NovelToon NovelToon
Darah Dibalas Darah

Darah Dibalas Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Kadhitana

Latar belakang Watanabe Miho cuma orang biasa saja. Hanya yang membedakannya adalah ia seorang praktisi ilmu bela diri Ninja. Di umur 22 tahun barulah hidup Miho berubah 180° derajat. Orang-orang yang ia usaha lindungi, dicelakai dan terperangkap rangkaian peristiwa traumatis. Ujian kematian ini terungkap, Miho tidak sendirian melawan sebuah tokoh mitos yang hidup dalam masyarakat selama ratusan tahun.

Ketika utas rahasia masa lalunya terkoneksi, faksi dari Oda Nobuyoshi terancam akan dibungkam mati. Orang-orang kepercayaan Watanabe Toshitsugu juga menutup-nutupi tentang jati dirinya, yang mana mengarahkan rasa penasarannya ke arah sarang harimau.

Berbagai upaya pun Miho lakukan demi bisa bertahan hidup dan membalaskan dendam lewat jejak berdarah yang mereka tinggalkan. Pada akhirnya pertarungan terakhir yang akan menjadi penentu. Mengubur kebenaran di balik punggungnya? Maka, Miho sanggup mengupas tuntas!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kadhitana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gosip Pemakan Manusia

Watanabe Miho.

Gadis dari antah berantah.

Tak ada satu pun orang yang mampu menjelaskan dari mana gadis ini berasal ataupun latar belakangnya. Memang asal usul dan perilakunya yang kurang berbaur, jadinya Miho ini terkenal sampai jadi buah bibir para mahasiswa, selain karena kemampuan fotografinya yang mumpuni.

Bermain rahasia, misterius di belakang punggung publik. Sebuah sumber lain mengatakan Miho berasal dari Kanagawa, desa dari pesisir pantai.

Hal terpenting kata para sumber gosip, orang tua Miho menyerahkan hak asuh kepada keluarga satu-satunya. Entah siapa orangnya? Hal tersebut masih tanda tanya besar.

Mereka yang tidak punya hak berbicara, akan selalu bertabiat sama. Dan apakah itu? Sama-sama mengeluarkan pendapat paling tahu.

Rambatan sahutan Hardin di posisinya berada. Mengikuti arah pandangan Miho yang teralihkan, mendadak Ryuga dan Diah mengikuti arah pandangnya.

"WATANABE MIHO!!!" Kalau ini adegan film. Miho mau menambahkan suara khas komedi.

Bahu Diah merosot jatuh. Dia ditinggalkan sendiri dan bukannya memberikan arahan jelas sebagai sesama anak perantau yang bukan asli warga negara Jepang. "Hardin Haneda, ck-ck..." Kemudian, Diah menatap Miho dan Hardin secara bergantian.

Raut Miho tidak nyaman. Duh, terlalu kentara.

Diah merajuk, tidak dapat pemberitahuan juga soal Hardin mau menyusul kemari. "Sebenarnya pemuda ini, Hardin Haneda kurasa ia berbohong padaku," bisik Diah balik ke Miho. "Katanya mau menemaniku untuk mencari tawaran rekan."

Kepala Miho mengangguk, sesuai citra Hardin yang ekstrovert. "Wajar dia menemani sebab Hardin memiliki banyak kenalan. Hardin teman sahabatku dan kalau tidak salah ingat, Hardin punya pacar di Kanada. Mungkin ia sibuk berada di tempat yang lain jadi tidak dapat menemanimu."

"Tepat sekali! Ryusho sempat bercakap denganku soal proyek kami," dumel Hardin.

Mulut Diah jatuh menganga. "D-dia punya pacar?"

"Sudah. Dan kau sudah ajak Miho?" Hardin keburu mendekat.

Sontak Diah melebarkan jarak untuk menghindari salah paham dan memilih di samping Ryuga.

Berdiri dan melihat Hardin mendatanginya. Sepenuhnya Diah baru menyadari, bahwa ia harus memendam rasa ketertarikan. Cukup sebagai teman saja dan membatasi ruang bagi mereka. Tetapi lelaki itu malah berada persis di depan dan bukan tepi yang gampang dilupakan dalam jarak dekat ini.

"Sudah, terima kasih sarannya." Pipi Diah kembali mengembung.

"Iya sama-sama, tapi kenapa kau jauh sekali? Sini aku mau kenalkan Miho padamu," undang Hardin menyuruhnya agak dekat. Kebiasaan orang Indonesia kalau menolak, malah senyumin saja.

"Sini—“

"Hoi!! Hardin Haneda... Saya mulai sering bertemu denganmu? Bukannya sudah pernah kuperingati?" Ryuga mulai jengkel dengan murid-murid beda jurusan dan gedung yang bebas memasuki kawasannya.

"Maaf, Sensei terpaksa datang kembali. Kebetulan murid Anda dan nona Diah ada urusan antar mahasiswa denganku. Ah Miho..." bantah Hardin meliriknya dengan pandangan memohon. "Miho aku janji tidak akan memberitahu Ryusho soal Shinji lagi."

"Hardin ini peringatan terakhir, paham? Ada peraturan tak tertulis di sini."Ryuga menyeringai seram.

Bergidik ngeri pun, pasti tertulis baik di wajah Hardin, sebab ini bukan ancaman kosong. "Beribu maaf, Sensei. Selain itu, saya juga sedang mencari tahu apakah para gadis ini membutuhkan bantuan dari mahasiswa minat, kan?" Hardin melebarkan matanya, mengkode Miho untuk menyelamatinya dari terkaman dosen tergalak sekampus.

"Tidak," jawab Miho terlampau jujur.

"Miho-chan... katakan saja iya. Soalnya Sensei-mu..." Hardin mendelik menghindari tatapan mencekik Ryuga.

"Ryusho yang menyuruhmu? Atau anak sebelah ini?" tunjuk Ryuga dengan cara melirik Diah.

"Aduh, baru ingat... Ryusho yang suruh Sensei!" ngaku Hardin daripada babak belur.

"Katamu karena Diah," ujar Ryuga menyindir Hardin, hingga Diah cengar-cengir menahan tawa. "Terlihat jelas di wajahmu, Haneda."

"Kata Sensei benar juga, tetapi presentasi alasan Ryusho lebih tinggi..." Hardin membuang muka menghindari tatapan gadis di samping Miho.

"Hardin, ano... Sedang apa kau di sini?" Diah langsung menanyakan.

Wajah lelaki ini berona khawatir sembari mengecek interaksi antara Diah dan Miho. "Tentu saja menyusul, dong. Kau sudah menyelesaikan urusanmu?"

"Haik, sudah. Semua berkat dirimu." Diah setengah membungkuk hormat.

"Baguslah!" Hardin bernapas lega. "Watanabe, mohon bantuannya untuk Diah. Dia anak jurusan sebelah sedang mengerjakan karya praktis juga."

"Mereka baru saja membicarakannya. Kau telat Hardin," sela Ryuga kembali merutuki gelagat anak sebelah.

"Memangnya kenapa kalau aku, setuju? Apa kau dapat bayaran?" Miho merocos balik.

Dalam sekejap saja, Hardin cengar-cengir penuh maksud. "Miho-chan... tolong berbaik hatilah. Aku sudah sangat berkerja keras, ya?" mohonnya meluluhkan hati.

"Aku juga. Jadi mana bayaranku?" cibirnya membungkam Hardin.

"Jadi, kalian berteman satu lingkaran?" Diah terperangah.

Ketiganya terdiam sambil mengernyitkan dahi. "Mereka berdua sudah hampir empat tahun berteman. Apa kau baru mengenal mereka?" jawab Ryuga mewakili Miho.

Diah mengangguk-angguk. "Iya... Sebenarnya saya bertemu Hardin juga suatu kebetulan."

Sementara Hardin menggaruk tengkuknya, ia juga baru sadar. Kehadiran Diah cukup lucu jika ikut, bisa meramaikan suasana tanpa aksi dua muka. "Kami sama-sama punya kenalan dari jurusan teater. Anehnya baru bertemu sekarang ..."

"Dunia terasa sempit," balas Miho baru mengerti, setelah mencerna maksud Diah. Kiranya Hardin dan Diah sudah mengenal lama.

"Ya, kalau begitu tidak ada alasan menolak. Kau harus sering ikut kami." Miho bersedekap.

"Sering-seringlah bergabung. Selalu ada pandangan baru untuk seni dan siapa tahu mendapat ilham proyek." senyuman Ryuga melebar.

Walau dalam hati Diah meragukan arti bantuan tersebut, tapi di dunia ini tidak ada yang gratis. "Benar! Terima kasih sarannya."

"Betul kata Watanabe soal sering bergabung dengan kami. Juga atas saran dosennya Diah. Seseorang dari jurusan Fotografi dapat dijadikan mentor. Apa kau keberatan, Miho?" Hardin menyetujui.

"Tidak apa-apa, senang bisa membantu sesama," ungkap Miho tidak keberatan.

"Omong-omong pembicaraan yang bagus. Tetapi aku harus buru-buru mengejar kelasku yang lain, ya?" Ryuga mengecek arlojinya. "Kelas musim semi untuk yang kurang mencapai target. Ada yang paham?"

Tak mungkin ketiga mahasiswa ini tidak mengerti, sementara dosen-dosen, bahkan Ryuga selalu mematok nilai tinggi untuk lulus atau tidaknya mahasiswa tersebut.

"Iya, saya juga harus bertemu Matsudaira Ryusho," ujar Miho tiba-tiba teringat harus ke mana.

"Saya juga, Ryusho akhir-akhir ini sibuk di komunitas pecinta sinematografi," keluh Hardin sama.

"Tidak mungkin bersantai untuk jam segini," tambah Diah mengecek ingatan mengejar tugas kelompok.

"Benar, kalian pasti harus mengejar jadwal. Kalau begitu sampai nanti. Miho nanti jangan lupa masuk kelas agak lambat," saran Ryuga tahu persoalannya jika saja Miho cepat masuk.

Di tengah koridor, yang lain pun terenyak setelah omongan Ryuga dan mendapatkan sambutan wajah aneh mereka. Bulu tengkuk sontak Miho menegak dan menggeleng menyangkal kebenaran.

"Miho, kau ada masalah di kelas?" Hardin belum tahu. "Kata Ryusho, kau dan—“

"Tidak... Saya tidak ada masalah baru. Jangan khawatir," tampik Miho tak ingin orang lain ikut campur.

"Memang nona Watanabe ada apa?"

Ryuga mendadak diam. Namun, paras Miho mengeras di bawah permukaan kulit. Ada tali, rantai besi mengikati perasaannya. Reaksi sekelilingnya menunjukkan hal yang sama.

Raut kasihan.

Menyedihkan.

"Miho—"

"Nona Watanabe baik-baik saja, tidak ada masalah. Hanya saja, anak ini ada urusan terkait mata kuliah lain, saya memaklumi keterlambatannya," beber Ryuga menutupi sembari menepuk pundak kiri Hardin juga.

Hardin akhirnya mengikuti sandiwara demi menjaga nama baik Watanabe. Inisiatifnya berakting sempurna. "Ayo pergi, aku juga buru-buru tadi ke sini. Kemungkinan besar saat ini Ryusho sedang menunggu kita."

"Sayang sekali kita tak dapat teruskan pembicaraan. Sensei kami pamit duluan." Miho hendak melanjutkan perjalanannya lagi, kali ini mengisi perut. Pagi tadi ia belum sempat sarapan.

Ryuga memberi semangat kepada Miho dan Hardin. Miho dan Hardin buru-buru membungkuk hormat penuh wibawa, sementara Ryuga dan Diah membalas sopan.

Setelah pertemuan singkat ini, kepala Diah penuh dengan ingin berteman dengan orang-orang keren tadi. Namun, Ryuga terdiam, menekankan raut wajah tegas padanya dan mengatakan hal yang tampak janggal.

"Nak, jangan mengingat soal tadi. Itu masalah pembelajarannya."

Rasa-rasanya Diah canggung, sehingga tersenyum. "Ah, iya. Maaf, saya tidak akan bertanya-tanya."

"Baguslah, kalau kau butuh saran dan beberapa pendapat di luar kotak mengenai DKV, jangan sungkan bertanya pada saya secara langsung."

"Terima kasih Sensei," ucap Diah sekali lagi membungkuk hormat. Privasi orang Jepang dinilai sangatlah penting. Terdapat budaya yang berseliweran di antara masyarakat, tentang ikon busana dengan memakai masker wajah juga dinilai dapat bisa mengurangi ketertarikan soal mengusik urusan orang lain. Sepenting itulah ukuran batasan lingkup orang asing untuk serba tahu, hmm... ia rasa berbeda dari negara asalnya.

...***...

Area luar gedung Fotografi. Cuaca cerah mengibarkan kemenangan setelah awan-awan kelabu menutupi wajah bumi. Di penghujung jalan setapak berbatu putih, kedua insan ini berjalan-jalan, tetapi memberikan dinding batas.

Miho tidak terlalu mengenal si anak mahasiswa internasional, Hardin Haneda. Dia bukan orang asli kewarganegaraan Jepang dan pemuda yang juga berjalan di belakang Miho berasal dari Kanada. Seputar fakta tentang Hardin pun tergolongan sebatas teman dan orang kepercayaan Matsudaira Ryusho di kampus Kyushu.

Walau begitu watak Hardin jauh dari budaya Jepang, yang tidak mau mencampuri urusan orang lain. Orang Kanada jelas suka menanyakan kuis persoalan orang lain tiba-tiba.

Ada juga ketidaksukaan Miho soal mulut ember Hardin. Tanda tanya seputar Shinji memberi Miho reflek tegang dan seketika ia jadi pengecut karena menyembunyikan identitas.

Ia rasa lingkaran mengenai perudungan akan jadi bulan-bulanan penerima secuil gosip ini.

"Saya berbuat kesalahan. Tolong maafkan tingkat lakuku, Watanabe." Hardin berhenti di jalan. Ia kira Miho akan berhenti untuk mendengar penjelasan kecil.

Lantas ia kembali menampilkan wajah setenang air kolam ikan koi. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir soal Shinji," tipunya mulus.

"Bolehkah saya jujur, kalau wajahmu menakuti orang? Rasanya sangat tegang," imbau Hardin merasa tidak nyaman lewat paras miskin ekspresi yang dimiliki Miho. "Omong-omong anak dari jurusanku punya pendapat yang sama."

"Yang seharusnya takut itu diriku," aku Miho kembali menundukkan kepala, mengalihkan pikiran dengan melihat melangkahkan kaki. "Mohon maaf, saya tak bisa sependapat."

Terlalu formal, Miho tak bisa bersikap nyaman jika berada di sekitar Hardin.

"Benarkah? Tak mungkin apa yang orang lain rasakan salah, terlebih bukan saya saja, Watanabe," tepis Hardin berjalan mengikuti Miho dari belakang.

Berkata bohong terdengar sebagai kejujuran, giliran pengakuan malah di cap gurauan. "Ada perbedaan besar. Saya punya privasi dan urusan yang penting di banding mengatakan setuju untuk memuaskan kebanggaan mereka dalam mencampuri hak orang lain. Tanpa menurunkan rasa hormatku padamu, ada waktu di mana kita harus menjaga ucapan, Haneda," ancam Miho di sela-sela peringatan. "Saya yakin leluhur dari negeri yang kau injak ini memberikan banyak pepatah bijak, bukan?"

"Saya akan menjaga batas," balas Hardin mengetahui silat lidahnya tak dapat menandingi.

"Sampai berjumpa lagi," pamit Miho membungkuk hormat dan pamit pergi ke arah yang berbeda.

Dalam perasaan kalut, Hardin tak sengaja memperhatikan bekas luka dari tangan kiri Miho. Terpampang di sisi telapak tangan. Tidak secara jelas ia memandangi bekas luka sayatan mengering dan bekas lama sayatan pada jari-jari Miho. Apa yang terjadi?

Dalam keterkejutan ini, hanya untuk sekilas. Muncul teori-teori dalam benaknya. "MIHO AKU TIDAK TERSINGGUNG! PERGILAH DULU MENEMUI RYUSHO!" Hardin melambai-lambai memberi kode. "AKU BARU INGAT UNTUK MENJEMPUT DUO KOCAK ITU!"

Ditinggal Miho yang terburu-buru sebelum ke kantin dan menuju perpustakaan kampus.

Hardin menggaruk-garuk tengkuk lehernya. Sekali lagi menyeramkan, ada hawa aneh yang menusuk-nusuk.

Bukannya gadis yang bernama Watanabe Miho sangat sukar didekati? Gosip-gosip yang bertebaran di kampus ternyata masih bisa diterima akal sehat, tetapi seberapa akurat kebenaran omongan mereka mengenai Miho? Hardin menggeleng pelan, raut wajahnya meringis karena asumsi remeh itu.

...Bersambung......

1
🥔Potato of evil✨
Ceritanya seru banget sampai aku lembur nge-baca, hehehe. 👍
Pluto
Next chapter, please! Aku harus tahu kelanjutan ceritanya.
Andi Akhasay: coba baca ceritaku
total 2 replies
Đông đã về
Author TIDAK BOLEH berhenti menulis, terus berikan karya yang memukau seperti ini!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!