NovelToon NovelToon
Menertawakan Diri Sendiri

Menertawakan Diri Sendiri

Status: tamat
Genre:Komedi / Romantis / Dosen / Patahhati / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: CAPEK

Semua berawal pada malam itu di saat pertunangan seorang teman. Dipertemukan dengan keadaan yang tidak bisa di mengerti. Entah itu duka atau suka di masa depan nanti. Dia terlihat cantik pada malam itu, seperti kunang-kunang di bawah bulan purnama. Entah harus senang atau malu pada saat itu. Kepercayaan cinta pada pandangan pertama tidak mengalahkan pada rasa kewaspadaan; sehingga menganggap setiap hal adalah jenaka semata. Di sisi lain, ada rasa beruntung. Laki-laki mana yang tidak beruntung bertemu dengan makhluk indah di antara makhluk lainnya. Hingga dari fase ke fase, rasa ingin memiliki semakin sulit. Namun tetap merasa beruntung, dengan begini bisa merasa tetap ada dalam hidupnya. Meskipun begitu, kepercayaan pada "usaha tidak mengkhianati hasil" masih teguh nan kokoh di dalam dada. Hingga sebuah kalimat terlontar dari bibir, "Terimakasih pernah menulis buku sejarah indah. Meski harus berakhir seperti ini;)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CAPEK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilang Waras

..."Datang dalam hidup tanpa permisi...

...Seperti burung gereja merayu tuan kebun...

...Begitu pula kau yang sengaja mengatakan rindu...

...Mendengarmu membuat akal tidak lagi sehat"...

Entah dari mana memulai hari ini. Lagi-lagi ibu jari mulai gatal ingin menyentuh keyboard ponsel. Hari ini aku tidak ingin gagal. Sebagai manusia aku ingin berhasil. Bagaimana cara mengajar wanita makan malam. Rasa takut terus menghantui. Resah, tidak menerima penolakan. "Ah sial...!! Lain kali sajalah," guman hatiku. Aku kembali fokus pada dagangan.

Sebenarnya, yang membuat takut ditolak adalah uang yang aku miliki pas-pasan untuk dinner dengannya. Aku ingin malam yang berbeda dengannya. Aku juga ingin seperti lelaki lain membahagiakan wanitanya dengan makan malam yang mewah. Mudah-mudahan rezeki kali ini lumayan...

Aku pun fokus pada dagangan. Mungkin dari sini aku bisa membawanya ke tempat yang istimewa. Berteriak agar calon pembeli mengetahui keberadaanku. Memasang senyum selebar-lebarnya agar pelanggan tertarik. Ramah, dan sedikit bersilat lidah agar calon pembeli tidak bosan.

"Singgah Bu Salamah," sapaku pada janda kembang desa itu.

"Bak.. Buk.. Bak.. Buk... Gini-gini masih kencang" candanya.

Aku kaget dengan cara bercanda janda tersebut, "Yang benar?"

"Ya iyalah. Kalau mahar gratis, Agam juga mau, kan?" tanya Bu Salamah. Aku hanya tertawa dengan gaya bicaranya. Ibu Salamah berkata, "Meskipun kayak gini, janda rasa gadis."

"Masak sih? Tapi aroma Ibu bau durian, pasti ini rasa durian bukan rasa gadis."

"Ah ngaco deh kamu. Tapi kamu niat ke saya. Mending kamu aja deh dari pada om-om yang kamu maksud kemarin," kata Bu Salamah seraya melihat-lihat ikan yang akan dipilih.

"Kenapa gitu Bu?" aku heran.

"Brondong lebih asyik," kata janda itu tertawa.

"Janganlah Bu, kasihan calonku udah nunggu," jawabku.

"Calon? Dari dulu juga gak pernah saya lihat Agam bawa perempuan," bantahnya. Beliau telah memilih ikan mana saja yang akan dibawa pulang. Sambil berbicara, aku pun memotong ikan seperti permintaannya.

"Wajar... itu tandanya lagi dirahasiakan oleh Allah, Bu," jawabku.

Pasar semakin ramai. Di depan meja, begitu ramai. Dari yang muda sampai yang tua, kebanyakan sih perempuan. Kira-kira kebanyakan usia perempuan rata-rata 30-46 tahun. Kalau yang gadis bisa dihitung hanya beberapa. Kalau laki-laki, hanya bisa dihitung pakai jari. Aku senang suasana pasar. Bagiku aroma keringat adalah kita harus bekerja keras agar tidak terlindas oleh waktu. Bau amis bagiku adalah kita harus mengejar waktu agar kita tidak membusuk. Bagiku hingar-bingar dari berbagai suara adalah kita harus terus bergerak agar tidak rapuh dan berkarat.

Transaksi terus berjalan, di mana orang terus menukar barang dengan lembaran kertas. Sungguh lucu, aku melihat diri sendiri dan orang sekitarku. Berteriak-teriak agar calon pembeli mengetahui keberadaan sang penjual.

Aku berfikir; aku memang terlihat sama seperti mereka, di mana menghabiskan suara seakan-akan aku memanggil uang datang kepadaku. Jauh dalam hatiku, aku sangat benci, namun tidak bisa demikian, karena pedagang harus mengikuti pasaran. Hati membatin, "Entah mengapa, harus menggong-gong agar didengar? Harus menjilat agar dilihat? Apakah ini yang dikatakan dunia seperti orang katakan? Aku ingin sekali menjadi pedagang di mana pembeli membutuhkan aku tanpa harus melakukan hal yang menjijikkan seperti itu. Aku ingin sekali menjadi pedagang yang menentukan harga pasar."

"Bang, singgah dulu yuk di sini, ikannya segar-segar," seorang wanita yang mengajak pasangannya untuk singgah di tempatku. Yang menurutku, sepertinya mereka berdua pasutri muda. Aku menandainya dengan kemesraan mereka, di tambah cincin emas yang melingkar di jari manis si wanita tersebut.

"Silahkan dipilih Kak..!" kataku dengan ramah.

"Ikan tuna berapa?" wanita itu menunjuk ikan tersebut.

"Bentar ya? Saya timbang dulu" aku menimbang ikan yang kakak itu pilih. "Sekilonya Rp. 34.000 kak. Ini ada naik timbangannya 2,5kg. Kasih aja Rp.74.000,-"

"Gak bisa kurang lagi?"

"Janganlah, udah mantap kak itu harganya. Saya gak ambil banyak."

"Yasudah deh. Rp. 70.000 aja ya?? Biar pas," kataku. Aku langsung membungkusnya ketika ia menerima tawaranku.

Ada rasa iri dalam benak. Wajar, sebagai manusia ingin juga seperti pria itu. Tidak hanya menemani kekasihnya cuma sampai di parkiran pasar doank, tapi dia juga mau mendampingi kekasihnya hingga ke tempat becek sekali pun. Dan, yang paling aku suka itu adalah mereka sama-sama mengangkat barang belanjaan. Tidak seperti yang sudah-sudah kulihat, di mana para lelaki yang mengangkat barang belanjaan dan wanita hanya jalan santai di depan. "Udah macam budak aja, cowok itu kan pemimpin? Mungkin aku saja yang pemalas hingga berpikir seperti budak. Mungkin maksud cowok mau mengangkat barang belanjaan itu adalah bentuk kasih sayang cowok tersebut kepada wanitanya, atau bentuk perhatiannya kepada wanitanya agar tangan kekasihnya tidak lecet," kataku dalam batin saat melihat pasangan yang berbeda dari sebelumnya.

Ada juga rasa ingin seperti seorang paman dan istrinya yang rambutnya mulai beruban sedang berbelanja tempatku. Dalam pikiran, betapa hebat waktu yang mereka lalui dengar berbagai masalah hingga bertahan sampai setua itu, dengan kata lain rasa yang awet. Entah berapa anak atau cucu yang mereka punya. Tapi yang paling menyenangkan, bercerita tentang masa muda kepada penerus dan itu luar biasa. Itu dalam bayanganku...

Sudah pukul 09:15 wib, pasar masih dalam keadaan ramai. Orang-orang masih dalam kesibukan masing-masing. Masih saja dalam roda waktu untuk mencari kebutuhan. Semua terlihat sama, termasuk aku. Namun inilah tuntutan hidup dan tidak bisa dielak. Semua itu, karena kita memiliki perut. Tapi alangkah lucunya kita terlihat seperti nada yang telah ditetapkan pada not-nya masing-masing. Memang terdengar indah, namun tiada tenang.

Cuaca sangat bersahabat meski jarum jam hampir tegak lurus. Kali ini aku lebih awal pulang, dikarenakan, ikan telah habis terjual. Puji syukur kepada-Nya dari dalam hati. Aku sangat bersemangat dalam mengemas barang. Bagaimana tidak? seperti biasa Bapak memberi bonus jika mampu menjual habis barang dagangan. Bukan hanya itu yang membuat aku bersemangat, melainkan kini aku berani mengajaknya makan di restoran, Cut.

"Cepat amat?" tanya Bapak.

"Alhamdulillah Pak, lagi mudah rezeki" jawabku dengan tersenyum.

"Oke... memang bapak akui kalau dalam berdagang Agam pandai. Yang heran Bapak, kenapa saat Nak Agam berkemas bersemangat?" Bapak bertanya dengan rasa penasaran.

"Biasa aja kok Pak" aku menyembunyikan ekspresi agar tidak semakin curiga.

"Dari tadi Bapak perhatikan saat berkemas barang asyik senyum-senyum sendiri."

"Kan Bapak yang bilang kalau kita tuh harus sering senyum agar awet muda," kataku sedikit mengangkat alis.

Beliau berkata, "Memang... tapi biasanya wajah Agam, datar. Gak ada pun ekpresinya." Matanya menajam ke arahku.

"Ohhh... wajarlah Pak. Kalau barang dagangan habis dapat bonus dari Bapak," jawabku ngeles.

"Mau dapat atau tidak, wajah Agam tetap sama aja, Nak," bapak menjawab dengan sedikit kesal.

"Gak boleh marah- marah loh Pak, entar cepat tua. Hihihi..." aku menahan tawa.

Setelah menerima bonus, mengambil ponsel untuk mengajak Cut seperti niatku dari awal. Sebelum pulang dari pasar, aku harus ke kota dulu untuk mencari parfum untuk menambah rasa percaya diri nanti ketika di hadapan Cut. Parfum di lemari baru saja habis. Seingatku, terakhir kali menggunakan parfum tiga hari yang lalu saat shalat jum'at. Kalau Tidak salah, terakhir aku membeli parfum sekitar tiga bulan lalu. Benar... aku memang jarang

menggunakan parfum. Bagaimana tidak? aku menggunakan setiap hari jum'at, atau ada acara pernikahan.

Pasar masih ramai, jalanan pasar terasa macet dan padat. Namun tidak bagi mereka pejalan kaki. Dalam setapak, melihat seorang anak yang berpakaian lesuh dengan keringat bercucuran menahan teriknya matahari. Aku melihat barang dagangannya masih banyak. Di belakangnya terlihat baju berwarna putih, yang menurutku itu ialah seragam sekolah. Di bawah baju itu terlihat sebuah tas anak sekolahan. Wajah yang lelah, namun ia masih sanggup

untuk tersenyum. Anak itu menjual sayur dan berbagai bahan dapur lainnya. Di usianya yang terlalu muda, belum saatnya ia menerjang derasnya dunia ini. Seharusnya saat ini ia berada di lapangan bola atau bermain layangan. Namun yang membuat aku kagum, ia lebih memilih bekerja dari pada meminta-minta pada orang. Di jaman sekarang, kebanyakan anak yang seusia lebih memilih bermain gadget dari pada bermain panas-panasan, lebih memilih sendiri dari pada berlari bersama, lebih memilih berbicara dengan benda mati dengan yang bernyawa. Aku sangat bangga dengan anak tersebut. Usianya yang terlalu muda, telah ia korbankan dan berjuang menghadapi dunia yang lucu ini.

Aku memasuki sebuah toko parfum, di tempat biasa. Aku sedang memilih-milih berbagai parfum yang direkomendasi oleh penjual. Siapa yang tidak suka parfum? Bukan itu dalam pikiranku. Aku teringat kata beliau, Bapak pernah mengatakan ini padaku, "Jika kita bermain kambing, kita akan bau kambing. Jika kita bermain ikan, maka kita akan bau ikan. Ini bukan tentang bisnis. Yang ingin Bapak katakan adalah tentang pergaulan. Jika kamu bergaul dengan orang pandai, sedikit banyaknya kamu akan pandai. Jika kamu bergaul dengan orang bodoh, kita tidak akan berkembang."

Saat menerima uang kembalian, aku masih saja bertanya-tanya pada diri sendiri, kenapa perasaan ini sangat senang? Padahal aku belum mengajaknya untuk makan malam bersama. Setapak lebih menyenangkan. Pikiranku saat ini seperti penari dalam film India. "Koi mil gaya... Mera dil gaya... Kya bataoon yaaron... Kya bataoon yaaron." Dan sekarang aku ingin pulang ke rumah untuk menari dengan menyanyikan lagu ini.

Semua orang dalam pandanganku seakan-akan adalah penari latar belakangnya. Suara knalpot dan klakson yang bising seakan terdengar lagu Koi mil gaya, dan aku merasa seperti Rahul dalam pemeran film Bollywood. Saat ini masih dalam angan-angan, terlintas sosok senyuman yang membuat aku gila ala India. Dia hanya menyapa dan lalu pamit, tersenyum tanpa dialog yang aku nanti. Cut bersama seorang pria yang lebih tinggi dariku. Mereka tampak akrab, seperti kakak beradik. Hati berguman, "Apa dia telah membaca pesan singkat yang telah aku kirim? Entah ke mana tujuan mereka, namun siapa aku yang harus mencari tau. yang penting lanjut ala India."

Kali ini bukan lagi sekedar kata-kata, melainkan aku benar-benar menari. Saat dering ponselku, aku menerima pesan dari Cut bahwa ia menerima tawaranku. Entah bagaimana lagi aku menyambut kemenangan ini. Seluruh tubuhku dikendalikan oleh rasa yang ada. Saking gilanya, aku membiarkan diri ini berdansa dengan bantal guling yang di iringi musik India yang terus berdendang. Hingga aku melihat cermin di lemari bahwa aku benar-benar telah menjadi orang gila. "Hal bodoh apa yang telah aku lakukan sedari tadi? Namun, mengapa hal bodoh ini menyenangkan? ini sungguh memalukan." Tiada peduli, aku masih saja menikmati anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

"Ya Allah Agam..." Aku langsung mematung dengan rasa takut. "Sejak kapan gila nakk..?" Dengan nada ibu yang tinggi dan ekspresinya seperti marah.

"Maaf Bu..." Sebelum itu, aku benar tidak tau kalau ada ibu di rumah. Yang awalnya mengira hanya aku yang ada di rumah. Maka dari itu tanpa sadar, aku telah menghidupkan musik dengan keras.

Ibu langsung memelukku dengan erat dan tersenyum yang awalnya beliau memasang tampang sangar. "Maaf ya Nakk... Habisnya jarang-jarang ibu lihat kamu seperti ini. Wanita mana yang telah membuat kamu seperti Shahrukh Khan?" katanya. Beliau mencium keningku. Ibu mana yang tidak khawatir bila anaknya terlihat gila. Ibu terlihat takut.

"Eng.. eng.. enggak ada Bu. Agam cuma ingin olahraga aja." Aku malu mengatakannya. Aku takut ibu marah.

"Gak usah bohong, kamu ini anak ibu. Jadi ibu tau kamu itu sedang jatuh cinta. Mana ada olahraga dengan bantal guling," beliau mengatakan itu sambil tertawa.

"Olahraga buk, nih nyatanya aku berkeringat."

Lalu ibu menyentuh keringat yang ada di keningku. "Mana ada keringat olahraga dingin begini. Ini namanya keringat kalau Agam takut mengaku. Kamu itu persis seperti ayah," katanya.

"Emang ayah gimana?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ayah dulu itu, pandai sekali menyembunyikan perasaan. Dia tuh gak pernah nunjukin rasa bahagianya di depan orang."

"Contohnya gimana tuh Bu?"

"Waktu SMA, Ibu udah suka ke ayah kamu. Sejak ibu pindah sekolah dari Lhokseumawe. Saat di jam istirahat. Ibu dan teman-teman ibu sedang duduk menikmati siswa sedang bermain sepak bola. Tiba-tiba teman ibu menghilang satu persatu karena dipanggil oleh pacarnya. Hanya ibu yang duduk sendiri di situ. Bentar ibu matikan kompor dulu."

Setelah selesai, ibu membawakan teh pakai jeruk nipis dingin kesukaanku. Dan melanjutkan ceritanya, "...Ibu kaget, ibu gak tau, kalau ayah kamu tuh sudah di samping ibu. Yang parahnya ayah kamu, dia cuma diam dan menatap lurus doang. "Duduk, jangan berdiri aja," kata ibu. Ada sekitar 15 menit kami hanya diam aja. Lalu ayah kamu bicara, "Aku gak tau apa yang ada dalam dada ini, mau gak jadi pasangan hidupku?," katanya dengan menyodorkan es jeruk peras saat menembak ibu."

Mendengar cerita ibu, membuat aku tertawa terpingkal-pingkal.

"Yang biasanya, cowok yang pernah nembak ibu pakai puisi, bunga, atau coklat. Dengan kesal ibu berkata, "Memanglah, gak ada romantisnya sedikit pun". Dan ayah Agam gak mau kalah. Dan membantah, "Yang romantis sudah banyak. Yang seperti aku hampir punah. Kamu bisa menolaknya sekarang jika es jeruk ini asam atau pun membuangnya ke tong sampah." Ayah pun menaruhnya di sebelah ibu dan melangkah pergi."

"Hahaha... masak iya Bu nembak pakai jeruk peras?" tanyaku. Aku tertawa geli mendengar ceritanya.

Ibu pun melanjutkan ceritanya, "Ibu meminumnya, dan pun karena ibu pun suka Es jeruk peras. Saat ibu minum ayah kamu sempat melihat ke belakang. Namun lucunya saat ibu lihat ayah, dia langsung melihat lagi ke depan. Diam-diam ibu mengikuti ayah kamu dari belakang. Ia melangkah ke tempat sunyi, tepatnya di belakang sekolah. Ibu mengintip di balik sudut tembok. Di situ ia loncat-loncat kesenangan "Diterima, kan? Makanya, benarkan aku bilang? Yahuuu" ayah kamu berbicara dengan tembok yang ada gambar grup band yang tenar saat itu. Akhirnya ibu tidak mengintip lagi. Ibu ingin melihat ayah lebih jelas. Saat ayah melihat ibu, dia langsung diam, tidak bicara. Ibu terus menatap mata ayah sambil melangkah ke arahnya. Namun saat ketahuan apa yang telah dilakukan oleh ayah, ia menoleh ke arah lain sambil bersiul, seakan-akan tidak ada apa-apa. Ibu bilang saat itu, "Aku mau, tapi aku belum pernah lihat kamu senyum di depanku." Pipinya memerah dan langsung menyembunyikan wajahnya dari ibu. Karena ibu gak sabar menunggu ayah senyum, ibu jongkok menutup wajah dengan berpura-pura menangis. Ayah tuh, panik bukan main. Lalu ibu langsung tertawa saat melihat kepanikan ayah. Begitulah ayah sayang kepada ibu. Seiring waktu berjalan, hanya ibu yang sering melihat ayah tersenyum saat itu. Setiap ayah berhasil membuat ibu tersenyum, diam pasti kesenangan di belakang kelas."

Yang paling mengesankan adalah ayah menyatakan rasanya dengan es jeruk peras. Aku tertawa terbahak-bahak. Ternyata, ada juga orang seperti itu. Sungguh gila dan beruntung. Namun aku tetap saja berpikir itu adalah hanya keberuntungan. Seandainya aku memiliki jurus bisa tau apa yang dirasakan oleh orang, mungkin aku tau apa yang harus aku lakukan, dan mungkin aku tau perasaan Cut.

Aku mulai membuka diri pada ibu. Namun bingung harus berawal dari mana. "Ada seorang wanita Bu, namanya Cut. Dia-lah yang membuat ibu bertanya-tanya kenapa aku seperti orang gila" kataku dengan nada berat ketakutan.

"Boleh ibu lihat orangnya?" pinta ibu. Lalu aku membuka sosial media Cut. "Empp... Cantiknya, sepertinya anak yang baik. Sudah berapa bulan Agam mengenalnya?" tanya ibu.

"Hampir dua bulan, Bu," jawabku dengan nada pelan.

"Kenapa belum ditembak?" Ibu bertanya dengan rasa penasaran.

"Hemp... Agam, belum siap Bu," aku menjawab dengan rasa sungguh berat.

"Sudah Agam tanyakan pada diri sendiri? apa yang membuat Agam berat?"

"Sudah— Cuma Agam tidak mau apa yang telah Agam lakukan semuanya sia-sia?" aku mengeluh.

"Sudah pernah coba, gak?" tanya Ibu.

"Belum Bu."

Ibu berkata, "Ibu cuma mau bilang, jangan sampai telat dan jangan sampai sakit hati kalau tidak ingin diambil oleh orang lain." Beliau langsung beranjak pergi. Ibu berhenti di pintu, "Ingat tuh apa yang ibu bilang! Ibu ke pasar dulu, ada yang lupa ibu beli."

Aku terdiam semakin takut, dan sangat takut. Menghempaskan diri di atas kasur. Menatap langit-langit kamar yang kusam. Sekusam itu juga pikiran saat ini, yang seakan-akan ia semakin jauh untuk dikejar, dan entah sampai kapan melintasi finish. Terus-menerus pesimis menghantam pikiran. Kelopak mata terasa berat, aku memejamkan mata. Sial, pikiran menyebalkan ini semakin terlihat jelas dalam bayangan.

Mencari sisa kopi dalam lemari dapur untuk di seduh, mungkin dengan kopi bisa sedikit menghentikan pikiran pesimis menari-nari dalam pikiran ini. Sebuah gitar dalam pelukan dan sebatang rokok untuk menikmati senja di belakang rumah. Mungkin semua itu bisa sedikit mengurai segala masalah.

Seperti biasanya, malamku di basecamp belakang warung. Di sana, aku selalu menemukan tenang, bahkan melebih sekedar tawa. Aroma kopi khas Aceh menenangkan segala saraf. Warnanya yang pekat adalah sebuah candu. Rasanya adalah rindu sejuta makna. Gelak tawa yang ada, menghapus segala lara yang menggunung. Tiada air mata atau nada-nada sendu, hanya ada senyum yang merekah di setiap sudut. Seperti didoktrin—dilarang bersedih, warkop.

Tempat kami nongkrong seperti biasa, di belakang warkop. Kursi kami mengarah ke timur. Terkadang kami menanti matahari terbit dari sudut cakrawala. Di hadapan kami dihidang dengan luasnya sawah, yang di seberangnya terdapat kemerlap cahaya kota. Di warung ini kami di sediakan gitar, catur, dan gaplek. Tapi biasanya kami hanya meminjam gitar, untuk nyanyi bersama. Walau suara kami seperti radio pecah.

"Apa cerita hari ini?" Deri membuka pembicaraan.

"Kalian tau gak? Ha? Ha?" alis Angga naik turun saat membaringkan pertanyaan.

"Mana-lah kami tau kalau gak kau bilang."

"Benar sekali," jawab Angga.

"Apanya yang benar nyet..?" tanya Yoga.

"Benar maksudku jawaban Deri, kan aku belum kasih tau," jawab Angga usil.

"Kok, kayak dibodohi ya?" tanya Deri.

"Ngomong kok sama orang mabok. Ya sama-lah, mirip kalian bertiga" kata Gober.

"Jadi ceritanya gini, Abay mana nih?" tanyaku.

"Ia nih, Acol juga mana nih?" tanya Yogie.

"Kalau Acol gak usah ditanya, Medan terus," kata Diandra yang duduk santai sambil menikmati sanger-nya.

"Mau gimana, pacarnya ada di sana," kata Adiho.

"Terus Abay mana?" tanyaku.

"Entah anak tuh, gak nampak-nampak belakangan ini," kata Diandra.

"Lain-lah itu bossku, palingan dia dengan tunangannya," kata Yogie.

"Terus Yudid yang udah menikah, apa kurang coba? Masih bisa kok gabung," kata Gober menunjuk Yudid.

"Gini ya, namanya aja tunangan, masih panas-panasnya dalam hubungan. Jadi maklumlah," kata Deri.

"Panas-panas air kencing, ternyata lebih panas hubungan orang yang baru aja tunangan, ya boss?" kata Diandra.

"Hahahaha hubungan asmara Abay sepanas telor rebus, di belah berasap," tambah Dimas.

"Ngaurr aja kalian. Gam, coba dulu jelaskan ke orang ini...!!" Deri terlihat sebal karena beberapa dari mereka tidak paham.

"Maksud Deri itu, yang namanya orang baru tunangan itu, perasaannya tuh lagi berbunga-bunga. Bawaannya tuh, ingin berduaan terus. Ingin segera nikah terus. Rasanya ingin cepat-cepat ke hari H nya," aku menjelaskan.

"Kok aku seperti mendengar Bang Mario Teguh, ya?" sela Dimas.

"Seakan-akan macam udah pernah nikah aja nih anak," Diandra menyela.

"Bukan begitu, memang sih aku belum pernah ada pengalaman itu. Tapi aku mendengar cerita orang-orang, seperti itu-lah rasanya. Aku juga bisa ngerasakan gimana rasanya selangkah lagi akan beruban bersama," jelasku.

"Ini anak kebanyakan menghayal kayaknya?" sela Diandra.

"Keseringan patah hati, jadi kebanyakan menghayal yang enak-enak," kata Yoga.

Manarik napas dalam-dalam. Meredakan emosi dengan jawaban-jawaban mereka. Mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana, "Hidup itu kan berawal dari mimpi. Jadi apa salahnya kita bermimpi dulu untuk awal langkah yang kita impikan?"

"Mimpi aja terus, tapi jangan lupa bangun...!!" kata Deri.

"Aku udah bela... Kamu di pihak mana sih?" aku bertanya pada Deri.

"Ingat juga Agam, jangan sampai ngences," kata Yogie.

"Tapi gak apa-apa sih kalau ngences, entar dia bisa menciptakan pulau yang wooww. Terus temen kita jadi orang kaya. Lumayan-lah kita ditraktir bakso bakar terus seumur hidup," kata Dimas.

"Kau aja Mas yang makan bakso bakar seumur hidup. Kalau aku mending minta mentahnya aja, untuk buka pangkalan janda-janda seger," kata Gober.

"Kau kira janda itu es serut? Pakek kata seger pula lagi," kata Dimas.

"Dimas payah.. masih polos."

"Mending polos, dari pada otak sudah kotor." balas Dimas.

"Ohhh Gober... gak jelas...!" kata Deri

"Itu-lah... otak Gober udah dikotori oleh janda." kata Diandra.

"Berondong selera janda," kataku.

Api perlahan-lahan melahap kayu. Suara tawa yang ada, sama besarnya api yang membara. Udara malam yang semakin dingin, membuat kami sudah terbiasa dengan keadaan tersebut. Tapi tidak dengan Dimas, ia memilih untuk berdekatan dengan api unggun. Diandra, Yoga, Gober, Dimas, Deri, Yogi, Adiho, masih saja bercengkrama dan tertawa dengan dagelan yang baru saja terjadi di seputaran. Selalu saja membahas yang tidak penting untuk kebutuhan humor. Hal yang tidak penting, menjadi penting. Cerita pendek menjadi panjang karena HAHAHAHA...

Aku tidak pernah dan tidak ingin menganggap ini adalah kumpulan orang-orang bodoh. Meski di dalamnya adalah pembahasan bodoh, sebagai manusia pasti mencari kebahagiaan. Tidak peduli orang mengatakan kami kumpulan orang-orang diot, karena bagiku semua orang idot mencari bahagianya sendiri. Hanya orang-orang waras yang mencari permasalahan dunia, sibuk dengan rutinitas yang memperpendek jangka usia, hingga mati tanpa senyum karena permasalahan yang tak kunjung usai.

Aku menatap langit malam dingin yang menusuk tulang yang sudah kebal ini. Bulan kini menunjukkan purnama-nya. Cerah nan indah memikat para bintang di sekitarnya. Para bintang seakan berdesak-desak ingin mendekati bulan. Berebut ingin garis terdepan. Ada yang berkedip-kedip seakan mencari perhatian bulan. Ada juga berkedip dengan pelan seakan mengagumi bulan dari kejauhan.

Aku bukan-lah dari kedua bintang itu. Aku seperti bintang yang jauh dari bulan, yang redup dan berkedip terlalu cepat, dan siap-siap akan meledak dan jatuh ke planet tertentu. Namun sesungguhnya jauh di dalam dada, aku sangat berharap jatuh di permukaan bulan. Meskipun betapa banyak bintang lainnya yang lebih terang, apa mau di kata. Lagi pula aku hanya berharap pada keberuntungan. 'Aku menyadari, aku tidak seterang bintang lainnya yang mendekatimu. Ketahuilah, bahwa aku adalah bintang yang sanggup memberimu cahaya berbagai warna...'

Aku terus tenggelam dalam imajinasi yang dihidangkan oleh malam yang indah ini. Jutaan bintang dan bulan seakan hanya sejengkal dalam pandanganku. Kemerlap cahaya langit malam membuat segala resah menjadi reda, segala gurau yang timbul menjadi tenang; setenang api unggun menelan kayu dengan pelan. Ingin rasanya memperlihatkan kepada wanita yang ada dalam hati, bahwa langit malam ini sangat indah untuk menemani lelapnya malam. Tapi tidak mungkin, aku bukanlah siapa-siapa, dan bahkan belum pantas pantas. Yang pantas seperti itu adalah kekasihnya.

Kembali membuka sosial media, hanya sekedar ingin melihat foto Cut. Melampiaskan semua rasa yang tertahan ini dengan memandang senyumnya yang ada di layar kaca. Senyuman Cut begitu hidup meski hanya berupa foto. Semakin dalam melihat senyum manisnya, terlintaslah kalimat ini, Doi-ku sekarang sedang berada dalam pandanganku. Aku benar seperti berenang di tengah galaxy yang penuh jutaan cahaya luar angkasa. Aku tersenyum sendiri. Mungkin aku-lah orang yang salting karena sebuah ponsel. Lucunya perasaan ini... Mengapa aku se-alay ini? Apa benar ini bentuk lain dari kata rindu?*

Aku tidak paham maksud alam semesta, mengapa ia menunjukkan diri yang begitu indah? Entah apa tujuannya begitu anggun dengan jutaan bintang yang mempesona dan bulan yang begitu elok untuk di pandang. Aku juga tidak mengerti apa yang di katakan oleh perasaan saat ini. Memandang fotonya di layar ponsel, sungguh aku ingin sekali mengajaknya untuk melihat malam ini yang begitu menakjubkan. Aku masih bertanya-tanya apa maksud dari semua ini?

Entah-lah, sungguh aku tidak mengerti pada diri ini. Aku masih bertanya-tanya pada diri sendiri. Seperti inikah manusia menanggapi anugerah yang telah Tuhan beri? Senyum-senyum sendiri, tertawa tanpa ada yang membuat lolucon, jantung berdegup cepat tanpa ada genderuwo yang datang. Sungguh lucu manusia, bisa-bisanya tersenyum hanya memandang layar ponsel, padahal yang di pandang bukanlah sesuatu yang hidup.

"Sudah jam 22:00 nih, balik yok?" ajak Dimas.

"Males ah, macam anak Mama aja," jawab Diandra.

"Kalau bukan anak Mama, terus mau anak siapa juga?"

"Anak ayah-lahh..!!"

"Kalau gak ada Mama, kenapa aku ada?"

"Iya juga ya? tapi kan Mas, bukannya kau lahir di batang pisang Mas?" Diandra berbicara dengan berlagak serius.

"Gundulmu Ndra..!!" jawab Dimas yang sedikit kesal.

"Serius lohh.. kemarin itu aku lihat di KTP kau, tertulis gitu," jelas Diandra.

"Salah baca kali. Aku lahir di Osaka, Jepang," jawab Dimas.

"Tapi kenapa otak kau gak mesum, macem Gober?" Yoga bertanya dengan polos.

"Aku kan seperti kata Diandra yaitu anak mama. Gak tau aku dunia gelap seperti itu. Lain dengan Gober, terlalu sering dengan janda-janda," jawab Dimas semakin kesal.

"Apa-apaan nih, kok udah kena-kena aku?" sahur Gober. "Aku dari tadi diam aja."

"Gak ada apa-apa, udah santai aja. Minum kopinya dulu...!" kata Diandra yang mendingin suasana humor yang kian panas.

"Ber, kau kan banyak tuh kenalan cewek. Kau kenalin-lah satu untuk si Agam..! pasti ada yang mau," kata Adiho.

"Kau sendiri tau-lah Di gimana. Jadi gimana Gam, mau?" tanya Gober.

"Enggak ah.. geli aku. Sama aja aku sepertimu, seleranya emak-emak," jawabku dengan nada spontan.

"Oh iya ya... Agam lagi deket sama Cut," kata Deri.

"Udah... Lupain aja Cut itu Gam..! Cut itu belum jelas milik kau, kalau yang aku kasih udah jelas, tinggal kau tembak aja langsung mau dia-nya," jelas Gober.

"Bener tuh Gam. Gober nih gak main-main kalau ngolah cewek," kata Diandra.

"Males ahh... Untuk saat ini belum ada yang bisa mengubah rasa aku ke Cut," tegasku.

"Anjayy... jijik aku dengarnya."

Sekian lama mereka membujukku, aku masih saja mengikuti kata hatiku. Meski janda yang ditawarkan oleh Gober masih muda, cantik, sexy, tetap saja tidak menggoyahkan rasa yang ada dalam hati. Cut bukan sekedar spesial di hatiku, melainkan bagiku dia adalah limited edition yang di ciptakan Tuhan untuk aku dapatkan. Begitulah rasa yakin yang telah berlebihan. Aku merasa aneh pada diriku sendiri, rasa yang aku miliki sedalam wormhole. Begitu penuh tanda tanya bagiku, 'sedalam apakah semua ini?'

*Assalamualaikum... Jangan bergadang. Aku menunggumu pulang.

Di saat kami lagi sibuk-sibuknya tertawa riang, sebuah pesan singkat masuk di ponsel. Memang sebuah pesan, tapi bagiku bisa mengubah malam melebih sekedar malam ini, bahkan bisa mengalahkan malam minggu yang diagungkan oleh muda-mudi lainnya. Ini bukan sekedar pesan yang hanya berisi huruf dari beberapa kalimat, melainkan ini adalah nasi kotak yang dibagikan oleh pihak mesjid secara gratis yang direbutkan oleh para warga. Ini semua membuat aku panik sekaligus gembira, dan aku pamit pada teman-teman.

"Wee, aku balik dulu, ya?"

"Kau pun udah kayak Dimas, buru-buru pulang," kata Deri yang hendak menahanku untuk pulang.

"Itu-lah... entah ada apa di rumah. Istri juga gak ada..." tambah Yoga.

"Udah larut malam. Gak bagus udara malam, entar masuk angin," aku mulai ngeles.

"Alaahhh... biasa juga kau yang paling betah di sini," kata Gober.

"Bukan itu aja Ber, lagian aku gak bawa kunci rumah. Gak mungkinlah aku bangunin ibuku tengah malam cuma untuk buka pintu rumah," jelasku dengan bohong.

"Selowww... nanti kau tidur rumah aku aja." Entah apa maksud mereka seperti menahanku untuk pulang.

"Kau udah macam Reza lama-lama aku lihat Gam. Macam punya bini aja. Orang yang punya bini kau yang sibuk pulang," ceplos Diandra.

"Aku juga heran, gak pernah juga Si Agam gini," kata Adiho.

Mereka mulai memerangiku. "Atau jangan-jangan pacarmu suruh pulang, ya?" cetus Deri dengan sedikit curiga.

"Enggak, mana punya aku pacar" jawabku dengan menaikkan alis.

"Itu tuh siapa namanya? Cut, ya?" kata Diandra.

"I.. i. ittuu bukan pacar," jawabku sedikit gagap.

"Udahlah, gak ada habisnya kalau layani mereka Gam. Kalau kau pulang aku nebeng, ya?" Dimas berbisik.

Aku pun langsung membalikkan badan tanpa mendengar mereka lagi. "Aku pulang dulu, ya? Bye..!"

Terdengar suara Gober dari kejauhan, "Woooo kalah-kalahin orang punya bini kau Agam." Mereka bersorak dari kejauhan.

Aku pun berteriak saat menyala motor, "DOAKAN AJA BROOO, CUT JADI BINI AKU SEPERTI KATA-KATA YANG KAU SEMOGAKAN TADI..!!!" Terlihat gigi putih mereka menandakan mereka tertawa dengan jawabanku.

Seperti biasa, suara katak dan jangkrik serasi jika mereka ikut audisi tarik suara. Jalanan yang sepi tanpa ada ban panas yang melintas. Aku sedang mengantar Dimas pulang. Tidak sedikit pun aku merasa mengendarai kendaraan, semuanya seperti telah ter-program. Dalam perjalanan pulang,  mindset hanya terfokus pada jalan tikus dari rumah Dimas ke rumahku. Seberapa kecepatan maksimal yang aku tempuh, seberapa aku harus menekan rem; tanpa mengurangi kecepatan dan waktu yang tersisa. "Dimas, maaf aku ugal-ugalan meski jalanan sepi, tapi aku buru-buru. Ini darurat militer."

*Sudah sampai di rumah?

Aku telah dalam kamar dengan segelas kopi hitam yang siap kegirangan dengan benda mati. Pesan darinya yang membuat aku tertawa kecil ketika membacanya. Apa yang harus dibalas kepada Tuhan, yang telah menghujani aku dengan perasaan bunga-bunga. "Tuhan terimakasih atas anugerah yang telah yang Engkau beri. Namun sekali lagi bolehkan aku meminta tolong kepadamu? Bagaimana cara membalas pesan pendek ini? Aku bingung Tuhan," kata hatiku. Aku panik. Pikiran buntu, bagaimana cara menanggapi pesan tersebut. Sungguh merasa berdosa bila tidak menikmati anugerah ini, bahkan merasa menyesal jika aku melewati kesempatan ini.

Dengan segala rasa sebal, rasa senang bercampur aduk yang berkecambuk dalam pikiran, akhirnya aku meneleponnya tanpa memikirkan cara-cara orang dewasa mendekati seorang wanita.

"Assalamualaikum."

"Walaikumsalam," suaranya yang membuat aku aduhai.

"Boleh aku nelpon?" tanyaku

"Ini kan sudah nelpon..!" jawabnya.

"Bodohnya aku..!" aku berguman dalam hati. Aku pun bertanya, "Emp.. Kok belum tidur? Biasanya cewek tidurnya cepat"

"Itu cewek biasa, aku kan cewek yang luar biasa," ia menjawab dengan riang.

"Kalau memang begitu, kenapa kamu chat aku? Ini sudah tengah malam. Orang udah pada tidur semua."

"Terus kenapa kamu lihat-lihat foto aku di instagram?" jawabnya dengan pertanyaan.

Aku kalah. Dan berkata, "Gak ah, mana ada." Pipiku mulai memerah meski tidak terlihat  karena warna kulitku coklat.

"Apa pula gak ada. Coba ingat ingat dulu, berapa fotoku yang kamu like di instagram?" bantah Cut.

Setelah di ingat-ingat, aku malu sendiri dan menahan tawa di tengah malam. "Hehehehe... iya," aku cenge-ngesan, merasa malu telah berbohong.

"Bohong terus, nanti hidungnya mancung kayak pinokio."

"Gak apa-apa donk. Semua orang menginginkan mancung"

"Kamu begini aja aku sudah suka," Cut menjawab dengan singkat.

"Kalau ngomong itu yang benar-benar aja..."

"Gak usah diperpanjang lagi. Aku mau ngomong sesuatu," nada Cut seperti serius.

"Apa itu?"

"Mau tau..?" jawabnya membuatku tambah penasaran.

"Kalau gak dibilang, gak akan tau."

"Rindu," kalimatnya masih membuat aku tidak mengerti.

"Ke siapa? Ke manusia?" tanyaku berpura-pura tidak tau.

"Iihh.. kesel... Iya-lah ke manusia, emang ke monyet?"

"Mana tau kamu doyan ke monyet...?" aku mencandai Cut.

"Enak aja. Tapi aku serius tau, kalau aku tuh rindu," kata Cut dengan kesal.

"Rindu ke siapa?"

"Kamu."

Mendengar jawabannya, aku hening. Antara senang dan terharu, entah bagaimana aku mengekspresikan respon ini. Ahhh... sialll.

"Hallo..? Kok diam? Baru juga bilang rindu, belum lagi dibilang cinta," katanya.

Sungguh tidak ada yang lebih dari ini. Kalimat ini lebih indah dari pada puisi. "Kenapa bisa rindu?" tanyaku.

Dia berkata, "Emang rindu itu bisa kita fokus pada satu titik? Kamu pasti tau kalau rindu bekerja di bawah alam sadar." Aku hanya diam. "Rindu itu liar Agam. Bahkan lebih liar jika terlalu lama memendamnya," tambahnya. Aku masih tidak tau harus menjawab apa. Enggan rasanya untuk berkata-kata. Aku masih belum siap untuk mengakui semuanya.

"Kalau kamu rindu, kenapa kamu bilang ke aku?"

"Karena aku rindu kamu. Kan gak mungkin kalau aku rindu kamu bilangnya ke orang lain?" aku hanya tersenyum menanggapi jawabannya.

"Kenapa rindu bisa seperti itu, ya?" kataku menyembunyikan pengakuan dengan pertanyaan.

"Iya ya?" Kami hening sejenak. "Kamu gak rindu aku gitu?" Cut bertanya. Baru saja aku berfirasat itu. Pengakuan yang telah aku kunci jauh-jauh sebelumnya, tetap aku sembunyikan, aku masih sanggup berbohong.

"Enggak... aku gak rindu," aku menjawab lirih. Tidak aku harus menjawab apa lagi, lidah aku kelu untuk berkata tidak.

"Seyakin itu kamu bilang gak rindu?"

"Engg... enggak yakin juga sih" sial, aku gagap. Mungkin ini akan bocor.

"Yang bener..??" dia menggodaku.

"Enggak,,, enggak,,, iya bener aku juga rindu." Sialnya... aku tidak mampu menahannya. Dan ini makin parah. Aku mengutuk kegagapanku.

"Yasudahlah... kalau memang kamu gak rindu" terdengar suara tawa manisnya dari ponselku.

Sepanjang malam dan seluas bintang yang bersinar. Bukan hanya jangkrik dan kodok yang sedang berdialog pada malam ini, tapi aku dan Cut juga. Namun ini bukan hanya sekedar dialog, tapi ini lebih dari sekedar dari dialog; dengan kata lain terapi rasa rindu. Saat proses itu berlangsung, hal yang paling memalukan yang mengganggu semuanya adalah gagap. Gagap, sama seperti nyamuk yang menusuk pori-pori kulit, lalu menghilangkan semua konsentrasi ketika bersantai. Meskipun begitu, entah kenapa sangat sulit untuk mengakui rindu padanya.

Mungkin ini yang disebut dengan realita yang tidak pernah diekspetasikan. Dengan kata lain sebuah kebahagiaan yang belum diimpikan. Sebagaimana manusia, hanya bisa menerima atau menolak (bukan mengubah) apa yang telah terjadi.

Kami berbicara apa saja, mulai dari cara bayi ular menetas hingga tentang aku dan dia. Aku menyukai caranya tertawa, ada suara manja yang dirindukan setiap detiknya. Ketika mendengar suara anjing yang menggonggong di luar sana, aku merinding. Namun kali ini, bulu kuduk kali ini lebih kuat dari biasanya. Aku merasa aman ketika mendengar suara Cut. Biasa aku lebih pengecut dari pada cicak yang ada langit-langit kamar. Karena dia, semua

rasa takut bisa menipu oleh rasaku padanya, Cut.

"Sabtu depan, kamu ada rencana apa gitu?" tanya Cut.

"Gak ada sih, palingan seperti biasa."

"Emang, biasa gimana? Kok seperti pasrah amat jawabnya, seperti orang yang hilang arah hidup."

"Yaa seperti biasa-lah, palingan ke warung minum kopi untuk beberapa liter," kataku. Ia pun tertawa.

"Segitunya hidup kamu? Kalau gitu, ikut aku mau gak?" perasaan senang datang ketika mendengar ajakannya.

"Ke mana?"

"Belum pasti juga. Pastinya kamu akan suka. Hemp.. hemp..." katanya terdengar seperti tersenyum.

"Emang ke mana sih? Aku penasaran?" tanyaku penasaran. Tiitt... tiitt... tiit...

Tiba-tiba komunikasi terputus. Aku berpikir karena jaringannya yang cemburu pada kami berdua. Aku pun mencoba menelepon kembali. Lalu terdengar jawaban, "MAAF PULSA ANDA TELAH HABIS. SILAKAN MELAKUKAN PENGISIAN ULANG..!!" ternyata yang menjawab adalah operator. Yang menyebalkan, setelah pulsa habis, ditambah ponsel mati kehabisan daya. 'Sial..!!'

Memang ada rasa tidak terima dan kesal. Tapi di balik itu semua, ada sedikit lega setelah apa yang terjadi. Aku tidak betul paham apa yang membuat dada ini sedikit lebih ringan. Setelah dikaji-kaji, masih saja terlihat samar. Entah kata rinduku yang sempat bocor padanya atau perasaan yang sama sempat terdengar darinya. Mungkin, salah satu harap telah selesai atau tercapai.

Aku masih saja menerka-nerka apa yang telah terjadi, ini terasa nikmat, rasa lega seperti menghirup udara pagi. Suaranya, rindunya, pengakuannya membuat aku melayang seperti orang yang baru saja nge-lem (menghirup lem). Tertawa, senyum-senyum sendiri seakan ia benar-benar berada di sini. Antara waras dan hilang akal karena apa yang telah terjadi. Memeluk erat bantal guling, terkadang mengelusnya layaknya memperlakukan seorang wanita. Ini terlalu manis untuk di seduh dengan kopi, tanpa gula sudah terasa nikmat. Ini sudah terlalu nikmat, tidak perlu lagi susu agar lebih pas, karena ini sudah sempurna menikmati kopi tanpa gula dan susu.

 

'Hilang waras...seperti apa yang dirasakan ketika orang sedang jatuh cinta. Beberapa jatuh cinta membuat seseorang lupa akan sekitar. Yang luar biasanya,jatuh cinta mampu membuat seseorang tertawa dalam hening. Seperti kata pujangga, cinta itu gila'

'Bicara tentang rindu, kita hanyalah sepasang hati yang belum pasti. Walau jauh di lubuk hati, ingin bertemu dengan alasan rindu. Yang perlu diketahui,kita bukanlah siapa-siapa yang belum jadi apa-apa. Namun ingin menjadi sesuatu yang disiapa-siapakan'

1
Author SUPERSTAR
Tnp mengurangi rasa hormat, kalau boleh sy kasih saran jgn terlalu panjang satu babnya. Lebih baik dibuat jd beberapa bab. Semangat trs thor
Author SUPERSTAR: 💪💪💪💪💪
total 3 replies
zahwa maysura
💓
Nanda Madridista
pengen ngajak si Agam ngopi...
Sambil Menertawakan Diri Sendiri Karna Manusia Terlalu Waras Menjalankan Hidup..

Wahahahahaha
capèk: Ah siap Boss ku. sabar aja yg kedua.
total 1 replies
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🎋AniN🩷❀∂я
semangat up Thor....
Aris
gak tau bilang. Pokok nya gak mau nangis
capèk
Gimana enggak. Naskahnya dari 2018 😔
capèk
karna buaya sesungguhnya itu laki2. meski ada jenis betina
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🎋AniN🩷❀∂я
baru ini baca cerita yg panjaaaaangg beud... but i like it...

next up thor
capèk
makasih buggy
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
up kk, menarik ❤️😘❤️😘❤️👍
capèk
ku menangisss....
Vieneze
Bahasanya puitis banget y.
Vieneze
semangat selalu Thor.
RN
keren 2 jempol buat mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk
Nndya_kun
saoloh kak,aku baru baca...dan tulisannya tu puitis bgt,kek nyesek aja dihatieeee...uhuk..(batuk gw sorry)
dah lah,gw paporit in dlu ye,mksih dah bikin cerita ini,kek sedikit melambangkan tentang jiwaku,huaaaa😭😭😭,sayangnya gw cewek 😭
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
💯💯💯😘❤️👍
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
👍🙏💯❤️ paket komplit! ada lucu ada puitis 😘😘😘
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
Aku jarang nemu yang seperti kisah kk ini, good job ❤️💯🙏👍
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
👍😘🙏💯❤️
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
aku suka semua quote kk 😘😘👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!