NovelToon NovelToon
Yohana

Yohana

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / Nikahmuda
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Hana Wanita yang di Hamili mantanya, namun dia menikah dengan anak SMA yang patah hati di tinggal nikah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Pagi itu, sebuah kebahagiaan luar biasa membuat Aldo terbangun lebih awal dari biasanya. Hari ini hari Minggu, hari yang sudah dia tunggu-tunggu karena dia memiliki sebuah rencana untuk membahagiakan kekasihnya. Dia adalah Aldo, seorang pemuda tampan yang bertubuh tinggi. Dia menjalani hidupnya dengan sederhana di sebuah desa. Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani. Meskipun demikian, tempat tinggalnya tidak bisa disebut desa terpencil.

Aldo begitu ceria karena dia akan memberikan kejutan untuk pacarnya. Walaupun sudah seminggu tidak bertemu, Aldo merasa tenang karena semua rencananya sudah dia siapkan. Dia pun langsung bergegas menuju kamar mandi.

Saat berjalan menuju kamar mandi, kedua orang tuanya yang akan keluar rumah melihat Aldo sudah bangun.

"Aldo! Kamu sudah bangun pagi-pagi begini! Biasanya hari Minggu kamu masih tidur dan malas sekali untuk bangun," kata ayahnya.

"Iya nih anak mama! Pagi-pagi sudah bangun, mau ke mana sih?" sahut ibunya.

Kedua orang tuanya merasa heran melihat tingkah laku anak semata wayangnya. Aldo hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Dia tidak mau bercerita tentang rencananya.

"Enggak ke mana-mana, kok, Pa, Ma. Aldo mau mandi dulu, ya!" ucap Aldo.

Dia langsung melangkah menuju kamar mandi, sementara kedua orang tuanya saling bertatapan, masih merasa heran dengan tingkah anaknya.

"Aneh, ya, Ma! Ya sudah, Ma, kita berangkat sekarang!" ucap ayahnya.

"Iya, Pa! Mama juga merasa aneh, kok, aneh banget, deh!" jawab ibunya.

Kedua orang tua Aldo lalu melangkah keluar rumah untuk pergi ke kebun mereka.

Beberapa saat kemudian, Aldo selesai mandi dan mengenakan pakaian rapi. Dia duduk di kamarnya sambil memandangi cermin. Dia tidak hanya sekadar melihat dirinya, tetapi juga sambil mempraktikkan kata-kata yang akan dia ucapkan kepada pacarnya.

"Kejutan!"

"Ah, kurang cocok! Ulang, ulang!" ucap Aldo sambil menarik napas dalam-dalam.

"Surprise, baby!"

"Enggak enak, sih, kalau pakai bahasa Inggris. Kan gue orang desa!"

"Kejutan, sayang!"

"Oh iya, lupa! Cincinnya mana, ya? Lupa naruh!"

Aldo terus berbicara sendiri sambil mencari cincin yang dia beli kemarin sepulang sekolah. Cincin itu dia beli dari uang hasil tabungannya selama beberapa bulan. Setelah cincin itu ditemukan dan digenggam di tangannya, Aldo memasukkannya ke dalam saku celananya.

Dia lalu melangkah keluar kamar menuju halaman depan untuk mengeluarkan sepeda motornya. Sepeda motornya sudah tua, tetapi dia tetap menggunakannya untuk berangkat ke sekolah. Sepeda motor itu adalah pemberian dari ayahnya agar dia tidak kesiangan saat pergi ke sekolah.

Setelah sepeda motornya berada di halaman rumah, Aldo menyalakannya untuk memanaskan mesin. Sambil menikmati hari yang begitu cerah, sebenarnya dia ingin menghubungi kekasihnya, tetapi karena dia hidup sederhana, dia tidak memiliki telepon genggam.

Setelah beberapa saat sepeda motornya sudah siap, Aldo menaikinya setelah menutup pintu rumah. Dia sempat bercermin di spion sepeda motornya dan merapikan helm yang dia kenakan. Aldo pun mulai melaju dengan santai. Sambil melihat jalanan, wajahnya begitu bahagia karena dia sudah terbayang akan memberikan kejutan untuk pacarnya.

Jarak dari rumah Aldo ke rumah pacarnya cukup jauh, kurang lebih membutuhkan waktu beberapa jam. Dia tidak mungkin salah arah karena sebelumnya dia sudah pernah mengantar pacarnya pulang sekolah.

Beberapa saat kemudian, Aldo hampir sampai di rumah pacarnya. Namun, tiba-tiba dia melihat janur kuning melengkung. Awalnya Aldo tidak terlalu memperhatikan karena dia fokus berkendara agar tidak terjadi kecelakaan.

Namun, saat melihat dari kejauhan, Aldo melihat sebuah rumah dihiasi dekorasi pernikahan. Dia pun berhenti dan menatap ke arah rumah itu. Sambil duduk di atas sepeda motor, Aldo berbicara sendiri.

"Kok ada pesta pernikahan, ya?" ucap Aldo sambil memerhatikan rumah pacarnya.

"Enggak salah! Itu kan rumah pacarku!"

"Kok dia enggak bilang, ya, kalau tantenya nikahan?"

Ucapan itu terus keluar dari mulut Aldo. Dalam pikirannya, dia mengira yang menikah adalah tante dari kekasihnya. Dia tidak memiliki pikiran negatif atau merasa ada hal aneh. Dia lalu kembali melajukan sepeda motornya menuju tempat parkir yang disediakan untuk acara pernikahan. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Aldo langsung melangkah menuju rumah pacarnya.

Saat di depan rumah, Aldo menatap lekat ke arah Sarah yang sedang duduk di samping seorang pria yang akan menjadi calon suaminya. Rasa sesak pun timbul. Aldo merasakan sakit yang luar biasa saat melihat kenyataan. Dia hanya berdiri di sana menatap ke arah panggung. Dalam hatinya, dia terus berbicara dengan raut muka yang sedih dan hati yang terasa seperti ditusuk.

"Tega sekali kamu!"

"Aku kira ini acara pernikahan tantemu!"

"Ternyata ini adalah acara pernikahanmu!"

"Sungguh sakit rasanya! Kenapa kamu tidak bilang kalau akan menikah dengan orang lain!"

Dalam hatinya terus keluar perkataan-perkataan yang sangat menyakitkan. Aldo tidak melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Dia merasa begitu kecewa dan sangat sakit. Aldo kembali melangkahkan kakinya menuju parkiran untuk pergi dan kembali ke rumah. Tujuannya kini sia-sia dan dia merasakan sakit serta kecewa yang mendalam.

Sambil mengendarai sepeda motor, Aldo terus berbicara dalam hatinya, merasakan kekecewaan dan sakit hati atas kenyataan yang dia lihat. Dia terus melajukan sepeda motornya hingga kini dia sampai di halaman rumahnya.

Dia memarkirkan sepeda motornya lalu melangkah masuk ke dalam rumah untuk menuju kamarnya. Saat melangkah masuk, dia mendengar kedua orang tuanya sedang bertengkar karena sebuah masalah yang terjadi di kebun.

"Mama, sih, nebang pohon, jadi kan kena rumah orang!" ucap ayahnya.

"Maafin Mama, Papa! Mama enggak tahu jadi begini!" ucap ibunya.

"Ah, jadi kan Papa harus ganti rugi sama yang punya rumah!"

Aldo yang baru saja masuk ke kamar dan duduk di ranjang merasakan kebisingan dari pertengkaran kedua orang tuanya. Karena hatinya sedang sakit, obrolan orang tuanya pun menjadi sebuah kerisihan di kepalanya.

Aldo kembali berdiri dan melangkah untuk mencari tempat tenang di luar sana. Saat berjalan keluar, dia sempat berhenti di dekat kedua orang tuanya lalu berbicara.

"Lagi ngedebatin apa, sih?" tanya Aldo dengan raut muka yang sedih.

Sontak kedua orang tuanya terdiam dan saling bertatapan. Aldo pun tidak menunggu jawaban, dia langsung melangkahkan kaki keluar rumah.

"Papa, Aldo kenapa? Mukanya masam banget?" tanya ibunya.

"Enggak tahu, Ibu," jawab ayahnya.

Aldo tidak menggunakan sepeda motornya. Dia mencari tempat sunyi di sekitar desanya. Dia melangkah menuju pinggir sawah lalu duduk di tanah. Sambil duduk, dia melihat cincin yang seharusnya dia berikan kepada pacarnya. Aldo begitu merasa sangat sedih karena semua bayangan indah yang selalu dia pikirkan kini pudar.

Aldo pun meluapkan rasa kecewanya dengan berteriak. Dia tidak sadar jika di dekat pinggir sawah yang dia duduki ada sebuah rumah berlantai dua.

"Argghhhh!" teriak Aldo sekeras-kerasnya.

"Kenapa harus berakhir seperti ini lagi!"

"Kenapa... kenapa... arghhhh!"

Saat Aldo sedang berteriak sambil duduk, tiba-tiba seorang wanita keluar dari rumah berlantai dua di dekat sana dan berteriak kepadanya.

"Woy! Berisik, bego! Baru saja gue mau tidur!" ucap Hana sambil menatap ke arah Aldo.

Aldo langsung membalikkan badan dan melihat ke arah Hana yang sedang menatapnya. Aldo lalu berdiri dan berbicara kepada Hana.

"Kalong? Siang tidur, malam keliaran! Wahahaha!" ucap Aldo sambil berlari.

"Awas, lo! Kalau ketemu, gue tonjok, lo, ya!" ucap Hana sambil menunjuk ke arah Aldo.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!