NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Carisa duduk sendiri di kursi mini bar setelah keluar dari dapur, membawa gelas di tangannya. Ia memilih duduk agak menjauh, meski tidak benar-benar terpisah dari kerumunan keluarga Yuda yang sedang berkumpul.

Ruangan itu ramai. Tawa bersahutan, obrolan mengalir tanpa jeda, seperti mereka sudah terbiasa berada dalam lingkaran yang sama sejak lama.

Carisa hanya ikut tersenyum sekilas.

Saat salah satu sepupu Yuda memberi isyarat agar ia bergabung, ia membalas dengan senyum kecil dan anggukan pelan. Penolakan yang cukup halus, tanpa membuat siapa pun merasa tidak enak.

Ia memang tidak terlalu nyaman dengan suasana seperti ini. Terlalu banyak orang, terlalu banyak percakapan yang harus dimulai dari nol.

Beberapa menit berlalu. Dari arah dapur, Nanda muncul.

Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara, seperti tidak ingin menarik perhatian. Ia sempat melihat ke arah Carisa, hanya sebentar lalu langsung mengalihkan pandangan dan berjalan ke sofa di seberang.

Ia duduk, ikut dalam obrolan sepupu-sepupunya. Dari luar terlihat biasa saja, seolah benar-benar mendengarkan. Tapi tidak sepenuhnya. Matanya beberapa kali kembali ke arah yang sama.

Dan Carisa menyadarinya. Bahkan tanpa benar-benar menoleh, ia bisa merasakan sorot itu. Terlalu jelas untuk diabaikan, terlalu sering untuk dianggap kebetulan.

Baru saja ia hendak bangkit, Humaira datang menghampiri.

"Boleh aku duduk," katanya, suaranya terdengar lembut di telinga Carisa

Carisa tersenyum dan mengangguk.

"Aku panggil kamu apa?mbak atau nama?" tanyanya

"Nama saja, sepertinya kita seumuran," jawab Carisa

"Baiklah, kalau gitu, Carisa. Ini pertama kalinya kita bertemu, ya?"

"Iya," jawab Carisa singkat

"Tapi aku merasa wajahmu tidak asing," ujar Humaira.

"Maksudmu, wajah ku pasaran?" tanya Carisa dengan alis terangkat.

"Bukan itu maksudku," Humaira tertawa kecil, "aku merasa pernah melihatmu, tapi entah dimana." jelasnya

"Tapi aku merasa tidak pernah mengikuti tausiah atau pengajian dimana pun," balas carisa datar, "kamu juga pasti tidak pernah ke club malam atau bar. Jadi ini pertemuan pertama kita." kata Carisa datar, nyaris tanpa ekspresi.

Humaira diam mendengar itu. Bukan tersinggung, tapi seperti sedang memahami. Dari caranya menatap, terlihat ia menyadari satu hal, perempuan di depannya bukan tipe yang mudah didekati dengan basa-basi ringan.

Suasana sempat menggantung. Carisa menaruh gelasnya pelan di meja kecil. Ia sedikit memalingkan wajah, berusaha menghindari arah tertentu, tatapan yang sejak tadi terasa terus kembali ke arahnya.

Apalagi sekarang, saat istrinya duduk tidak jauh dari sana.

"Kalau begitu... senang bisa berkenalan langsung denganmu, semoga ke depannya kita bisa akrab." ujar Humaira, lalu berdiri dan pamit meninggalkan Carisa setelah Carisa menjawab dengan anggukan kecil.

Begitu Humaira pergi, Carisa menarik napas panjang. Barulah ia merasa sedikit lega.

Malam datang perlahan.

Satu per satu orang masuk ke kamar masing-masing. Suasana yang tadi penuh suara kini berubah tenang. Hanya angin dari luar yang sesekali terdengar, menyelinap lewat celah jendela.

Carisa dan Yuda juga sudah berada di kamar.

Carisa duduk bersandar di kepala ranjang. Rambutnya terurai, pandangannya kosong ke arah dinding. Tubuhnya diam, tapi pikirannya tidak.

Lelah itu ada, tapi bukan di badan.

Yuda keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia melirik Carisa, memperhatikan posisinya yang tidak berubah sejak tadi.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Yuda datar.

Carisa menoleh sedikit, lalu mengangguk kecil.

Yuda tidak langsung merespons. Ia meletakkan handuk, lalu duduk di tepi tempat tidur, di sisi yang biasa ia tempati.

"Kalau kamu merasa tidak nyaman berada disini, kita bisa pulang sekarang." ucapnya masih dalam suara yang sama, datar, seperti membaca sebuah instruksi.

Carisa menggeleng pelan, "Tidak apa-apa, aku hanya sedikit capek."

Hening sebentar.

"Kamu kenal suaminya Humaira?" tanya Yuda akhirnya,

Carisa terdiam. Tubuhnya sempat menegang, meski hanya sesaat. Ia tidak langsung menjawab.

"Aku merasa dia terus mencuri pandang ke arahmu." Yuda melanjutkan, suara nya tetap datar, seolah sedang mengamati cuaca bukan perasaan.

Carisa ingin sekali berkata 'Ya'.

Tapi yang keluar dari bibirnya, "Tidak."

Yuda mengangguk kecil, seperti memindai jawaban itu dalam diam.

"Dia setahuku, selalu menundukan pandangannya kepada lawan jenis. Tapi entah kenapa, dia terus menatapmu diam-diam?"

"Tanyakanlah padanya, jangan tanya aku. Kamu salah orang." jawab Carisa, ia menarik selimutnya lalu berbaring, meskipun ia belum ngantuk sama sekali, "Aku tidur dulu, besok pasti lebih lelah dari hari ini."

Ia memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, ia bisa mendengar napas Yuda yang mulai teratur di belakangnya.

Baru saat itu, ia membuka mata lagi. Pelan-pelan, ia bangkit dan keluar kamar.

Di kamar lainnya.

Humaira baru saja menidurkan anaknya. Ia kemudian menghampiri suaminya yang sedang merapikan pakaian dari koper.

"Mas, kamu tahu gak?" tanya Humaira dengan nada bicaranya selalu ceria depan suaminya

"Kalau kamu tidak mengatakannya mana mas tahu," jawab Reynanda.

"Istrinya Mas Yuda...."

Reynanda langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar nya.

"Orang nya, sepertinya sulit untuk di dekati," lanjut Humaira, "padahal, aku ingin lebih dekat dan akrab dengannya."

Reynanda menoleh ke arah istrinya, yang kini sudah tanpa kerudung dan mengenakan pakaian tidurnya.

"Mungkin dia memang orang nya tertutup, sulit akrab dengan orang baru... dia juga orangnya tidak suka basa-basi, tapi bukan berarti dia sombong. Kalau sudah kenal dekat dengannya, dia orangnya baik."

Humaira terdiam sejenak, memperhatikan.

"Mas kenal dia?" tanya nya.

Reynanda sedikit terkejut, lalu menyadari ucapannya barusan.

"Kenapa bertanya seperti itu?"

"Mas menjelaskan seolah kenal dekat dengannya,"

"Mas kan tadi di awal, bilang mungkin," kilah Reynanda buru-buru, "Di simak kalo mas bicara." Reynanda mencubit pipi Humaira.

Humaira tertawa kecil, tidak memperpanjang.

"Tidur yuk! hari ini badan capek sekali."

"Tidurlah lebih dulu! Mas mau ngambil tasbih dulu, sepertinya tertinggal di mobil."

Reynanda mencium kening Humaira, lalu keluar kamar. Padahal tasbih itu sudah ada di saku celananya. Ia hanya butuh alasan. Ia hanya ingin menghirup udara segar.

Ia berjalan keluar dari kamar, menyusuri balkon villa, dan langkahnya terhenti saat melihat sosok Carisa yang sedang berdiri menatap langit malam yang gelap. Angin pelan menyentuh wajahnya, menerbangkan helaian rambutnya.

Carisa tidak mendengar saat langkah kaki Reynanda mendekat ke arahnya. Tapi ia tahu. Dari aroma yang sudah terlalu ia kenal. Wangi parfum Reynanda yang tak pernah berubah, membuat Carisa tahu langkah siapa yang mendekatinya.

"Kamu juga gak bisa tidur?" Tanya Carisa tanpa menoleh.

Reynanda berdiri di sebelah Carisa, namun tetap menjaga jarak. "Kamu mengacaukan pikiranku." jawabnya.

Carisa tersenyum sinis, tanpa menjawab.

Di antara mereka, jarak yang dulu sempat ada seolah hilang begitu saja. Seakan waktu tidak pernah benar-benar memisahkan.

"Besok jangan terus mencuri pandang ke arah ku, Yuda bisa curiga. Dia pria yang peka."

"Kamu tidak memberitahunya kalau aku mantanmu?"

"Dan aku yakin, kamu pun tidak memberitahu istrimu kalau aku wanita yang kamu tinggalkan demi menikahinya." jawab Carisa tajam.

Hening kembali turun di antara mereka.

Tidak ada jawaban, tapi tidak juga diperlukan. Keduanya sudah tahu.

"Apa yang membuatmu memutuskan menikah dengannya?" tanya Reynanda memecah keheningan.

"Dia pria yang di pilihkan Ibuku," jawab Carisa datar

"Hanya itu?"

"Dia pria yang sempurna.. mapan, wajah nya tampan, tubuhnya seksi. Kamu pasti bisa melihatnya sendiri, seperti apa penampilan Yuda."

"Itu tidak menjawab pertanyaanku," potong Reynanda, berusaha terdengar santai tapi nada suaranya merendah dan penuh tekanan. "Jadi, bukan karena saling mencintai?" lanjutnya.

"Cinta bisa tumbuh setelah menikah." balas Carisa. "Benar, kan?"

Reynanda terdiam lama. Membuat Carisa menoleh ke arahnya.

"Kamu terlalu lama menjawab." ujar Carisa acuh.

"Aku menciptakan kebahagian ku sendiri. Dengan membangun keluarga kecil yang harmonis." jawab Reynanda akhirnya.

"Itu tidak menjawab pertanyaanku," balas Carisa. "Kamu sudah menemukan cinta dalam pernikahanmu?"

"Cinta sejati hanya tumbuh satu kali." ucap Reynanda pelan.

Carisa tersenyum getir. "Kamu seolah bilang kalau cinta sejatimu adalah aku? Tapi sayang sekali kita sudah selesai."

Reynanda menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar.

"Aku tidak yakin kita akan berhenti sampai disini setelah kita bertemu lagi," kata Nanda. "Itulah sebabnya, aku tidak pernah mencarimu atau menghubungimu. Karena setelah melihatmu lagi, aku seolah tak ingin melepasmu."

Carisa diam. Ia lalu berbalik, ia tidak mau melanjutkan obrolan yang menurutnya sudah tak ada gunanya lagi.

"Kita sudah terlalu lama mengobrol, aku harus kembali."

Carisa melangkah masuk, meninggalkan Reynanda di balkon.

Saat tangannya membuka pintu, terdengar suara kecil dari dalam. Seperti sebuah benda yang jatuh. Atau bergeser cepat. Carisa berhenti sejenak. Menatap ke dalam ruangan yang redup, tapi ada apa pun.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!