LAPTOP YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMBUAT NOVEL SEDANG RUSAK. DAN SEMUA MATERI BAHAN NOVEL ADA DILAPTOP ITU. JADI SAYA SELAKU AUTHORNYA MENYATAKAN NOVEL INI TELAH TAMAT :". SAYA JUGA TIDAK PUNYA CUKUP UANG UNTUK MEMBELI LAPTOP BARU. KALAUPUN DISERVIS JUGA PERCUMA
KANG SERVIS : MENDING BELI BARU LAGI AJA MBAK. SAYA SAMPAI HAPAL SAMA NIH LAPTOP LOH MBAK
SAYA : GAK PUNYA UANG MAS. :"
TERIMA KASIH YANG SUDAH MENJADIKAN NOVEL INI "FAVORIT". NOVEL INI HANYA KEISENGAN BELAKA KARENA SAYA SANGAT SUKA BERHALU FANTASI HEHE :".
SAMPAI JUMPA DICERITA HALU FANTASI KERAJAAN SELANJUTNYA. SEMOGA KITA BISA BERTEMU LAGI DENGAN TEMA FANTASI KERAJAAAN YANG LAIN. 😗😚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ka Joe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Hari ketujuh. Hujan turun begitu deras di pagi hari. Seluruh hutan menjadi basah begitu juga dengan kebun Odele. Semuanya terbasahi oleh hujan. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Odele dan Felix selain berdiam diri di dalam rumah.
Felix : Sejak aku tinggal disini. Ini pertama kalinya aku melihat hujan di tempat ini. Benar-benar sangat berbeda dengan hujan di Kekaisaran. Padahal sama-sama hujan. Tetapi kenapa hujan ini tidak menakutkan, justru membuatku menjadi tenang.
Banyak orang yang menyukai hujan. Beberapa di antara mereka merasa tenang atau mengantuk mendengar suara rintik-rintik air yang jatuh. Beberapa lainnya merasa senang menghirup aroma yang muncul.
Hujan memang merupakan fenomena alam yang bisa membangkitkan berbagai perasaan, mulai dari perasaan sedih, ketakutan, kenyamanan, atau kedamaian saat aroma hujan muncul. Ya, ketika hujan turun atau sudah berhenti, Kita mungkin menyadari ada aroma khas yang tercium. Biasanya, aroma ini keluar dari tanah ketika hujan turun setelah musim kemarau berkepanjangan.
Bau tanah itu disebut petrichor. Petrichor adalah salah satu bau alami yang tercium saat hujan turun membasahi tanah yang kering. Kemunculan petrichor dapat disebabkan oleh beberapa hal, mulai dari bakteri yang terlepas ke udara, hingga minyak yang terdapat di tumbuhan.
Felix : Apalagi tempat ini adalah satu-satunya rumah yang ada di dalam Hutan Terlarang. Tidak ada bangunan lain selain rumah Odele. Dan tanah kosongnya juga banyak. Mungkin karena itu aroma hujannya jadi menenangkan. Sudah jam 10, kenapa Tuan Rumahnya belum terlihat sama sekali? Anak ini pasti masih tidur.
Felix yang saat ini berada di dapur. Setelah dia selesai mencuci piring. Melepaskan apronnya, dia langsung pergi menuju tangga. Kaki Felix baru menaiki anak tangga ketiga dari bawah. Dia melihat pintu rumah terbuka.
Odele : Fyuh~ Hujannya deras sekali.
Felix : ODELE ?!!
Odele : Eh, iya? Kenapa kau berteriak?
Felix : Kau darimana? Dan apa yang kau lakukan diluar?!
Odele : Oh, aku baru saja menyimpan alat-alat kebun agar tidak terkena air. Badanku jadi basah.
Melihat seluruh badan Odele basah. Felix turun dari tangga. Dengan dia cepat mengambil selimut bersih di lemari. Selimut?
Felix : Aku akan membantu mengeringkan badanmu.
Odele : Terima kasih, Felix. Eh... Loh.. loh.. Felix..
Felix tidak mendengar ucapan Odele. Dia terus melilit selimut itu di tubuh Odele. Benar-benar membungkusnya sampai hanya terlihat kepala Odele saja.
Felix : Sudah beres.
Odele : FELIX?!! Apa yang kau lakukan padaku?
Felix : Sekarang waktunya mandi. Aku akan membawamu ke kamar mandi.
Odele : Membawaku? Apa maksudnya? Lepaskan, Felix. Aku tidak bisa berjalan.
Felix : Aku tidak menyuruhmu berjalan. Aku akan menggendongmu bagaikan karung beras.
Odele : APA? Felix, turunkan aku.
Felix : Tidak mau. Jangan banyak bergerak. Kau bisa jatuh.
Odele : Makanya lepaskan aku!!
Terlihat wajah Felix yang amat sangat kesal dengan sikap Odele. Setelah membungkus badan Odele dengan selimut besar. Dia pun menggendong Odele, menaruhnya dipundaknya bagaikan sebuah karung.
Felix : Diamlah, kita berdua bisa jatuh dari tangga.
Odele : Lepaskan aku, Felix.
Felix : Aku akan melepaskanmu setelah kita sampai ke kamar mandi.
Odele : Tapi aku bisa jalan sendiri.
Felix : Lantainya bisa basah. Aku sudah membersihkan lantainya. Dan aku tidak ingin melakukan pekerjaan itu lagi.
Odele : Hm menyebalkan.
Felix : Apa selama ini kau makan dengan benar?
Odele : Tentu saja. Aku bahkan makan dua kali lipat
Felix : Tapi kenapa badanmu ringan sekali?
Odele ; Kau mengejekku? Aku memang gendut. Kau tidak perlu berbohong seperti itu.
Felix : Untuk apa aku berbohong? Sepertinya aku harus bekerja lebih keras lagi untuk memberi makan kucing kecilku.
Odele : Apa? Aku bukan kucing kecil!!
Felix : Tapi kau kecil seperti anak kucing~
Odele : Jangan meledekku, Felix!
Felix pun menurunkan Odele. Dia juga melepas selimut itu. Dan Odele hanya terdiam.
Felix : Oke. Sekarang, ini handuknya. Tunggu sebentar. Aku akan nyalain air panasnya. Kau duduk dulu disitu.
Odele : Aku bisa melakukannya.
Felix : Sabun, samponya sudah ada. Oh, airnya sudah hangat.
Odele : Felix, dengarkan aku.
Felix : Ah, baju ganti. Sebentar akan aku ambilkan baju gantimu.
Odele : Itu bajuku. Aku akan mengambilnya sendiri.
Felix : Tidak, tidak. Kau duduk saja disitu. Akan aku ambilkan. Kau bukan orang pemilih dalam memakai baju, bukan?
Odele : Tidak. Apa saja boleh, piyama juga boleh.
Felix : Hmm baiklah. Karena ini masih pagi dan hujan. Aku akan mengambil baju harian saja. Sebentar aku akan ke kamarmu. Kau diam disini.
Odele : Felix, aku bukan anak kecil. Kenapa kau tidak mendengarkan aku!
Felix : Diamlah, Odele. Hanya itu permintaanku. Kau bisa melakukannya untukku, kan?
Odele : Baiklah.
Kamar mandi dan Kamar Odele terpisah. Sebenarnya di dalam kamar juga ada kamar mandi. Tapi itu hanya digunakan Odele saat malam hari saja. Untuk sehari-hari Odele lebih sering menggunakan kamar mandi diluar kamar. Felix pun masuk ke dalam kamar Odele. Mengambil baju harian Odele. Mulai dari baju luar hingga baju dalam. Tidak ada perasaan malu dalam diri Felix untuk mengambil pakaian wanita seperti ini. Padahal ini pertama kalinya Felix mengambil dan menyiapkan pakaian wanita.
Felix : Nih, kau bisa memakai ini.
Odele : ??
Felix : Tenang saja, aku bukan orang mesum seperti yang kau bayangkan.
Odele : Kau tidak perlu melakukannya. Aku bisa mengambil bajuku sendiri.
Felix : Sudahlah tidak perlu dibahas. Mandilah. Aku akan menunggumu diluar.
Odele : Menungguku diluar? Kenapa? Kenapa kau menungguku diluar?
Felix : Memangnya kenapa?
Odele : Jangan menungguku diluar. Turunlah kebawah. Kau akan merasa bosan jika menungguku diluar.
Felix : Tidak apa. Kalau begitu aku akan menunggumu di dalam kamarmu. Bagaimana?
Odele : Baiklah. Ah, sekalian tolong rapikan tempat tidurku, ya.
Felix : Kau belum merapikan tempat tidurmu?
Odele : Kau tidak melihatnya? Bukankah barusan kau mengambil baju di dalam kamarku?
Felix : Ah, baiklah. Aku akan merapikan tempat tidurmu. Jadi cepatlah mandi. Aku keluar.
Felix pun keluar, meninggalkan Odele yang terlihat kebibungan dengan sikap Felix.
Odele : Ada apa dengannya ? Kenapa dia tidak marah-marah seperti kemarin? Melihatnya tenang seperti ini membuatku takut. Aku harus cepat-cepat mandi dan meminta maaf padanya. Wah airnya masih hangat.
Felix berada dalam kamar Odele.
Felix : Kamarnya seperti kamar anak perempuan pada umumnya. Tidak ada kemewahan dalam kamar ini. Aksesorisnya pun terlihat biasa. Mungkin benar kata Odele, dia bukan dari keluarga bangsawan tetapi dari keluarga pedagang.
Tidak ada kemewahan dalam kamar Odele. Terlihat sederhana, bernuansa pastel. Tetapi ada yang aneh dalam kamar ini.
Felix : Hanya kamar ini yang terlihat indah jika dibandingkan dengan kamar lainnya yang ada dibawah. Apa karena dia adalah Nona Muda disini jadi itu alasannya kamar dia lebih bagus dibanding kamar yang lain. Tapi kamar ini sangat cocok dengan dirinya. Benar-benar kamar anak perempuan.
Felix mulai melihat-lihat barang-barang yang ada di dalam kamar Odele. Hanya terdapat lukisan-lukisan di dinding kamar. Tetapi kenapa tidak ada satupun foto keluarga di kamar Odele?
Felix : Dia tidak memiliki banyak aksesoris disini. Tidak ada boneka atau apapun itu. Apa keluarganya tidak membelikan dia sesuatu seperti mainan? Dan juga aku tidak menemukan bingkai foto keluarga disini.
Biasanya anak perempuan akan menyimpan dan memajang foto Ayah, Ibu dan saudara-saudaranya di dalam kamar. Apalagi setelah mendengar cerita Odele bahwa dia memiliki keluarga yang harmonis dan sangat menyayanginya.
Tapi kamar ini banyak sekali bunga. Aroma wangi bunga semerbak di seluruh ruangan.
Ada banyak sekali bunga di dalam kamar Odele. Ada bunga dalam vas, bunga yang digantung, bunga yang menempel di dinding dan tiap sudut kamar pun juga ada bunga.
Felix : Hahahah baiklah baiklah, sudah cukup melihat-lihatnya Felix. Tidak ada yang aneh dalam kamar ini. Benar-benar seperti kamar anak perempuan. Apa bunga ini asli atau palsu? Kalau dipegang rasanya seperti bunga asli. Tetapi jika bunga asli berada di dalam ruangan tanpa air, bukankah dia hanya akan bertahan selama tiga hari.
Felix pun penasaran dengan bunga-bunga yang ada di dalam kamar Odele. Dia pun memegang bunga-bunga itu untuk memastikan keasliannya. Mencium aroma tiap bunga. Dan aroma harum itu benar-benar seperti bunga asli, bukan aroma parfum yang di semprotkan ke tiap bunga. Dan yang terakhir ketika Felix memetik satu kelopak bunga dan bahkan memetik satu tangkai bunga. Tiba-tiba saja ada bunga baru yang tumbuh dan muncul begitu saja ditempat Felix memetik bunga itu.
Felix : Hah? Apa? Apa ini? Kenapa ada bunga lain yang cepat sekali tumbuh di tempat itu? Apa aku bermimpi? Aku akan mencoba memetiknya di bunga lain.
Petik, petik, petik. Tidak puas hanya memetik bunga di dalam vas. Dia juga memetik bunga yang digantung bahkan hampir semua bunga dalam kamar Odele telah di petik dan semuanya berubah menjadi bunga berwarna pink.
Felix : Tempat apa ini sebenarnya ? Sihir? Apa ini sihir? Tidak. Sihir itu tidak ada. Mereka sudah pu...nah....
Seketika itu Felix tertidur di atas kasur Odele. Bunga yang baru muncul akan mengeluarkan aroma harum berupa ketenangan yang bisa membuat seseorang yang menghirupnya bisa lebih tenang, dan menenangkan semua saraf dalam tubuh. Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Sepertinya Odele telah selesai mandi dan akan masuk ke dalam kamarnya.
Odele : Segar juga. Tadi Felix bilang akan menungguku di kamar, bukan. Felix. Felix. Aku sudah selesai mandi... Eh.. Loh.. Kenapa dia malah tidur ? Apa dia sangat kelelahan?
Melihat Felix yang sedang tertidur di atas kasurnya. Odele merapikan posisi tidur Felix. Memasangkannya selimut, dan menata rapi bantalnya.
Odele : Bahkan Kakak saja tidak pernah tidur di kasurku. Kalau kau memang kelelahan harusnya tidak perlu bangun pagi, Felix. Hmm, aroma ini. Seperti aroma Bunga Ailin. Loh, Kenapa bunganya berubah? Harusnya masih bunga berwarna merah. Tetapi Kenapa Bunga Ailin pink bisa muncul.
Kamar Odele dibangun dan didekorasi dengan sihir. Ada berbagai macam sihir dalam kamar Odele. Dan hanya kamar Odele saja yang diberi sihir untuk membuat dia lebih tenang dalam beristirahat. Dimulai dari sihir pengatur suhu. Cuaca diluar rumah tidak akan memengaruhi suhu di kamar Odele. Mau itu panas atau musim dingin, tidak akan memberikan efek pada kamar Odele.
Selain itu. Bunga-bunga yang dipajang di dalam kamarnya itu adalah pemberian dari Sang Ibu. Ibu Odele sangat menyukai bunga. Apalagi Odele adalah anak perempuan satu-satunya di dalam keluarga. Ditambah wajah cantik Sang Ibu bagaikan sebuah bunga cantik yang baru saja mekar.
Odele : Diluar masih hujan. Dan masih jam 10 pagi. Sebaiknya aku ngapain ya ? Apa aku bangunkan Felix saja? Tidak. Aku akan membiarkannya tidur. Ini adalah hukuman untukmu, Felix. Karena sudah mengubah dekorasi kamar orang seenaknya. Hihihi~ Dibawah ada makanan apa, ya. Apa Felix sudah masak? Sepertinya sudah.
Odele pun meninggalkan Felix sendirian di dalam kamarnya. Dia keluar dengan mengunci kamarnya dari luar. Tidak ada maksud jahat dari hukuman Odele. Dia hanya ingin bermain sedikit dengan Felix. Setelah sampai di dapur, dia melihat ada makanan yang masih hangat berada di atas meja makan. Tanpa memikirkan Felix yang sedang tertidur. Odele langsung menyantap habis semua makanan itu tanpa menyisahkan makanan untuk Felix.
Sepanjang hari rumah Odele diguyur hujan dengan sangat deras tanpa berhenti. Hingga malam tiba barulah hujan itu berhenti dan meninggalkan aroma petrichor serta udara dingin dan embun. Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Felix yang saat ini masih berada di kamar Odele, belum juga terbangun.
Odele : Haruskah aku membangunkannya ? Atau besok pagi saja ?
Felix : zzzz
Odele : Kasihan juga sebenarnya. Apalagi dia belum makan sama sekali.
Felix : zzz
Odele : Felix, Felix. Ayo bangun. Sudah waktunya kau bangun. [ Dengan suara lembut ]
Dengan satu kalimat. Mata Felix langsung terbangun. Dia pun tersadar dan langsung mengambil posisi duduk.
Odele : Apa nyawamu sudah terkumpul semua ?
Felix : Aku tertidur?
Odele : Iya, kau tidur di kasurku. Apa tidurmu nyenyak ?
Felix : Bagaimana bisa aku tidur disini?
Odele : Mungkin karena kelelahan.
Felix : Tidak. Aku masih ingat jelas tadi aku menunggumu selesai mandi di dalam kamar. Lalu aku melihat dekorasi bunga. Dan bunganya berubah warna. Kemudian ada aroma harum yang keluar dari bunga itu. Dan selanjutnya aku tidak ingat...
Odele : Lalu bagaimana tidurnya? Kau tidak bermimpi buruk, kan?
Felix : Ya, aku tidur dengan sangat nyenyak. Odele. Apa itu bunga sihir?
Odele : Bunga sihir ? Kau tahu bunga sihir juga ? Bunga ini memiliki nama Ailin. Warnanya merah muda dan mengeluarkan aroma menenangkan dan sangat cocok untuk seseorang yang kesulitan dalam tidur. Apa selama ini kau susah tidur, Felix ?
Felix : Ya, selama ini aku sulit sekali tidur karena pekerjaanku.
Odele : Wah kau pasti seorang yang pekerja keras. Luangkan waktu untuk istirahat walaupun pekerjaanmu begitu berat. Apa kau juga mengalami susah tidur saat tidur di kamar bawah ?
Felix : Tidak. Aku tidur nyenyak tapi tidak senyenyak ini.
Odele : Kalau begitu tidurlah disini. Di kamarku.
Felix : Apa ? Lalu kau tidur dimana?
Odele : Tentu saja tidur disini juga. Kita tidur berdua. Hehe~
Booom! Wajah Felix akhirnya meledak. Baru saja dia terbangun dan mendapati sebuah ajakan yang hampir tidak pernah dia bayangkan. Ajakan dari seorang wanita cantik yang setiap hari membuat jantungnya berdebar sangat keras untuk tidur berdua dikamarnya.
Felix yang hampir gila dan kebingungan memberi respon atas undangan polos Odele. Dia bergegas turun dari kasur, langsung lari menuju tangga dan betapa terkejutnya dia melihat kearah jendela yang sudah gelap.
Felix : Kok gelap? musim hujan di siang hari ditempat ini seperti musim hujan di malam hari. Tapi aku tidak mendengar suara hujan turun. Apa sudah reda?
Kaki Felix menuju jendela. Dan betapa amat sangat terkejutnya dia melihat bulan bersinar diatas langit dengan indahnya.
Felix : Apa? Apa-apaan ini? Kenapa ada bulan di siang hari? Gawat! Apa ini kiamat?
Odele : Kenapa kau begitu terkejut?
Felix : Odele, Lihatlah. Bagaimana bisa ada bulan besar di langit, ini kan masih siang.
Odele : Ini sudah malam.
Felix : Apa?
Odele : Iya, sudah malam. Kau sudah tidur seharian ini.
Felix : Apa maksudmu malam? Aku hanya tidur sebentar di kasurmu. Dan bahkan itu tidak ada 3 jam.
Odele : Ikut aku.
Felix : Kemana ?
Odele : Sudahlah ikut saja.
Odele menarik tangan Felix. Mereka pergi menuju pintu rumah. Odele membuka pintu dan menunjukan suasana malam diluar sebagai bukti bahwa saat ini benar-benar suadah malam
Odele : Apa kau sudah percaya ?
Felix : [ Menganga ]
Odele : Felix. Halo. Felix sadarlah.
Felix : Apa yang kau lakukan padaku?
Odele : Apa? Kau bilang apa? Aku tidak terdengar.
Felix : Aku tanya apa yang kau lakukan padaku?! [Dengan suara keras ]
Odele : Felix,suaramu terlalu keras.
Felix : Jawab aku, Odele! Apa yang sudah kau lakukan padaku sampai membuatku terbangun dimalam hari?!
Odele : Kau tertidur dikamarku dan aku memang sengaja tidak membangunkanmu.Hanya itu saja. Kenapa bicaramu keras sekali?
Felix : Sengaja tidak membangunkanku? Tapi itu masih tidak masuk akal, Odele! Apa kau memberiku obat tidur?
Odele : Tidak, Felix. Untuk apa aku memberimu obat tidur. Itu semua berasal dari aroma Bunga Ailin.
Felix : Apa bunga itu mengandung sihir?
Odele : Tidak mengandung sihir. Tetapi bunga itu memang Bunga Sihir. Felix, kenapa kau marah kepadaku? Maafkan aku, Felix. Aku tidak akan berbuat iseng seperti ini lagi.
Felix : Kau... [ Langsung masuk ke dalam rumah ]
Odele : Felix. Felix. Ada apa? Kenapa kau begitu marah kepadaku? Felix...
Felix langsung masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Odele yang saat itu berada di luar rumah. Odele benar-benar bingung melihat Felix saat itu. Tanpa alasan yang jelas, nada bicara Felix sangat keras dan tinggi. Begitupun dengan Felix, dia tidak mengatakan apapun kepada Odele.
Odele masuk ke dalam rumah. Mengejar Felix. Berulang kali mengucapkan kata maaf tapi tidak diperhatikan oleh Felix. Wajah serius mulai terlihat serius. Layaknya ada sebuah masalah besar yang tiba-tiba saja muncul kembali. Lalu Odele juga mulai kelelahan karena Felix sama sekali tidak memberi respon apapun kepadanya. Dari arah belakang, Odele memeluk Felix agar dia diperhatikan.
Odele : Felix, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Jangan marah. Aku tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi. Aku hanya ingin kau bisa tidur sedikit lebih lama lagi.
Felix : Tidur sedikit lebih lama lagi, kau bilang ? Kau ingin aku mati?
Odele : Apa mati ? Astaga, untuk apa aku melakukan hal itu? Maafkan aku, Felix. Aku melihat ada lingkaran hitam di bawah matamu. Aku juga merasa bersalah karena selama kau tinggal disini, kau yang mengambil alih pekerjaan seluruh rumah.
Felix : Itu tidak masuk akal, Odele. Lepaskan aku.
Odele : Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu.
Felix : Odele, Aku bilang lepas.
Odele : Tidak mau. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau memaafkanku.
Nada bicara Felix mulai kembali normal. Dia sudah tidak lagi berbicara dengan nada tinggi kepada Odele. Dan perlahan Odele melepaskan rangkulan tangannya.
Felix : Odele, kita bicarakan ini besok pagi. Sekarang pergilah ke kamar. Kau tidak boleh tidur malam-malam. [ Sambil mengusap kepala Odee ]
Odele : Maafkan aku, Felix.
Felix : Maaf, Odele. Aku harus menenangkan pikiranku terlebih dulu. Aku akan masuk ke kamar.
Odele : Baiklah, Felix. Selamat malam.
Untuk pertama kalinya ada suasana canggung di antara mereka. Padahal bulan besar sedang bersinar di langit malam. Tetapi suasana dirumah Odele tidak bersinar seperti bulan diatas.
Hari kedelapan. Pagi hari di hari kedelapan, tidak terlihat ada kegiatan di dalam rumah. Lampu kebun masih menyala. Jendela rumah masih tertutup. Dan cerobong asap dapur juga tidak nampak ada asap yang keluar dari tempat itu.
Saat ini Odele masih tidur dikamarnya. Itu merupakan hal biasa di pagi hari. Tetapi ada satu yang tidak biasa. Kamar Felix masih terkunci. Ini pertama kalinya dia tidak bangun pagi. Dia tidak bangun pagi atau dia memang belum tidur dari semalam. Lalu apa yang dia lakukan di dalam kamarnya?
Felix : Aargh!! Sial. Tempat ini terlalu nyaman untukku sampai membuatku melupakan tujuan utamaku. Ini sudah hari ke delapan. Sudah saatnya aku kembali ke Kekaisaran. Aku tidak pernah menduga tinggal di tempat ini benar-benar membuatku menjadi tenang. Insomniaku, lingkaran hitam di bawah mata juga semuanya hilang. Haa... Odele, siapa kau sebenarnya...?
Felix duduk di kursi kamar. Terlihat banyak sekali tumpukan kertas diatas meja itu. Dimulai dari asal usul keluarga Odele. Jika dia kembali ke Kekaisaran, dia berniat untuk mencari tahu keluarga Odele. Keluarga yang rela meninggalkan anak gadisnya tinggal di hutan sendirian hanya karena takut Kaisar menculik anak perempuannya.
Felix : Walaupun bukti-bukti pencarian keluarga Odele masih sangat sedikit. Setidaknya aku sudah menulis ciri-ciri Odele dalam kertas ini.Dengan begini aku bisa menyuruh Edsel atau Leon untuk menyelidiki orang tua yang memiliki ciri-ciri fisik seperti Odele.
Gadis muda, berambut merah muda, memiliki kulit putih bersih, berbadan kurus langsing, bermata bulat dan tinggi badan sekitar 166 cm. Itulah yang ditulis oleh Felix tentang Odele. Dan tak luput juga dia juga menulis nama Odele di dalam kertas itu. "Odele Odele Odele Odele Odele Odele". Ada dua lembar kertas penuh yang bertuliskan nama Odele.
Felix : Kemudian tentang sihir. Darimana asal bunga sihir itu? Kekaisaran telah membunuh seluruh penyihir dan pengguna sihir di jaman dulu. Dan aku yakin perburuan penyihir itu tidak meninggalkan jejak apapun. Apa Odele adalah pengguna sihir? Atau salah satu keluarganya adalah pengguna sihir? Ya itu bisa saja terjadi. Atau jangan-jangan Keluarga Odele adalah salah satu penyihir yang sedang bersembunyi? Arrrghh!! Sialan. Apa yang harus aku lakukan? Odele... Bagaimana caranya aku harus bersikap didepanmu...
Jaman dulu sekali, Kekaisaran melakukan perburuan penyihir dan pengguna sihir besar-besaran. Mereka membunuh dan membakar semua penyihir. Banyak alasan yang tersebar di luar sana. Penyihir dilambangkan sebagai makhluk hidup yang memiliki niat jahat, dan juga licik.
Felix : Jika aku terlalu lama tinggal disini, bisa-bisa aku melupakan identitasku dan tanggungjawabku. Menyebalkan. Kenapa tidak ada satu pun anggota keluarganya yang datang menemuinya. Walaupun bangunan rumah ini terlihat sangat mencurigakan tetapi semuanya terlihat seperti bangunan rumah pada umumnya.
Selama Felix tinggal dirumah Odele. Felix telah menelusuri sekeliling rumah itu mulai dari bagian luar rumah hingga bagian dalam rumah. Tidak ada satupun yang terlihat mencurigakan. Semua perabotan dan perlengkapan digunakan secara manual tidak menggunakan sihir. Hanya saja di hari ketujuh saat itulah, Felix untuk pertama kalinya masuk ke dalam kamar Odele.
Felix : Di dalam kamarnya pun tidak ada foto keluarga. Tidak ada aksesoris yang melambangkan identitas keluarganya. Jika Odele berasal dari keluarga pedagang atau pengusaha setidaknya dia memiliki lambang identitas itu. Aku sudah menulis semuanya. Apa aku melupakan sesuatu?
Dimulai dari hari pertama kedatangan Felix, dia sudah menulis asal usul dia bisa berada dirumah itu. Mulai dari hari pertama hingga hari ketujuh.
Felix : Tanaman obat? Benar, kalau tidak salah Odele mengatakan sesuatu... Ah. Tidak. Obat itu sangat pahit sampai membuat aku merinding. Lebih baik aku pergi ke medan perang daripada harus minum obat pahit itu. Ah.. sudah jam 10. Aku harus membuat sarapan untuk Odele. Bagaimana pun juga aku tidak memarahi anak polos itu.
Tiba-tiba saja terdengar suara piring pecah dari arah dapur. Sontak membuat Felix terkejut dan langsung lari menuju dapur.
Odele : Aduuh kenapa jatuh segala sih, kan jadi pecah piringnya. [ Tangan Odele berniat mengambil pecahan piring itu ]
Felix : Bodoh, apa yang kau lakukan? [ Meraih tangan Odele ]
Suara itu berasal dari piring yang jatuh di lantai. Terlihat ada Odele di sana. Mengenakan celemek masak. Sepertinya dialah pelaku keributan di dapur saat itu. Felix yang melihat tangan Odele yang berniat untuk mengambil pecahan piring itu langsung berlari menuju dapur dan menghadang tangan Odele.
Odele : Oh, Felix sudah bangun? Selamat pagi, Felix~
Felix : Ini sudah siang.
Odele : Oh, kau benar. Selamat siang, Felix~ Apa tidurmu nyenyak?~
Felix : Berdirilah, biar aku yang membersihkannya.
Odele : Tidak perlu. Aku saja yang membersihkannya. Aku tadi yang meme...
Felix : [ Muka marah ]
Raut wajah Felix terlihat sangat marah. Kerutan di dahinya mulai terlihat. Matanya memancarkan sorotan sebuah perintah agar Odele menuruti perkataannya. Odele pun menyadari ekspresi marah Felix. Dan dia pun menuruti perkataannya
Odele : Baik, baik. Akan aku ambilkan sapu.
Felix : [ Menunggu sapu ]
Odele : Nah, ini sapunya. Aku akan duduk di meja makan.
Felix : Haa... Duduklah yang tenang, jangan membuat keributan lagi.
Odele : Baik, komandan.
Felix pun mengambil alih membersihkan pecahan piring itu. Dan Odele hanya duduk manis di meja makan sesuai perintah Felix.
Felix : Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Bagaimana bisa piring ini pecah?
Odele : Aku ingin membuat sarapan untukmu, tidak, maksudku sarapan untuk kita berdua. Lalu piring yang baru saja aku cuci masih basah dan tanganku licin. Jadinya jatuh deh.
Felix : Bukankah sudah kubilang, urusan dapur biar aku yang melakukannya.
Odele : Tapi ini sudah jam 10. Dan tidak seperti biasanya kau bangun kesiangan. Maafkan aku, Felix.
Felix : Aku bukannya belum bangun tapi aku sedang sibuk di dalam kamar. Maaf untuk apa?
Odele : Maaf atas kejadian kemarin. Aku tidak ada niatan untuk membunuhmu. Aku benar-benar hanya ingin membantumu saja. Aroma Bunga Ailin bagus untuk seseorang yang susah tidur.
Felix : Kita lupakan kejadian kemarin.
Odele : Apa itu artinya kau memaafkanku?
Felix : Kau ingin dimaafkan?
Odele : Tentu saja. Aku akan sangat senang jika kau mau memaafkanku.
Felix : Kalau begitu setelah selesai sarapan. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu.
Odele : Boleh. Tanya kan saja semuanya kepadaku~ Aku akan menjawabnya.
Felix : Aku tidak masalah kalau pun jawabanmu tidak jujur.
Odele : Kau boleh bertanya apa saja kepadaku, Felix. Lagi pula kita belum pernah bertanya satu sama lain dengan serius, bukan?
Nada bicara Odele berubah. Lebih ke serius dan juga dewasa. Felix yang saat itu masih menyapu dan wajah mereka berdua tidak saling bertatapan. Membuat Felix terkejut dan sedikit merinding setelah mendengar nada bicara Odele yang seperti itu.
mampir juga yuk ke Broken Angel
dialur cerita yg semestinya cerita nya yg serius
semangat ya