Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.
Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.
Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 : Tebasan Dalam Kegelapan Hutan
Seseorang berlari di tengah keramaian distrik atas. Ia melewati setiap orang-orang berkelas di jalanan distrik dengan terburu-buru. Rambut pirangnya melayang-layang di udara. Deru napasnya tersengal-sengal seperti orang yang lari maraton sejauh belasan kilo. Arlena terus berlari tanpa henti melewati orang-orang.
Ia terus berlari tanpa mempedulikan rasa lelahnya hingga sampai di distrik perumahan. Arlena masuk ke sebuah penginapan lalu mampir ke meja resepsionis dengan napas tak beraturan.
"A-ada yang bisa kubantu? Apa kamu baik-baik saja, gadis muda?" tanya nenek penjaga resepsionis.
Arlena tak langsung menjawab, ia terlebih dahulu menangkap udara setelah berlarian sebelumnya. Tak lama setelahnya, ia bertanya kepada sang nenek dengan suara pelan dan lelah, "A-apa ada... orang bernama Ardius dan kedua temannya yang menginap di penginapan ini?"
Nenek itu berpikir sejenak laku mengeluarkan sebuah buku. "Ardius... dia menginap di kamar nomer 5, Luna di kamar nomer 4, dan Axel di kamar nomer 3," jawab nenek resepsionis sambil melihat daftar.
"Terima kasih nek, aku ingin menemui mereka!" ujar Arlena. Ia segera naik ke lantai atas penginapan untuk menemukan kamar Ardius dan kedua kawannya.
Setelah tak lama melakukan pencarian, Arlena menemukan kamar dengan tulisan angka lima di pintunya. Arlena diam sejenak, masih tak enak dengan kejadian semalam. Ia memberanikan diri untuk menemui sang kakak lalu mulai mengetuk pintu kamarnya.
Tok... tok... tok!!
Tiga kali ketukan terdengar keras. Tak ada jawaban, tak ada suara yang membalas.
Tok... tok... tok!!
Tiga kali ketukan kembali ia lakukan namun seperti sebelumnya tak kunjung ada jawaban. Arlena mulai berpikir jika Ardius pasti sedang marah. Ia kembali berpikir sejenak, bertanya apa yang harus dia lakukan. Setelah beberapa saat berpikir, dia akhirnya membuat keputusan.
Arlena memutar kenop pintu lalu mendorongnya perlahan. "Kakak... ini aku. Apa Kakak baik-baik saja?"
Tak ada jawaban. Sunyi dan hening. Ketika Arlena membuka pintu, dia tak melihat Ardius di dalam bahkan pedang katana yang sering dia bawa. Arlena juga mengecek kamar kedua teman kakaknya tersebut namun mereka juga tak ada di dalam. Ia bertanya dalam benak, kemana mereka bertiga pergi
Sementara itu, jauh di tempat gelap yang dipenuhi pohon-pohon besar dan tinggi hingga membuat cahaya matahari kesulitan untuk masuk, tiga orang berjalan di jalanan setapak menuju pedalaman yang semakin gelap—Ardius dan kedua sahabatnya.
Luna tampak waspada dengan sekitar, berjaga-jaga apabila sesuatu datang menyerangnya secara tiba-tiba. Axel melihat-lihat sekeliling dengan wajah tertantang seolah hutan gelap tersebut memacu adrenalin baginya. Sementara Ardius tetap seperti biasa—tenang dan tidak peduli.
"Tempat ini ditutup, kan?" Seharusnya kita tidak kemari," kata Luna dengan suara waspada dan menyesal.
"Sudah kubilang untuk tidak ikut. Kalian benar-benar keras kepala," balas Ardius. Dia menebas semak-semak belukar menggunakan katana miliknya.
"Ayolah, Luna hanya khawatir sesuatu yang buruk terjadi kepadamu. Lagipula dengan adanya kita bertiga di sini, kita pasti aman." Axel tetap ceria bahkan di tempat segelap ini. Matanya melihat hewan-hewan kecil yang mengintip di balik semak.
Ketiganya terus berjalan masuk menuju pedalaman hutan. Hutan Gilia memiliki sisi lain yang seolah seperti di dunia lain. Pohon-pohon tinggi menjulang rapat, menutupi seluruh langit. Cahaya matahari tidak bisa masuk. Kegelapan hutan seperti tak ada bedanya dengan malam. Dasar hutan diterangi oleh ribuan jamur bercahaya berwarna biru kehijauan yang tumbuh menyebar di tanah, batang pohon dan celah-celah akar. Cahayanya lembut dan indah. namun seakan berbisik untuk maju lebih dalam.
Akar melintang seperti jaring laba-laba raksasa. Daun-daun di tanah basah dan licin. Bau lembab bercampur tanah dan kayu tua memenuhi udara.
Ardius menjelaskan jika pedalaman Hutan Gilia membentang sangat luas. Dia membuat tebasan ke beberapa pohon saat dalam perjalanan untuk menjadi penanda jalan untuknya. Tidak ada satu pun peta yang menjelaskan rute perjalanan dasar hutan karena kegelapan yang menyelimuti membuat orang-orang enggan untuk masuk. Karenanya, Ardius membuat tanda jejak berupa tanda tebasan ke pohon yang dia lalui setiap tiga menit berjalan.
Axel mengangkat tangan dan menciptakan tonjolan kecil dari tanah untuk memudahkan mereka melangkah di area berlumpur. "Jalanan ini mengerikan."
"Tenang, setidaknya belum ada yang menyerang kita—"
GRAAAKH!!
"AAAHHHH... AXEL!!! ARD!!!" teriak Luna.
Luna belum selesai bicara ketika semak besar di depan mereka bergerak dan berdiri—monster tanaman mirip laba-laba akar dengan mulut penuh taring berduri. Dia menggunakan akar tanaman tubuhnya untuk menjerat kaki Luna dan menariknya ke atas. Sekilas pahanya yang putih dan mulus sempat terlihat.
Ardius mundur satu langkah. "Posisi bertahan."
Axel langsung menumbuhkan tembok tanah pendek di depan mereka. Monster itu menabraknya, terlempar sedikit ke belakang. Axel tak diam, dia melakukan serangan balasan. Saat Staf miliknya dia hentakkan ke tanah, muncul tembok tanah yang datang dengan cepat ke atas—menabrak kepala monster itu dari bawah.
"Luna! Tembakkan sihir air ke kakinya!"
Luna dengan tubuhnya yang masih terbalik di udara segera mematuhinya. Ia mengarahkan Wand miliknya ke kaki monster, saat itu juga muncul empat bola air yang mengarah ke bawahnya. Air yang ditembakkan ke kaki-kaki akar si monster membuatnya tergelincir.
Ardius melihat celah. Saat sang monster kehilangan fokus karena tergelincir, dia bergegas berlari lalu melompat. Tangannya dengan sigap melakukan tebasan dengan lihai yang membuat Luna terlepas dari jeratan. Ardius menangkap tubuh Luna dan dengan cepat kembali ke belakang Axel sembari membawa Luna.
Dia melompat ke kanan, menginjak akar pohon untuk mendapatkan sudut lebih tinggi. Ia menyarungkan pedangnya terlebih dahulu, lalu melempar batu kecil ke sisi kiri monster.
Axel mengubah tanah lumpur di bawah kaki sang monster menjadi tanah keras dan kering. Sekarang monster itulah yang terjerat, kaki-kaki akarnya tak mampu ia gerakan.
Luna mengarahkan Wand miliknya menuju sang monster. Dengan kemarahan yang memuncak karena perbuatan monster itu, dia berkata dengan nada marah dan kesal, "Matilah kau, monster jelek!"
Sebuah lingkaran sihir muncul dari ujung Wand miliknya. Lingkaran sihir tersebut tak terlalu besar dan memiliki warna biru tua dan berputar dengan cepat searah dengan jarum jam.
"Aqua Jet Burst!"
Dari tengah lingkaran sihir, air bertekanan tinggi menyambar bak petir di siang hari. Serangan air bertekanan tinggi itu melesat dengan ganas di udara hingga mengenai tubuh monster dan menghancurkannya sampai lebur, menyisakan kakinya saja. Tak hanya itu, pepohonan di belakang monster juga ikut roboh akibat serangan dari Luna.
Setelah kalahnya monster tersebut, Ardius berjalan dengan tenang ke arah Luna diikuti Axel di belakangnya.
"Luna, kau baik-baik saja?" tanya Axel khawatir.
Luna tak menjawab, bahkan menengok ke arah temannya. Ia seperti sedang menyembunyikan wajahnya, namun yang jelas adalah wajahnya merah padam karena sesuatu.
"Kalian... kalian melihatnya, kan?" tanya Luna dengan suara bergetar.
Axel menelengkan kepalanya karena bingung. Bahkan Ardius yang memasang wajah datarnya juga dibuat sedikit bingung.
"Lihat? Lihat apa?" tanya balik Axel penasaran.
Tiba-tiba Luna berbalik lalu mencengkram kerah baju Axel. "Jangan pura-pura tidak tahu kau, Axel bodoh!! Aku tahu kalian melihatnya! Kalian para lelaki pasti memiliki pikiran cabul, aku tahu itu," teriaknya sembari mengguncang-guncangkan tubuh Axel.
"Hentikan itu! Ayo kembali melanjutkan perjalanan!" Ardius menghentikan kekonyolan mereka berdua. Dia berjalan paling depan kemudian diikuti oleh kedua kawannya.
Mereka terus berjalan. Tapi tak lama, tiga monster tanaman lain muncul serentak. Dua di tanah seperti tanaman karnivora raksasa dan satu di langit seperti kelalawar daun. Mereka mengepung.
Axel menghantam tanah dengan tongkatnya dengan keras. Dua pilar tajam dari tanah mencuat, menancap dua monster dari bawah.
Monster di udara meluncur ke arah Luna. Gadis elf itu memutar badan, menciptakan tornado air dari tongkatnya yang menghempas makhluk itu ke pohon.
Sebelum sempat bergerak, Ardius datang dari depan dengan sangat cepat. Dia menancapkan pedang miliknya tepat ke jantung monster. Kelalawar raksasa itu hendak berteriak, namun teriakannya segera dihentikan oleh Ardius yang menebas lehernya. Dia tahu jika teriakan makhkuk itu akan mengundang banyak spesiesnya untuk berdatangan.
Usai berhasil membunuh kelalawar daun raksasa itu, monster lain bertubuh humanoid yang terbuat dari kayu muncul di belakang Ardius dan hendak menyerangnya
Ardius tak menoleh. Dia justru menarik jamur bercahaya dari tanah, melemparkannya ke arah monster itu. Ledakan cahaya dari jamur mengecoh pandangan monster. Saat si makhluk berhenti sejenak—Ardius menyapu kedua kakinya dengan serangan horizontal hingga terputus. Tak berhenti, dia menebas tubuh monster humanoid itu hingga terbelah menjadi dua secara vertikal.
Luna menatapnya dengan tatapan kagum. "Dia tidak menggunakan sihir, tapi membunuh lebih cepat dari kita..."
Beberapa menit kemudian, hutan kembali sunyi. Mereka berhenti sejenak di bawah pohon yang melengkung seperti tenda alami. Nafas masih teratur. Tubuh berkeringat, tapi mata tetap waspada.
"Apa ini baru pembuka?" tanya Axel, duduk di akar besar.
Ardius menatap ke depan. Cahaya jamur terus mengarah ke jalur sempit yang semakin gelap. "Pedalaman hutan ini sangatlah luas. Masih banyak spesies monster untuk diburu."
Luna meraih botol air dari kantungnya dan meneguknya perlahan."Tapi setidaknya kita bertiga masih utuh."
Axel mengangguk. “Belum waktunya jadi korban legenda.”
Ardius tak berkata-kata. Tapi di balik wajah tenangnya, pikirannya tengah memikirkan material yang akan dia ambil dari monster-monster di hutan tersebut. Mereka kembali berdiri, dan melanjutkan langkah ke dalam hutan yang belum pernah dijamah cahaya.
Setelah istirahat beberapa menit, mereka kembali melakukan perjalanan memasuki hutan yang semakin dalam. Semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak jamur bermunculan sehingga membuat perjalanan mereka sedikit diringankan oleh cahaya dari jamur-jamur itu.
Tak lama kemudian tiba di sebuah area yang lebih terbuka, ditutupi oleh akar pohon melengkung membentuk kubah alami. Di tengahnya berdiri gubuk kayu tua, hampir runtuh dimakan usia. Tanah di sekitarnya ditumbuhi jamur putih—simbol bahwa kehidupan pernah tinggal di sini, tapi mati terlalu cepat.
"Siapa yang membangun tempat ini?" tanya Luna pelan.
Ardius mendekat. Di pintu gubuk, ia menemukan bekas cakaran dan darah yang sudah lama mengering. Mereka berjalan ke belakang rumah lalu menemukan tiga kerangka manusia—satu di antaranya kecil, seperti anak-anak.
"Mereka bersembunyi, tapi gagal,” gumam Axel. Ia menunduk, matanya tak seceria tadi.
Ardius memeriksa sisa-sisa perlengkapan di dekat tulang-tulang itu. Satu pisau, sisa api unggun, dan kertas lusuh yang hampir hancur dengan catatan tangan yang sebagian telah pudar.
Tak lama setelah meninggalkan gubuk, mereka mendengar suara ketukan kayu… seperti dua batang saling menghantam.
"Posisi bertahan," bisik Ardius, memperingati kedua sahabatnya ada bahaya datang.
Dari dalam kegelapan, muncul sepasang mata berwarna hijau yang mengintai mereka. Sesosok monster humanoid kayu memunculkan dirinya dari dalam kegelapan itu. Tingginya mencapai dua meter, tubuhnya seperti disusun dari batang-batang berduri. Dari setiap geraknya, keluar kabut hijau tipis.
"Jangan hirup kabut itu!" teriak Ardius. Ia menutup wajah dengan kain, diikuti Axel dan Luna.
Monster itu melompat ke arah Axel. Axel memutar tongkatnya dan menciptakan dinding tanah yang menghalangi pukulan. Pemuda Dwarf itu menghentakkan tanah, menciptakan lubang di bawah kaki monster, namun si kayu melompat cepat ke pohon lain.
"Ard, kau tahu monster apa itu?" tanya Luna, memberikan serangan dukungan dari belakang.
Ardius diam sejenak, kepalanya tengah mengingat informasi yang telah dia cerna seputar monster-monster di hutan Gilia. Matanya dengan cermat melihat pertarungan antara Axel dan Luna melawan monster kayu itu. Tak lama setelahnya, dia langsung mengetahui monster kayu itu
"Tubuh kayu, ukuran dua meter, gerakan lincah, memunculkan kabut racun, mata hijau... tak salah lagi, monster itu adalah spesies Grooder."
"Kau punya rencana?" tanya kembali Luna sambil terus melancarkan serangan sihir.
Ardius mengeluarkan katana mikiknya dari sarung pedang. Dia berjalan ke belakang Luna dengan tenang. "Ya. Tetap perhatikan kaki kalian. Grooder adalah monster yang cerdik, dia akan mengendalikan akar tanaman sekitar untuk menyerang dari bawah saat kalian terlalu fokus melawannya," jelas Ardius. Dia pergi entah kemana dengan cepat seolah menghilang ditelan bumi.
Axel dan Luna terus menyerang Grooder. Tetapi monster itu terus menghindar dengan berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Grooder melompat dari satu batang pohon ke batang lainnya, tubuhnya yang ringan dan memanjang bergerak seperti bayangan. Racun hijau menetes dari batang-batang tubuhnya, menyusup ke tanah dan membuat semak-semak di bawahnya cepat layu.
Axel maju di garis depan. Dia menghentakkan tongkatnya lalu pilar-pilar tanah muncul beruntun dari bawah, berusaha menjebak Grooder atau setidaknya membatasi ruang geraknya.
"Dia terlalu cepat! Luna, bantu arahkan pergerakannya ke kiri!" teriak Axel sambil menciptakan dinding tinggi dari tanah di sisi kanan mereka.
Luna, berdiri beberapa langkah di belakang, segera mengangkat tongkatnya. “Aqua Spear!”
Tiga tombak air bertekanan tinggi meluncur dari lingkaran sihirnya. Salah satu tombak menghantam pohon tempat Grooder berdiri, memaksanya bergerak ke kiri—tepat seperti yang diinginkan Axel.
Grooder menyemburkan cairan hijau dari celah-celah tubuhnya ke arah Axel. Tepat sebelum cairan racun itu mengenainya, semburan air kencang terlebih dahulu menyapu cairan racun. Axel kembali melanjutkan serangan.
Pertarungan terus terjadi selama beberapa menit. Grooder mulai terdesak dan terus menghindari serangan dari mereka berdua. Axel dan Luna terus melakukan serangan. Mereka tak menyadari jika merekalah yang masuk ke dalam perangkap Grooder.
Ketika mereka fokus untuk menyerang, tanpa mereka ketahui bahwa kedua kaki mereka telah tengah menjadi incaran. Saat itu juga, akar besar dari bawah tanah muncul ke permukaan lalu melilit kaki mereka berdua.
Sontak Axel terkejut akibat serangan mendadak itu."Celaka, kita terpe—"
Belum selesai bicara, tubuhnya diangkat ke atas oleh akar tersebut. Begitu juga dengan Luna. Tongkat sihir mereka terjatuh ke bawah, membuat keduanya kesulitan untuk memberontak.
Grooder turun dari pohon di mana dia bergelantungan. Dia berjalan menuju Axel dan Luna dengan mulut lebar seolah tersenyum akan kemenangannya.
Ketika jaraknya sudah sangat dekat dengan mereka, tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara seperti bilah yang menebas ke udara di belakangnya.
Saat Grooder melirik, Ardius telah muncul dari balik bayangan hutan dengan bilah katana miliknya yang diselimuti api merah. Dia datang begitu cepat hingga semuanya sudah terlambat bagi sang monster.
Pemuda berambut hitam itu melayangkan tebasan horizontal yang membuat kedua kaki Grooder terputus. Monster kayu itu terjatuh dengan suara kasar dan geraman kesakitan, ujung kakinya yang terpotong menyemburkan cairan racun hijau yang tak lain adalah darahnya.
Ardius tiba di atas Grooder, tatapannya dingin penuh intimidasi. "Serius? Kau terkena jebakan yang sama seperti jebakanmu?" ucapnya dengan suara datar namun penuh ejekan.
Di tengah erangan kesakitan Grooder, dia juga meraung penuh amarah kepada Ardius. Kedua tangannya berusaha meraih pemuda itu, namun tanpa memberi kesempatan Ardius langsung melayangkan serangan klimaks yang langsung memenggal kepala Grooder.
Kepala monster itu menggelinding layaknya bola di tanah. Ardius tetap datar seperti biasanya meskipun kemenangan telah dia dapatkan. Alih-alih membantu kedua temannya dahulu, dia memotong-motong dada Grooder terlebih dahulu untuk mencari sesuatu. Akhirnya, dia mencabut paksa sebuah batu bulat berwarna hitam kehijauan—jantung Grooder.
"Satu material langka didapatkan," kata dia dengan tenang.
"Ard, apa yang kau lakukan? Cepat bebaskan kami!" teriak Axel dengan nada kesal.
"Oh iya, aku lupa dengan kalian," celetuknya.
Akar-akar yang menjerat Axel dan Luna langsung terlepas dalam sekali tebas. Luna terduduk, terengah. Axel menatap ke arah Grooder yang telah mati dan menyisakan tubuh kayunya saja.
Dwarf remaja itu merapikan kacamata dan membersihkan debu dari bajunya. "Aku... bahkan tidak melihatmu datang."
Luna masih menatap Ardius. "Kau tahu dari awal dan kami akan dijadikan umpan?"
Ardius berjalan ke arah mereka dan membantu Axel berdiri. “Bukan dijadikan—kalian memang terlalu mencolok untuk diabaikan.”
Axel menghela napas. "Itu jawaban paling sopan dari kata 'bodoh'. Benar, kan?"
"Bukannya aku sudah memperingati kalian?"
Luna tersenyum kecil. "Tapi kita menang, kan?"
Ardius mengangguk pelan. Ia lalu menunduk ke arah sisa tubuh Grooder. Dia mengeluarkan katana miliknya yang diselimuti api lalu menancapkan pedang tersebut ke tubuh Grooder. Saat itu juga, api langsung melahap sisa-sisa tubuh monster kayu itu.
"Material penting. Mungkin satu langkah lagi menuju senjata yang kubutuhkan."
Luna menoleh ke kedalaman hutan yang makin gelap. "Kita lanjut?"
Ardius memandangi jejak jamur bercahaya yang terus menyala semakin jauh ke dalam. Tatapannya penuh fokus.
"Sudah cukup untuk hari ini. Ayo pulang!"
Kedua temannya mengangguk. Dengan langkah penuh kepuasan untuk hari ini, mereka bertiga berjalan pergi dari hutan gelap itu.