Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.
Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.
Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.
Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.
Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.
Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan
Yuda menekan tombol kamera di ponselnya, memotret paket terakhir yang telah ia berikan kepada wanita penjaga kios parfum itu.
"Makasih ya, Mas."
Yuda membalas dengan senyum setengah paksa, lalu melangkah kembali ke motornya. Ia menyalakan mesin, tapi seketika menahan napas, menatap ke arah perpustakaan kota yang berdiri tenang di seberang jalan.
Motor terdiam, meski mesinnya menyala, seolah Yuda sendiri yang tak berani bergerak.
Mending mampir atau engga ya…? pikirnya.
Rasa malu masih menekan dadanya—kenangan canggung saat pertama kali bertemu gadis itu seakan ikut menempel di helm dan jaketnya. Namun sisi penasaran perlahan mendorongnya. Sekali lagi, ia menatap gedung perpustakaan, jari di gas motor menggigit pegangan.
Suasana hening itu terpecah ketika suara hangat dari sang penjaga kios menegur:
“Loh, Mas? Apa ada yang bisa kubantu?”
Refleks, Yuda tersentak. Sebuah senyum kaku muncul di wajahnya, tapi napasnya terengah sedikit:
“Ah… maaf, Bu. Hanya sekadar mengingat alamat,” jawabnya sambil memutar gas.
Motor mulai meluncur, meninggalkan kios dan perpustakaan di belakang. Tapi matanya tetap menoleh ke arah gedung itu sekali lagi—seolah ingin mengingat setiap sudutnya.
Suara angin sore dan deru kendaraan seakan menjadi teman sunyi yang mengiringi perasaan canggung yang masih menempel padanya.
Motor melaju pelan di jalanan kota yang mulai dipenuhi cahaya senja. Yuda menepikan napas, tapi pikirannya tak tenang. Di kepalanya, sebuah dilema berkecamuk. Jarumnya menunjuk setengah tangki. Namun yang kosong justru keberaniannya.
Tanpa sadar, ia memutar balik ke sebuah gang kecil, rute yang mengarah kembali ke perpustakaan. Degup jantungnya sedikit lebih cepat, namun saat hampir sampai, ia hanya melintas di depan gedung itu—motor tetap meluncur, tapi kakinya seakan menahan diri dari menjejakkan langkah ke dalam.
Yuda mendongakkan kepala, menatap jendela-jendela perpustakaan. Bayangan seseorang yang ingin ia temui muncul samar di pikirannya. Hatinya menolak menyerah, walau rasio kemungkinan melihatnya sangatlah kecil.
Ia teringat ucapan pustakawan yang pernah ditemuinya:
“Yeah… dia memang sering kesini. Dan sering melakukan itu. Bahkan, dia pernah meminta maaf pada rak buku karena dia menyenggolnya dan menjatuhkan beberapa bukunya.”
Yuda mengerutkan dahi, sedikit tersenyum getir. Senyum yang dulu terasa hangat sekarang berubah menjadi ingatan kecil tentang seorang pustakawan yang judes, yang tersembunyi dibalik senyum SOP-nya.
Ia menahan napas, menelan rasa canggung yang menempel di tenggorokannya. Motor tetap berjalan pelan, meninggalkan perpustakaan di sisi jalan, dan hati yang tetap terjebak antara keberanian dan rasa malu.
“Anjirr… kenapa gue jadi ribet gini sih?” gumamnya, sambil menoleh ke spion seolah mencari jawaban dari bayangan yang menunggu di dalam gedung itu.
Dan akhirnya, Yuda tak jadi masuk perpustakaan.
Yang tak ia ketahui, di antara lorong rak buku Perpustakaan Kota, seorang gadis bermata cokelat sedang berdiri terlalu lama di satu titik yang sama.
Rak itu.
Rak yang dulu menjadi saksi pertemuan pertamanya dengan seorang kurir kikuk yang salah lorong, salah ambil buku, dan hampir salah napas karena panik.
Lampu senja menembus jendela tinggi, jatuh miring di permukaan buku-buku berdebu tipis. Bayangan rak memanjang di lantai, seperti garis-garis rahasia yang cuma dia yang tahu artinya. Perpustakaan sore itu hening, hanya suara lembaran dibalik dan AC tua yang mendesah pelan.
Nazwa menelan ludah kecil.
Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, rok plisket biru tua yang bergerak lembut setiap ia bergeser, serta loafers hitam yang memantulkan cahaya samar. Tas hitamnya menggantung di bahu, sedikit berat oleh buku catatan, stabilo warna-warni, dan satu camilan yang sudah setengah hancur di dalamnya.
Tangannya menyentuh punggung rak itu. Dan entah kenapa… jantungnya ikut menyenggol sesuatu yang tak terlihat.
“Kenapa sih aku berdiri di sini kayak orang lagi nunggu bus?” gumamnya pelan.
Padahal jelas-jelas dia tidak menunggu siapa pun. Kecuali mungkin… kenangan.
Wajah lelaki itu muncul samar di kepalanya. Ekspresi kikuk. Cara dia menggaruk tengkuknya sendiri. Tatapan bingung yang mencoba terlihat profesional tapi gagal total.
Ia bahkan belum tahu namanya.
Tapi anehnya, memorinya menyimpannya rapi. Seperti karakter sampingan yang cuma muncul satu halaman, tapi entah kenapa bikin pembaca penasaran.
“Apa aku cuma gak enak ya karena sempat negur dia?” Nazwa berbisik pada rak yang jelas tidak akan menjawab.
“Tapi aku kan gak tahu kalo dia belum pernah ke sini…”
Ia jongkok sedikit, pura-pura mencari judul buku di rak bawah. Pura-pura sibuk. Pura-pura normal. Padahal pikirannya sedang replay adegan tempo hari dengan kualitas 4K.
Ia berdiri lagi, menatap deretan buku yang sebenarnya berhubungan dengan tugas presentasinya. Jarinya menempel di dagu. Cahaya senja membuat matanya menyipit di balik kacamata tipisnya.
“Mau minta maaf… tapi gak tahu siapa dia." Tangannya bergerak menelusuri punggung buku.
"Lagi pun, gimana caranya minta maaf ke manusia tanpa nama?”
Ia mendesah, lalu menggeleng pelan pada dirinya sendiri.
Terlalu sulit untuk dilupain? Serius, Nazwa?
Pandangannya bergerak dari kanan ke kiri, akhirnya benar-benar fokus pada buku yang ia butuhkan. Tangannya terangkat, mencoba meraih satu buku di rak paling atas.
Ujung jarinya hampir menyentuh.
Hampir.
Dia berjinjit.
Tapi masih kurang.
Ia mendesah panjang, menyadari satu fakta pahit dalam hidupnya: tinggi badan memang tak pernah berpihak pada momen genting.
“Tuh kan gak nyampe…” gumamnya kesal.
Lalu, tanpa sadar—
“Andai ada dia—”
Kalimat itu menggantung. Matanya membelalak kecil. Tanpa sadar pipinya memanas.
Ia menurunkan tumitnya pelan, seperti baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan paling memalukan: berkhayal.
“Duhh kok jadi gini sih?” bisiknya cepat.
Rak buku tentu saja tidak memberi jawaban. Mereka tetap berdiri dengan sikap profesional dan tidak ikut campur urusan hati pengunjung.
Nazwa meremas rambutnya yang tergerai sebentar, lalu buru-buru merapikannya kembali. Ia menarik napas dalam, mencoba mengembalikan kewarasannya.
“Oke. Fokus, Nazwa! Kamu ke sini buat cari referensi. Bukan cari kurir misterius.”
Namun tetap saja—
Tangannya masih terasa kosong.
Seperti ada yang belum selesai di lorong rak itu.
Dan gadis itu tidak yakin apakah yang ia cari sebenarnya buku… atau alasan untuk berdiri di sana sedikit lebih lama lagi.