pengadilan. Kita butuh bukti transaksi keuangan atau perintah tertulis."
Aku menatapnya dengan rasa kagum yang membuncah. Di saat aku tertidur karena menangis, pria ini begadang semalaman, mencari cara untuk membalaskan dendam suamiku yang sudah tiada.
"Kamu... kamu memindahkan aku ke sofa?" tanyaku pelan, menggigit bibir bawahku.
Bumi berdeham, semburat merah tipis kembali muncul di lehernya, mengingatkanku bahwa di balik kecerdasannya, dia masih pria yang sangat canggung dalam urusan fisik. "I-iya. Karpetnya terlalu dingin. Maaf, aku terpaksa menyentuhmu saat kamu tertidur."
"Terima kasih, Bumi," ucapku tulus, tersenyum kecil. "Dan... terima kasih untuk semalam. Kamu mau mendengarkan tangisanku."
Bumi mengangguk pelan. Dia menutup laptopnya, lalu berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku. "Mandi dan bersiaplah, Aruna. Hari ini kita punya jadwal yang padat. Kita harus ke kantor."
Seketika, realita kembali menghantamku. Kantor. Tempat di mana Sarah, wanita yang menjual nyawa Adrian, menyambutku setiap pagi dengan senyuman palsu.
Rasa mual kembali menyerang perutku. "Aku tidak tahu apakah aku sanggup menatap wajah Sarah hari ini. Aku takut aku akan langsung mencekiknya begitu keluar dari lift."
Bumi berjalan mendekatiku. Dia berdiri di depan sofa, menunduk menatapku dengan ekspresi serius.
"Itulah yang Rendra harapkan. Dia ingin kamu bereaksi secara emosional, membuat kesalahan, dan menghancurkan reputasimu sendiri," ucap Bumi. "Hari ini, kamu harus memakai topeng tertebal yang kamu punya. Berlakulah seperti biasa. Tersenyumlah pada Sarah. Buat dia berpikir kita masih belum tahu apa-apa."
Aku menarik napas panjang, mengangguk. "Kau benar. Maksudku, kamu benar." Aku masih membiasakan diri dengan kata ganti itu.
"Biar aku yang menjadi mata dan telingamu mulai hari ini," tambah Bumi. "Pergilah mandi. Aku akan siapkan sarapan."
Tiga jam kemudian, kami melangkah keluar dari lift di lantai direksi Wiratmadja Tech.
Zirah CEO-ku sudah terpasang sempurna. Stiletto hitam, setelan blazer berwarna navy yang tajam, dan riasan flawless yang menutupi mataku yang sembab. Bumi berjalan di sebelahku, mengenakan setelan jas abu-abu tua yang kubelikan pagi tadi melalui layanan antar-kilat butik langgananku. Dia terlihat luar biasa mahal dan tak tersentuh.
Saat kami berjalan menyusuri lorong, tepat sebelum mencapai meja sekretaris, Bumi melakukan sesuatu yang membuat napasku tertahan.
Dia mengangkat tangannya, lalu menautkan jemarinya di sela-sela jemariku. Dia menggenggam tanganku dengan erat.
Aku menoleh padanya dengan kaget.
"Sandiwara," bisiknya tanpa menoleh padaku, matanya menatap lurus ke depan. "Sarah harus melihat bahwa insiden penculikan kemarin justru membuat kita semakin tak terpisahkan. Buat dia bingung."
Aku menelan ludah, menekan debaran jantungku yang mengkhianatiku, lalu mempererat genggaman tanganku di tangannya.
"Selamat pagi, Bu Aruna. Pagi, Mas Bumi," sapa Sarah ceria saat kami tiba di mejanya. Wajah wanita itu terlihat segar, tidak ada sedikit pun jejak rasa bersalah di sana.
Perutku bergejolak menahan amarah. Namun, merasakan ibu jari Bumi yang mengusap punggung tanganku secara menenangkan, aku berhasil memaksakan sebuah senyuman.
"Pagi, Sarah," jawabku semanis mungkin. "Tolong siapkan laporan audit dari Divisi Operasional ke ruanganku. Suamiku butuh membacanya sebelum makan siang."
"Baik, Bu," Sarah mengangguk, matanya melirik sekilas ke arah tangan kami yang bertaut.
Kami melangkah masuk ke ruang kerjaku yang luas. Begitu pintu tertutup, aku langsung melepaskan tangan Bumi, berjalan ke meja kerjaku, dan menghembuskan napas kasar.
"Itu menjijikkan," desisku, merasa mual karena harus tersenyum pada pembunuh suamiku.
"Kamu melakukannya dengan sangat baik," puji Bumi. Dia berjalan mengelilingi ruanganku, matanya yang awas menyapu setiap sudut langit-langit, detektor asap, dan ventilasi udara, memastikan tidak ada alat penyadap baru yang dipasang.
Setelah memastikan ruangan itu "bersih", Bumi duduk di sofa tamu, membuka tablet-nya.
"Jadwal kita hari ini hanya meninjau data internal. Aku sudah memasang perangkat pelacak malware di sistem perusahaan untuk memantau semua lalu lintas data dari komputer Sarah," lapor Bumi.
Aku duduk di kursi kebesaranku, menatapnya. Sungguh kontras. Baru beberapa minggu lalu, pria ini adalah bawahan yang namanya saja tidak kutahu. Kini, dia adalah pusat dari seluruh pertahananku.
Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama.
Pukul sepuluh tepat, interkom di mejaku berbunyi. Suara Sarah terdengar dari sana.
"Permisi, Bu Aruna. Ada tamu untuk Anda."
"Aku sudah bilang aku tidak menerima tamu hari ini, Sarah," jawabku dingin.
"S-saya sudah memberitahunya, Bu. Tapi beliau memaksa. Beliau mengatakan bahwa sebagai pemegang dua puluh persen saham Wiratmadja Tech, beliau tidak memerlukan janji temu untuk meninjau asetnya."
Darahku membeku seketika.
Sebelum aku sempat membalas ucapan Sarah, pintu kayu jati ruang kerjaku didorong terbuka dari luar.
Seorang pria jangkung melangkah masuk dengan keanggunan seorang bangsawan yang terbiasa memerintah. Setelan jas bespoke abu-abunya dipotong dengan sempurna. Di pergelangan kirinya, jam tangan perak berukir naga memantulkan cahaya lampu ruangan.
Rendra Daniswara berdiri di ambang pintu.
Senyumnya begitu menawan, berbanding terbalik dengan kegelapan yang mengintai di sepasang matanya. Dia menatapku, lalu tatapannya beralih perlahan ke arah Bumi yang sedang duduk di sofa.
"Halo, Aruna Sayang," sapa Rendra, suaranya selembut beludru yang menyembunyikan belati. "Kudengar kau punya Staf Khusus Keamanan Siber yang baru. Kebetulan sekali, aku datang untuk menguji... seberapa amannya keamananmu saat ini."
____________________________________________
Rendra melangkah masuk, menutup pintu ruangan di belakangnya hingga berbunyi 'klik' pelan. Tanpa dipersilakan, dia berjalan mendekati meja kerjaku dan meletakkan sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil tepat di atasku mejaku. "Hadiah pernikahan yang terlambat dariku," ucap Rendra sambil tersenyum menatap Bumi. "Bukalah, Aruna. Aku yakin suamimu yang jenius ini akan sangat mengapresiasi isinya."
Dengan tangan gemetar, aku membuka kotak itu. Nafasku berhenti. Di atas bantalan beludru itu, tergeletak sebuah emblem logo mobil berbahan krom. Itu adalah lambang kemudi mobil milik Adrian yang patah saat kecelakaan tiga tahun lalu. Di bawah emblem itu, terselip secarik kertas dengan tulisan tangan Rendra: "Yang berikutnya adalah rem mobil suamimu."
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘