Rania, gadis yatim piatu yang hidup bersama neneknya. Kesulitan ekonomi membuatnya terpaksa tidak melanjutkan kuliah dan membantu neneknya bekerja di rumah majikannya di kota. Kasih sayang sang majikan dengan menganggap Rania seperti cucunya bahkan membiayai kuliahnya, membuat seisi rumah perlahan membencinya. Hingga pada puncaknya ketika Tuan Haryo sang majikan terbaring sakit tak berdaya, sejak itulah penderitaan Rania dimulai. Nasib baik tak melulu berpihak pada Rania, bahkan sang kekasih yang selama ini selalu mendukungnya pun meninggalkan Rania saat hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon baby Fy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. "Saya Tahu Diri" (part 1)
“Aku ada sih informasi pekerjaan. Lumayan gajinya besar.”
“Iya kah, Kak? Apa itu?” Hilang sudah perasaan kurang nyaman Rania.
Perkataan Farel membuatnya penasaran, ia ingin secepatnya mendapatkan pekerjaan terlebih yang gajinya cukup untuk kebutuhannya.
“Tapi aku engga yakin kamu mau pekerjaan ini.” Kata Farel lalu ia menyeringai tipis.
-
Marni mondar-mandir di depan kamar Rania, sudah jam 9 dan cucunya belum pulang. Berulang kali ia menelpon Rania menggunakan ponsel jadul dan berulangkali pula telponnya dijawab oleh operator yang mengatakan bahwa ponsel Rania tidak aktif.
“Ada apa, Nek? Kok panik gitu.” Marni mendapati kedatangan Rania, ia tersenyum lega sedangkan Rania masih bingung.
“Kamu dari mana saja? Kok baru pulang?” Tanya Marni meminta penjelasan.
Memang terkadang Rania kerap pulang terlambat untuk mengerjakan tugas kuliah, tapi cucunya itu tak pernah lupa untuk mengabari kalau ia akan pulang larut malam.
Tidak seperti sekarang ini, pulang malam tanpa kabar terlebih keadaan Rania kemarin yang masih kurang baik.
“Rania mencari pekerjaan, Nek.” Jawab Rania, setelahnya ia membuka pintu kamar dan mempersilakan Marni untuk masuk.
“Kaki kamu masih sakit, Rania.” Terselip nada khawatir di suara Marni.
Rania mengerti kegelisahan yang masih terasa dalam diri Marni, senyum manis pun terpatri di wajahnya guna mengusir kegelisahan neneknya itu.
“Aku engga papa, Nek. Aku engga bisa terus bergantung pada Kakek Haryo, aku sadar diri nek.”
“Rania.” Lirih Marni.
“Nek, kalau semisal Rania merepotkan Nenek dari dulu bahkan sampai sekarang. Rania minta maaf.” Rania masih terngiang perkataan Rama yang menyebutnya pembawa sial, setiap kali ia mengingatnya selalu saja air mata lolos dari pelupuk matanya.
“Nak, ada suatu hal yang harus kamu tahu, tapi nenek belum bisa ceritakan itu sekarang.” Rania mengerutkan kening, rasa penasaran menyelimuti dirinya.
“Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Sudah menemukan yang cocok?” Marni yang keceplosan pun mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Sudah, Nek. Tapi Rania masih belum yakin, nanti Rania pikirkan ulang.” Rania tak lagi memikirkan rasa penasarannya. Begitu Marni mengatakan perihal pekerjaan, pikirannya tertuju pada pembicaraannya dengan Farel.
Flashback
“Pekerjaan apa memangnya, Kak?” Tanya Rania.
“Teman aku punya cafe gitu, tapi ramai nya pas malam aja. Kalau engga salah bisa part time juga.” Mata Rania berbinar mendengar hal itu.
“Gajinya lumayan, 2 juta per bulan dan belum bonusnya, tapi-” Farel sengaja tak melanjutkan perkataannya untuk melihat respon Rania.
“Tapi apa, Kak?” Tanya Rania yang sedikit kesal karena dibuat penasaran oleh Farel.
“Tapi persyaratannya, kamu harus cakep dan mau kerja di bawah tekanan, termasuk perintah atasan yang kadang engga bisa ditolak.” Rania mengulang perkataan Farel dalam hatinya, ia memikirkan apa yang dimaksud oleh kakak tingkatnya tersebut.
Rania berpikir yang dimaksud Farel kerja di bawah tekanan dan perintah yang tidak bisa ditolak, adalah pekerjaan seperti pelayan di restoran temannya dulu.
Seringkali Rania mendapatkan bentakan juga perintah mutlak yang sulit ia terima. Padahal pekerjaan sesungguhnya yang ditawarkan oleh Farel melebihi ekspetasi Rania.
“Aku engga papa deh, Kak. Boleh aku tau kemana aku harus melamar pekerjaan itu?” Farel tersenyum mendapati respon Rania.
“Kamu cuma perlu daftar dari internet aja.” Rania sejenak ragu karena ia belum melihat tempat kerjanya nanti.
Setelah Farel memberitahukan website untuk melamar pekerjaan tersebut, Rania tidak langsung mengaksesnya. Rania masih membuat pertimbangan dan akan mencoba mencari pekerjaan lainnya lagi.
Flashback off
“Ran, Rani, Rania kamu melamun?” Rania tersadar dari lamunannya saat Marni menepuk pundaknya.
“Eh! tadi nenek ngomong sampai mana?”. Marni menghela napasnya pelan dan menggeleng. Ia berpikir Rania mungkin terlalu lelah hingga melamun seperti tadi.
“Pak Haryo kena stroke, beliau juga masih belum sadarkan diri. Kemungkinan, Tuan Rama dan Nyonya Farah masih di rumah sakit sampai besok.” Rania memejamkan matanya, banyak yang perlu ia pikirkan malam ini. Sejenak ia mengirimkan doa untuk kesembuhan Haryo.
“Non Keisha juga pulang besok, Nek?” Marni menggeleng ragu.
“Entahlah, dia belum pulang dari kemarin.” Rania mengangguk mengerti. Keisha seangkatan dengan Vano, pasti ia tengah sibuk mengurus skripsinya.
Teringat akan Vano, sudah beberapa kali panggilan telpon kekasihnya itu ia abaikan. Rania berencana akan menelponnya setelah ini.
-
Rania berjalan lesu menuju kelasnya, matanya tak henti melihat pada ubin lantai kampusnya itu. Pikirannya melayang jauh pada pembicaraannya tadi malam bersama Vano di telepon.
Awalnya mereka hanya saling bertukar kabar dan mengobati rasa rindu, namun pembicaraan mulai serius ketika Rania bertanya perihal lowongan pekerjaan yang ditawarkan oleh Farel.
Rania mencoba memaklumi niat baik Vano yang ingin membantunya dan juga tak ingin ia kelelahan bekerja, akan tetapi Rania tak habis pikir oleh kata-kata Vano yang sedikit meninggi dan tajam menusuk tidak seperti biasanya.
Ingin berpikir positif, Rania menanggap Vano sedang dalam masa-masa sulit menjelang sidang skripsinya. Beruntung kelas Rania tidak sepagi biasanya karena semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan hal ini dan membuatnya mengantuk sekarang.
Dengan kantung mata tebal dan mata masih memerah menahan kantuk, Rania berusaha fokus saat dosen sudah masuk dan mulai menerangkan pelajaran.
-
Saat pelajaran telah usai, Rania membuka ponselnya dan tiba-tiba muncul notifikasi pesan dari Farel, ia mengernyit bingung pasalnya tak pernah ia memberikan nomornya itu ke sembarang orang. Namun pikiran itu langsung hilang ketika Rania membuka pesan dari Farel
Farel: Ran, engga penting aku dapet nomor kamu dari siapa. Aku cuma mau kasih info, kalau pelamar pekerjaan yang aku tawarin kemarin, kuotanya udah hampir penuh. Kalau kamu minat, aku bisa bantu kamu masuk dengan gampang. Datang ke alamat yang aku kirim jam 12 siang ini!
Rania melotot membaca pesan itu. Sekarang sudah pukul 11:15, ia masih bimbang akan memilih pekerjaan ini atau tidak.
Di lain sisi, ia tak ingin melawan perkataan Vano yang tak setuju dengan pekerjaan ini, memang benar akan apa yang dikatakan Vano semalam, pekerjaan menjadi pelayan cafe yang informasinya belum jelas cukup berbahaya untuk wanita lemah sepertinya.
Terlebih Rania masih memikirkan ulang, perihal persyaratan dan ketentuan yang menurutnya kurang lengkap tersebut.
Tapi sementara itu, dirinya perlu uang yang cukup untuk persiapan masa depannya. Vano terus menerus menawarinya biaya hidup, akan tetapi Rania memiliki ego dan harga diri tinggi, meskipun memiliki Vano yang berasal dari keluarga kaya raya, ia tidak mau bergantung sepenuhnya pada kekasihnya itu.
Setelah lama berkutat dengan pikirannya, Rania akhirnya ingin menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh Farel dan mencari pekerjaan lain yang lebih cocok untuknya.
Tak lama berselang setelah ia menutup ponselnya, getaran tanda pesan masuk muncul.
Nenek: Rania, setelah kuliah langsung pulang ya, Nak. Nenek harus ke rumah sakit secepatnya, keadaan Pak Haryo semakin buruk.
Setelah usai membaca pesan tersebut, Rania menarik napas dan menghembuskannya dengan berat. Ia melirik jam di ponselnya, dengan segera ia membereskan perlengkapan kuliahnya.
Rania berlari dengan cepat, berulang kali ia meminta maaf pada orang-orang yang tak sengaja ditabraknya di jalan. Rania akhirnya memilih untuk menaiki ojek agar cepat sampai ke tempat yang di tujunya.
Setelah berhasil menaiki ojek yang melaju cepat Rania segera mengambil ponselnya dan menuliskan pesan untuk orang di sebrang sana.
Rania: Kak Farel, aku kesana sekarang. Tolong bantu aku untuk mendapatkan pekerjaan itu.
Rate Menunggu Mu
ga sudi pake banget klw rania balik sm vano yg najisin....
yuhhh.. sudah bekasan gitu... menjijikan..