"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
“Makannya nurut sama gue. Kalau lo enggak mau, nanti gue kasih tahu Yuri kalau lu suka sama dia dari pertama dia masuk sekolah ini.” Doni tersenyum licik, ia tahu kelemahan Alex jika menyangkut masalah Yuri. Ia pasti akan menuruti perkataannya.
Doni tahu temanya ini sudah menyukai Yuri ketika siswa baru masuk ke sekolah ini. Alex yang tidak berani berterus terang, hanya bisa memendam rasa suka ini untuk dirinya sendiri. Sayangnya rasa suka ia terhadap Yuri, diketahui oleh Doni. Sebenarnya sudah lama Alex kenal dengan Yuri, hanya saja dia tidak pernah bertatap langsung apalagi berbicara dengannya. Dari situlah Doni sering mengejek Alex.
Alex mengusap mukanya dengan kasar, bisa-bisanya Doni mengancam dirinya. Ia melihat ke arah Yuri yang saat ini masih berbicara dengan Rara, entah kenapa setiap kali melihat wajah Yuri, jantungnya semakin berdetak kencang. Bahkan wajahnya langsung merah.
Alex mengacak rambutnya, mau tidak mau ia harus bertemu dengan Dewi. “Iya, nanti kalau ketemu sama Dewi, gue bakal bilang lagi sama dia,” ucapnya malas.
“Nah, gitu dong. Laki-laki tuh harus gentle, masa orang yang kita suka harus rela sih disakiti sama orang lain. Apalagi sesama wanita.”
“Diam lo!” Alex melotot kan matanya agar Doni jangan banyak bicara lagi, sebenarnya Alex juga tidak terima jika Yuri disakiti oleh Dewi.
Selesai dari ruang UKS kami berempat masuk ke kelas masing-masing, teman sekalasku langsung mengerubungiku. Mereka ingin tahu, kenapa aku bisa dilabrak oleh Dewi.
“Enggak ada apa-apa kok aku sama Kak Dewi, tadi itu aku enggak sengaja tabrak Kak Dewi. Gara-gara aku makanannya jadi kena bajunya.” Jelasku kepada teman-teman sekelas, terlihat dari raut wajah mereka semua. Kalau mereka tidak ada yang percaya dengan ceritaku.
“Masa sih? Kok aku enggak percaya, kalau cuma ketabrak terus kena bajunya. Kan bisa dibersihkan, satu sekolah pada heboh loh.”
Aku mengela napasku, agar dadaku terasa plong. Percuma juga dijelaskan, satu sekolah memang sudah tahu sifat buruk Dewi. Apalagi dia sering kena teguran sama pihak sekolah, tapi tetap saja dia selalu berulah.
Bahkan guru-guru di sekolah pun, sudah angkat tangan menangani sikap Dewi yang begitu kasar. Sudah banyak murid yang terluka akibat ulah nakal Dewi. Banyak wali murid mengadu kepada pihak sekolah, namun semua itu percuma. Lagi-lagi Dewi lolos dari hukuman sekolah, maklumlah Dewi anak orang pengusaha kaya. Setiap kali ada masalah pasti orang tuanya selalu menyelesaikan dengan uang.
Untung saja, di saat Yuri di bawa ke belakang oleh Dewi, Alex sempat melihat semua siswa bergerombol di koridor sekolah dan menanyakan sesuatu kepada para siswa yang di sana.
“Ini pada kenapa ya? Kok pada kumpul-kumpul di sini?” tanya Alex penasaran.
“Tadi Kak Dewi seret anak kelas 2 ke belakang sekolah, gara-gara anak kelas 2 enggak sengaja makanannya tumpah kena baju Kak Dewi.”
“Kelas 2? Jangan-jangan Yuri lagi,” batin Alex menebak, bergegas ia lari ke arah belakang sekolah untuk menolong Yuri. Ia yakin sekali Dewi akan melakukan tindakan kekerasan terhadap Dewi 1 tahun yang lalu, ketika Rara menceritakan kejadian antara Yuri dan Dewi. Kalau saja Alex tidak ingin pergi ke toilet saat makan siang di kantin tadi. Ia tidak akan tahu kejadian Dewi menyeret Yuri ke belakang sekolah. Sesampai di belakang sekolah, ia melihat Dewi mencengkeram kerah seragam Yuri. Di saat Dewi ingin menampar Yuri, ia berlari menghampirinya agar Dewi tidak berbuat di luar batas.
Rasanya ingin sekali ia membalas perbuatan Dewi, sayangnya ia masih memikirkan bahwa Dewi masih seorang perempuan. Ia tidak ingin bertindak kasar terhadap perempuan, setelah Dewi pergi. Alex memapah Yuri yang sudah lemas, dalam hati ia terlihat gugup. Ini pertama kalinya Alex menyentuh perempuan, ia berusaha bersikap tenang. Diam-diam Alex terus menatap wajah Yuri yang masih tertunduk, hati Alex sedikit terluka melihat wajah orang yang ia suka terluka.
Sepanjang koridor sekolah, Yuri terus menutup wajahnya dengan jilbabnya, apalagi seluruh siswa melihat ke arah mereka berdua.
...
"Hari ini, kamu langsung pulang aja ya, untuk traktir es krimnya bisa di lain waktu. Sekarang kamu istirahat aja di rumah ya," ucap Rara mengkhawatirkanku, gagal lagi makan es krimnya.
"Maaf, ya Ra. Gara-gara aku, kita jadi enggak bisa makan es krim lagi. Padahal aku pengen banget makan es krim sama kamu."
“Ya, habis mau gimana lagi. Lain kali aja ya. Pipi kamu masih sakit?”
Aku menggelengkan kepalaku, “udah enggak kok, lagi juga bengkaknya udah mendingan kok.”
“Untuk masalah ini kamu mau lapor ke orang tua?”
“Enggak! Aku enggak mau orang tua aku sampai turun tangan, biar Allah aja yang balas perbuatan Kak Dewi. Allah enggak tidur kok.”
“Kok bisa ya kamu enggak balas perbuatan Kak Dewi, padahal itu udah parah banget loh. Kalau aku jadi kamu, pasti si Nenek Lampir udah habis aku tonjoki!” ucapnya meluapkan kekesalan terhadap sikap Dewi yang sudah kelewatan.
Setelah semua siswa pulang ke rumah, aku masih menunggu di depan gerbang. Mamahku masih dalam perjalanan menuju sekolah. Katanya jalan menuju sekolah lagi macet.
"Kamu lagi tunggu Mamah jemput ya?" tanya Alex tiba-tiba ada di sampingku.
“Astagfirullah!” aku tersentak kaget melihat Alex ada di sini, kapan dia ada di sini.
“Maaf, kamu kaget ya?”
“I-Iya, Kak. Maaf. Saya enggak tahu ada Kakak di sini,” ucapku pelan. Lagi-lagi hening. Kugigit bibir bawahku untuk menghilangkan rasa gugup.
“Keadaan pipi kamu gimana? Sudah mendingan?”
“Eh, hoh. Su-sudah Kak, itu—“ aku mengarukan keningku yang tidak gatal. “Saya mau bilang terima kasih sama Kakak, soalnya Kakak sudah menolong saya dari Kak Dewi.”
“Sama-sama, lain kali kalau kamu diganggu sama Dewi sebisa mungkin kamu harus lawan dia. Jangan diam aja, biar dia enggak ganggu kamu lagi,” ucapnya, entah kenapa kata-kata dia sedikit membuatku tersinggung. Bukanya aku tidak mau melawan, hanya saja nyaliku tidak sebesar Rara. Terkadang saja aku iri dengan keberanian Rara.