NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Kafe itu tidak terlalu ramai. Musik pelan mengalun di sudut ruangan. Aroma kopi hangat memenuhi udara. Tempat yang biasanya terasa nyaman namun kali ini, tidak cukup untuk menenangkan sesuatu yang sedang berantakan.

Fania duduk di salah satu meja. Jari-jarinya mengelus sisi gelas tanpa sadar. Tatapannya kosong namun pikirannya penuh, sangat penuh. Setelah dari tempat Ronald dan wanita itu bertemu, Fania memilih tempat ini untuk bertemu dengan kedua sahabatnya.

Di depannya, dua wanita menatapnya dengan ekspresi berbeda. Chaerlina terlihat tenang namun matanya tajam, mengamati dan membaca.

Dan Livia terlihat lebih ekspresif. Alisnya sedikit mengernyit jelas tidak sabar dan jelas menunggu.

“Fan,” ujar Livia akhirnya memecah keheningan.

“Kau tiba-tiba memintaku datang, tapi kau hanya diam. Apa yang sebenarnya terjadi?” Nada suaranya langsung tidak berputar.

Fania menarik napas pelan menatap gelasnya. Beberapa detik seolah mengumpulkan kata. Namun yang muncul justru rasa tidak nyaman.

“Aku ...” ia mulai lalu berhenti dan menggeleng kecil.

Chaerlina menyandarkan tubuhnya ke belakang, tidak ingin memaksa Fania namun juga tidak berniat melepas.

“Tentang hubungan mu dan Ronald, kau ada masalah lagi dengannya?” Tepat sasaran dan langsung.

Fania tidak kaget, ia hanya tersenyum tipis. Namun tidak sampai ke mata.

“Bukan masalah,” jawabnya pelan.

Livia langsung mengangkat alis. “Kalau bukan masalah, kau tak akan seperti ini.”

Fania terdiam, memang benar. Namun tetap ia tidak langsung mengakuinya. Ia menghela napas lebih panjang.

“Kalian tau aku dan Ronald ...” ia berhenti lagi, menelan ludah. “…kami punya kesepakatan.”

Chaerlina langsung fokus. “Kesepakatan saling asing itu?”

Fania akhirnya mengangkat pandangannya. Menatap mereka berdua, kemudian mengangguk pelan. Dan untuk pertama kalinya ia mengatakannya dengan jelas.

“Untuk mengurus urusan masing-masing.”

Hening dalam sekejap, Livia berkedip.

Sekali.

Dua kali.

“Wait maksudnya apa?”

Fania menahan napas lalu mengeluarkannya pelan.

“Kami tetap tinggal bersama, di kamar yang sama dan seranjang,” lanjutnya. “Hanya… tak ikut campur urusan satu sama lain.”

Ia berhenti lalu menambahkan. “Termasuk soal perasaan.” Kalimat terakhir itu jatuh dan terasa berat.

Livia langsung bersandar ke depan. “kau serius?” Nada suaranya naik jelas tidak setuju.

Fania mengangguk kecil. “Iya.”

Chaerlina tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap Fania lebih dalam. Seolah tidak tertarik pada kesepakatannya tapi pada alasan di baliknya.

“Kenapa?” tanyanya pelan dengan sederhana. Namun tepat sasaran.

Fania menelan ludahnya, matanya sedikit menghindar. Namun ia tetap menjawab.

“Karena aku sudah tak mencintai dia.” Kalimat itu keluar dengan lugas. Tanpa hiasan dan untuk beberapa detik ruangan terasa sunyi.

Livia menghela napas panjang, terlihat frustrasi. “Fan, kau yakin?”

Fania mengangguk lagi dengan lebih cepat. Seolah ingin segera menutup kemungkinan lain. “Iya.”

Chaerlina masih diam masih menatap. “Sejak kapan?” tanyanya.

Fania berpikir sejenak.

“Atau mungkin bukan ‘sejak kapan’,” lanjut Chaerlina pelan. “Tapi apa kau sadar atau kau yang memutuskan?”

Pertanyaan itu terasa mengganggu karena terlalu dalam. Fania mengerucutkan bibirnya.

“Bedanya apa?”

Chaerlina tidak tersenyum. “Kalau sadar, itu perasaan.” Ia berhenti. “Kalau memutuskan, itu pilihan.”

Fania terdiam beberapa detik. Pertanyaan itu tidak sederhana. Dan ia tahu itu namun ia tetap memilih jawaban yang aman.

“Aku memang tak lagi merasakan perasaan apapun padanya." Jawabnya dengan cepat. Namun tidak sekuat yang ia inginkan.

Livia langsung menyela. “Kalau kau sudah tak merasakan apapun, mengapa kau terlihat seperti kehilangan?” Langsung tanpa filter.

Fania menoleh cepat. “Aku tak merasa kehilangan apapun.” Defensif.

Livia menatapnya. “Kau yakin?”

Hening mengiringi mereka. Fania tidak langsung jawab. Karena ia tidak benar-benar yakin. Namun tetap ia tidak mau mengakuinya.

“Itu hanya kebiasaan.” Ia akhirnya berkata, mencoba mencari alasan.

“Kami sudah lama bersama. Wajar kalau terasa sedikit aneh.”

Chaerlina mengangguk kecil namun tidak sepenuhnya setuju.

“Lalu mengapa kau menceritakan ini sekarang?” Pertanyaan baru yang terasa lebih tajam.

Fania menarik napas. Dan di sinilah retakan itu mulai terlihat.

“Dia…” ia berhenti, menelan ludah. “…sedang dekat dengan seseorang.”

Livia langsung bereaksi. “Siapa?”

Fania menatap meja. “Sepupunya.” Jawaban itu keluar pelan namun cukup jelas.

Livia langsung mengerutkan dahi. “Sepupu?” Nada suaranya penuh curiga. “Yang kemarin kau lihat di restoran?”

Fania mengangguk kecil. Dan Chaerlina memperhatikan perubahan ekspresi Fania dengan detail.

“Dan itu mengganggu mu?” Pertanyaan itu datang lagi. Lebih halus namun tetap tepat.

Fania langsung menggeleng dengan cepat.

“Tidak.” Refleks, namun terlalu cepat.

Livia mendesah. “Fan, stop.” Nada suaranya serius sekarang. “Kau sejak tadi mengatakan tak peduli, tak merasakan apa-apa tapi ceritamu hanya memutar di sana saja.” Pertanyaan itu terdengar menusuk.

Fania terdiam, matanya sedikit mengeras. “Aku hanya ingin bercerita,” ujarnya lebih dingin. “Bukan berarti aku peduli.”

Chaerlina menyandarkan punggungnya. Namun tatapannya tetap tajam.

"Kau yakin ini hanya tentang dia dekat dengan seseorang?”

Fania tidak menjawab karena ia tahu itu bukan inti sebenarnya. Namun ia juga tidak mau membuka lebih jauh.

“Kesepakatan itu ide siapa?” tanya Chaerlina lagi.

Fania menjawab cepat. “Aku.”

“Kenapa?”

Hening, lebih lama kali ini. Karena pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan alasan sederhana. Namun pada akhirnya Fania mencoba menjawabnya.

“Karena aku lelah.” Pelan dan jujur.

Untuk pertama kalinya Livia melunak sedikit. “Lelah karena apa?”

Fania mengangkat pandangannya, matanya tidak sepenuhnya stabil.

“Lelah karena selalu terkekang.” Sunyi. Kalimat itu jatuh dan kali ini benar-benar terasa. “Aku lelah karena merasa tak bebas” lanjutnya. “Lelah karena tak memiliki kebebasan sendiri, aku lelah dengan semua itu.”

Chaerlina tidak menyela. Ia membiarkan Fania lanjut.

“Jadi sekarang,” Fania menarik napas. “Aku ingin menghentikan semua itu.” Sederhana namun tidak sesederhana itu.

Livia menatapnya lebih lembut sekarang. “Lalu sekarang?”

Fania tersenyum kecil, terasa kosong.

“Sekarang begitulah, sesuai kesepakatan.” Ia mengangkat bahu. “Aku bebas.” Ia berhenti.

Lalu menambahkan lebih pelan. “…dan dia juga.”

Hening lagi, namun kali ini terasa berat.

Chaerlina akhirnya bicara dengan pelan namun jelas.

“Fan.” Fania menatapnya. “Kau mengatakan ingin kebebasan makanya ada kesepakatan itu,” lanjut Chaerlina. “Tapi cara kau bercerita sekarang… tidak terlihat seperti itu.”

Fania membeku sedikit, namun cukup terlihat

Livia mengangguk pelan. “Lebih seperti seseorang yang sebenarnya cinta, namun menolak mengakui.”

Dan itu mengena tepat. Fania menelan ludahnya, dadanya terasa sesak lagi. Namun kali ini bukan karena Ronald. Melainkan karena ia mulai melihat dirinya sendiri. Lebih jelas dari yang ia inginkan.

“Aku tak mencintainya,” ucapnya lagi dengan pelan. Seolah ingin menutup semuanya. Namun kali ini, bahkan suaranya sendiri tidak lagi terdengar meyakinkan.

Dan kalimat itu hanya mampu membuat Chaerlina dan Livia terkekeh sumbang. Fania menutup dan mengelak semuanya dengan rapi.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!