Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.
Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.
"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.
Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Aluna mengambil ponsel yang ia taruh di rak buku. Gadis itu tersenyum sambil menatap Chika dan Nur yang mulai terlihat gugup.
"Ponsel? Kamu merekam dengan ponsel?" pekik Chika.
"Iya. Tadi kebetulan aku sedang buat mini vlog untuk kenang-kenangan. Tapi, pas keluar aku lupa matiin. Aku yakin ada sesuatu yang bisa dilihat di sini," jawab Aluna.
"Untung saja aku sudah mengantisipasi hal ini. Jadi, mereka tidak bisa seenaknya menuduhku," batin Aluna.
Gadis itu menatap Chika dan Bu Nur dengan tatapan kesal.
Kembali Aruan dan Armand saling tatap.
"Tapi... apa jika terbukti aku tidak bersalah mama dan Kak Armand tidak akan membenciku lagi?"
Suara hati Aluna terdengar sendu.
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak boleh sedih cuma gara-gara itu."
"Siapa yang ingin melihat isi rekaman di ponselku ini?" tanya Aluna sambil mengangkat ponselnya.
Ibu Retno menatap Aruan dan Armand, mereka adalah ibu kandung Aluna. Jadi, merekalah yang berhak tahu terlebih apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak Luna. bagaimana kalau kita abaikan saja kejadian hari ini? Lagian bukankah ini hari bahagia Kak Luna karena akhirnya Kak Luna bisa bertemu dengan mama dan Kak Armand?" bujuk Chika. "Mama dan Kak Armand setujukan dengan pendapatku?" Chika menoleh ke arah Aruan dan Armand yang masih diam.
Aluna menghela napas panjang. Sepertinya hal apa pun yang menimpanya, keluarganya tidak akan peduli.
"Sebenarnya apa yang aku harapkan dari mama dan Kakak? Aku yakin mereka akan langsung setuju dengan pendapat Chika," batin Aluna kecewa.
"Sudahlah, kita lupa–"
Belum selesai Aluna berbicara Armand sudah terlebih dulu memgambil ponsel dari tangan gadis itu.
"Kita harus melihatnya. Jika bukti itu bisa membuktikan bahwa Aluna dijebak, kita harus memberikan hukuman pada orang tersebut," ucap Armand dengan nada lugas dan tegas.
Armand memutar rekaman di ponsel milik Aluna itu. Bersama dengan Aruan ia mulai melihat isi rekaman tersebut. Disana terlihat bagaimana Nur masuk ke kamar itu dengan mengendap-ngendap, mendekati koper milik Aluna lalu memasukkan amplop berwarna coklat itu ke dalamnya.
"Jadi, kamu sengaja mau menjebak adikku, han?!" sentak Armand pada wanita bernama Nur tersebut. Sorot matanya tajam seolah siap menerkam mangsanya.
Bu Nur yang ketakutan langsung berlutut.
"Maafkan saya, maafkan saya. Saya mengaku salah, tolong maafkan saya! Jangan bawa saya ke kantor polisi!"
Bu Nur mengatupkan kedua tangannya.
Chika berdecak dalam hati. Bisa-bisanya Bu Nur langsung memohon ampunan.
Chika mendekat ke arah Armand dan ikut melihat rekaman video di ponsel milik Aluna itu. Bisa-bisanya Bu Nur sebodoh itu.
"Kak, tapi bukankah yang dimasukkan di koper milik Kak Luna adalah amplop berisi surat untuk mama? Jadi, Bu Nur tidak salah, kan?" ucap Chika.
Armand terdiam. Dia menatap ibunya meminta pendapat.
"Iya-iya, itu benar. Saya... saya cuma memasukkan amplop berisi surat milik Aluna."
Bu Nur ikut membenarkan perkataan Chika. Wanita itu juga kembali berdiri. Dia mengelap keningnya yang berkeringat.
Aluna tertawa.
"Bu Nur, Bu Nur coba deh perhatikan baik-baik bentuk amplop yang Bu Nur masukkan di video itu dengan amplop berisi surat yang ditemukan sekarang!" ujar Aluna.
Armand dan Aruan kembali melihat isi rekaman video di ponsel tersebut.
"Amplopnya.... "
Armand dan Aruan menggantung kalimat mereka. Keduanya menatap Aluna untuk meminta penjelasan.
"Benar, amplop itu berbeda. Amplop yang dimasukkan Bu Nur ke dalam koperku adalah amplop yang berisi uang santunan dari Keluarga Angga untuk panti dan amplop itu ada padaku," jelas Aluna.
Putri kandung Keluarga Anggara itu menunjukkan amplop berisi uang itu kepada mereka. Amplop itu baru saja ia keluarkan dari dalam tas kecil yang ditentengnya.
"Saat baru keluar kamar, aku ingat belum memasukkan amplop berisi surat-suratku saat ulang tahun ke dalamnya. Jadi, aku membuka koper tersebut untuk meletakkan surat itu. Tapi siapa sangka, aku menemukan amplop berisi uang di dalam koperku sendiri. Menyadari ada orang yang ingin menjebakku, aku sengaja membiarkan hal itu terjadi. Aku hanya ingin tahu siapa sebenarnya yang ingin menjebakku dan apa motifnya," lanjut Aluna.
Sambil bersedekap Aluna berjalan mendekati Bu Nur.
"Bu Nur, sekarang jelaskan padaku kenapa kamu ingin menjebakku!" seru Aluna dengan tatapan mengintimidasi. "Atau kamu lebih memilih untuk dipenjara?"
Bu Nur kembali berlutut.
"Luna, Luna, ibu mohon ampuni ibu. Kamu tahu sendirikan kalau aku memiliki anak berusia 6 tahun? Kamu juga akrab dengannya. Jika aku dipenjara, dia pasti akan sangat sedih," pinta Bu Nur.
Aluna kembali diam. Dia memang cukup akrab dengan Riri–anak dari Bu Nur yang baru berusia 6 tahun itu.
"Bu Nur, aku bisa saja melepaskanmu dan tidak mempermasalahkan hal ini. Tapi, hal ini juga menyangkut reputasiku. Aku tahu, meski Bu Nur membenciku, Bu Nur bukan orang yang picik. Jadi, aku rasa ada orang lain yang menyuruhmu melakukannya. Asal Bu Nur mau mengatakan siapa orang itu, aku tidak akan melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib."
"Sebelumnya, aku tidak tahu kalau Chikalah yang merencanakan penjebakan ini. Tapi, wanita licik itu kemudian mengakuinya setelah aku berlutut dan memohon ampunan dari mama dan Kak Armand. Sekarang, mereka harus tahu bahwa gadis yang katanya lemah lembut dan baik hati itu adalah pelakunya," batin Aluna.
Bu Nur kembali melihat ke arah Chika dan berharap gadis itu akan membantunya keluar dari situasi sulit ini.
Aruan hampir saja limbung ketika mendengar suara hati Aluna itu. Untung saja Armand menahan tubuh ibunya tersebut.
"Ma, Mama tidak apa-apa?" tanya Armand.
Aruan menggeleng. "Tidak, mama tidak apa-apa," jawabnya.
"Bu Nur, cepat katakan atau aku akan menyerahkan masalah ini pada polisi!" suruh Aluna.
"Nur, Aluna benar. Saya tahu, kamu memang tidak menyukai Luna selama ini. Tapi, kamu tidak pernah melakukan hal-hal diluar batas seperti ini. Jika memang ada orang yang menyuruhmu, katakan saja! Kamu tidak ingin Riri sedihkan karena harus melihatmu di penjara?"
Bu Retno ikut berbicara.
"Saya... saya.... "
"Kamu katakan saja yang sebenarnya kepada kami atau kamu benar-benar memilih untuk berpisah dengan putrimu dan mendekam di penjara!" suruh Armand.
Chika menatap Bu Nur dan menggeleng.
"Jika kamu berani menyebut namaku, aku akan membuat perhitungan dengan anakmu!" ancam Chika tanpa bersuara. Dia hanya menggerakkan bibirnya.
Aluna melirik ke arah Chika, dia tahu saudara angkatnya itu sedang mengancam Bu Nur.
"Sepertinya Bu Nur, takut pada Chika. Tapi, lihat saja. Apa kamu masih tetap memiih untuk bungkam saat dihadapkan pada pilihan yang sulit?"
Aluna membatin. Gadis itu menghela napas panjang.
"Baiklah, Bu Nur. Karena kamu masih bungkam, sepertinya kita tidak bisa berdiskusi lagi," ujar Aluna. Dia kemudian melihat ke arah Armand. "Kak, mungkin memang seharusnya kita serahkan permasalahan ini ke polisi. Kakak boleh telpon polisi sekarang."
Aluna mempersilakan Kakaknya untuk menelpon pihak berwajib dan menyerahkan semuanya pada mereka.
"Baiklah. Aku telpon polisi sekarang juga," jawab Armand.
ini si nenek" rada" oleng