"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan
“Apa itu terlalu sedikit?” tanya Arlan dingin. “Atau mau dua setengah tahun?”
Arlan seperti mempermainkan Mika. Tatapannya begitu seram. Melihat Mika bagai kelinci kecil tak berdaya.
“Haa ... apa?” Mika terkejut. “Nggak-nggak ... satu tahun aja.”
Arlan menyelipkan tangannya disaku celana. Perlahan mendekati ranjang Mika. Lalu, ia mendekatkan wajahnya tepat di wajah Mika. Mengelus pipinya dengan perlahan. Saat tepat berada dileher Mika, tangan kasar dan besar Arlan mencengkram leher mungil itu.
“Ah–” Mika sedikit meringis kesakitan.
“Cepat tanda tangan!” bisiknya.
Mika meneguk liurnya. Keringat terlihat menetes dari pelipisnya. Tangan Mika pun gemetar.
“Perasaan apa ini? Apa aku benar-benar jadi kelinci percobaannya?” batin Mika.
Mika langsung menandatangani surat itu. Saat selesai, Arlan menyeringai tipis di ujung bibirnya. Seperti seorang yang puas memperdaya anak kecil.
“Sampai jumpa besok!” ujar Arlan, lalu pergi.
Ketika Arlan telah menghilang dari pandangannya. Mika ngamuk sejadi-jadinya, seperti orang yang kerasukan.
“Ih ... benci! Dasar cowok brengsek!” Muka Mika lesu, sedih, kesal bercampur jadi satu.
Ia tak menyangka hidupnya berubah 180 derajat. Tidak seperti buku novel yang sering ia baca. Bahwa seorang wanita yang diperlakukan kejam oleh keluarganya akan mendapatkan lelaki penolong dan memberikan kehidupan layak.
Namun, banding terbalik dengannya. Sejak awal kelayakan itu semakin jauh dari matanya. “Termakan sama cerita novel. Dikehidupan nyata nggak seindah dalam buku!” keluhnya.
“Laki-laki berkuda putih seperti didongeng pun nyatanya bermobil mewah yang nggak punya perasaan!” Mika kembali mengeluh.
Mika menggeram keras. Hembusan napas berat penuh cobaan, juga begitu sulit ia rasakan. Lalu, ia membaringkan tubuhnya sambil melihat langit kamar. Setelah itu ia terlelap.
Keesokan harinya, di pagi buta, Arlan telah datang. Mata Mika yang masih setengah terbuka pun terkejut.
“Aaa ... kamu ngapain ke sini?” tanya Mika sedikit konyol.
“Hari ini kamu pulang, bodoh!” tegas Arlan.
Mika langsung mengambil ponselnya. Waktu menunjukkan pukul setengah enam. “Apa harus sekarang?” tanya Mika manja. “Nggak bisa jam delapan atau sepuluh, begitu?”
Tanpa menjawab Arlan memberinya sebuah kantung coklat berisikan pakaian. “Jangan banyak nego, pakai ini!”
“Pakaian lagi?” Mika bertanya sedikit heran. “Pakaian beberapa hari yang lalu aja belum aku pakai, kenapa udah beli baru?”
Tok!
Arlan menggetok jidatnya. “Bisa nggak kamu nggak banyak tanya! Semua pertanyaanmu nggak wajib aku jawab. Sekarang, cepat lepas bajumu dan ganti ini. Atau mau aku sekalian bukakan?!” kata Arlan yang gemas.
Spontan Mika langsung menutup tubuhnya dengan selimut. “Eh, kurang ajar. Iya-iya aku ganti sekarang!” Mika mendengus kesal. “Keluar aku mau ganti baju!” usir Mika.
Duk! Duk!
Arlan melangkah keluar. Beberapa menit kemudian, Mika telah bersiap untuk pulang. Mika terlihat sangat cantik mengenakan dress hitam. Arlan pun sampai tak berkedip di balik kacamata hitamnya.
Arlan sedikit menyesuaikan letak kacamatanya, menyembunyikan pupil matanya yang melebar melihat bagaimana dress hitam itu membalut tubuh ramping Mika dengan sempurna.
“Apa, gaun dress ini cocok sama aku?” tanyanya dengan nada tak percaya diri.
Belum sempat Arlan menjawab, seorang Suster datang. Suster itu langsung memuji penampilan Mika yang berbeda.
“Astaga, Nona cantik sekali!”
“Ah, biasa aja, Sus,” balas Mika tersipu malu.
Dokter yang juga ikut masuk pun memuji kecantikan Mika. Pipinya memerah bagai tomat.
“Tuan, apa baju mewah itu Anda yang belikan?” tanya Dokter berbisik.
“Kalau bukan aku siapa lagi. Memang ada yang bisa beli baju seharga gajimu selama dua puluh tahun?!” jawab Arlan tegas.
Dokter hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepala. Namun, Mika tidak mengetahui bahwa pakaian yang ia kenakan berharga fantastis.
“Nona kamu cocok pakai baju begini. Wajah cantik, tubuh bagus, bahkan ramah dan baik hati. Wah, aku iri!” kata Suster, layaknya seperti teman.
Senyum merekah di bibir Mika. Tetapi jawaban Mika membuat Arlan mengeraskan dagunya.
“Ah, baju ini biasa aja, kok. Palingan harganya sekitar dua ratus ribu. Lagian, aku pernah beli yang hampir mirip dengan ini di pasar dekat kota sana.”
Deg!
Dokter yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak. Lalu, terhenti saat Arlan meliriknya.
“Nona nggak mungkin Tuan Arlan memberimu baju seharga dua ratus ribu!” sahut Suster pelan, dan ada tawa yang tersilap di antaranya.
“Eh, jangan pikir dia baik sama aku,” bisik Mika yang masih bisa didengar Arlan.
“Suaramu itu nyaring kayak toak, buat apa bisik-bisik!” sindirnya.
Spontan Mika langsung menutup mulutnya. Raut wajahnya seperti kucing yang ketahuan curi ikan.
“Udah periksa dia sekarang!” Perintah Arlan pada sang Dokter.
“Oh, ya, siap Tuan!”
Dokter pun memeriksa Mika. Memerintahkannya untuk tetap melakukan rawat jalan. Beberapa obat juga telah diberikan. Memberikan arahan untuk tetap dalam kegiatan yang normal, tapi tidak menguras tenaga.
Tak beberapa lama mereka pun pergi. Mika menaiki mobil mewah milik Arlan. Sebelum Arlan menyusul, Dokter membisikinya sesuatu. “Tuan, apa Mika tinggal di apartemenmu?”
“Iya, emang kenapa?!”
“Oh, nggak apa-apa. Tuan, aku cuma kasih tau, ya. Mika itu anak yang lucu dan baik, bisa nggak Anda bersikap sedikit lebih baik padanya,” kata Dokter.
Lirikan Arlan langsung mematikan. Tapi dokter tak menghentikan ucapannya. “Biasanya kalau kayak cerita romansa gitu, laki-laki yang keras kepala dan dingin kayak Tuan, pasti akan jatuh cinta sama wanita seperti Mika.”
Arlan langsung menarik jas putih si Dokter. “Heh, sepertinya akhir-akhir ini kamu kelihatan berani sama aku?”
“Bu–bukan begitu, Tuan. Hanya aja yang kubaca begitu!” jawabnya, tapi masih sedikit tersenyum ngeledek.
Pegangan Arlan semakin erat. “Kuingatkan sekali lagi, aku nggak mungkin suka sama anak kecil!”
“Ya, kebanyakan Bos besar seperti Anda akan jawab begitu, Tuan. Tapi—”
“Diam! Aku akan buktikan, Anak kecil itu nggak akan mungkin buat aku suka!” Potong Arlan.
“Kalau iya, bagaimana?” balas Dokter seperti menantang.
Arlan terdiam sejenak. Pikirannya berputar tak nyaman. Sesekali ia melirik ke arah mobil. “Kalau ucapanmu benar, aku pastikan kamu naik jabatan di rumah sakit!”
Dokter langsung melongo tak percaya. “Se—serius?!”
“Iya.” Arlan terdengar kikuk. “Tapi, kalau aku yang benar, kamu harus bayar aku. Nggak usah banyak, cukup lima puluh juta!” Arlan langsung melepaskan genggamannya dan naik mobil.
Dokter yang mendengar nilai taruhan itu, protes. Namun, ketidaksetujuannya tidak terdengar oleh Arlan yang sudah melaju. Dokter itu berteriak sekencang mungkin. Tapi hanya membuatnya lelah dan haus.
Sementara Mika, hanya diam di dalam mobil. Sesekali ia melirik ke arah Arlan. Tetapi untuk mengucapkan sesuatu tetap tidak bisa ia lakukan.
“Apa setelah ini aku dapat masalah lagi?” batinnya.
Tetapi Arlan seperti menyadari ketidaknyamanan Mika. Ia melirik ke arahnya. Memikirkan ucapan dokter tersebut. "Apa yang buat aku suka sama dia? Badan kurus, wajah—” Arlan terdiam sejenak. “lumayanlah.” Lanjutnya membatin.
“Argh!” Spontan Arlan langsung menarik Mika. posisinya sangat dekat. Berjarak sekitar lima sentimeter.
“Ada apa?” Aroma maskulin Arlan yang bercampur parfum mahal langsung menyerbu indra penciuman Mika, membuatnya semakin sulit bernapas.