NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Jangan lupa Follow Instagram Author

@arvn_63

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Runtuhnya Bintang Emas dan Dua Bayangan di Ujung Portal

​Alun-Alun Keadilan tidak lagi pantas menyandang namanya hari ini. Tempat yang seminggu lalu dipenuhi oleh tiga ratus wajah penuh ambisi dan kebanggaan itu, kini telah berubah menjadi lautan keputusasaan.

​Pusaran gerbang teleportasi yang mengambang di tengah alun-alun tidak lagi berwarna abu-abu tenang, melainkan bergejolak liar dengan semburat merah darah. Tiga Tetua Sekte, termasuk Tetua Yun, duduk bersila mengelilingi gerbang tersebut. Wajah mereka pucat pasi, keringat sebesar biji jagung mengucur deras membasahi jubah kebesaran mereka. Tangan mereka terus memompa Qi murni ke dalam pilar formasi, mati-matian menjaga agar portal antar-ruang itu tidak runtuh sebelum waktunya.

​"Pertahankan formasinya! Energi Yin dari dalam hutan terus menabrak batas dimensi!" raung Tetua Yun, janggut putihnya bergetar hebat.

​Dari dalam pusaran yang bergejolak itu, sosok-sosok manusia terus terlempar keluar layaknya sampah yang dimuntahkan oleh badai.

​Mereka adalah para elit Pelataran Luar. Namun kini, tidak ada lagi keangkuhan sutra di tubuh mereka. Ada yang merangkak keluar dengan lengan terputus, ada yang menangis histeris mencengkeram tanah pualam, dan ada yang sekadar berbaring menatap langit dengan mata kosong, akal sehatnya telah dirampas oleh Iblis Ilusi.

​Bau anyir darah, keringat dingin, dan kengerian merendam seluruh alun-alun. Dari tiga ratus peserta yang masuk, kurang dari seratus yang berhasil merangkak kembali. Sisanya telah menjadi pupuk bagi tanah obsidian Hutan Cermin Hitam.

​Di pinggir alun-alun, Lin Hai berdiri dengan napas tersengal-sengal. Ia beruntung bisa lari saat Gelombang Binatang Buas pertama kali pecah, diselamatkan oleh jimat teleportasi jarak dekat miliknya. Namun, matanya yang panik terus menyapu setiap wajah yang dimuntahkan oleh portal.

​Di sebelahnya, Tetua Zhao—Tetua Pengawas yang memihak keluarga Lin—berdiri dengan wajah tegang. Tangannya mengepal erat di balik lengan jubah.

​"Di mana Lin Feng?" geram Tetua Zhao, suaranya mengandung Qi yang membuat murid-murid di sekitarnya merinding. "Gerbang ini tidak akan bertahan lebih dari sebatang dupa lagi. Mengapa dia belum keluar?!"

​Lin Hai menelan ludah, seluruh tubuhnya gemetar. "T-Tuan Muda Lin bersama tiga pengawal elit Lapisan Ketujuh... Seharusnya tidak ada monster tingkat menengah yang bisa menyentuh mereka, Tetua. Mungkin mereka hanya terhambat oleh badai kabut merah..."

​Tetua Zhao mengertakkan gigi. Firasat buruk mulai merayap naik dari perutnya. Lin Feng adalah investasi terbesar keluarga Lin cabang ini. Jika ia mati, murka Kepala Keluarga Lin di Pelataran Dalam akan menyapu mereka semua.

​"K-Kalian lihat!" teriak salah seorang diakon yang berjaga di dekat formasi. "Portalnya mulai retak!"

​Bunyi retakan kaca yang memekakkan telinga bergema di udara. Garis-garis hitam mulai merambat di permukaan pusaran merah tersebut. Ruang dimensi di ambang kehancuran.

​Tetua Yun membuka matanya yang dipenuhi urat merah. "Tarik energi kalian! Jika kita tidak menutupnya sekarang, badai ruang akan menyedot kita semua!"

​"Tunggu! Lin Feng belum keluar!" Tetua Zhao maju selangkah, niat membunuhnya meledak. "Pertahankan formasinya satu tarikan napas lagi!"

​Namun, sebelum Tetua Zhao sempat memaksakan kehendaknya, pusaran itu bergetar untuk yang terakhir kalinya. Bukan untuk runtuh, melainkan untuk memuntahkan dua sosok terakhir yang melangkah keluar dari balik tirai darah.

​Waktu di alun-alun seolah terhenti.

​Berbeda dengan puluhan elit sebelumnya yang keluar dengan cara merangkak, berguling, atau menjerit histeris, dua sosok ini berjalan keluar dari portal dengan ritme langkah yang teratur, tenang, dan absolut.

​Di sebelah kiri, pemuda berjubah linen putih yang ujungnya compang-camping. Pedang besi kusam tersampir di punggungnya. Sepasang matanya setenang dan sedingin es abadi, seolah neraka di belakangnya hanyalah pemandangan taman bunga yang sedikit layu. Ye Chuan, Sang Pedang Sunyi.

​Di sebelah kanan, berjalan sejajar tanpa tertinggal satu inci pun, adalah pemuda berjubah sutra yang kini telah berubah warna menjadi abu-abu kotor. Topi bambunya sedikit miring. Lengan kanannya masih menampakkan bekas luka jaring laba-laba. Matanya yang gelap sedalam jurang tidak memancarkan emosi apa pun. Shen Yuan, Sang Pelayan.

​Keduanya melangkah turun dari altar formasi tepat ketika pusaran gerbang di belakang mereka meledak menjadi serpihan cahaya dan menghilang ke dalam udara kosong. Gerbang ditutup selamanya.

​Keheningan menyelimuti Alun-Alun Keadilan. Para murid yang terluka bahkan lupa untuk merintih saat melihat aura yang dipancarkan oleh dua pemuda tersebut. Mereka tidak memancarkan Qi yang meledak-ledak, namun ada lapisan tebal niat membunuh purba dan bau darah monster tingkat tinggi yang melekat pada pori-pori kulit mereka. Itu adalah bau predator yang baru saja turun dari takhta pembantaian.

​"Tidak mungkin..." lutut Lin Hai tiba-tiba lemas. Ia jatuh terduduk di atas lantai pualam. Matanya menatap kosong ke arah gerbang yang telah lenyap.

​Lin Feng tidak ada. Tiga pengawalnya tidak ada. Gerbang telah tertutup. Hukum alam dunia kultivasi memberikan jawaban yang paling kejam: mereka yang tidak keluar dari portal, telah mati.

​"TIDAAAK!" Raungan Tetua Zhao meledak layaknya guntur di siang bolong.

​Bumi bergetar hebat. Udara di alun-alun seolah disedot habis. Tetua Zhao, dengan mata memerah karena amarah dan keputusasaan, melesat maju. Fluktuasi Qi ranah Pembentukan Inti miliknya dilepaskan sepenuhnya, menekan Shen Yuan dan Ye Chuan seperti palu godam raksasa.

​"Pelayan keparat!" Tetua Zhao menudingkan jarinya tepat ke wajah Shen Yuan. "Di mana Lin Feng?! Apa yang kau lakukan padanya di dalam sana?! Jawab, atau aku akan mencabut jiwamu sekarang juga!"

​Menghadapi tekanan yang bisa meremukkan tulang manusia biasa itu, Ye Chuan hanya mendengus dingin. Ia tidak bergeser selangkah pun, tangannya bertumpu santai di gagang pedangnya.

​Sementara itu, Shen Yuan menundukkan kepalanya sedikit, merendahkan posturnya layaknya murid yang sedang menahan rasa sakit akibat tekanan seorang Tetua. Logikanya yang dingin mengambil alih. Sandiwara babak terakhir dimulai.

​"Menjawab Tetua Zhao," suara Shen Yuan terdengar serak dan lelah, namun cukup keras untuk bergema di seluruh alun-alun. "Saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan. Saya bahkan tidak pernah melihat Tuan Muda Lin Feng sejak kami melewati gerbang teleportasi tujuh hari yang lalu."

​"Bohong! Kau pasti menggunakan trik kotor untuk menjebaknya!" raung Tetua Zhao, urat di lehernya menonjol keluar. Ia kehilangan akal sehatnya. Ia maju selangkah lagi, mengangkat tangannya yang diselimuti api Qi pembakar.

​Shen Yuan perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Tetua Zhao yang penuh amarah.

​"Tetua Zhao yang terhormat," ucap Shen Yuan perlahan, nada suaranya berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. "Langit berubah merah. Segel hutan runtuh. Ribuan binatang buas bermutasi berlari mengamuk seperti air bah, menginjak siapa pun yang menghalangi jalan mereka. Monster Setengah Langkah Pembentukan Inti terbangun di Jantung Cermin."

​Kalimat Shen Yuan membuat seluruh murid yang selamat bergidik ngeri, ingatan akan neraka itu kembali terngiang.

​Shen Yuan merentangkan kedua tangannya. "Di tengah kiamat seperti itu... Anda bertanya kepada seorang kultivator Lapisan Ketujuh, apakah ia sengaja meluangkan waktu untuk mencari dan menjebak seorang jenius yang dikawal oleh tiga elit? Apakah Anda menganggap saya ini dewa, atau Anda sedang menghina kecerdasan Anda sendiri?"

​Bagaikan seember air es yang disiramkan ke wajah, kata-kata Shen Yuan membungkam Tetua Zhao. Ribuan pasang mata kini menatap Tetua Zhao dengan tatapan aneh. Logika Shen Yuan tidak tertembus. Dalam bencana skala alam seperti itu, semua orang sibuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Menuduh seorang murid biasa membunuh Lin Feng yang dikawal ketat di tengah Gelombang Binatang Buas adalah tuduhan yang menggelikan.

​"Cukup, Zhao!"

​Suara berat dan berwibawa memotong dari arah altar. Tetua Yun melangkah maju, wajah rentanya memancarkan otoritas mutlak. Ia menepis aura menekan milik Tetua Zhao dengan satu ayunan lengan baju.

​"Jangan mempermalukan seragam Tetuamu di depan para murid yang baru saja lolos dari maut," tegur Tetua Yun tajam. "Kematian Lin Feng adalah tragedi bagi sekte, tapi menyalahkan murid yang selamat adalah tindakan pengecut. Hutan itu lepas kendali. Segelnya menua dan hancur dari dalam. Salahkan waktu, salahkan nasib, tapi jangan sentuh sehelai rambut pun dari mereka yang telah berjuang keluar dengan darah mereka sendiri!"

​Tetua Zhao menggigit bibirnya hingga berdarah. Tangannya gemetar menahan amarah yang tidak bisa dilampiaskan. Ia memutar tubuhnya dengan kasar, mengibaskan jubahnya, dan melesat pergi meninggalkan alun-alun tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lin Hai yang ketakutan buru-buru merangkak dan berlari menyusulnya, tak berani menatap ke arah Shen Yuan.

​Krisis politik pertama berhasil dipadamkan dengan logika sempurna. Shen Yuan tersenyum tipis di balik topinya. Alibinya kokoh layaknya benteng karang.

​Tetua Yun menghela napas panjang, menatap sisa murid yang selamat. "Mereka yang kembali hari ini... kalian telah melewati ujian neraka. Keluarkan Inti Iblis kalian. Siapa pun yang membawa sepuluh inti tingkat menengah, akan resmi melangkah ke Pelataran Dalam."

​Para diakon segera maju dengan nampan giok. Satu per satu murid yang selamat dengan enggan menyerahkan hasil buruan mereka. Sebagian besar menangis karena hasil mereka tidak mencapai sepuluh, hilang dirampas monster atau dibuang saat lari.

​Ketika seorang diakon berhenti di depan Ye Chuan, pemuda berpedang sunyi itu tidak repot-repot mengeluarkan sepuluh inti. Ia hanya merogoh saku linennya, lalu melemparkan sebuah benda bundar ke atas nampan giok tersebut.

​Tuk.

​Benda itu adalah sebuah Inti Iblis berwarna hitam pekat yang memancarkan aura es membekukan, seukuran telur angsa.

​Mata sang diakon nyaris melompat keluar. "I-Ini... Inti Iblis Beruang Salju Mutasi... Puncak Lapisan Kedelapan!"

​Satu inti itu nilainya setara dengan seratus inti menengah. Seluruh alun-alun menahan napas. Ye Chuan telah membuktikan gelar monster elit nomor satunya. Tetua Yun tersenyum tipis dan mengangguk penuh penghargaan.

​Kini, giliran diakon itu berdiri di depan Shen Yuan.

​Di dalam Cincin Spasialnya, Shen Yuan menyimpan jantung dari Singa Cermin—monster Setengah Langkah Pembentukan Inti. Jika ia mengeluarkannya, ia akan mengguncang seluruh gunung dan namanya akan dicatat dalam sejarah emas.

​Namun, burung yang menonjol adalah burung yang pertama kali ditembak jatuh. Mengambil perhatian terlalu besar setelah kematian Lin Feng adalah kebodohan fatal.

​Dengan wajah tenang yang dibuat sedikit pucat, Shen Yuan merogoh kantong penyimpanan biasa di pinggangnya. Ia mengeluarkan satu per satu Inti Iblis tingkat menengah. Satu, dua, tiga... hingga tepat berjumlah sepuluh butir inti Kera Mata Enam dan Macan Tutul Es.

​"Sepuluh Inti Iblis tingkat menengah," ucap Shen Yuan pelan, meletakkannya di atas nampan. "Cukup untuk menukar sebuah posisi."

​Ye Chuan yang berdiri tak jauh dari sana hanya melirik dari sudut matanya, mendengus pelan yang nyaris tak terdengar. Hanya ia yang tahu rahasia monster di dalam perut pemuda berbaju abu-abu itu. Hanya ia yang tahu bahwa pelayan itu sedang memegang jantung seekor raja singa, namun berpura-pura hanya menangkap beberapa ekor tikus.

​Diakon itu mengangguk kaku, mencatat nama Shen Yuan.

​Tetua Yun menatap tajam ke arah sisa murid yang lulus, lalu suaranya bergema menggetarkan awan.

​"Ujian selesai. Mereka yang lulus... bersihkan darah kalian. Besok, saat fajar menyingsing, Gerbang Pelataran Dalam akan terbuka untuk kalian. Bersiaplah, karena di sana, kalian tidak lagi disebut elit, melainkan semut yang baru belajar berjalan."

​Shen Yuan menundukkan kepalanya memberi hormat. Senyum dingin yang tidak terlihat oleh siapa pun merekah sempurna.

​Pelataran Dalam. Pusat kekuasaan, sumber daya, dan seni bela diri tingkat tinggi. Sebuah samudra baru di mana naga-naga sesungguhnya saling memangsa. Sang hantu dari pelataran pelayan akhirnya tiba di depan gerbang takdirnya, bersiap untuk menelan langit dan bumi dengan tangan kosongnya.

1
Wiharso Saja
ceritanya bagus dan runut.... yg penting lg jgn sampai hiatus
Optimus prime
ga usah pakai kata mandor ...daiken...lebih enak nya pakai kata suhu...wakil sekte...senior...kn jdi enak baca nya thor
@arv_65: terlanjur udah nulis babnya banyak🙏
total 1 replies
Joshua Zirje
Author jangan sampai hilang lagi😁
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue: oke bang, semangat💪
total 3 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!